You and I and Him Part 2 (End)

Srak Sruk! Srak Sruk!

“Ahh, aku tidak bisa tidur!” Erang Yoona frustasi dengan rambut acak-acakan dan perut buncitnya. Wanita itu terus mengacak-acak rambutnya kesal sambil sesekali mengusap perut buncitnya yang telah menginjak usia empat bulan. Sejak seminggu yang lalu Yoona mulai sering merasakan pegal di bagian punggungnya. Terkadang ia juga merasa punggungnya tidak bisa digerakan saat ia bangun dari tidurnya di pagi hari. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain memijak-mijatnya pelan karena dokter mengatakan hal itu wajar terjadi pada ibu hamil sepertinya. Bahkan menurut dokter, rasa pegal itu akan semakin bertambah menyiksa seiring dengan usia kandungannya yang semakin besar.

“Kau berisik sekali. Bisakah kau tidur dengan tenang? Aku baru saja memejamkan mataku tiga puluh menit yang lalu dan kau sudah mengusikku dengan gerakanmu yang berisik itu. Bisakah kau tenang dan hanya memejamkan matamu?” Bentak Donghae galak dengan wajah gusarnya. Yoona membalas tatapan pria itu tajam sambil mengusap punggungnya yang terasa pegal. Lalu tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring dengan suara yang sangat memalukan, membuat Yoona mengurungkan niatnya untuk membalas bentakan pria itu karena ia merasa malu.

“Kau lapar?”

“Ini semua karena ulah anakmu. Aku tidak bisa tidur karena punggungku sakit! Dan sekarang tiba-tiba aku merasa lapar, padahal aku sudah memakan semua makan malamku dengan rakus sore tadi. Arghh, aku benci mengandung! Aku benci anak ini!” Teriak Yoona frustasi. Lee Donghae menatap datar wanita itu, dan tiba-tiba saja ia segera bangkit dari tidurnya sambil mengulurkan tangannya pada Yoona.

“Apa?”

“Jangan membenci anak itu, ia tidak bersalah. Ayo, aku akan membuatkanmu makanan.” Ucap pria itu tadar. Yoona menatap pria itu dengan tatapan bahagia dan langsung menarik tangan pria itu untuk turun ke bawah. Padahal beberapa menit yang lalu ia baru saja berteriak-teriak dan menyalahkan bayi yang berada di dalam kandungannya, namun ketika ia melihat sikap perhatian Donghae, wanita itu seolah-olah telah melupakan seluruh amarahnya begitu saja. Dan hal itu sudah sering terjadi beberapa hari terakhir ini, membuat Donghae harus selalu ekstra sabar dalam menghadapi Yoona. Karena bagaimanapun juga bayi itu adalah anaknya. Ia tidak akan menyia-nyiakan anaknya dan ingin melihat anaknya lahir dengan selamat nanti.

“Apa yang akan kau masak untukku?” Tanya Yoona antusias dari arah meja pantri. Wanita itu tampak menopangkan kepalanya di atas meja sambil mengamati setiap gerakan cekatan Donghae yang sedang menyiapkan berbagai macam bahan makanan dari dalam kulkas. Pria itu lalu menatap Yoona sekilas dan mengedikan bahunya acuh pada bahan-bahan makanan yang sedang ia siapkan di atas kontainer dapur. Kebiasaan Donghae ketika sedang melakukan sesuatu, ia tidak ingin diganggu dengan suara-suara apapun.

“Kenapa kau hanya mengedikan bahu, aku ingin mendengar jawabanmu.” Gerutu Yoona kesal. Selama lebih dari empat bulan tinggal bersama Donghae, wanita itu selalu dibuat kesal dengan sikap Donghae yang kelewat dingin dan datar. Tak jarang Donghae mengabaikannya saat ia bertanya hingga ia akhirnya menyerah dan memilih untuk mengabaikan pria itu seharian. Namun Nam Joohyuk yang baik hati selalu menemani Yoona dan membuat wanita itu dapat tertawa dan melupakan rasa kesalnya pada Donghae. Tapi tak selamanya pria itu akan selalu ada untuknya. Seperti malam ini, biasanya Nam Joohyuk tidak akan muncul di hadapannya jika Donghae sedang bersmanya karena pria itu merasa ia akan mengganggu kedekatannya dengan Donghae. Padahal sejujurnya Yoona lebih suka pria itu selalu ada di dekatnya saat Donghae sedang bersamanya, karena dengan begitu ia dapat mengusir kebosanannya yang menjemukan saat bersama Donghae.

“Lee Donghae ssi, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

“Memasak makanan untukmu dan membuatmu diam.” Jawab Donghae langsung dengan nada datar. Yoona memutar bola matanya kesal sambil memain-mainkan kotak garam yang berada di didepannya dengan gusar. Sebenarnya bukan itu jawaban yang diinginkannya. Ia sedang bertanya serius mengenai nasib keluarga Choi yang akhir-akhir ini jarang didengarnya. Terakhir kali Donghae membicarakan mengenai Siwon dan keluarganya sekitar dua bulan yang lalu. Setelah itu ia tidak pernah membahasnya lagi dan hanya diam dengan segala rencananya. Padahal ia sangat ingin mengetahui hal itu karena semua ini juga berhubungan dengannya. Andai saja pria itu tidak menyeretnya ke dalam masalah rumit ini, pasti ia juga tidak akan peduli pada keluarga Choi dan rencananya yang jahat.

“Apa yang kau pikirkan?”

Tiba-tiba Donghae bertanya pada Yoona sambil memotong-motong daging salmon. Merasa tertarik dengan kegiatan yang dilakukan oleh Donghae, Yoonapun berjalan mendekat pada pria itu dan segera merebut pisau besar yang digunakan oleh Donghae untuk memotong ikan salmon.

“Aku akan memotongnya. Kau rebus saja pastanya dan juga jamurnya.” Ucap Yoona acuh dengan sedikit memaksa. Donghae kemudian meletakan pisau itu di tempat dan langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun. Terkadang ia merasa bersalah pada Yoona karena telah menyeret wanita itu ke dalam masalahnya. Tapi ia tidak bisa melepaskan Yoona begitu saja karena saat ini wanita itu sedang mengandung anaknya. Jika ia melepaskan Yoona sekarang, ia khawatir wanita itu akan berbuat hal-hal nekat dan mencelakai anaknya.

“Lee Donghae ssi, apa yang akan kau lakukan pada keluaga Choi? Kenapa akhir-akhir ini kau tidak pernah membicarakannya padaku? Apa kau sudah melakukan sesuatu pada mereka?” Tanya Yoona bertubi-tubi dengan wajah penuh tanya. Lee Donghae menatap Yoona sekilas, dan setelah itu ia kembali berkutat pada pasta dan jamurnya yang hampir matang.

“Kau tidak perlu memikirkan mereka. Lebih baik kau perhatikan kesehatanmu dan anakku, aku tidak ingin dia terluka.”

Reflek, Yoona langsung berbalik sambil berkacak pinggang di belakang tubuh tegap Donghae. Dengan gemas, ia melemparkan sebuah tomat pada Donghae dan disusul dengan lemparan tomat yang lain dan juga beberapa sayuran hijau yang akan dimasak oleh Donghae.

“Dasar pria dingin, kaku, egois! Mengapa seolah-olah aku ini hanya robot yang berfungsi untuk melahirkan anak-anakmu. Dia juga anakku, jadi jangan menganggap jika dia hanya anakmu. Ahh, aku membencimu!” Teriak Yoona kesal sambil terus melemparkan sayur-sayuran ke arah Donghae. Sedangkan Donghae tampak begitu kewalahan di depan Yoona sambil terus menangkis serangan sayur-sayuran yang kini telah mengotori bagian depan kaos birunya.

“Hentikan! Apa yang kau lakukan. Im Yoona!” Peringat Donghae tegas, namun sama sekali tidak dipedulikan oleh Yoona. Wanita itu terus menghujani Donghae dengan berbagai macam sayur-sayuran yang bisa dijangkaunya sambil menjulurkan lidahnya mengejek.

“Mehrong, aku tidak akan berhenti. Ayo balas aku jika kau bisa.” Ejek Yoona sambil berlari menghindar dari kejaran Lee Donghae. Merasa kesal dengan sikap kekanakan Yoona, akhirnya Donghae memutuskan untuk membalas Yoona dan segera berlari ke depan mengejar Yoona yang telah berlari jauh menghindarinya.

“Hey, berhenti! Kau harus merasakan pembalasanku.” Teriak Donghae nyaring dengan sebuah tomat di tangannya. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu sekarang, tapi ia terlihat sangat konyol dengan sebuah tomat merah di tangannya. Padahal selama ini ia selalu bersikap dingin dan sama sekali tidak pernah tertarik pada hal-hal konyol seperti ini. Namun dalam sekejap, Yoona dapat menghancurkan dinding kaku itu dan membuatnya terlihat lebih manusiawi dari sebelumnya.

“Lee Donghae, kejar aku! Hahahaa, dasar payah.” Ejek Yoona dari arah ruang tamu. Lee Donghae menggeram pelan dan segera mempercepat laju larinya untuk mengejar Yoona. Seorang Lee Donghae pasti bisa menangkap Im Yoona dengan mudah, apalagi wanita itu sedang mengandung. Akan sangat memalukan baginya jika ia tidak bisa menangkap wanita itu dan membiarkannya terus mengejeknya dengan wajahnya yang menjijikan itu.

“Awas kau Im Yoona, aku akan membuatmu membayar semua perbuatanmu padaku.”

Dengan gerakan cepat, Donghae langsung melesat ke depan, menerjang semua perabotan yang berada di dalam ruang tamu untuk mendapatkan Yoona. Suara gaduh barang-barang yang jatuh dan barang-barang yang bergeser dari tempatnya sama sekali tak dipedulikan olehnya, dan ia hanya terus berlari untuk mendapatkan Yoona yang cukup gesit itu.

Sementara itu, Yoona tampak tertawa-tawa keras di depan Donghae sambil terus melangkahkan kaki jenjangnya kesana kemari agar pria itu tidak bisa menangkapnya. Ternyata bermain kejar-kejaran dengan pria kaku seperti Donghae cukup menyenangkan untuknya. Bahkan ia merasa menikmatinya dan sama sekali tidak peduli pada perut buncitnya yang ikut bergoyang-goyang kesana kemari seiring dengan langkah kakinya yang sangat lincah. Ia yakin, kandungannya pasti kuat dan tidak akan bermasalah hanya karena ia berlarian kesana kemari. Lagipula menurut beberapa artikel yang sering dibacanya akhir-akhir ini, berlari sangat bagus untuk memperlancar aliran darah ibu hamil.

Hup!

“Kena kau.” Seringai Donghae dengan wajah mengerikan. Im Yoona yang berada di dalam dekapan Donghae langsung terpekik kaget sambil meronta-ronta kuat dengan suara nyaringnya yang memekakan telinga.

“Yak, lepaskan aku! Lee Donghae, aaa..”

Dengan jahil Donghae langsung menggelitik pinggang Yoona dan semakin membuat Yoona berteriak kencang karena merasa geli.

“Huh, rasakan! Ini balasanmu karena telah mengotori kaosku dan mengacaukan dapurku.”

“Hahahaha, ampun…. Aku hahahahaa, tidak akan melakukannya lagi… hahahaa.” Mohon Yoona dengan suara terputus-putus. Donghae kemudian melepaskan tangannya dari pinggan Yoona dan membiarkan wanita itu untuk mengambil udara sebanyak-banyaknya karena ia baru saja membuat wanita itu kehabisan nafas karena terlalu banyak udara.

Dengan langkah terhuyung-huyung, Yoona mulai berjalan menjauh dari Donghae, tapi langkahnya yang tidak seimbang membuatnya hampir jatuh tersungkur ke atas lantai, namun dengan sigap Donghae langsung menangkapnya dan menatapnya penuh kekhawatiran.

“Perhatikan langkahmu, kau bisa terjatuh.” Ucap Donghae datar, namun menyiratkan nada kekhawatiran yang kental di dalam nada bicaranya. Yoona tersenyum simpul dan segera berjalan pelan menuju sofa yang berada di tengah ruangan.

“Kau tahu, terkadang kau begitu perhatian dan sangat manis. Jujur, aku menyukainya.” Ucap Yoona tulus dengan senyum lembut di wajahnya. Donghae mengedikan bahunya acuh dan segera berjalan pergi menuju dapur. Kedekatannya hari ini dengan Yoona bukan sesuatu yang harus ia tanggapi dengan penuh sukacita. Anggap saja itu hanya hiburan di tengah kekalutan hatinya. Siang ini ia telah merencanakan rencana pembunuhan untuk keluarga Choi, tapi anak perusahaannya yang berada di Nami sedang menuai masalah dan membuatnya harus melupakan rencananya sejenak untuk menyelesaikan masalah anak perusahaannya di Nami. Tapi itu tidak berlangsung lama. Dalam kurun waktu seminggu ia pasti dapat menjalankan rencananya lagi.

Sembari mengaduk saus krimnya di dalam panci, Donghae mulai memikirkan masa depannya dan juga bayi yang saat ini sedang berada di dalam kandungan Yoona. Sejujurnya selama ini ia hidup hanya mengikuti alur kehidupan yang digariskan oleh Tuhan padanya. Tidak ada masa depan, dan tidak pernah ada rencana untuk masa depan karena ia tidak ingin merencanakan apapun. Baginya masa depan itu sesuatu yang tidak pasti dan sewaktu-waktu dapat menyakitinya. Tapi setelah kehadiran Yoona di dalam hidupnya dan juga kehamilan Yoona, pemikirannya tentang masa depan sedikit demi sedikit mulai berubah. Sekarang ia merasa ingin merencanakan sesuatu untuk keluarga kecilnya. Terkadang hati kecilnya menjerit ingin tetap mempertahankan Yoona di sampingnya bersama dengan anak yang dikandungnya. Tapi dulu ia pernah berjanji pada Yoona, bahwa ia akan melepaskan wanita itu setelah ia melahirkan. Dan ia tentu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menarik itu semua. Sebagai seorang pria sejati, ia harus selalu menepati janjinya. Sekalipun ia bukan pria baik-baik dan bisa dikatakan sebagai pria brengsek, ia tidak akan menarik kata-katanya sendiri.

“Ada apa denganku?” Gumam Donghae pelan dengan pandangan kosong ke depan. Sepintas bayangan mengenai masa kecilnya yang indah langsung berputar-putar di dalam kepalanya, lengkap dengan suara tawanya yang terdengar nyaring saat ia tengah bermain base ball dengan ayahnya. Kenangan itu rasanya tidak akan pernah pergi dari kepalanya, dan justru akan menjadi sebuah pengingat yang terasa begitu menyedihkan untuknya. Terkadang ia juga membayangkan hal yang sama mengenai anaknya nanti. Ia ingin membesarkan anak itu dengan limpahan cinta yang sangat banyak dan ia ingin memiliki keluarga utuh yang bahagia. Ia tidak ingin anak yang berada di dalam kandungan Yoona merasakan apa yang ia rasakan selama ini. Ia tidak mau hal itu terjadi. Cukup dirinya saja yang merasakan hal itu, tidak untuk anaknya.

“Donghae, mana makananku? Aku lapar.” Panggil Yoona dari arah depan. Tiba-tiba sajaa wanita itu sudah berjalan ke arahnya dengan sebelah tangannya yang bergerak mengelus perutnya lembut. Entah itu gerakan sadar atau gerakan naluriah sebagai seorang ibu, yang jelas Lee Donghae merasa hatinya menghangat melihat hal itu. Rasanya Yoona terlihat juga menyayangi anaknya.

“Duduklah, dan makan makananmu.” Ucap Donghae datar dan dingin seperti biasa. Pria itu meletakan sepiring pasta dengan saus krim dan daging ikan salmon di atas meja bar, lalu membantu Yoona untuk duduk di atas sebuah kursi bar yang cukup tinggi. Melihat hasil masakan Donghae yang tampak menggiurkan, mata bulat Yoona langsung bersinar penuh minat dengan air liur yang hampir menetes dari sudut bibirnya. Rasanya ia sangat bahagia hanya dengan melihat makanan itu. Perutnya yang awalnya sedikit bergejolak, tiba-tiba rasa itu langsung hilang seketika, digantikan dengan rasa lapar dan keinginan untuk melahap semua makanan itu dengan rakus. Ia kemudian langsung menyambar garpu serta sendok yang disodorkan oleh Donghae, dan setelahnya ia langsung memakan pasta itu dengan lahap.

“Lee Donghae, ini enak. Terimakasih banyak.” Ucap Yoona riang sambil terus melahap pastanya. Lee Donghae tersenyum simpul dan memutusakan untuk duduk di sebelah Yoona sambil menegak sekaleng birnya. Tiba-tiba Yoona menyodorkan sesendok pasta tepat di depan mulutnya, tapi kemudian ia menggeleng karena ia tidak mau mengambil jatah nutrisi Yoona.

Nutrisi anaknya

“Buka mulutmu, kau juga harus makan.” Ucap Yoona sedikit memaksa. Lee Donghae menjauhkan tangan mungil itu dari bibirnya dan mengarahkan tangan itu tepat di depan bibir Yoona sendiri. Ia tidak mau memakan makanan itu karena makanan itu untuk Yoona, bukan untuk dirinya.

“Itu makananmu. Aku tidak lapar.”

“Tapi aku ingin kau memakannya. Cobalah, ini sangat enak.” Ucap Yoona lagi keras kepala. Lee Donghae tetap menggelengkan kepalanya kesal di sebelah Yoona dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Tapi seperti tidak kehabisan akal, Yoona langsung bangkit dari atas kursinya yang tinggi, dan wanita itu memutari tubuh Donghae untuk memaksa pria itu memakan pasta buatannya.

“Apa? Kenapa kau keras kepala sekali. Aku tidak mau memakannya, makanan itu milikmu dan…”

Tiba-tiba Donghae menggantung kata-katanya karena ia merasa ragu untuk mengucapkannya. Terkadang ia sendiri merasa aneh untuk mengucapkan anakku di depan Yoona, dan membuat Yoona seolah-olah hanya sebagai seorang penampung bagi tumbuh kembang anaknya di dalam sana.

“Dan apa?” Tanya Yoona penasaran. Lee Donghae menghembuskan nafasnya pelan dan  memilih untuk membuka mulutnya secepat mungkin agar Yoona segera diam dan kembali melanjutkan makananya.

“Nah, begitu lebih baik. Bagaimana, bukankah ini enak? Dan apa yang akan kau katakan tadi?” Kejar Yoona lagi dengan wajah yang lebih sumringah. Lee Donghae menatap Yoona sebal sambil membantu wanita itu untuk naik ke atas kursi bar yang tinggi. Ternyata wanita itu tidak mudah teralihkan begitu saja. Mau tidak mau ia harus mengatakan semuanya pada Yoona, dan meluruskannya pada wanita itu jika memang diperlukan.

“Dan anakku. Makanan itu untukmu dan anakku.”

Seketika Yoona langsung menoleh ke arah Donghae dengan mata yang terlihat berkaca-kaca dan hampir menangis. Merasa bingung, Donghae kemudian menyentuh wajah Yoona sambil mencoba merangkai kata untuk menjelaskan pada wanita itu. Tapi tanpa diduga Yoona justru memeluk tubuhnya dengan erat dan langsung menangis di pundaknya.

“Terimakasih, terimakasih Lee Donghae. Meskipun kau jahat dan telah menyeretku ke dalam masalahmu yang rumit ini, tapi kau selalu memperhatikanku dan memperhatikan kehamilanku. Aku… aku benar-benar merasa lebih dihargai di sini. Selama ini aku tidak pernah mendapatkan limpahan kasih sayang dari keluarga Choi. Aku selalu diabaikan dan hanya dilimpahi dengan materi yang bergelimang. Tapi, bukankah materi tidak akan berarti apa-apa dibandingkan kasih sayang yang tulus? Meskipun sebenarnya kau hanya mengkhawatirkan anak ini dan peduli pada anak ini, aku tidak apa-apa. Aku sudah cukup bahagia dengan semua perhatian itu.”

Lee Donghae terdiam di tempat dengan tangan yang menggantung di udara. Niatnya untuk membalas pelukan Yoona terhenti begitu saja setelah mendengar semua kata-kata yang dolontarkan oleh wanita itu padanya.

Jadi selama ini ia menganggap semua ini karena bayi itu?

Lee Donghae merasa sebenarnya apa yang diucapkan Yoona sedikit salah. Ia tidak memperlakukannya dengan baik semata-mata hanya karena anak itu. Ia benar-benar tulus memperlakukan Yoona dengan baik karena ia merasa bersalah pada wanita itu, dan juga… ia merasa memang harus melakukan hal itu. Semenjak ia membawa Yoona pergi dari rumah itu, ia langsung berpikir jika Yoona adalah tanggungjawabnya. Padahal sebelumnya ia tidak pernah mengenal Yoona ataupun bertemu Yoona secara langsung. Ia hanya sering melihat Yoona dari gambar-gambar yang dikirimkan anak buahnya padanya. Tapi ia merasa seperti telah mengenal Yoona sejak lama. Ia merasa memiliki keterikatan dengan Yoona, yang tidak pernah ia sadari selama ini.

“Lee Donghae, apakah kau akan melepaskankus setelah anak ini lahir?”

“Ya, aku akan melepaskanmu.”

Kata-kata itu terasa sedikit berat untuk diucapkan oleh Donghae. Ia sebenarnya tidak ingin melepaskan Yoon dan menginginkan wanita itu berada di sampingnya, bersama dengan anaknya kelak. Tapi ia merasa tidak memiliki hak untuk menahan Yoona di sisinya karena sejak awal Yoona memang tidak seharusnya bersamanya. Ia yang merampas kehidupan wanita itu dan memaksanya untuk bertahan di sisinya dengan anak itu. Jadi, apakah ia berhak untuk manahan Yoona dan meminta wanita itu tinggal di sisinya?

Sementara itu, Yoona tengah merasa sakit dan kecewa dengan ucapan Donghae. Selama dua minggu ini ia terus memikirkan nasibnya setelah melahirkan nanti, ia kemudian berpikir jika akan lebih baik baginya untuk terus bersama Donghae dan membesarkan anak itu bersma dengan pria itu. Tapi Donghae sepertinya tidak menginginkannya untuk bersamanya. Pria itu akan melepaskannya setelah ia melahirkan. Pria itu akan memisahkannya dengan anaknya. Tapi bukankah ini yang ia inginkan sejak awal? Pergi sejauh mungkin dari kehidupan pria itu dan juga kerumitan keluarga Choi. Membangun kehidupannya sendiri dan menapaki masa depannya sendiri. Tapi benarkah itu yang ia inginkan? Benarkah ia ingin hidup sendiri dan meninggalkan semua hal-hal indah yang akhir-akhir ini dirasakannya.

Pada akhirnya baik Yoona maupun Donghae hanya mampu memeluk satu sama lain untuk menyalurkan perasaan mereka yang tak pernah mereka utarakan. Mereka hanya berharap, semoga suatu saat mereka dapat mengatakannya dan saling jujur satu sama lain.

-00-

Pagi itu Donghae tampak sudah siap dengan kemeja berwana hitamnya dan juga sebuah jas yang tersampir di tangannya. Pria itu tampak membuka gorden di kamarnya lebar-lebar, membuat Yoona yang masih terlelap langsung terbangun seketika dengan erangan kesal karena tidurnya telah diganggu oleh pria itu.

“Tutup gordennya, aku masih mengantuk.” Erang Yoona kesal dan kembali memeluk gulingnya dengan nyaman. Sedang Lee Donghae hanya menatap wanita itu datar dan segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar nyaman dan juga hangat itu.

“Selamat pagi tuan.”

Nam Joohyuk langsung menyapa Donghae hangat ketika pria itu telah menuruni tangga dan sedang berjalan menuju meja makan. Di sana, Joohyuk sudah menyiapkan berbagai macam hidangan sarapan dan juga secangkir kopi untuknya. Donghae kemudian meraih cangkir kopi itu, dan segera menyeruputnya dengan nikmat.

“Apa kau sudah mempersiapkan semuanya?” Tanya Donghae pada Joohyuk yang sedang menyiapkan piring untuknya. Pria itu menoleh sekilas pada Donghae, dan langsung menganggukan kepalanya sebagai jawaban ya.

“Saya sudah mengemasi seluruh barang-barang kita tuan. Kapan kita akan pindah tuan?” Tanya Joohyuk penasaran.

“Sore ini. Kita akan pindah ke sebuah rumah yang berada di Gangnam, kebetulan malam ini aku memiliki tugas di sana.” Ucap Donghae misterius dengan seringaian. Nam Joohyuk menganggukan kepalanya mengerti dan tidak menanyakan hal itu lebih lanjut. Ia tahu, maksud dari tugas yang diucapkan oleh Donghae pasti adalah tugas membunuh. Sebenarnya sudah lima tahun terakhir ini Donghae juga menerima pekerjaan sebagai seorang pembunuh bayaran. Selain mengelola bisnis milik keluarganya, Donghae juga melakukan pekerjaan gelap itu semata-mata untuk memacu adrenalinnya. Bermain-main menggunakan pistol dan juga pisau adalah salah satu kesenangan yang mampu membuatnya melupakan semua kesedihannya. Dan sepertinya malam ini Lee Donghae telah menemukan target baru.

“Tuan, Jaebum telah datang.” Beritahu Joohyuk pada Donghae yang sedang menyantap makanannya dengan nikmat. Tak berapa lama, pria muda dengan rambut berwarna coklat itu masuk ke ruang makan sambil membungkukan tubuhnya hormat pada Donghae.

“Bagaimana dengan target kita?”

“Tuan dan nyonya Choi hari ini akan menghadiri pesta di hotel Park Hyatt.”

“Bagus, persiapkan semua perlengkapan yang diperlukan. Dan jangan lupakan senjataku Jaebum, aku akan membuat Korea gempar hari ini.” Seringai Donghae licik sambil menatap Jebum penuh arti.

-00-

Malam ini Donghae telah siap dengan pistol laras panjangnya yang kedap suara. Pria itu telah menggunakan sarung tangan hitamnya dan juga jaket kulit hitam untuk menyamarkan tubuhnya diantara gelapnya malam di atap gedung pencakar langit. Di seberang sana, tampak pesta mewah sedang berlangsung di dalam ballroom hotel Park Hyatt. Sembari menunggu laporan dari anak buahnya yang berada di dalam hotel itu, Donghae mulai menyulut sebatang rokok yang ia ambil dari saku celanannya. Asap tipis dari asap rokok tampak mengepul pelan dari dalam bibir dan juga hidung Donghae. Malam ini ia akan mengakhiri semuaya. Mengakhiri perebutan harta berdarah yang telah dimulai lebih dulu oleh keluarga Choi dan keluarganya. Lalu ia akan mengembalikan semua harta itu pada Yoona dan melepaskan Yoona pergi untuk memulai kehidupan barunya. Mengingat wanita itu, membuatnya tiba-tiba merindukan sosok cerewetnya yang gemar berteriak-teriak di sekitarnya jika ia mengabaikannya. Kira-kira apa yang sedang dilakukan wanita itu sekarang? Bagaimana reaksinya nanti jika wanita itu tahu jika hari ini ia akan mengeksekusi kedua orangtua angkatnya? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Donghae hingga tiba-tiba lamunannya tersadarkan dengan suara gemerisik dari ear phone yang dipakainya. Dan tak berapa lama, suara anak buahnya mengalun dengan tegas di ujung sana, memberitahukan jika target telah datang dan berdiri tepat di titik sasaran.

“Target telah siap.”

“Hmm, kuci target. Saatnya pertunjukan dimulai.”

Dengan gerakan gesit, Donghae segera memposisikan dirinya di belakang senapan laras panjangnya. Rokok yang telah ia hisap setengah, langsung ia buang begitu saja di atas tanah dengan matanya yang sedang awas mengintai pergerakan musuh dari teropong kecil yang dibawanya.

Ckrek

Donghae mulai menarik recoil spring senapannya sambil memperkirakan kecepatan peluru yang akan ditembakan di kepala tuan Choi. Dan setelah semuanya benar-benar pas dan sempurna, tanpa ragu Donghae langsung menarik pelatuk senapan jarak jauhnya.

Dor

Satu tembakan berhasil dilepaskan oleh Donghae dan tepat mengenai sasaran. Tuan Choi tampak jatuh tersungkur dengan darah yang mulai mengucur keluar dari kepalanya. Donghae kemudian segera bersiap untuk melakukan penembakan yang kedua. Saat ini nyonya Choi tengah menjerit histeris di samping suaminya yang telah tak bernyawa, dan hal itu merupakan posisi yang sangat sempurna untuk membunuh satu maskot dari keluarga Choi yang tersisa.

“Nyawa dibalas nyawa.”

Dor

Peluru itu langsung melesat dengan kecepatan tinggi, menembus gelapnya malam yang pekat dan kemudian langsung menembus kepala nyonya Choi yang sedang menunduk di sebelah tubuh suaminya yang tak bernyawa. Dan dalam sekejap, tubuh rapuh itu langsung terjatuh di sebelah tubuh suaminya dengan darah segar yang juga mengucur dari dalam kepalanya. Suara jeritan para tamu undangan saling bersahut-sahutan di dalam ballroom itu, mengantarkan kepergian tuan dan nyonya Choi untuk membusuk di dalam neraka.

Sementara itu, Lee Donghae langsung membereskan semua senjatanya karena polisi pasti akan segera datang ke gedung itu untuk mencari jejak pembunuhan nyonya dan tuan Choi. Namun sayangnya ia melupakan sesuatu, sesuatu yang sangat fatal yang akan membahayakan nyawanya dan mungkin saja nyawa Yoona, puntung rokok.

-00-

Kegaduhan tampak terjadi di dalam ballroom hotel Park Hyatt ketika polisi dan tim medis datang untuk membawa jasad nyonya dan tuan Choi yang tampak mengenaskan. Choi Siwon yang datang lima belas menit setelah kejadian langsung menggeram marah sambil menatap kosong pada jasad eomma dan appanya yang terlihat mengenaskan. Ia yakin jika Donghae pasti yang telah melakukan semua ini, tapi ia tidak bisa menuduh pria itu dan menjebloskannya ke penjara jika polisi belum menemukan bukti yang mengarah pada pria itu. Lagipula beberapa saat yang lalu polisi mengatakan jika pembunuhan kali ini dilakukan oleh seorang snipper dari jarak jauh. Jadi kemungkinan pelaku dari pembunuhan ini bukan Donghae, tapi orang lain yang menjadi anak buah Donghae.

“Cari pembunuh itu dan hukum dia seberat-beratnya.” Ucap Siwon tegas pada sekumpulan polisi yang berdiri di depannya. Polisi-polisi itu langsung mengangguk patuh dan segera pergi untuk menyisir lokasi hotel dan sekitar hotel.

Setelah kepergian polisi-polisi itu, Siwon segera berjalan pergi untuk mengurus prosesi pemakaman kedua orangtuanya. Beberapa wartawan tampak membidikan kamera mereka ke arahnya, namun ia tampak tidak peduli dan langsung pergi begitu saja. Sekarang ia benar-benar merasa kosong dan tak memiliki harapan hidup. Semua keluarganya telah pergi meninggalkannya. Satu-satunya wanita yang sangat dicintainya pun kini telah menghilang entah kemana.

Inikah perasaan yang dirasakan Donghae selama ini?

            Pertanyaan itu terus menerus menggema di dalam kepalanya, seakan-akan mengejek keadaanya yang mengenaskan saat ini. Ia sadar jika semua ini adalah balasan dari perbuatannya dan perbuatan orangtuanya di masa lalu. Tapi egonya tidak bisa menerima semua ini begitu saja karena ia harus mengambil satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu Im Yoona. Lee Donghae boleh mengambil kedua orangtuanya dengan cara tragis seperti ini. Tapi ia tidak boleh mengambil Yoona darinya. Apapun yang terjadi, ia harus mendapatkan Yoona dan menikahi wanita itu.

“Cari Donghae dan ambil Yoona untukku.” Perintah Siwon pada salah satu anak buahnya melalui telepon. Setelah ini ia sendiri yang akan turun tangan untuk mencari Yoona. Tak ada lagi kelonggaran untuk Donghae, dan pria itu juga harus mati ditangannya.

-00-

Yoona tampak sedang menuruni anak tangga sambil menopang pinggangnya yang terasa mulai berat. Hari ini lagi-lagi Lee Donghae membawanya pindah dari rumah mereka sebelumnya. Berkali-kali ia mengatakan pada Donghae jika ia lelah, tapi pria itu selalu tidak meresponnya dan langsung membawanya pergi dari rumah-rumah yang nyaman itu. Sekarang ia menempati rumah baru lagi yang berada di distrik Gangnam. Meskipun ia cukup heran mengapa tiba-tiba Donghae membawanya ke sebuah rumah yang berada di tengah-tengah distrik terelit di kota Seoul, tapi ia akui ia menyukai rumah ini. Selama ini Lee Donghae selalu membawanya ke sebuah rumah biasa yang berada di kawasan pedesaan Korea. Pria itu jarang membawanya ke sebuah rumah yang sangat elit seperti ini. Pria itu lebih suka membawanya ke daerah sepi yang akan sulit untuk dilacak oleh Siwon dan juga anak buahnya.

Merasa bosan, Yoona kemudian mulai berjalan ke ruang depan karena saat ia datang ke rumah ini, ia merasa tertarik dengan sebuah foto yang berada di ruang depan. Ia merasa foto itu mirip dengan Donghae.

“Itu adalah foto tuan Donghae saat masih berusia dua belas tahun.”

Tiba-tiba Joohyuk telah berdiri di sebelahnya sambil menatap dalam pada foto besar yang terpajang di depannya. Yoona yang merasa heran dengan ucapan pria itu langsung menoleh penuh minat pada Nam Joohyuk untuk mendengar cerita lengkap dari pria itu.

“Jadi..”

“Ya, ini adalah rumah pribadi tuan Donghae.” Ucap Nam Joohyuk menjelaskan. Pria itu kemudian membawa Yoona untuk duduk di salah satu sofa yang berada di ruangan itu untuk menceritakan semua masa lalu Donghae pada Yoona. Semua masa lalu Donghae yang tidak pernah diungkap oleh pria itu padanya.

“Jadi ini benar-benar rumahnya? Hmm, pantas rumah ini sangat bagus.” Komentar Yoona dengan dahi berkerut. Pandangan matanya langsung memutari ruangan itu untuk mengamati setiap foto yang dipajang di sana. Sepertinya saat memasuki rumah ini tadi pagi, ia terlalu lelah dan mengantuk, sehingga ia sama sekali tidak sadar dengan semua foto-foto yang terpajang di sana.

“Rumah ini adalah rumah tempat tuan Donghae menghabiskan masa kecilnya.”

“Tunggu, mengapa kau tahu jika rumah ini adalah rumah Donghae sejak kecil, sedangkan umurmu sepertinya sama dengannya.” Tanya Yoona heran. Joohyuk tampak tersenyum aneh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pria itu tampak sedikit canggung untuk menjawab pertanyaan Yoona.

“Karena sejak kecil saya tinggal di rumah ini, saya adalah anak dari supir tuan Lee.”

“Oh, pantas saja kau sangat mengetahuinya. Awalnya kupikir kalian adalah sepasang kekasih. Karena sepertinya Donghae sangat bergantung padamu.” Ucap Yoona dengan cengiran kecil.

“Kekasih? Apakah kami terlihat seperti itu? Saya tidak mungkin menjadi kekasihnya, saya pria normal. Selain itu tuan Donghae adalah pria yang sangat kejam. Ia adalah pria berdarah dingin dan juga seorang pembunuh bayaran.”

Yoona menatap terkejut pada Joohyuk sambil melebarkan matanya yang bulat dengan pandangan tak percaya.

“Jadi selama ini aku tidur dengan seorang pembunuh? Oh Ya Tuhan, dan aku juga mengandung bayinya. Benar-benar sulit dipercaya.” Ucap Yoona berlebihan. Nam Joohyuk tertawa keras mendengar tanggapan Yoona yang sangat diluar perkiraannya itu. Ia pikir Yoona akan takut atau bergidik ngeri, tapi wanita itu justru berteriak-teriak dengan kata-kata konyolnya yang menggelikan.

“Tuan Donghae sudah menjadi pembunuh sejak lima tahun terakhir. Awalnya tuan Donghae hanya ingin mempelajari tekhnik-tekhnik bela diri dan tekhnik menggunakan senjata. Tapi sejak tuan dan nyonya Lee meninggal, tuan Donghae menjadi pria dingin yang selalu dirundung kesedihan. Hanya senjata-senjata yang bisa mengalihkan rasa sedihnya dari kematian tragis kedua orangtuanya. Lalu tuan Donghae mulai memutuskan untuk melampiaskan kemarahannya dengan berlatih menembak. Sejak dulu kemampuan menembaknya sangat baik, hingga terkadang saya merasa ngeri setiap mengantarkan minuman di dalam ruang berlatih menembak tuan Donghae.”

“Di rumah ini ada ruangan seperti itu?” Tanya Yoona penuh keterkejutan. Joohyuk kemudian mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Yoona. Sedangkan Yoona sendiri tampak terlihat lemas dengan semua fakta yang baru saja diketahui. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa ia akan berurusan dengan seorang pembunuh berdarah dingin seperti Donghae. Ia pasti saat itu benar-benar sial karena harus mendapatkan nasib yang sangat mengerikan seperti ini.

“Lalu siapa orang pertama yang dibunuhnya?” Tanya Yoona lagi. Joohyuk tampak mengingat sebentar sambil mengetuk-etukan jarinya di lengan kursi. Sungguh ia lupa siapa saja yang pernah menjadi target tuannya itu, karena selama ini ia tidak pernha bertanya langsung pada Donghae. Ia hanya mencuri dengar dari percakapan Donghae dengan Jaebum.

“Sepertinya menteri perhubungan Korea. Kalau saya tidak salah ingat, saat itu tuan Donghae menerima perintah dari seorang pengusaha yang memiliki dendam dengan Kang Jimin karena menteri itu tidak mau membantu perusahaannya untuk mendirikan anak perusahaan di luar negeri.”

“Hanya karena itu Kang Jimin dibunuh? Benar-benar sangat mengerikan. Aku tidak mau mendengar cerita mengenai pekerjaan membunuhnya. Ceritakan aku cerita yang lain yang berhubungan dengan Lee Donghae, seperti kekasihnya, makanan kesukaannya, teman kecannya, atau hal lain selain reputasi membunuhnya. Tiba-tiba aku merasa mual dengan cerita-ceritamu, pasti anakku juga tidak suka mendengar cerita mengenai ayahnya yang seperti itu.” Ucap Yoona malas. Nam Joohyuk tersenyum penuh arti pada Yoona ketika mendengar wanita itu menyebut bayi yang berada di dalam kandungannya sebagai anaknya dan juga menyebut Lee Donghae sebagai ayahnya. Secara tidak langsung, Yoona baru saja mengakui jika bayi itu adalah anaknya dan juga Donghae. Karena selama ini Yoona tidak pernah mengakui anak itu sebagai anaknya, dan hanya menganggap anak itu sebagai anak dari Lee Donghae. Yoona yang melihat Joohyuk yang tampak tersenyum aneh di depannya langsung memukul lengan pria itu dengan keras agar pria itu tidak terus menerus tersenyum aneh sambil menatap wajahnya.

Plakk

“Apa yang kau tertawakan?” Tanya Yoona galak. Joohyuk benar-benar merasa kaget dan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Tidak, bukan apa-apa. Tuan Donghae selama ini tidak pernah memiliki kekasih, anda adalah wanita pertama yang dibawa tuan Donghae ke rumah ini dan juga wanita pertama yang mengandung anaknya.”

“Hmm, jadi apakah aku harus tersanjung setelah mendengar hal itu? Tentu kau tidak lupa bagaimana ini semua bisa terjadi kan?” Tanya Yoona dengan nada sakarstik. Joohyuk menganggukan kepalanya paham sambil tersenyum lembut pada Yoona.

“Tentu saja saya ingat nona. Tapi selama anda berada di sini tuan Donghae selalu memperlakukan anda dengan baik.”

“Ya, dia melakukannya karena bayi ini, bukan karena aku. Sebaiknya kita membahas hal lain saja. Apa Donghae suka meniduri wanita-wanita murahan, seperti seorang pelacur?”

“Entahlah, itu bukan wewenang saya. Yang jelas tuan tidak pernah membawa wanita lain ke rumah ini selain anda.”

“Yah, tidak membawa wanita lain ke rumah ini bukan berarti dia tidak meniduri wanita-wanita murahan di luar sana kan? Ah, pembicaraan ini membuatku bosan. Apa kau tidak memiliki informasi lain yang lebih berbobot?”

“Saya.. sepertinya tidak. Nona, saya masih memiliki pekerjaan lain. Selamat malam.”

Tiba-tiba saja Nam Joohyuk pergi begitu saja dengan langkah cepat yang terlihat terburu-buru. Merasa heran, Yoona kemudian menolehkan kepalanya ke kanan, arah yang sebelumnya dilirik oleh Joohyuk sebelum ia berlari terbirit-birit. Dan betapa terkejutnya Yoona saat ia menemukan Donghae sedang berdiri di sebelahnya dengan baju berwarna hitam-hitam dan sebuah sarung tangan hitam. Pria itu tampak berdiri kaku sambil menatap wajahnya datar.

“Dddonghae, apa yang kau lakukan?” Tanya Yoona tergagap. Pria itu tiba-tiba mendudukan dirinya di sebelahnya, membuat sofa putih yang sedang diduduki oleh Yoona langsung melesak turun dan membuat Yoona sedikit merasa kesempitan.

“Kau bisa duduk di sana, kenapa kau harus meringsek di sebelahku? Kau membuat perutku terhimpit.”

“Ini rumahku dan sofaku, aku bebas duduk dimana saja. Apa yang kalian bicarakan? Joohyuk pasti terlalu banyak berbicara tentangku.” Ucap Donghae dingin. Yoona menatap wajah pria itu lekat sambil menyentuh wajah Donghae yang dingin.

“Dari mana saja kau? Wajahmu dingin.” Komentar Yoona tanpa mempedulikan kerutan samar di kening Donghae. Pria itu saat ini merasa aneh dengan sentuhan Yoona. Sentuhan itu terasa begitu asing untuknya, dan membuat tubuhnya sedikit bergelenyar aneh.

“Aku baru saja membunuh Choi Hyungdo dan isterinya.”

“Oh. Jadi mereka sudah mati. Hmm, aku tidak terkejut.” Komentar Yoona tanpa ekspresi. Merasa aneh, Donghae kemudian mengamati wajah Yoona lekat-lekat dan mencari raut sedih di sana, tapi ia sama sekali tak menemukannya di sana. Justru wanita itu balas menatapnya dengan tatapan datar yang sama dengannya.

Ada apa dengan wanita ini?

“Kenapa? Aku tidak merasakan apapun. Mereka selama ini tidak pernah menyayangiku dengan tulus, sehingga aku benar-benar tidak merasakan apapun atas kematian mereka. Kau tidak akan pernah menemukan tangisan atau tetesan air mata dariku jika itu yang kau harapkan atas kematian mereka.”

“Baguslah kalau begitu. Aku juga tidak mengharapkannya darimu. Apa kau sudah makan?”

“Sudah, Joohyuk selalu merawatku dengan baik.”

“Hmm, kau sudah meminum susumu?” Tanya Donghae lagi. Yoona menggeleng pelan sambil menatapnya dengan matanya yang bulat, membuat Donghae cukup risih dengan tatapan itu.

“Singkirkan matamu dari wajahku. Kau tidak perlu menatapku seperti itu jika kau ingin aku membuatkan susu untukmu.” Ucap Donghae gusar. Entah mengapa ia tidak suka dengan mata bulat Yoona yang selalu menatapnya dengan tatapan memohon saat ia memintanya untuk membuatkan susu khusus ibu hamil. Saat itu Yoona beralasan jika susu buatannya enak, sehingga ia tidak mau ada orang lain yang membuatkannya. Pernah suatu hari Donghae harus pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya selama tiga hari, dan selama itu Yoona tidak pernah meminum susunya karena Donghae tidak ada di rumah untuk membuatkannya susu. Benar-benar manja.

“Kalau begitu buatkan sekarang, dan aku akan langsung meminumnya karena aku sedang haus.”

“Ayo, aku akan membuatkannya sekarang.”

Donghae bangkit dari duduknya dan segera melangkah pergi meninggalkan Yoona sendirian yang masih mencoba untuk berdiri karena pinggangnya yang terasa pegal. Sejak hamil, jika ia duduk terlalu lama, pinggangnya pasti akan terasa pegal jika ia langsung berdiri. Dan ia merasa kesal akan hal itu, karena ia menjadi sangat lamban dan harus menyesuaikan diri untuk beberapa saat sebelum benar-benar dapat berjalan.

“Perlu bantuan?”

Yoona berjengit kaget di tempatnya saat melihat Donghae yang tiba-tiba berada di sampingnya. Padahal beberapa saat yang lalu pria itu sudah berjalan pergi meninggalkannya, tapi tiba-tiba saja pria itu sudah muncul di sebelahnya sambil merangkul tubuhnya dengan lengan kanannya yang kekar.

“Aku hanya perlu sedikit menyesuaikan diri, kau tenang saja.” Ucap Yoona sedikit tidak nyaman. Tanpa mempedulikan sikap Yoona yang tidak nyaman, Donghae tetap bersikeras untuk menuntun Yoona menuju dapur. Dan hal itu sukses membuat jantung Yoona berdebar-debar. Selama ini ia tidak pernah berada di jarak yang sedekat ini dengan Donghae selain di atas ranjang. Itupun mereka saling memunggungi dan tidak pernah berhadap-hadapan. Tapi ini terasa berbeda. Sekali lagi ia merasa ada yang aneh dengan kedekatannya dengan Donghae.

“Jadi selama ini kau adalah pembunuh?”

Pertanyaan itu mengalun begitu saja dari bibir Yoona setelah sebelumnya ia tengah berperang dengan batinnya karena ketidaknyamanan tubuhnya yang terlalu dekat dengan Donghae. Rasanya ia hanya ingin mendengar jawaban langsung dari pria itu terkait dengan hobinya yang sangat mengerikan itu. Dan lagi, ia juga ingin memastikan apakan setelah ini pria itu akan membunuhnya, mengingat ia telah berhasil membunuh tuan dan nyonya Choi.

“Ya, bisa dibilang begitu. Joohyuk pasti telah menceritakan semuanya padamu, masa laluku, dan masa kelamku.”

“Tidak semuanya, ia hanya menceritakan bagian yang ia ketahui. Tapi sepertinya ada banyak hal yang kau sembunyikan dari orang-orang disekitarmu, dan aku ingin mengetahuinya. Apa aku boleh…”

“Apa yang ingin kau ketahui dariku?” Potong Donghae langsung. Pria itu seperti sedang menurunkan benteng pertahanannya untuk Yoona. Dan pria itu pasti tidak akan melakukan hal itu lagi di lain waktu.

“Apa alasanmu melakukan hal itu?”

“Karena aku menikmatinya.”

“Tidak, kau tidak menikmatinya. Kau bohong.” Tuduh Yoona telak. Lee Donghae melepaskan rangkulan tangannya dari tubuh Yoona dan langsung menatap manik karamel Yoona dengan gusar.

“Atas dasar apa kau menuduhku berbohong. Aku sudah memberimu kesempatan untuk menanyakan semua pertanyaan yang bersarang di benakmu, jadi jangan menuduhku sesuka hatimu seperti itu.”

“Tapi kau benar-benar berbohong. Kau tidak menikmatinya, kau sebenarnya justru merasa sakit dan ingin orang lain juga merasakan kesakitan yang kau rasakan. Dan sampai saat ini pun kau masih merasakan rasa sakit itu.”

Yoona menatap kaku Donghae yang terlihat menyedihkan. Untuk pertama kalinya Yoona dapat melihat raut kesakitan yang dipancarkan oleh Donghae dengan jelas. Ia tahu jika sebenarnya alasan Donghae melakukan pekerjaan membunuh itu karena ia ingin menyalurkan rasa sakit yang menderanya pada orang lain. Ia ingin rasa sakitnya juga ikut pergi bersama dengan rasa sakit yang dirasakan oleh orang-orang yang dibunuhnya. Tapi rasa sakit itu tidak bisa pergi. Rasa sakit itu justru mengendap semakin dalam di hatinya dan mengkristal di dalam sana, menciptakan sebuah dendam yang begitu besar dan ambisi untuk menyakiti si pemberi kesakitan yang telah menuangkan kesakitan itu di dalam hatinya.

“Hahaha, kau benar.”

Lee Donghae tertawa hambar di depan Yoona dengan wajah pesakitannya yang mengenaskan. Yoona yang melihat hal itu tiba-tiba merasa iba dan langsung berinisiatif untuk menggenggam tangan Donghae. Ia merasa memiliki nasib yang sama dengan Donghae. Bersyukur ia mengalami amnesia kanak-kanak, sehingga ia tidak perlu menyimpan dendam yang begitu besar di hatinya seperti Donghae. Mungkin jika ia tidak mengalami amnesia kanak-kanak, hidupnya pasti akan lebih menyakitkan daripada apa yang dirasakan oleh Donghae.

“Rasa sakit itu memang tidak pernah hilang dan justru semakin parah membelengguku. Tapi setidaknya aku telah membunuh orang-orang keparat yang telah membuatku menjadi seperti ini. Mereka telah membawa rasa sakitku pergi ke neraka, aku tidak akan merasa sakit lagi.”

“Semua itu tergantung padamu.”

Tanpa aba-aba, Yoona langsung memajukan wajahnya untuk mencium bibir Donghae. Lumatan lembut itu mengirimkan getar-getar ketulusan pada jiwa kosong Donghae, membuat pria itu akhirnya membalas lumatan Yoona dengan lumatan yang sama lembutnya dengan wanita itu. Meskipun ia tidak tahu apa maksud wanita itu menciumnya, tapi semua ini sudah cukup untuk menghangatkan hatinya yang beku. Wanita itu berhasil merubuhkan dinding egonya yang sangat kuat dan kokoh dengan ketulusan dan kecerewetannya yang menyebalkan. Dan wanita itu berhasil membuatnya berdebar hanya dengan sebuah ciuman.

-00-

Empat bulan telah berlalu dengan begitu cepat sejak malam Yoona mencium bibir Donghae dengan tiba-tiba. Kini hubungan mereka sudah lebih baik dan mereka tampak semakin dekat satu sama lain. Kini Yoona terlihat seperti seorang isteri siaga yang selalu menyiapkan segala keperluan suaminya. Padahal sebenarnya hubungan mereka masih sama, tidak ada ikatan cinta dan hanya karena anak yang dikandung oleh Yoona. Tapi entah mengapa Yoona menikmati peran barunya sebagai seorang isteri dalam tanda kutip untuk Donghae. Dan selama ini, Donghae pun tidak keberatan dengan sikap Yoona. Meskipun pria itu masih tetap dingin seperti sebelum-sebelumnya, namun kadar kedinginan pria itu sudah lebih berkurang dan ia terkadang juga menunjukan sikap perhatiannya pada Yoona dengan membelikan Yoona makanan yang diinginkan oleh wanita itu dan membuatkan segelas susu untuk Yoona di pagi dan malam hari.

“Pagi Oppa, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu.” Sapa Yoona riang ketika Donghae sedang memakai kemejanya di dalam kamr. Dengan santai, Yoona mulai memasangkan dasi garis-garis merah di kerah kemeja Donghae dan menyimpulkannya dengan rapi di sana. Setelah itu Yoona mulai beranjak menuju ranjang untuk merapikan semua kekacauan yang telah mereka lakukan semalam. Tapi tunggu, itu bukan jenis kekacauan yang kalian pikirkan, semalam mereka hanya bermain game dan yang kalah harus menerima seratus gelitikan dari yang menang. Dan seperti yang kalian duga, Yoona kalah dalam permainan itu, sehingga ia harus menerima seratus gelitikan dari Donghae. Dan hal itu berakibat pada ranjang mereka yang berubah menjadi sangat berantakan karena Yoona yang terus meronta-ronta saat Donghae menggelitiki pinggangnya beberapa kali.

“Apa siang ini kau akan pergi ke dokter?”

Yoona langsung menggeleng cepat sambil mendengus pada Donghae.

“Aku sudah pergi kemarin bersama Joohyuk. Kau ini calon ayah yang buruk. Bagaimana mungkin kau tidak pernah mengantarkan aku ke dokter kandungan untuk melihat tumbuh kembang anakmu. Bahkan dokter itu mengira jika Joohyuk adalah ayah dari bayi ini. Kau keterlaluan.” Protes Yoona cemberut. Donghae kemudian melayangkan tatapan minta maaf sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Akhir-akhir ini ia memang selalu sibuk untuk mengurus semua bisnisnya dan juga Siwon. Setelah sebelumnya pria itu melaporkannya ke kantor polisi atas tuduhan pembunuhan, ia sekarang mulai mengganggu kehidupannya lagi dan ingin mengambil Yoona darinya. Kemarin ia memang berhasil berkelit ketika bukti pembunuhan itu dengan kuat mengarah padanya. Tapi ia berhasil menyuap petingga polisi bagian investigasi agar menghilangkan bukti puntung rokok yang dibuangnya begitu saja di atas gedung agar Choi Siwon tidak bisa mengusik kehidupannya lagi. Lalu sebulan yang lalu ia berhasil menyewa seorang seorang gelandangan untuk mengakui semua kejahatan yang telah dilakukannya. Polisi yang disuapnya juga ikut andil dengan menukar barang bukti dengan puntung rokok palsu yang memiliki bekas bibir dari gelandangan itu. Kini semua penduduk Korea mengira jika si pembunuh tuan dan nyonya Choi adalah gelandangan itu, bukan dirinya. Namun Choi Siwon masih tetap gigih mengejarnya karena ia telah membawa Yoona pergi dari pria itu. Bahkan sebenarnya sejak awal Choi Siwon tidak terlalu memikiran kasus pembunuhan orangtuanya, pria itu hanya memikirkan Yoona dan bagaimana cara mengambil wanita itu dari Donghae sehingga ia terus melakukan berbagai macam cara agar Lee Donghae dapat dijebloskan ke dalam penjara dan ia dapat mengambil Yoona kembali ke dalam pelukannya.

“Apa Siwon oppa masih mengusikmu?”

“Dia masih gigih untuk mencarimu. Oleh karena itu hari ini kita akan pergi dari rumah ini…”

“Lagi? Kita akan pindah lagi? Oh ayolah, aku lelah. Bisakah kalian berbaikan dan tidak bermain kucing-kucingan seperti ini. Sekali saja aku ingin hidup tenang sebelum aku melahirkan. Kau benar-benar keterlaluan, kau membiarkan seorang ibu hamil sepertiku kelelahan karena harus berpindah dari satu rumah ke rumah lain hanya demi menghindari Choi Siwon. Apa kau tidak lelah melakukan hal itu?” Ucap Yoona panjang lebar sambil menghentak-hentakan kakinya gusar di atas lantai. Lee Donghae yang melihat hal itu langsung berjongkok di depan Yoona untuk meminta pengertian dari wanita itu. Bukannya ia jahat karena terus membuat Yoona lelah dengan jalan pikirannya yang rumit, hanya saja ia tidak ingin Siwon mengambil Yoona darinya. Ia sudah terlalu nyaman dengan keberadaan wanita itu di sampingnya, dan ia tidak ingin Yoona pergi darinya.

“Tunggulah sebentar lagi, aku sedang mencoba untuk menghentikan Siwon dengan caraku.”

“Dengan caramu? Apa kau akan membunuhnya?” Tanya Yoona sakarstik. Lee Donghae menghela nafas pelan untuk mencoba bersabar dengan sikap Yoona yang terkadang kekanakan seperti ini.

“Meskipun aku memang ingin, tapi aku tidak akan melakukannya. Aku sudah cukup puas dengan membunuh kedua orangtuanya, jadi aku tidak akan membunuhnya. Aku hanya akan memberinya sedikit pelajaran agar ia menyerah untuk mengejarku dan juga mengejarmu.”

“Baiklah, terserah padamu. Kita lupakan Siwon oppa sekarang karena aku memiliki kabar penting untukmu.”

Yoona tiba-tiba megalungkan lengannya pada leher Donghae sambil bergelayut manja pada pria itu. Selama kehamilan, emosi Yoona memang sering berubah-ubah dan tidak stabil. Terkadang wanita itu begitu meledak-ledak, namun terkadang wanita itu terlihat rapuh dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Dan Donghae benar-benar merasa kesal jika Yoona sudah mulai menunjukan hal itu padanya.

“Apa? Kau tidak akan memberikan berita yang dapat membuatku marah seperti dulu kan?” Tanya Donghae penuh selidik. Yoona langsung menggelengkan kepalanya cepat sambil mendengus kesal pada Donghae. Dulu saat ia sedang stress ia pernah berpikir untuk menggugurkan kandungannya dan saat ia sudah berada di rumah sakit, ia baru menghubungi Donghae untuk mengatakan hal itu. Dan tentu saja, Donghae langsung memaki-makinya habis-habisan dari ujung telepon dan mengancam akan membunuh dokter yang akan menggugurkan kandungannya. Yah, itu memang cerita masa lalu ketika emosinya sedang tidak stabil. Sekarang ia tidak mungkin akan melakukan hal itu karena kandungannya sudah semakin membesar. Usia kandungannya sudah menginjak bulan ke delapan, dan tiga hari lagi akan memasuki bulan ke sembilan. Begitu cepatnya waktu berlalu hingga tak terasa bayi itu sudah tumbuh besar di dalam perutnya dan akan segera keluar meninggalkan rahimnya yang hangat dan nyaman.

“Tidak, aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Kali ini berita yang lebih penting dan tidak akan membuatmu memaki-makiku seperti dulu.”

“Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?”

“Dia laki-laki, dokter mengatakan padaku jika ia laki-laki?”

Donghae mengerutkan keningnya heran sambil menatap Yoona penuh tanda tanya. Sebenarnya apa yang dimaksudkan oleh wanita itu? Ia benar-benar tidak mengerti dengan ucapan ambigu yang dilontarkan oleh Yoona padanya. Satu hal lagi yang membuatnya terkadang jengah jika sedang berbicara dengan Yoona, wanita itu terkadang mengatakan sesuatu yang tidak jelas seperti ini, membuatnya harus berpikit ekstra keras hanya untuk mencerna setiap ucapan yang dilontarkan Yoona padanya.

“Katakan sesuatu yang jelas Yoona, kau membuatku tidak mengerti.”

“Ck, bayi ini. Bayi ini laki-laki. Kemarin dokter sudah memastikannya dan ia yakin jika bayi ini laki-laki karena dokter sudah sudah menunjukan alat kelaminnya padaku. Apa kau bahagia dengan berita ini?” Tanya Yoona antusias. Lee Donghae tersenyum cerah dengan berita yang disampaikan Yoona padanya. Sebenarnya ia ingin menunjukan rasa bahagianya di depan Yoona, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Yang jelas saat ini hatinya benar-benar merasa bahagia hingga ia merasa sulit untuk mengutarakannya, karena kebahagiaan ini adalah kebahagiaan pertamanya setelah semua kesedihan dan masalah pelik yang selalu datang silih berganti di kehidupannya.

“Aku bahagia. Aku pasti akan mendidiknya menjadi pria tangguh dan tidak cengeng. Kau tenang saja, aku pasti akan merawatnya dengan baik.”

Yoona merasa hatinya tertohok dengan ucapan Donghae. Pria itu seakan-akan sedang membicarakan nasib putranya kelak yang tidak akan tumbuh bersama ibunya. Padahal ia sangat ingin merawat putranya. Membesarkannya dan menimangnya di dalam dekapannya. Ia tidak mau pergi, ia ingin berada di sisi Donghae, bersama dengan anaknya.

“Apa kau akan mengijinkanku tinggal? Aku juga ingin membesarkan anak ini? Aku tidak mau menelantarkan anakku dan membiarkannya tumbuh bersama dengan satu orangtua. Apa kau akan mengijinkanku tinggal di sisimu?” Tanya Yoona berkaca-kaca. Lee Donghae langsung merengkuh Yoona ke dalam pelukannya sambil menganggukan kepalanya cepat. Tentu ia akan menerima Yoona jika wanita itu ingin tinggal, karena memang hal inilah yang diinginkannya sejak dulu. Ia ingin Yoona selalu berada di sampingnya bersama dengan anak-anaknya kelak.

“Tentu. Kau adalaha bagian dari anakku, aku tidak akan mungkin memisahkan kalian jika kau memang ingin tinggal bersamaku. Tapi aku bukan jenis pria yang baik, justru aku adalah pria yang brengsek, sangat brengsek. Apa kau siap tinggal disamping seorang pria brengsek sepertiku? Seorang pembunuh yang memiliki banyak musuh yang sewaktu-waktu dapat mencelakaimu dan membunuhmu. Apa kau siap dengan konsekuensi itu?” Tanya Donghae pada Yoona. Tanpa ragu Yoona langsung menganggukan kepalanya sambil melumat bibir Donghae penuh cinta. Sadar tidak sadar, perasaan itu mulai tumbuh diantara mereka seiring dengan kebersamaan mereka selama ini. Suka duka, mereka lewati bersama demi melindungi sosok mungil yang akan menjadi penyatu hati mereka. Dan ternyata hal itu memang benar-benar terjadi, sosok kecil itu berhasil menyatukan dua hati yang awalnya saling bertolak belakang dan saling menyakiti.           “Maukah kau menikah denganku?”

Tiba-tiba saja Donghae telah menyodorkan sebuah cincin berlian di depannya sambil menatap kedua manik Yoona yang telah dipenuhi air mata. Ia tidka menyangka jika Donghae akan melamarnya, padahal selama ini pria itu selalu bersikap biasa di depannya dan tidak ada tanda-tanda akan melamarnya. Apa sebenarnya pria itu telah memendam perasaan padanya selama ini?

“Kenapa tiba-tiba? Kau membuatku gugup.” Canda Yoona dengan air mata yang masih terus menetes dari matanya. Lee Donghae tersenyum kikuk di depan Yoona sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Sungguh itu adalah salah satu jenis senyum yang paling langka dari seorang Lee Donghae.

“Aku sudah menyiapkannya sejak dulu, berjaga-jaga jika mungkin kau memang bersediah untuk menikah denganku. Asal kau tahu, aku merasa begitu buruk karena telah memperkosamu demi ambisiku, dan aku sudah berencana untuk menikahmu, tapi kau sepertinya tidak menginginkan hal itu dan lebih memilih untuk pergi dari sisiku, jadi aku tidak pernah memberikan cincin ini padamu.”

“Dasar pria brengsek! Kau memang brengsek Lee. Kenapa kau tidak memintanya langsung dan justru menungguku untuk mengatakannya? Aku membencimu, kau jahat! Kau brengsek.” Teriak Yoona membabi buta sambil memukul-mukul tubuh Donghae kesal. Namun dengan mudah Donghae langsung menangkap tangan mungil itu dan membawanya ke dalam pelukannya.

“Besok kita akan menikah. Apa kau tidak keberatan jika pernikahan itu tanpa pesta yang mewah dan hanya sebatas janji suci pernikahan di gereja? Tapi aku janji akan mengadakan pesta yang mewah setelah anak kita lahir nantinya. Apa kau mau?”

“Ya, aku mau. Tidak perlu pesta yang mewah dan glamor. Asalkan kita saling terikat satu sama lain di hadapan Tuhan, itu sudah cukup. Aku mencintaimu.” Ucap Yoona malu-malu dengan rona merah di wajahnya. Sedangkan Lee Donghae tampak memandang geli pada wajah Yoona yang merona dan setelah itu ia langsung memangut bibir tipis itu dengan penuh kelembutan untuk menyalurkan semua perasaan yang ia miliki.

Tidak peduli bagaimana awal dari hubungan mereka, yang terpenting adalah akhir dari semua lika-liku kerumitan yang telah mereka hadapi selama ini. Yoona dan Donghae, mereka akan segera mendapatkan kebahagiaan mereka yang telah menunggu mereka di depan.

-00-

Seminggu setelah janji suci pernikahaanya dengan Donghae, kini Yoona telah resmi menyandang status sebagai nyonya Lee. Hari-harinya setelah menikah terasa lebih indah dari sebelumnya karena kini Lee Donghae selalu memandangnya dengan penuh cinta dan selalu mencurahkan perhatiannnya pada Yoona. Meskipun begitu, ia masih memiliki ganjalan di hatinya karena hubungan Donghae dan Siwon tak kunjung membaik. Pria itu masih tetap bermain kucing-kucingan dengan Siwon dan terus mempermaikan pria itu dengan semua rencana liciknya. Dan sekarang disinilah ia, di sebuah gedung pencakar langit milik keluarga Choi yang sudah lama tidak dikunjunginya. Dengan langkah pasti, Yoona mulai menaiki lift untuk menuju ke ruangan Siwon yang berada di lantai paling atas gedung ini. Ia yakin, jika Donghae mengetahui hal ini, pria itu pasti akan marah besar padanya karena ia telah pergi menemui Siwon tanpa persetujuan darinya. Tapi ia tidak bisa membiarkan masalah ini terus berlarut-larut. Ia lelah dan ia ingin mengakhiri semuanya sekarang.

Tok tok tok

Yoona mengetuk pelan pintu kayu itu dengan perasaan berdebar. Bebbagai macam pertanyaan mengenai reaksi Siwon saat melihatnya terus menghantui benaknya dan membuatnya gugup. Tapi semoga saja Siwon tidak mengusirnya begitu saja saat pria itu melihat keadaanya saat ini.

“Masuk.”

Suara maskulin yang sudah lama tak didengarnya itu langsung berseru keras dari dalam ruangan, mempersilahkan Yoona untuk masuk ke dalam ruangannya. Perlahan-lahan, Yoona mulai memutar kenop pintu itu dan langsung membukanya lebar-lebar dalam satu kali tarikan.

“Yoona.” Ucap Siwon terkejut dari balik meja kerjanya. Yoona tersenyum lembut pada Siwon sambil melangkah pelan untuk menghampiri pria itu. Sekilas Yoona dapat melihat adanya keterkejutan di wajah Siwon saat melihat keadaanya yang kini tengah hamil. Tapi ia berusaha untuk mengusir pikiran buruk dari dalam kepalanya karena ia yakin Siwon pasti akan menerima keadaaanya dengan lapang dada.

“Duduklah. Bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya Siwon terlihat basa-basi. Pria itu tampak menghubungi sekretarisnya untuk membawakan secangkir teh untuk Yoona. Entah mengapa sekarang ia menjadi terlihat kikuk seperti ini. Padahal kemarin-kemarin ia begitu berambisi untuk membawa Yoona kembali ke dalam pelukannya, tapi saat wanita itu muncul di hadapannya, ia justru merasa bingung untuk memulai semuanya. Lagipula saat ini ia tengah merasa kecewa dengan keadaan Yoona. Wanita itu jelas-jelas sedang mengandung anak dari Donghae. Dan meskipun sebelumnya ia begitu optimis untuk menerima apapun keadaan Yoona, tiba-tiba keoptimisan itu menghilang begitu saja, digantikan dengan perasaan terluka dan kecewa.

“Aku baik-baik saja dan sangat sehat. Donghae oppa merawatku dengan baik selama ini.” Ucap Yoona ringan. Namun hal itu berhasil mengusik Siwon hingga membuat pria itu harus mengepalkan tangan dibalik meja untuk menahan emosinya yang sedang membuncah. Ia tidak suka wanita itu memanggil Donghae dengan panggilan akrab seperti itu.

“Oh, baguslah jika ia memperlakukanmu dengan baik. Aku terus mencarimu selama ini. Tapi anak buahku memang tidak becus dalam bekerja, mereka selalu gagal membawamu kembali padaku. Maafkan aku Yoona.” Ucap Siwon dengan wajah penuh penyesalan.

“Tidak, kau tidak salah oppa. Ini semua karena Donghae oppa yang selalu membawaku bersembunyi darimu. Dan aku turut berduka cita atas kematian orangtuamu.”

“Apa maksudmu Yoona, mereka juga orangtuamu. Mengapa kau mengatakan seolah-olah mereka bukan orangtuamu?” Marah Siwon pada Yoona. Kali ini pria itu tidak bisa menahan lagi semua emosinya yang sudah bergumul di dalam hatinya. Persetan dengan penilaian Yoona padanya setelah ini, karena ia benar-benar merasa marah dengan wanita itu.

“Oppa, mereka mamang bukan orangtuaku, aku hanyalah anak angkat di keluarga kalian.” Ucap Yoona berusaha tenang. Choi Siwon mendengus kesal pada Yoona dan langsung menuding Donghae sebagai pelaku yang telah meracuni otak Yoona sehingga Yoona berubah menjadi wanita asing yang tidak dikenalnya.

“Jadi Lee Donghae keparat itu sudah meracunimu dengan berbagai macam omong kosongnya? Bagus, sepertinya aku memang harus membunuhnya.”

“Oppa, jangan lakukan apapun pada Donghae oppa, ia tidak bersalah. Ia hanya mengatakan semua hal yang tidak kuketahui selama ini. Oppa, berdamailah dengan Donghae oppa.” Mohon Yoona dengan wajah memelas. Siwon yang melihat hal itu langsung menggebrak meja sambil menatap marah pada Yoona.

Brakk!

“Permintaan macam apa itu, aku tidak akan menurunkan harga diriku pada si keparat itu. Ia yang seharusnya meminta maaf padaku karena ia telah membunuh eomma dan appa, dan juga telah membawamu pergi dariku.”

“Tapi kalian juga membunuh orangtuaku. Oppa selama ini telah menyembunyikan kebenaran itu dariku. Kumohon lupakan semua masa lalu yang kelam itu. Bahkan aku sudah memaafkan kalian semua dan tidak ingin memperpanjang masalah ini. Oppa kumohon, kalian harus berbaikan. Aku ingin anakku memiliki paman yang baik, yang tidak terus menerus bertengkar dengan ayahnya.” Mohon Yoona dengan air mata yang telah menetes dari pelupuk matanya. Siwon yang sudah tersulut emosi semakin marah dan semakin membenci Yoona yang dinilainya telah berubah. Yoona yang sekarang bukan wanita yang dicintainya selama ini. Yoona yang sekarang adalah orang asing yang datang tiba-tiba ke hadapannya dan mengaku sebagai musuh. Karena baginya, setiap orang yang berada di pihak Donghae dan berdiri di sisi pria itu adalah musuh baginya, termasuk Yoona sekalipun.

“Oh, jadi anak pria keparat itu yang telah membuatmua berubah menjadi seperti ini. Pergi dari kantorku sebelum aku membunuh bayi itu dan juga Lee Donghae brengsek itu.”

“Oppa, tolong berdamailah dengan Donghae oppa, ia sekarang adalah suamiku. Kami telah menikah seminggu yang lalu.”

Brakk

“Menikah? Kalian telah menikah? Hahaha, tidak mungkin. Kau tidak mungkin menikah dengan si brengsek itu. Kau pasti bohong Yoona, kau pasti bohong!”

“Oppa, aku mengatakan yang sebenarnya.” Ucap Yoona parau sambil menunjukan cincin berliannya di hadapan Siwon. Melihat sebuah cincin berlian yang melingkar di jari manis Yoona membuat Siwon semakin kalap dan langsung melampiaskan kemarahannya dengan menjatuhkan semua barang-barang yang berada di atas mejanya. Pria itu memukul meja di depannya berkali-kali, hingga membuat Yoona gemetar ketakutan karena sikap pria itu yang diluar dugaannya.

“Kau tahu, aku selama ini mencintaimu Yoona. AKU MENCINTAIMU.” Teriak Siwon emosi. Yoona yang ketakutan dengan sikap Siwon, lantas segera beranjak pergi dari ruangan itu dengan air mata yang terus membanjiri pipi mulusnya. Jujur, ia sama sekali tidak tahu jika Siwon selama ini menyimpan perasaan padanya. Ia tidak tahu jika kakaknya memiliki perasaan lebih padanya. Andai ia tahu, ia pasti tidak akan menemui Siwon dan menuruti perkataan Donghae. Tapi semuanya telah terjadi, ia tidak bisa mengubah keadaan yang rumit ini sesuai kehendaknya. Ia gagal, ia telah gagal membujuk Siwon agar berbaikan dengan Donghae. Ia gagal, dan ia bodoh.

-00-

Sementara itu, Siwon masih sibuk menyalurkan emosinya dengan menghancurkan berbagai macam barang yang berada di ruangannya. Kini ruangan itu telah berubah menjadi ruangan kotor yang dipenuhi dengan barang-barang rusak yang telah menjadi rongsokan. Ia kemudian merogoh saku jasnya dan mengelurkan ponselnya dengan kasar dari dalam sana untuk menghubungi salah satu anak buahnya.

“Ikuti kemana Yoona pergi. Malam ini kita harus membereskan orang-orang keparat itu.” Perintah Siwon mutlak sambil menyeringai licik.

Yoona, tak akan kubiarkan kau bahagia bersama si brengsek itu. Apapun yang terjadi kau harus menjadi milikku.

Flashback End

            “Dokter tolong, ada seorang ibu hamil yang mengalami kecelakaan.” Teriak seorang perawat yang sedang mendorong sebuah blangkar yang baru saja diturunkan dari dalam ambulan. Dokter jaga itu dengan sigap langsung mengikuti perawat itu ke dalam ruang UGD untuk memberikan pertolongan pertama pada ibu hamil itu. Tak berapa lama, sebuah mobil ambulan dengan logo polisi datang dengan seorang pria yang mengalami luka tembak di dada sebelah kirinya.

“Tolong berikan pertolongan untuk pria ini, ia mengalami luka tembak di dada kirinya.” Ucap petugas polisi itu sedikit panik. Perawat yang awalnya sedang menangani Yoona langsung bergegas untuk membawa pria malang itu ke dalam ruang UGD. Malam ini suasana di dalam rumah sakit Seoul begitu mencekam dan ribut, di dalam sana terdapat tiga orang manusia yang sedang berusaha untuk bertahan hidup, Yoona, Donghae, dan anak mereka yang belum merasakan bagaimana kejamnya dunia.

“Suster, kita harus mengeluarkan bayi ini segera. Persiapkan ruang operasi sekarang.”

“Baik dokter.”

Perawat itu dan beberapa perawat yang lain segera mendorong blangkar yang berisi Yoona di atasnya untuk dibawa ke ruang operasi. Sedangkan perawat yang lain dan seorang dokter ahli bedah segera membawa tubuh Donghae yang bersimbah darah menuju ruang operasi yang lain untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di dada kiri pria itu. Dua blangkar yang awalnya saling beriringan itu akhirnya harus berpisah di persimpangan jalan. Tubuh Yoona dibawa ke dalam ruang operasi yang berada di sayap kanan, sedangkan tubuh Donghae dibawa ke dalam ruang operasi yang berada di sayap kiri. Dua jiwa yang awalnya bersatu, kini harus dipisahkan secara paksa satu sama lain karena sebuah keegoisan dan dendam. Dua jiwa itu kini harus berada di ambang kematian hanya karena seorang manusia yang telah dibutakan oleh obsesinya. Dan dua jiwa itu, kini saling berjuang satu sama lain untuk sebuah kehidupan yang layak bagi putra mereka.

-00-

Tiit tiit tiit

Suara kardiograf itu begitu nyaring di tengah suasana senyap dan sunyi yang tercipta di kamar yang dihuni oleh Yoona. Sudah dua minggu sejak insiden itu terjadi, tapi selama itu Yoona sama sekali belum membuka matanya dan tidak ada tanda-tanda akan membuka matanya. Beberapa perawat yang datang ke kamarnya untuk mengganti infus dan melihat kondisinya terus mendesah iba melihat kondisi Yoona yang sangat menyedihkan itu. Pagi ini pun seorang perawat yang datang ke kamarnya untuk mengecek kondisi Yoona kembali mendesah iba sambil memandang Yoona penuh prihatin. Dua minggu yang lalu dokter telah berhasil mengeluarkan bayi itu dari rahim Yoona dan melakukan operasi untuk menyelamatkan keduanya, namun hingga detik ini Yoona masih betah menutup matanya, sedangkan sang malaikat kecil sudah bergerak aktif di dalam ruang bayi, menunggu ayah dan ibunya datang untuk menjemput.

“Bagaimana keadaanya?”

“Kondisinya normal dok. Ia mengalami kemajuan yang cukup signifikan selama dua minggu ini, tapi entah mengapa pasien ini belum juga membuka matanya.” Ucap perawat itu memberitahu. Dokter tua yang dua minggu lalu mengoperasi Yoona hanya mampu menatap Yoona dengan tatapan iba sambil mengalunkan doa di hatinya agar pasiennya itu segera membuka matanya.

“Kasihan sekali pasien ini, tidak ada sanak keluarga yang mencarinya. Bayinya juga sudah menunggunya di ruang bayi, apa wanita ini tidak memiliki suami?”

“Entahlah dok. Polisi sedang mencoba menyelidikinya. Seminggu yang lalu saya sudah meminta bantuan pada polisi yang berjaga di ruangan sebelah, tapi hingga saat ini polisi belum memberitahukan apapun mengenai keluarga wanita ini.” Jelas perawat itu pada sang dokter. Dokter tua itu sedikit tertarik dengan ucapan perawat muda itu dan langsung menanyakan masalah pasien yang berada di ruang sebelah.

“Sebenarnya apa yang terjadi pada pria itu, mengapa banyak sekali polisi yang berjaga di ruang perawatannya.” Tanya dokter itu heran. Sang perawat kemudian menceritakan semua yang ia tahu pada dokter itu, perihal pria misterius yang saat ini tengah mengalami koma karena luka tembak di dada kirinya.

“Mereka bilang pria itu adalah korban dari rencana pembunuhan yang akan dilakukan oleh Choi Siwon, pemilik Choi grup. Dan mereka terus menjaga ruangan itu karena mereka membutuhkan keterangan pria itu untu memproses hukuman yang akan dijatuhkan pada Choi Siwon.”

“Begitukah? Kasihan sekali pria itu, kudengar ia juga tidak memiliki keluarga.”

“Ya, sepertinya begitu. Semoga saja Tuhan segera memberikan keajaiban untuk mereka.” Tutup perawat itu sebelum ia berjalan keluar meninggalkan Yoona sendiri dengan kesunyian yang begitu mencekam di ruangan itu.

-00-

Dilain tempat, seorang pria dengan wajah berantakan sedang meringkuk di dalam jeruji besi yang dingin dan gelap. Pria itu tampak begitu kacau dengan semua hal yang menimpanya. Masih segar di ingatannya bagaimana ia menembak Donghae yang tengah menahannya untuk mengejar Yoona, lalu saat ia berhasil mengejar Yoona, wanita itu justru berlari ke arah yang salah, dan akhirnya ia tertabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalan raya.

“Yoona.”

Siwon menggumam pelan penuh penyesalan sambil membayangkan wajah Yoona yang tampak damai dengan darah yang mengotori wajah cantiknya. Ia merasa benar-benar menyesal karena telah membuat Yoona menderita. Kemarin polisi mengatakan jika Donghae masih terbaring koma di rumah sakit, sehingga mereka tidak bisa memproses hukuman untuknya. Kini hidupnya kacau dan benar-benar buruk. Semua dendam dan ambisi itu telah membutakannya dan membuatnya menjadi pria kasar yang tak berperasaan. Andai saja saat itu ia tidak termakan oleh emosinya dan mau mendengarakan penjelasn Yoona, semua ini pasti tidak akan terjadi. Yoona pasti tidak akan terbarik lemah di rumah sakit dengan wajah pucat dan pipi tirusnya. Dan yang paling penting, Yoona pasti dapat melahirkan bayinya dengan normal.

“Yoona, maafkan aku.” Gumam Siwon parau dengan air mata penyesalannya yang tidak berguna.

-00-

Oeekk oeekkk

“Sshhh, tolong ambilkan susunya. Dia sepertinya lapar.” Ucap seorang perawat sambil terus menimang-nimang bayi mungil yang saat ini tengah menjerit kuat di dalam dekapan perawat itu.

“Ini susunya. Mengapa ia menangis seperti itu, apa ia sakit?” Tanya suster muda bernama Kim Hyeri khawatir. Suster senior yang sedang menimang bayi laki-laki itu menggeleng tidak tahu sambil memberikan susu formula pada bayi mungil itu, tapi bayi itu langsung menolaknya dan terus menangis keras hingga wajahnya memerah.

“Ssshhh, sshhhh,, sshhh.”

“Mungkin ia merindukan ibunya.” Komentar Hyeri yang masih setia berdiri di dekat suster Park. Suster itu menganggukan kepalanya setuju dan langsung membawa bayi itu ke dalam ruang perawatan ibunya, meskipun sang ibu hingga saat ini belum membuka matanya dan masih terbaring koma dengan berbagai macam alat penunjang kehidupan di tubuhnya.

“Sebenarnya siapa ayah dari bayi ini, mengapa tidak ada satupun sanak keluarganya yang mencari ibu dan juga bayi ini?” Tanya suster Park itu pada Hyeri sambil sesekali menggoyangk-goyangkan lengannya untuk menenangkan sang bayi yang masih setia menangis di dalam dekapannya.

“Apa suster tidak mendengar kabar yang beredar di rumah sakit ini?”

“Kabar apa? Aku tidak mendengar kabar apapun.” Ucap suster Park dengan dahi berkerut. Hyeri yang mendengar hal itu langsung menggelengkan kepalanya tak habis pikir pada suster Park yang terlalu acuh pada keadaan disekitarnya. Padahal berita mengenai ibu bayi itu begitu menggemparkan dan membuat siapapun yang mendengarnya menaruh iba pada bayi mungil yang saat ini masih menangis di dalam dekapan suster Park.

“Polisi telah melacak status wanita itu, dan ternyata wanita itu adalah korban dari percobaan pembunuhan yang akan dilakukan oleh direktur Choi grup. Dan wanita itu ternyata adalah isteri dari pria malang yang saat ini juga tengah terbaring koma di ruangan sebelah yang ditempati oleh wanita itu.”

“Jadi maksudmu kedua orangtua bayi ini sama-sama sedang terbaring koma? Ya Tuhan, kasihan sekali bayi ini. Semoga Tuhan memberkati kehidupannya kelak.” Doa suster Park tulus.

Saat mereka telah sampai di ruangan Yoona, mereka melihat banyak dokter dan perawat yang sedang berbondong-bondong berlari ke dalam ruangan Donghae. Mereka semua tampak begitu panik dan pucat, membuat Hyeri dan suster Park langsung mengerutkan dahinya heran.

“Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?” Tanya Hyeri pada salah satu perawat yang hendak masuk ke dalam ruang perawatan Donghae.

“Pria itu mengalami serangan. Ayah bayi ini tiba-tiba mengalami kejang.” Beritahu perawat itu dengan panik sambil setengah berlari menuju kamar perawatan Donghae. Hyeri yang mendengar berita mengejutkan itu hanya mampu menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil berdoa kepada Tuhan untuk ayah dari bayi malang yang saat ini sedang berada di dalam dekapan suster Park.

“Semoga Tuhan melindungi ayah dari bayi ini.” Ucap Hyeri prihatin. Mereka kemudian segera masuk ke dalam ruang perawatan Yoona untuk melihat kondisi Yoona dan untuk menenangkan bayi mungil yang sejak tadi terus menangis keras di dalam dekapan suster Park.

“Suster, aku khawatir. Mungkinkah bayi ini menangis karena…”

Tiiiiiiiiiiiittt

“Suster, apa yang terjadi?”

Tiba dua perawat itu dikejutkan dengan bunyi kardiograf yang begitu nyaring dengan garis lurus yang telah terpampang jelas di layar monitor berwarna hijau itu. Dengan sigap suster Park langsung menekan tombol bantuan yang berada di sebelah ranjang Yoona sambil berkomat-kamit ketakutan dengan peristiwa yang tiba-tiba terjadi di hadapannya.

Oeek oeek

Bunyi kardiograf dan suara tangis bayi itu saling bersahut-sahutan satu sama lain membuat suasana di dalam ruangan itu menjadi mencekam dan semakin menambah panik para suster dan dokter yang langsung menyerbu masuk ke dalam untuk melihat kondisi Yoona yang tiba-tiba down.

“Suster Park, lebih baik kita menunggu di luar.” Ajak Hyeri sambil menarik tangan perawat senior itu keluar dari dalam ruangan Yoona yang mencekam.

Sementara itu, baik Yoona maupun Donghae saat ini tengah berjuang keras di dalam ruang perawatan itu agar tetap hidup.

Di dalam alam bawah sadar, mereka terus mendengar suara jeritan bayi mereka yang begitu kencang dan memilukan. Ingin rasanya mereka pergi meningglkan dunia dan bersatu di surga, tapi suara tangisan bayi mereka terdengar begitu nyaring dan membuat mereka tidak bisa pergi begitu saja dengan tenang.

“Oppa, kita harus kembali. Anak kita membutuhkan kita. Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja dan membuatnya bernasib sama seperti kita.” Ucap Yoona sedih. Lee Donghae yang saat ini sedang berdiri di sebelah Yoona tampak menatap Yoona dengan pandangan sedih.

“Apakah kita bisa kembali? Aku tidak yakin.”

“Oppa, kita harus berjuang. Demi anak kita. Bukankah kau berjanji akan mendidiknya menjadi pria tangguh dan tidak cengeng, kau harus menepati janjimu oppa. Kau harus hidup untuk anak kita.”

“Aku tidak yakin Yoona. Aku tidak tahu apakah aku bisa atau tidak. Seandainya aku tidak bisa kembali, berjanjilah padaku untuk selalu hidup dengan baik bersama anak kita. Aku mencintai kalian.”

Setelah itu sebuah asap tipis langsung membumbung tinggi melingkupi tubuh mereka berdua dan membuat mereka harus berpisah satu sama lain. Kebersamaan mereka yang singkat itu nyatalah telah mebawa banyak perubahan di dalam hidup mereka. Jika pada akhirnya mereka memang tidak bisa bersama di dunia, maka mereka telah berjanji untuk saling bertemu di surga nanti. Dan mereka nantinya akan membangun kehidupan mereka sendiri di sana.

-00-

Sore itu suasana kota Seoul tampak mendung dan kelabu. Sisa-sisa air hujan yang ditumpahkan oleh langit siang ini tampak masih membekas di atas tanah, menciptakan jalan basah yang begitu sejuk dan dingin.

Sementara itu, di dalam ruang perawatan yang cukup besar, tiga orang manusia saling mendekap satu sama lain untuk menyalurkan rasa hangat dan keriduan yang telah membuncah di dada mereka. Hari ini, di tengah hujan lebat yang mengguyur kota Seoul, Donghae dan Yoona berhasil bangun dari tidur panjang mereka demi sang putra yang saat ini tengah bergelung manja di dalam dekapan ayah dan ibunya.

“Terimakasih karena telah kembali.” Bisik Yoona lembut di telinga Donghae. Sedangkan Donghae tampak berkaca-kaca sambil menatap penuh haru pada keluarga kecilnya yang berharga.

“Hmm, dan terimakasih untuk Lee Jeno yang telah membangunkan kita dari tidur panjang kita yang lama. I love you.”

“I Love you too Donghae appa.”

27 thoughts on “You and I and Him Part 2 (End)

  1. Hmmm sedih sumpah siwon knp dia tdak mau mendengar kan yoona dan berdamai hae mungkin tdk akan ada pertumpahan darah😢😭😭😭 dan seneng yoonhae bsa selamat dan jeno terimakasih sdah membuat yoonhae bertahan dan bangun😭 sequel ya thor

  2. Huwaaaaa 😂😭 Akhirnya happy ending 😍😍 jdi slama itu donghae jdi pmbunuh byaran?? Akhirnya malah siwon yg membusuk dipnjara.. Untung Yoonhae dpt slamat dan baby nya jga slmat.. Dan mereka dapat berkmpul ber3 😍😍😍😄 Akh so sweet.. Hae sikapnya ma yoong cuek² perhatian(?) 😂😂😄

    Fighting kk.. Ditunggu queen of time sma Lee family nya kk 😁😍

  3. Huaaaahh.. suasana mencekam waktu yoona sama donghae tiba2 krisis. Syukurlah akhirnya mereka sadar juga, bahagia keluarga kecil ini 😊

  4. aku seneng dengan happy ending. tapi kayanya ceritanya gantung ya?? siwon kemana ko tiba-tiba menghilang.

  5. Akhirnya yoonhae bersatu juga thor. Makasih yah .. semoga di kehidupan nyata ini juga yoonhae berjodoh amin..

  6. Ampun aku kirain tadi akan berakhir sad ending ternyata happy ending author memang terbaik #gayaboboboi
    Betulbetulbetul #gayaipin
    Ditunggu ff selanjutnya thor
    Buat sekuel ff diatas juga ya thor #maunya
    Semangat 💪❤

  7. I love you too yoonhae.. 😁 😁 😁
    Terharu, akhirnya visa hidup tenang dg bahagia…

  8. donghae memang pria dingin amat disini. ya wajar pulaknya ortunya dibunuh sadis. sekarang nyawa dibayar dengan nyawa. tapi meski kayak gitu dia tetap perhatian sama yoona so sweet deh. huuh untung aja siwon masuk penjara dan nyesalkan. dan juga degdegan amat waktu donghae kolaps. ternyata mereka berdua bisa berjuang demi anak mereka. terharu. ff part 2 nya keren authornim.

  9. perjuangan panjang untuk kehidupan yoonhae dan jeno..
    karna jeno yoonhae bisa sadar kembali..

    siwon telah dibutakan oleh cinta dan penyesalan selalu datang terlambat.

  10. Akhirnya siwon dapat balasan dr perbuatan jahat dy selama ini
    Untungla donghae sm yoona berhasil selamat, dan bisa membesarkan jeno

    Ceritanya bagus, tp kurang suka sm endingnya, ditunggu cerita lainnya

  11. Sedih baca saat mereka berjuang hidup buat anaknya :'(
    Daebak, ceritanya bikin terharu eon , next ff d tnggu ne? Fighting

  12. akhirnya yoonhae bs bersatu dengan keluarga kecil d siwon brada d jeruji besi d tdk ad lg yg ganggu keluarga Donghae dan yoona buat spesial part moment family yoonhae donk

  13. Bagian terakhirnya bikin nyesek ,apalagi pas bagian bayi nya nangis trus orang tua nya sedang berjuang buat hidup ada dan cuma di jagain suster ..
    Aku pikir awalnya mereka gak bakal kembali tapi akhirnya tangisan Jeno membawa berkah ,tapi btw kenapa pas mereka sekarat gk ada satupun sanak saudara ..kemana anak buat Donghae kaya Jaebum dan Joohyuk ???

    tapi yakin kayanya ini butuh sequel ka ,biar lebih enak bacanya karna bisa liat kehidupan mereka setelah kekacauan ini berlalu ^^

  14. huuuuihuuuuua alhirnya happybend ,,,,
    g bsa byangin jd yoona yg tengah hmil hrus berpindah2,,,,untung kndisi yoona sehat,,,
    dan siwon hrus tanggung jwab atas perbuatannya, ,krna dendam ,dan obsesinya,,

  15. I got this web site from my buddy who informed me concerning this
    web page and at the moment this time I am visiting this website and reading very informative content at this place.

  16. Ending yg mengharukan… Untung aja gk sesuai dgn pikiran awalq. Senang bisa lihat Yoonhae hidup berumah tangga dgn ikatan cinta. Good job author…

  17. It is in point of fact a great and useful piece of information. I’m satisfied that you simply shared this helpful info with us.
    Please keep us informed like this. Thank you for sharing.

  18. huwaa.. akhirnya happy end
    menegangkan bgt ff nya..
    jeno adalah anugerah yg diberikan tuhan untuk donghae & yoona.

    bikin sequel dong eon..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.