Queen Of Time: Stay Beside Me!

Deru langkah kaki yang terdengar ribut itu memenuhi setiap lorong-lorong istana yang menghubungkan ruangan pribadi Aiden dengan aula istana. Beberapa dayang yang melihat keributan itu langsung berhenti sejenak untuk mengintip apa yang sedang terjadi pada sang calon ratu yang tiba-tiba pingsan di dalam dekapan raja mereka.

Sementara itu Aiden sedang menunggu hasil pemeriksaan dari tabib dengan cemas. Pikirannya sejak tadi terus berkelana pada kondisi Calistha yang terlihat begitu lemah dan menyedihkan. Meskipun ia tahu jika semua ini adalah ulah Tiffany, tapi ia tidak bisa menghukum wanita itu begitu saja. Ia harus menemukan bukti yang kuat sebagai alasan untuk menjatuhkan hukuman pada Tiffany. Lagipula jika ia langsung menghukum Tiffany sekarang tanpa adanya bukti yang kuat, Calistha pasti akan kembali membencinya dan membuat hubungan diantara mereka yang telah membaik menjadi buruk kembali.

Aiden kemudian memalingkan wajahnya pada wajah pucat Calistha yang saat ini sedang tertidur damai di atas peraduannya. Sang tabib sejak tadi masih berkutat dengan kedua kaki Calistha yang terluka cukup dalam. Rupanya paku-paku itu telah menancap di dalam telapak kaki Calistha cukup lama. Dapat ia bayangkan jika sebenarnya Calistha sebenarnya telah merasakan sakit sejak berjalan keluar dari kamarnya, tapi raut kesakitan wanita itu berhasil disembunyikannya dengan sempurna karena kejadian itu juga bertepatan dengan kejadian perang dinginnya yang berlangsung seharian ini. Tiba-tiba perasaan bersalah itu kembali menyusup ke dalam hatinya yang dingin dan beku. Tidak pernah selama ia menjadi raja ia merasakan rasa bersalah yang teramat dalam seperti ini, padahal selama ini ia sering melenyapkan banyak nyawa dengan tangan dinginnya. Tapi rasa bersalahnya benar-benar tidak pernah muncul dan hanya muncul pada Calistha. Wanita itu… semakin lama ia semakin membuatnya terlihat lebih manusiawi. Dan rasa kemanusiawian yang ia rasakan saat ini cukup membuatnya terkejut dan merasa aneh dengan perasaan itu. Apakah setelah ini ia akan semakin lemah dengan perasaan manusiawi itu atau justru ia akan semakin terlihat bijaksana dengan sisi manusiawinya yang asing?

“Yang Mulia, hamba telah selesai mengobati luka di kaki sang ratu.”

Tiba-tiba tabib itu berdiri dan membuat lamunannya tentang Calistha buyar. Dengan wajah tak sabar, Aiden langsung mendekat pada tubuh lemah Calistha sambil menunggu tabib itu melaporkan keadaan Calistha padanya. Dalam hati Aiden berharap semoga keadaan Calistha baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu yang mengerikan pada wanita itu. Karena jika sampai hal itu terjadi, maka orang pertama yang akan menjadi sasaran kemarahannya adalah Tiffany. Ia bersumpah akan membuat Tiffany membayar seluruh perbuatan jahatnya pada Calistha dengan sangat keji.

“Yang Mulia ratu saat ini mengalami pendarahan yang cukup serius di telapak kakinya, tapi hamba telah berhasil menghentikan pendarahan itu dan membebat kaki Yang Mulia ratu dengan kain putih steril dan obat-obatan herbal, kemungkinan ratu tidak akan bisa berjalan selama seminggu ke depan, jadi…”

“Apa Calistha benar-benar baik-baik saja? Selain kakinya, adakah hal lain yang perlu dikhawatirkan?” Potong Aiden cepat dengan wajah tak sabar. Sang tabib tersenyum kecil dan menggeleng pada Aiden sebagai jawaban atas pertanyaan beruntun pria itu.

“Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan Yang Mulia, ratu akan baik-baik saja. Yang Mulia ratu hanya memerlukan istirahat total selama seminggu dan saya menyarankan agar ratu tidak memaksakan diri untuk berjalan karena luka di kaki ratu Calistha cukup parah, sehingga membutuhkan sedikit waktu untuk memulihkannya menjadi seperti dulu.” Terang sang tabib menjelaskan. Aiden mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan langsung memandang wajah Calistha dengan penuh kelegaan. Setidaknya Calisthanya hanya mengalami luka ringan di kaki. Tapi ia yakin, setelah ini Tiffany pasti akan semakin gencar menyerang Calistha dengan berbagai macam rencana picik wanita itu. Dan sebelum hal itu terjadi, ia harus mengambil tindakan untuk mengamankan Calistha dari jangkauan Tiffany. Calistha tidak boleh berdekatan dengan Tiffany, dimanapun wanita itu berada. Dan jalan satu-satunya adalah dengan memindahkan kamar Calistha ke dalam kamarnya. Ya, setelah ini Calistha tidak akan tidur di kamarnya. Tapi Calistha akan selalu bersamanya, di sisinya.

“Kau, siapkan semua keperluan Calistha dan pindahkan semua barang-barang Calistha ke sini. Mulai sekarang ia akan tinggal di kamarku.” Perintah Aiden mutlak pada dayang-dayang yang saat ini tengah berkumpul di depan ruangan pribadinya. Mereka semua langsung mengangguk patuh pada Aiden dan segera berjalan pergi untuk menyiapkan semua kepindahan Calistha. Meskipun mereka merasa raja mereka terlalu berlebihan, tapi mereka sama sekali tidak punya hak untuk membantah. Selain itu mereka semua juga takut pada reputasi Aiden yang terkenal kejam dan bertangan dingin. Berani memprotes kebijakan raja sama saja dengan menggali lubang kuburan mereka sendiri, dan mereka tentu saja tidak mau hal itu terjadi.

-00-

Tiffany berjalan dengan anggun menyusuri lorong-lorong panjang menuju kamarnya dengan seringaian puas. Beberapa dayang tampak hilir mudik melewatinya sambil membawa berbagai macam barang di tangan mereka. Meskipun ia merasa cukup curiga pada dayang-dayang itu, tapi rasa senang dan bahagia yang melingkupi hatinya jauh lebih besar daripada rasa ingin tahunya, hingga ia memutuskan untuk mengabaikan para dayang itu dan hanya terfokus pada rencananya selanjutnya.

“Hmm, kira-kira apa yang akan kulakukan pada Calistha setelah ini.”

Wanita itu terus berpikir keras selama di dalam perjalanan menuju kamarnya. Meskipun ia telah berhasil dengan rencana awalnya, tapi ia tidak boleh terlalu senang dengan itu semua karena ia yakin jika saat ini Aiden pasti sedang menunggu saat-saat ia lengah agar pria itu dapat menjatuhi hukuman untuknya. Sebisa mungkin ia harus berhati-hati dan membuang seluruh barang bukti yang ada. Pergerakannya kali ini pasti akan jauh lebih sulit dari yang sebelumnya. Ditambah lagi Aiden sebenarnya telah mengetahui semua kebusukannya, hanya saja pria itu selalu berpura-pura tidak tahu dengan hanya menampakan wajah piasnya yang datar.

Tiffany mengernyitkan dahinya heran ketika ia melihat beberapa dayang sedang memindahkan beberapa barang pribadi milik Calistha keluar dari kamarnya. Sejenak ia berpikir jika mungkin saja saat ini Calistha telah mati karena kehabisan darah. Tapi cepat-cepat ia mengusir pikiran konyol itu dari dalam kepalanya karena ia yakin jika Calistha tidak akan benar-benar mati hanya karena sebuah paku. Lagipula paku itu sama sekali tidak ia campur dengan racun dan hanya murni sebuah paku, jadi Calistha tidak akan mati hanya karena kakinya tertusuk beberapa paku. Tapi jika Calistha tidak mati, untuk apa semua dayang-dayang itu memindahkan barang-barang milik Calistha keluar dari kamarnya?

“Ah, tunggu. Apa yang kalian lakukan pada barang-barang milik adikku, apa kalian akan memindahkannya ke suatu tempat?” Tanya Tiffany pada seorang dayang bertubuh mungil yang sedang membawa beberapa gaun milik Calistha. Dayang itu langsung menghentikan langkahnya seketika saat Tiffanya memanggilnya sambil membungkuk hormat.

“Maaf nona, kami akan memindahkan barang-barang milik Yang Mulia Calistha ke dalam ruang pribadi raja Aiden. Mulai saat ini Yang Mulia Calistha akan tinggal di dalam ruang pribadi raja Aiden karena kedua kaki Yang Mulia Calistha terluka cukup parah.” Jelas dayang itu rinci. Tiffany langsung menggeram marah di dalam hati setelah mengetahui rencana Aiden yang akan mencoba memisahkannya dari Calistha. Sekarang ia benar-benar akan kesulitan untuk mencelakai Calistha. Ia harus segera memberitahukan hal ini pada Gazelle dan meminta saran dari wanita itu untuk menjalankan rencana berikutnya.

“Oh baiklah, terimakasih. Jika Calistha telah sadar, tolong beritahu aku. Aku akan mengganti pakaianku terlebihdahulu.” Pesan Tiffany pada dayang mungil itu sebelum sang dayang melanjutkan langkahnya menuju ruangan pribadi Aiden.

Sepeninggal dayang itu, Tiffany kembali melangkahkan kakinya ke dalam menuju kamar Calistha. Kini kamar itu tampak lebih kosong dari sebelumnya. Sebagian barang-barang milik Calistha benar-benar telah dipindahkan ke dalam ruang pribadi Aiden. Di dalam kamar itu hanya tersisa beberapa potong gaun dan barang-barang besar seperti meja rias dan kursi santai yang tidak ikut dipindahkan ke dalam ruang pribadi Aiden. Lalu saat Tiffany hendak mengambil gaun yang lebih sederhana dari dalam lemari pakaian milik Calistha, tiba-tiba Yuri masuk ke dalam kamar Calistha dengan raut wajah sedih yang sangat kentara di wajahnya. Wanita itu tampak tidak memperhatikan keberadaan Tiffany di sana dan hanya fokus pada sepatu-sepatu milik Calistha yang belum sepenuhnya dipindahkan ke dalam ruang pribadi Aiden. Malam ini ia benar-benar merasa sedih karena ia merasa menjadi penyebab dari semua kekacauan yang terjadi di pesta penyambutan Calistha. Seharusnya ia mengecek sepatu itu terlebihdahulu sebelum ia memberikannya pada Calistha, sehingga Calistha tidak akan terluka cukup parah seperti saat ini.

Yuri terlihat mengusap air matanya sekilas dengan kasar sambil membawa tumpukan kardus-kardus di tangannya. Namun saat ia hendak berjalan kelur, Tiffany telah terlebihdahulu menghadang jalannya dan dengan sengaja menyenggolkan lengannya pada lengan Yuri, membuat kardus-kardus yang berada di dalam genggaman Yuri jatuh berhamburan di atas lantai dan menimbulkan suara berisik yang cukup nyaring.

“Ups, aku telah menyenggol lenganmu. Maaf.” Ucap Tiffany ringan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Yuri tampak menggeram marah pada Tiffanya, tapi sebisa mungkin ia menahan seluruh amarahnya agar ia tidak semakin memperparah keadaan. Saat ini sang ratu sedang sakit, ia tidak ingin menambah daftar kekacuan yang dibuatnya hari. Cukup menjadi penyebab dalam insiden mengerikan hari ini, dan ia tidak ingin menambahnya lagi dengan berdebat dengan Tiffany.

“Tolong singkirkan kaki anda, saya ingin merapikan sepatu-sepatu milik Yang Mulia Calistha.” Ucap Yuri sinis dan mulai berjongkok untuk mengumpulkan sepatu-sepatu milik Calistha yang berceceran di atas lantai. Tiffany menatap sinis pada Yuri dan ikut berjongkok di depan wanita itu. Sepertinya memancing kemarahan Yuri akan sangat menarik untuknya, terutama mengenai masalah kaki Calistha yang terluka, karena Yuri adalah pelayan yang menyiapkan semua keperluan Calistha hari ini, termasuk menyiapkan sepatu untuknya.

“Hmm, apa kau yang memberikan sepatu berpaku itu pada Calistha?”

Yuri tampak diam di tempat untuk beberapa saat, namun setelah itu ia memilih untuk mengabaikan Tiffany. Ia sedang tidak ingin membahas hal itu sekarang, terutama pada Tiffany.

“Hey, apa kau tuli? Kau pasti mendengar pertanyaanku bukan?” Tanya Tiffany gusar karena Yuri mengabaikannya. Yuri menatap tajam kedua manik karamel Tiffany dengan tatapan tak bersahabat. Rasanya ia ingin sekali mencakar wajah menyebalkan itu dengan kuku-kukunya yang tajam. Tapi tidak! Ia tidak akan membuat kekacauan lagi. Pada akhirnya Yuri memutuskan untuk menghela nafas pelan dan mencoba untuk berdamai dengan Tiffany. Tiffany pasti akan terus mengejarnya jika ia tidak memberikan apa yang diinginkan oleh wanita itu sekarang.

“Ada apa? Apa kau ingin tahu mengenai sepatu-sepatu itu?” Tanya Yuri tanpa menggunakan bahasa formal. Tiffany menyeringai senang ketika pada akhirnya Yuri mau menjawab pertanyaannya. Ia akan menjebak Yuri dan membuat Yuri menjadi tersangka utama dalam peristiwa malam ini.

“Huh, akhirnya kau mengeluarkan suara emasmu juga. Jadi, apa sepatu yang digunakan Calistha hari ini, kau yang menyiapkannya?”

“Ya, aku memang menyiapkan semua keperlukan Yang Mulia Calistha hari ini. Kenapa? Kau ingin menuduhku jika aku yang meletakan paku-paku itu di dalam sepatunya?” Tanya Yuri menantang. Tiffany tersenyum kecil di sebelahnya sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tentu saja wanita itu tidak akan menuduhnya, wanita itu justru akan langsung membuatnya menjadi tersangka utama dalam peristiwa hari ini. Ia akan menghasut beberapa penghuni istana dan menyebarkan berita bohong jika Yuri telah meletakan paku-paku itu di dalam sepatu Calistha. Lalu, Aiden pasti akan langsung menghukumnya karena semua bukti mengarah pada Yuri.

“Aku tidak menuduhmu. Bukankah kau memang tersangka dalam peristiwa hari ini. Jadi mengakulah sekarang, sebelum raja Aiden yang akan menanyaimu dan memberikan hukuman berat padamu karena kau hampir saja membunuh ratunya.” Ucap Tiffany penuh provokasi. Yuri mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ingin rasanya ia mendorong tubuh Tiffany ke belakang dan mencakar wajah wanita ular itu sekarang.

“Aku tidak mungkin melakukan hal picik itu pada Yang Mulia Calistha karena aku sangat menyayanginya. Hmm, justru aku mencurigaimu karena aku tahu jika kau sangat membenci Calistha. Jadi, apa tebakanku benar?” Tanya Yuri penuh selidik. Tiffany mengumpat dalam hati karena ternyata Yuri bukan tipe wanita yang mudah dipengaruhi. Sekarang wanita itu justru balik menyerangngnya dan membuatnya sedikit terpojok. Tapi selama bukti itu tidak ada, maka ia akan tetap selamat dari semua hukuman yang akan diterimanya.

“Aku? Huh, yang benar saja. Calistha adalah adikku, aku tidak mungkin berbuat hal selicik itu untuk menyingkirkannya. Kau pasti hanya sedang mengalihkan tuduhan yang kuberikan padamu. Dasar kau wanita iblis.” Maki Tiffany kejam. Yuri membelalakan matanya kaget mendengar semua makian yang ditunjukan padanya. Seumur hidup ia tidak pernah mendapatkan perlakukan yang sangat kasar seperti ini, dan ia sangat tidak suka dengan sikap Tiffany yang sangat menyebalkan itu.

Brukk

Yuri akhirnya kehabisan kesabaran dan mulai menyerang Tiffany dengan mendorong tubuh wanita itu hingga terjungkal ke belakang. Wanita itu kemudian segera berdiri sambil membawa tumpukan kardus-kardus milik Calistha yang telah berhasil ia kumpulkan. Lalu sebelum ia benar-benar pergi, ia menyempatkan diri untuk menendang pergelangan kaki Tiffany hingga wanita itu berteriak kesal karena kesakitan.

“Arghh, sialan kau Yuri! Aku akan membalasmu.” Teriak Tiffany murka sambil mengerang tertahan di atas lantai marmer yang dingin.

-00-

Malam ini  pesta untuk menyambut Calistha berakhir kacau. Spencer yang ditugaskan oleh Aiden untuk membereskan semua kekacauan yang terjadi di aula langsung mengumumkan pada seluruh tamu undangan jika pesta hari ini terpaksa dibatalkan. Semua tamu undangan yang hadir di sana tampak kecewa, namun mereka juga merasa prihatin dengan keadaan ratu mereka karena mereka melihat sendiri bagaimana wajah pucat ratunya saat digendong oleh Aiden keluar dari aula. Para tamu itu satu persatu mulai meninggalkan aula istana dengan terlebihdahulu mereka mengucapkan ungkapan sedih mereka pada Spencer, selaku orang terdekat dari Aiden yang akan menyampaikan rasa simpati mereka pada sang raja.

“Tuan, kami turut berduka atas musibah yang terjadi pada ratu, semoga ratu segera pulih dan dapat kembali menyapa kami dengan senyum cantiknya.” Ucap seorang rakyat jelata pada Spencer. Spencer menganggukan kepalanya dan tersenyum tulus pada pria itu sambil menepukan tangannya pada pundak pria itu. Ia sendiri merasa begitu sedih atas kejadian tiba-tiba yang menimpa ratunya. Tapi sayangnya ia tidak menyadari jika semua kejadian ini adalah salah satu rencana licik yang sedang dijalankan oleh Gazelle, wanita yang digilainya.

“Panglima Herren, tolong umumkan pada seluruh rakyat di luar istana untuk membubarkan pesta rakyat hari ini karena ratu sedang sakit.” Perintah Spencer pada panglima Herren yang kebetulan sedang melintas di depannya. Panglima bertubuh besar itu langsung menganggukan kepalanya mengerti dan segera pergi untuk mengumumkan pada seluruh rakyat Khronos yang hari ini sedang merayakan pesta rakyat di alun-alun kota.

Dari kejauhan, seseorang wanita dengan jubah merah dan tudung merah yang menutupi sebagian wajahnya tampak memperhatikan Spencer dengan dahi berkerut. Wanita setengah baya itu kemudian menghampiri panglima Herren yang sedang berjalan tak jauh darinya.

“Permisi, ada apa ini? Mengapa raja membubarkan pestanya?”

Panglima Herren menghentikan langkah kakinya dan memandang heran pada wanita setengah baya yang menggunakan jubah merah itu. Ia pikir wanita itu sedikit aneh karena tidak mengetahui musibah yang baru saja terjadi pada sang ratu.

“Kau tidak tahu?”

Wanita itu menggelengkan kepalanya dua kali sambil menatap panglima Herren penuh tanda tanya.

“Maaf, tapi aku baru saja datang. Sebenarnya aku bukan penduduk Khronos, aku adalah penduduk perbatasan Bibury.” Ucap wanita itu menjelaskan. Panglima Herren menganggukan kepalanya mengerti dan langsung memberitahukan semua yang ia ketahui pada wanita itu.

“Ratu sedang sakit, sehingga raja memutuskan untuk membatalkan acara pesta pada malam ini. Sepertinya seseorang berencana untuk mencalakai ratu dengan meletakan beberapa paku di dalam sepatunya hingga saat ini kaki sang ratu terluka dan ia kehilangan cukup banyak darah karena hal itu.”

“Ratu terluka? Ya Tuhan, lalu bagaimana keadaan Yang Mulia ratu sekarang?” Tanya wanita baya itu penuh keterkejutan. Panglima Herren kemudian menggelengkan kepalanya lemah karena hingga saat ini raja belum memberitahukan bagiaman kondisi ratu Calistha pasca mendapat musibah mengerikan malam ini. Tapi menurutnya Calistha akan baik-baik saja karena ia belum mendapatkan kabar buruk atau semacamnya mengenai keadaan Calistha.

“Entahlah, raja belum mengatakan apapun. Tapi aku berharap ratu akan baik-baik saja. Ia ratu yang sangat baik, dan aku sangat menyukai sifatnya yang ramah itu.”

“Ya, semoga saja ratu Calistha memang baik-baik saja. Terimakasih panglima atas informasinya.”

Setelah menganggukan kepalanya pelan, Panglima Herren segera berjalan pergi meninggalkan wanita baya itu di dalam aula. Sedangkan wanita berjubah merah itu tanpa diketahui oleh siapapun langsung menyaru bersama para tamu undangan yang lain dan secara diam-diam ia menyusup ke dalam lorong istana yang sepi dan temaram. Entah apa yang akan dilakukan wanita itu di dalam istana karena ia langsung melepaskan jubah merahnya di dekat pilar dan menyembunyikan jubah merah itu di bawah patung Michael yang besar di sudut ruangan. Sekarang penampilannya telah sama seperti para pelayan yang lain. Ia akan menyamar menjadi salah satu pelayan.

“Yang Mulia, aku datang untukmu.”

-00-

Aiden duduk termenung di atas kursi kebesarannya sambil mengamati tubuh Calistha yang tampak pucat di atas ranjangnya. Sejak tabib pergi tiga jam yang lalu, Calistha belum juga membuka matanya. Padahal sang tabib mengatakan jika ratu akan segera sadar sebentar lagi, tapi sudah tiga jam ia menunggunya, wanita itu belum juga membuka matanya. Sembari menyesap anggur merah kesukaannya, Aiden mulai memikirkan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi padanya dan juga Calistha. Sekarang kemampuannya untuk melihat masa depan sudah sedikit berkurang, dan hal itu karena ia telah bercinta dengan Calistha beberapa hari yang lalu. Seharusnya mereka memang tidak diijinkan untuk bersentuhan sebelum mereka benar-benar menikah di malam bulan purnama. Tapi hasrat untuk memiliki Calistha benar-benar kuat, hingga ia tidak terlalu memikirkan dampak buruk yang akan menimpanya di kemudian hari.

“Mungkinkah Calistha akan mengandung setelah ini?”

Pertanyaan itu terus berkelebatan di dalam benak Aiden sejak ia melakukan percintaannya dengan Calistha malam itu. Namun saat itu ia masih merasa tidak yakin karena Calistha mungkin saja tidak akan mengandung hanya dengan sekali bercinta. Tapi melihat kekuatannya yang semakin lama semakin melemah, ia sekarang menjadi yakin jika Calistha pasti akan segera mengandung setelah ini. Menurut ramalan itu, kekuatannya akan menghilang secara perlahan seiring dengan bertambah tuanya usia kandungan Calistha. Dan sekarang ramalan itu benar-benar terbukti, dari hari ke hari kekuatannya untuk melihat masa depan semakin melemah. Dan mungkin saja setelah ini ia akan kehilangan kekuatan untuk hidup kembali, nyawanya tidak akan bisa kembali seperti dulu.

Aiden kemudian mendesah frustasi sambil menyesap anggur merahnya gusar. Andai saja saat itu ia dapat menahan diri, maka semua ini tidak akan terjadi. Seharusnya disaat-saat seperti ini ia dapat menggunakan kekuatannya untuk melindungi Calistha, tapi kekuatannya justru semakin melemah dari hari ke hari karena sebentar lagi Calistha akan mengandung anaknya. Padahal di luar sana banyak sekali orang-orang jahat yang akan mencelakai Calistha, termasuk Tiffany yang sudah semakin menunjukan kelicikannya padanya. Setelah ini ia harus segera megambil tindakan untuk menghukum Tiffany. Wanita itu harus disingkirkan terlebihdahulu agar ia tidak semakin mencelakai Calistha, atau bahkan membunuhnya. Secepatnya ia harus mengirimkan seseorang untuk mengawasi pergerakan wanita ular itu.

“Eughhh.”

Samar-samar Aiden mendengar suara lenguhan Calistha dan gerakan tubuh wanita itu perlahan. Dengan sigap Aiden langsung melompat dari kursinya untuk melihat keadaan Calistha yang telah membuka matanya.

“Apa kau merasa sakit?” Tanya Aiden tidak sabar ketika ia melihat Calistha telah membuka matanya sempurna dan sedang menatap manik matanya dengan mata sayunya. Calistha menggelengkan kepalanya lemah dan berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya, tapi Aiden langsung menahan pergerakan tubuhnya dan memerintahnya untuk tetap berbaring.

“Jangan bangun, kau harus banyak-banyak istirahat.” Peringat Aiden tegas dan langsung dipatuhi Calistha begitu saja. Malam ini ia tidak sedang dalam keadaan yang baik-baik saja. Daripada ia menghabiskan tenaganya untuk berdebat dengan Aiden, lebih baik ia menggunakan waktunya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Calistha kemudian mencoba mengingat semua kejadian hari ini yang telah dilewatkannya. Tiba-tiba ia teringat jika saat memasuki aula istana, ia merasa kakinya terasa sakit, sakit seperti tertusuk sesuatu, tapi ia berusaha untuk mengabaikannya karena ia pikir itu hanya efek dari menggunakan sepatu bertumit tinggi. Tapi ternyata rasa sakit itu terus berlanjut dan semakin lama ia semakin merasa tidak kuat untuk menahannya dan setelah itu ia… tak mengingat apapun lagi.

Ia tak sadarkan diri

            “Apa aku pingsan?” Tanya Calistha kemudian pada Aiden. Pria itu menganggukan kepala mengiyakan dan mendudukan diri di sebelah Calistha. Iris gelapnya sejak tadi terus mengamati perubahan raut wajah Calistha yang tampak sedang memikirkan sesuatu. Dan ternyata benar, Calistha sedang mencoba mengingat-ingat kejadian malam ini.

“Kau pingsan karena kakimu terluka. Aku menemukan tiga buah paku di masing-masing sepatumu yang telah melukai telapak kakimu. Apa kau tidak merasakan sakit sebelumnya?” Tanya Aiden dingin. Saat ini pria itu sedang menahan gejolak emosi yang menusuk-nusuk rongga hatinya. Di satu sisi ia merasa marah pada dirinya sendiri karena ia tidak bisa melindungi Calistha malam ini, dan di sisi lain ia sangat mengkhawatirkan Calistha karena wanita itu tampak begitu pucat. Calistha malam ini benar-benar terlihat lemah dan ia seperti kehilangan cahayanya. Ia benar-benar tidak suka Calistha yang pucat!

“Aku.. sebenarnya merasakan sakit, tapi aku berusaha untuk menahannya karena kupikir itu hanya efek dari menggunakan sepatu bertumit tinggi. Apa kakiku tidak apa-apa?”

“Lihat saja sendiri. Lihat dan resapi baik-baik keadaan kakimu.” Jawab Aiden datar yang terkesan kasar. Calistha cemberut mendapat jawaban yang tidak bersahabat dari Aiden, tapi ia berusaha untuk tidak memikirkannya dan segera menyingkap selimut merah yang menutupi sebagian tubuhnya.

“Ya Tuhan!” Pekik Calistha terkejut saat melihat kondisi kakinya yang tengah dibebat berlapis-lapis perban yang cukup tebal. Wanita itu berusaha untuk menggeraka-gerakan kakinya ke depan dan ke belakang, tapi ia tidak bisa melakukannya dengan maksimal dan justru merasa sakit setelahnya.

“Apa yang terjadi pada kakiku?” Erang Calistha frustasi dengan mata berkaca-kaca. Aiden menghela nafas pelan dan mencoba untuk menenangkan Calistha dengan merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. Ia turut merasa sedih saat Calistha tengah menahan tangis sepert ini. Andai saja waktu bisa diputar, maka ia akan melakukan berbagai cara untuk menyelamatkan Calistha dari malapetaka ini. Sayangnya ia tidak bisa melakukan hal itu lagi. Jika ia mencoba untuk bunuh diri sekarang dan mengulang waktu, ia tidak yakin ia dapat hidup lagi untuk mengulang semuanya. Justru mungkin ia akan mati dan tidak akan pernah hidup lagi.

“Kakimu hanya terluka ringan, dan itu efek dari paku yang menancap di telapak kakimu. Tapi setelah seminggu, semuanya akan baik-baik saja.”

“Kau yakin, kelihatannya itu sangat parah. Apa aku tidak akan bisa berjalan dalam waktu seminggu?” Isak Calistha frustasi di pundaknya. Aiden menganggukan kepalanya pelan dan semakin mengeratkan pelukannya untuk memberikan kekuatan pada Calistha. Dan benar saja, wanitu itu langsung terisak dengan keras sambil mencengkeram kuat lengannya yang kokoh.

“Apa seseorang ingin mencelakaiku?”

“Aku sedang mencari siapa pelakunya, kau tenang saja. Saat aku menemukannya nanti, aku pasti akan langsung memenggalnya tanpa ampun, karena ini adalah salah satu percobaan pembunuhan. Ia harus dihukum dengan seberat-beratnya.” Ucap Aiden berapi-api. Ketika mengucapkan hal itu, dalam benaknya langsung terbayang wajah licik Tiffany yang sedang menyusun berbagai macam rencana jahat untuk membunuh Calistha. Ia bersumpah akan secepatnya menemukan bukti-bukti itu dan menghukum Tiffany dengan hukuman berat yang sangat mengerikan. Mungkin sebelum ia membunuh Tiffany dengan pedang peraknya, ia terlebihdahulu akan menyiksa Tiffany dengan mengulitinya secara perlahan-lahan hingga wanita itu sendiri yang memohon kematian padanya.

“Apakah aku jahat?”

“Hmm?”

“Apakah aku jahat, sehingga orang itu ingin mencelakaiku dan membunuhku?”

“Jahat? Definisi jahat setiap orang itu berbeda-beda Cals. Seperti kau yang selalu mengganggapku jahat, tapi rakyatku tidak menganggapku demikian, mereka justru tunduk dan patuh padaku. Sama halnya denganmu, mungkin orang itu hanya merasa iri denganmu sehingga ia ingin mencelakaimu dan membunuhmu. Percayalah, tidak ada orang yang benar-benar jahat di muka bumi ini, karena kejahatan yang sesungguhnya hanya dimiliki oleh seorang iblis.” Terang Aiden bijak. Calistha tertegun lama di dalam pelukan Aiden, mencoba mencerna semua ucapan Aiden yang terdengar sangat masuk akal itu. Pria itu benar, tidak ada orang yang benar-benar jahat di muka bumi ini, dulu ia mengaggap Aiden jahat karena ia tidak mengetahui alasan dibalik semua sikap kejam Aiden, tapi setelah ia mengetahuinya, pemikiran mengenai Aiden adalah pria yang jahat perlahan-lahan mulai sirna, digantikan dengan pemikiran jika Aiden adalah pria yang sangat bertanggungjawab dan tegar. Hanya saja selama ini ia tidak bisa memahami pria itu, sehingga ia langsung mengecap Aiden sebagai orang jahat. Lalu, kira-kira siapa yang hendak mencelakainya? Apakah orang itu telah salah paham padanya hingga ingin membunuhnya? Tapi siapa? Semua orang di istana ini selalu terlihat ramah dan sangat menyayanginya. Dan ia selalu membangun hubungan yang baik dengan mereka semua.

“Selama ini seluruh penghuni istana selalu bersikap baik padaku, aku merasa mereka sama sekali tidak jahat dan tidak akan melukaiku seperti ini.”

“Calistha, tidak semua orang yang kau pikir baik adalah orang baik. Apa kau masih ingat pada Gazelle? Kau mati-matian membelanya dan melindunginya dariku karena kau pikir ia adalah wanita yang baik, tapi kenyataannya ia justru akan membunuhmu. Berhati-hatilah dalam menilai orang, karena kau bukan orang yang pandai menilai orang lain.” Ucap Aiden tegas. Calistha langsung melepaskan pelukan Aiden begitu saja sambil menekuk wajahnya cemberut. Rupanya ia sedang merasa kesal pada Aiden karena pria itu lagi-lagi memojokannya dan secara tidak langsung Aiden menganggapnya bodoh karena ia tidak mampu membedakan sifat orang yang benar-benar baik dan buruk. Tapi mau bagaimana lagi, mereka semua benar-benar terlihat baik di depannya dan sama sekali tidak terlihat jahat. Diantara merekapun banyak yang menjadi teman dekatnya. Lalu bagaimana caranya ia menemukan orang jahat itu. Pasti akan sangat sulit menemukan orang jahat diantara orang-orang yang baik karena mereka dapat berpura-pura baik seperti yang lainnya.

“Sudahlah, aku lelah. Bisa kau tinggalkan aku sekarang?” Usir Calistha dengan nada ketus. Aiden menaikan kedua alisnya tak habis pikir pada sikap Calistha yang mudah berubah-ubah seperti bunglon. Terkadang wanita itu bersikap manis dan penurut, namun terkadang wanita itu terlihat kembali kasar dan pemarah seperti singa betina yang kelaparan. Jujur saja ia merasa sulit untuk memposisikan diri jika berada disekitar wanita itu.

“Kau mengusirku dari kamarku sendiri? Bagus. Pertahankan sikap sopanmu itu Calistha.” Ucap Aiden sakarstik. Calistha tampak terkejut dan langsung mengamati seluruh kamar itu dengan seksama. Dan sekarang ia benar-benar menyadari jika kamar itu bukan kamarnya, melainkan kamar peraduan Aiden yang didominasi oleh suasana gelap yang mencekam.

“Kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya?”

            “Apa kau sudah puas mengamati seluruh isi kamarku?”

“Kenapa aku bisa berada di sini. Aku akan kembali ke kamarku.”

Calistha sudah bersiap untuk bengkit dari posisi tidurnya dan hendak berjalan turun dari ranjang besar itu, tapi Aiden langsung menahan lengannya dan menariknya kuat untuk mendekat ke arahnya yang telah merebahkan diri di samping Calistha sebelumnya.

“Mulai sekarang kau akan tidur di sini bersamaku.”

“Apa? Kau gila! Kita belum resmi menikah.” Teriak Calistha keras dan sama sekali tidak setuju. Tapi Aiden dengan santai langsung membalas wanita itu dengan kata-kata vulgarnya yang mampu membuat kedua pipi Calistha bersemu merah karena malu.

“Kita memang belum resmi menikah, tapi kita sudah pernah bercinta sebelumnya, jadi apa bedanya menikah atau tidak menikah, toh kita sudah pernah menghabiskan malam bersama.”

“Ta tapi… tttapi.. itu berbeda. Kita tetap harus menikah terlebihdahulu sebelum memutuskan untuk tinggal di kamar yang sama. Bagaimana dengan pandangan orang-orang di luar sana mengenai kita. Mereka pasti akan berpikiran yang tidak-tidak tentangmu dan aku.”

“Memangnya mereka berani melakukan hal itu? Menggunjing raja sama dengan kematian untuk mereka.” Balas Aiden santai dan terlihat tak peduli. Calistha menggelengkan kepalanya tak habis pikir pada Aiden dan langsung mendaratkan pukulan keras di lengan pria itu.

“Ya Tuhan, kau mulai lagi. Kau kembali pada sifatmu yang semena-mena. Mereka memiliki hak untuk mengomentarimu jika kau memang bersikap tidak wajar.” Ucap Calistha gusar. Terkadang ia merasa jengah dengan sikap Aiden yan terlihat begitu mudah menghilangkan sebuah nyawa tanpa berpikir panjang terlebihdahulu. Apa ia pikir Tuhan menciptakan nyawa hanya untuk disia-siakannya begitu saja? Benar-benar raja yang arogan.

“Mereka memang berhak untuk mengomentari sikapku, tapi aku tidak pernah membuat peraturan mengenai hal itu. Jadi, suka atau tidak suka, mereka harus selalu mematuhi keputusanku dan mereka dilarang untuk menggunjingku, karena aku tidak suka.”

“Hey, kau..”

“Aku adalah raja, mereka harus tunduk dan patuh padaku.” Potong Aiden mutlak. Calistha tampak kehabisan kata-kata sambil memutar bola matanya gusar. Lagi-lagi pria itu menggunakan statusnya untuk mengintimidasi orang lain, bahkan dirinya pun pernah diperlakukan seperti itu, hingga pada akhirnya mereka bertengkar hebat dan berakhir dengan peristiwa menggemparkan hari ini. Apakah sebagai raja pria itu harus selalu memperjelas statusnya seperti itu? Benar-benar menyebalkan!

“Terserah apa katamu, aku malas mendebatmu.” Ucap Calistha akhirnya dengan ekspresi marah dan langsung berbalik memunggungi Aiden. Pria itu terkekeh pelan melihat sikap Calistha yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Ia sangat menikmati saat-saat seperti ini, saat-saat kebersamaannya dengan Calistha yang tidak akan pernah ia lupakan sampai kapanpun. Semoga semua cobaan ini segera berakhir agar ia dapat menjalani hidupnya dengan tenang bersama Calistha, dan juga anak-anaknya kela.

“Arghh..!”

Aiden mengerang pelan ketika ia merasakan kepalanya kembali berdentum. Setelah beberapa hari terakhir ia tidak melihat kilasan kejadian di masa depan, akhirnya ia kembali mendapatkannya lagi hari ini. Calistha yang mendengar suara Aiden di belakangnya yang tengah mengerang kesakitan langsung berbalik untuk melihat kondisi Aiden saat ini.

“Aiden, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Calistha khawatir. Aiden mengangakat sebelah tangannya kepayahan untuk memberikan kode jika ia baik-baik saja. Ia hanya perlu bersabar selama beberapa menit hingga dentuman itu menghilang dan kilasan-kilasan kejadian di masa depan itu memudar.

“Aarghh.. aaku baik-baik saja. Aku hanya sedang…. mendapatkan penglihatan di masa depan.” Ucap Aiden terbata-bata sambil menahan rasa sakit yang semakin menusuk-nusuk kepalanya. Calistha kemudian mendekap Aiden erat dan membisikan kata-kata penyemangat pada pria itu agar pria itu kuat menghadapi setiap kesakitan yang sedang mendera kepalanya.

Disisi lain, Aiden saat ini sedang menahan amarah di dalam dirinya karena ia baru saja melihat Gazelle dan Tiffany di dalam kepalanya. Dua wanita licik itu saat ini sedang menyusun rencana di penjara bawah tanah untuk kembali menyakiti Calistha setelah kejadian hari ini.

“Brengsek, mereka benar-benar harus dihukum dengan seberat-beratnya.”

-00-

Malam ini Tiffany kembali berjalan mengendap-endap menuju penjara bawah tanah untuk mengunjungi Gazelle. Hari ini ia akan menceritakan pada Gazelle jika rencananya untuk menyakiti Calistha berhasil. Namun ada satu masalah yang timbul setelah itu, dan ia merasa harus membicarakan hal ini pada Gazelle karena mungkin saja wanita itu memiliki solusi yang berhubungan dengan Aiden, mengingat mereka pernah memiliki hubungan dekat di masa lalu.

Satu persatu Tiffany mulai menuruni undakan batu yang berlumut dan licin itu. Di ujung anak tangga, Tiffany dapat melihat para penjaga sedang tertidur pulas sambil mendengkur dengan cukup keras. Perlahan-lahan, Tiffany mulai melewati para penjaga itu tanpa suara. Ia tidak ingin para penjaga itu bangun karena ia sedang malas memberikan alasan untuk mereka. Selain itu mereka akan merasa curiga padanya karena ia beberapa kali datang ke penjara itu dengan alasan yang sama.

“Akhirnya kau datang juga.”

Gazelle terlihat sudah menanti kedatangan Tiffany sambil bersandar pada jeruji besi di depannya. Tiffany menyeringai licik pada Gazelle dan langsung mendekati wanita itu dengan tidak sabar. Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan pada wanita itu, terkait dengan rencana liciknya hari ini yang sangat sukses menyakiti Calistha.

“Aku berhasil melukai Calistha hari ini. Dia benar-benar terluka dan pingsan di tengah-tengah acar berdansanya dengan Aiden. Andai saja kau dapat melihatnya, kau pasti juga akan bersorak girang sepertiku.” Ucap Tiffany puas. Gazelle tampak begitu berminat dengan cerita Tiffany dan langsung menyuruh wanita itu untuk menceritakan semua kronologi kejadian malam ini.

“Ceritakan padaku semuanya. Aku benar-benar ingin mendengarnya.”

“Dasar tidak sabaran.” Cibir Tiffany geli, namun ia tetap menceritakan semuanya pada Gazelle. Semua hal yang telah ia lakukan hari ini hingga Calistha terluka dan pingsan di tengah acara berdansanya dengan Aiden.

Flashback

            Sore hari Tiffany tampak mengendap-endap untuk masuk ke dalam kamar Calistha yang luas dan mewah. Tiffany  melongokan kepalanya sedikit ke dalam sambil mengamati setiap sudut kamar Caslistha yang sepi. Sore ini dua pelayan setia Calistha sedang membantu Calistha untuk melakukan ritual sebelum acara pesta nanti, sehingga kamar itu kini tampak benar-benar sepi dan seperti tidak berpenghuni. Dengan penuh keyakinan, Tiffany mulai melangkah masuk ke dalam kamar itu sambil menggenggam beberapa paku yang telah disiapkannya pagi ini. Semua paku itu ia dapatkan dari gudang penyimpanan alat-alat perkebunan yang berada di taman belakang. Sebelumnya Gazelle telah memberitahunya jika tukang kebun istana pasti memiliki banyak persediaan paku di dalam gudang karena mereka selalu membutuhkan paku untuk membuat rak-rak bunga. Dan berkat informasi yang didapatkannya dari Gazelle, ia dapat mendapatkan paku itu dengan mudah untuk melukai Calistha.

Sambil tersenyum licik, Tiffany mulai mengambil sepatu putih Calistha yang telah disiapkan oleh Yuri di sudut ruangan. Sepatu itu tampak begitu cantik dengan taburan batu-batu permata yang akan langsung berkilau saat tertimpa cahaya. Namun siapa sangka jika dibalik sepatu yang cantik itu tersembunyi beberapa paku tajam yang siap melukai pemakaianya. Tiffany kemudian menancapkan paku-paku itu di dalam bagian sepatu yang memiliki sol yang cukup tebal agar paku-paku itu dapat tersamarkan dan akan benar-benar melukai kaki Calistha saat wanita itu telah menginjak sol sepatu itu dan melangkah menuju ke aula. Setelah semuanya selesai, Tiffany langsung meletakan sepatu itu ke tempat semula dan ia segera pergi dari kamar itu. Selain meletakan paku-paku di dalam sepatu yang akan dikenakan oleh Calistha malam ini, ia masih memiliki rencana lain yang akan membuat peristiwa malam ini menjadi lebih mencekam. Ia akan menyuruh para pelayan untuk membentangkan karpet merah disepanjang pintu masuk aula istana agar mereka semua tidak menyadari jika kaki Calistha sedang terluka. Ia yakin, karpet merah itu akan menyamarkan noda darah yang menetes dari kaki Calistha. Dan saat mereka menyadarinya, semuanya telah terlambat. Kaki Calistha sudah benar-benar terluka dan ia akan kehilangan banyak darah karena paku-paku itu.

“Pelayan, tolong bentangkang karpet merah disepanjang jalan ini untuk menyambut kedatangan ratu dan raja, ini perintah dari tuan Spencer.” Ucap Tiffany setengah mengancam pada seorang pelayan yang tengah mendekorasi aula istana. Mengetahui jika perintah itu berasal dari Spencer, pelayan itu langsung mengangguk patuh dan segera membentangkan sebuah karpet mereka yang begitu panjang dan melintang di tengah-tengah ruangan. Melihat hal itu, Tiffany langsung berseru girang sambil tersenyum sinis pada karpet merah yang terbentang di hadapannya.

“Hmm, sempurna. Bersiaplah untuk menghadapi penderitaanmu Calistha.”

Flashback End

            “Cerdas, kau memang sangat cerdas Tiffany, dan juga licik.” Puji Gazelle kagum sambil bertepuk tangan di depan Tiffany. Tiffany tersenyum sombong di depan Gazelle sambil mengibaskan rambutnya dengan gaya angkuh yang sangat menyebalkan.

“Tapi kita masih memiliki masalah lain. Aiden sekarang lebih memperketat penjagaan Calistha. Ia tidak mengijinkan Calistha untuk menempati kamarnya, dan malam ini Calistha langsung ditempatkan di kamar pribadinya.”

“Apa? Ini gila! Aiden berani menempatkan Calistha di dalam kamarnya, sedangkan mereka belum resmi menikah? Sial! Ia pasti akan menggoda Aiden dengan tubuhnya setelah ini. Kau harus memikirkan sesuatu!” Teriak Gazelle kelabakan di depannya. Tiffany memutar kedua bola matanya malas sambil menatap jengah pada Gazelle. Harus berapa kali lagi ia mengatakan pada Gazelle untuk berhenti mencintai Aiden dan berharap pada pria itu. Jelas-jelas Aiden sama sekali tidak mencintainya. Ia benar-benar wanita bodoh yang keras kepala!

“Jika kau menyuruhku berpikir hanya untuk melegakan hatimu, maka aku tidak mau! Sudah berapa kali kukatakan padamu jika Aiden sama sekali tidak mencintaimu. Berhentilah berharap pada Aiden dan cobalah untuk melihat pria lain yang lebih memperhatikanmu, seperti Spencer mungkin. Kau tidak bisa terus menerus berharap pada Aiden, sedangkan pria itu telah memiliki mainannya sendiri. Lagipula aku tidak yakin jika Aiden belum menyentuh Calistha. Mereka berdua setiap hari tampak dekat, namun juga tidak pernah jauh dari percekcokan. Jadi lupakan saja Aiden!”

Gazelle menatap kesal pada Tiffany sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Mudah memang bagi wanita itu untuk menyuruhnnya melupakan Aiden, tapi ia tidak bisa! Semua itu tidak semudah yang dikatakan. Setiap hari hatinya selalu mendambakan Aiden dan berharap suatu saat nanti pria itu akan berbalik padanya dan meninggalkan Calistha.

“Ck, lupakan saja. Kau tidak berhak memaksa hatiku untuk menerima Spencer jika pada kenyataanya aku masih mengharapkan Aiden. Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya?” Tanya Gazelle mengalihkan pembicaraan. Tiffany mendengus pelan dan kembali membahas topik mengenai Calistha pada wanita itu.

“Sejujurnya aku belum memiliki rencana sama sekali. Oleh karena itu aku datang ke sini untuk meminta bantuanmu. Bukankah kau sangat hafal dengan semua sudut istana ini, mungkin saja aku bisa menyelinap masuk ke dalam kamar Aiden untuk mencelakai Calistha.” Ucap Tiffany ringan. Gazelle menggelengkan kepalanya cepat sambil menatap kedua iris mata Tiffany serius. Seluruh sudut istana ini memang memiliki celah yang telah diketahui oleh Gazelle, tapi kamar pribadi Aiden? Kamar itu sama sekali tidak memiliki jalan rahasia. Hanya ada satu pintu yang menghubungkan kamar itu dengan ruangan lain di istana, sehingga Tiffany tidak akan bisa menyelinap masuk selain melalu pintu utama. Sudah pasti Tiffany tidak akan bisa masuk dengan mudah, karena Aiden pasti akan menjaganya dengan ketat.

“Kamar Aiden hanya memiliki satu pintu. Kau hanya bisa masuk melalui pintu utama.”

“Benarkah? Ah, sayang sekali.” Keluh Tiffany kecewa. Tapi Gazelle masih mencoba untuk memikirkan hal lain. Ia yakin, ada banyak cara yang bisa mereka lakukan untuk mencelakai Calistha. Dan ia pasti akan menemukan cara itu.

“Pasti ada cara lain untuk mencelakai Calistha tanpa diketahui oleh Aiden. Bukankah Calistha belum mengetahui kelicikanmu? Kau bisa mendekatinya saat Aiden tidak sedang bersamanya. Aiden tidak akan mungkin terus menerus menemani Calistha karena ia memiliki banyak pekerjaan untuk mengatur kerajaan Khronos dan kerajaan jajahannya yang lain. Gunakan kesempatan itu untuk mendekati Calistha dan melukainya, kau pasti bisa.”

“Huh, mudah memang mengucapkannya, tapi hal itu sangat sulit untuk dilakukan.” Cibir Tiffany dengan wajah kesal. Gazelle menatap Tiffany kesal dan meninggalkan wanita itu begitu saja untuk berpikir.

“Hey, apa yang kau lakukan? Cepat pikirkan sesuatu.”

“Selamat malam tuan Spencer.”

“Kalian semua tertidur? Bagaimana jika ada tahanan yang kabur saat kalian tidur! Apa kalian ingin raja Aiden menghukum kalian dengan hukuman mati?” Bentak Spencer keras. Tiffany dan Gazelle langsung bertatapan satu sama lain sambil membelalakan mata terkejut. Mereka tidak menyangka jika Aiden akan datang malam ini ke dalam penjara untuk mengunjungi Gazelle. Dengan sigap Tiffany langsung bersembunyi di balik pilar yang berada tak jauh dari sel tahanan Gazelle. Sedangkan Gazelle langsung bersikap seolah-olah ia sedang tertidur sambil menghadap pada tembok penjara yang kotor.

Langkah kaki Spencer yang berat semakin terdengar nyaring seiring dengan posisinya yang semakin dekat dengan sel tahanan Gazelle. Dari balik pilar, Tiffany tampak sedang menahan nafas gugup. Meskipun ia licik dan jahat, tetap saja ia bisa merasakan rasa gugup saat ia sedang terpojok. Selain itu, ia masih memiliki banyak ambisi untuk mencelakai Calistha dan melukai Calistha, sehingga ia tidak ingin Spencer mencurigainya dan menangkapnya sekarang karena ia belum sepenuhnya merealisasikan semua ambisinya.

“Gazelle.”

Suara nyaring namun lembut itu menggema keras di dalam penjara bawah tanah yang sunyi dan senyap itu. Gazelle tampak menggeliat kecil dan hanya menatap sekilas pada Spencer yang telah berdiri sempurna di depan sel tahanannya. Pria itu terlihat begitu sedih saat melihat bagaimana keadaanya saat ini sambil menggenggam jeruji besi itu kuat-kuat. Ia merasa tak berguna dan bodoh karena tidak bisa menyelamatkan wanita yang dicintainya dan justru membiarkan Gazelle hidup menderita di dalam penjara yang pengap dan kotor ini. Andai saja ia bisa memohonkan sedikit keringanan untuk Gazelle pada Aiden, maka ia akan melakukannya dengan penuh sukacita. Sayangnya saat ini suasana di istana sedang tidak mendukung. Yang Mulia ratu hari ini sedang terluka, sudah pasti raja akan lebih sibuk untuk mengurusi sang ratu daripada mendengarkan permohonannya untuk meringankan hukuman Gazelle.

“Gazelle, bagaimana keadaanmu?”

“Untuk apa kau datang ke sini? Pergilah, Aiden pasti membutuhkanmu sekarang.” Usir Gazelle ketus. Spencer menghela nafas pelan sambil berjongkok di depan sel tahanan Gazelle.

“Raja sedang bersama Yang Mulia ratu, hari ini ratu mengalami musibah sehingga raja langsung membatalkan acara pesta penyambutan ratu di kerajaan Khronos. Apa kau baik-baik saja?” Ulang Spencer lagi dengan gigih. Gazelle tampak sangat jengah dengan sikap Spencer yang pantang menyerah itu. Padahal ia sudah mengusir pria itu dengan berbagai macam cara dan kata-katanya yang kasar, tapi tetap saja pria itu terus mendekatinya dengan gigih.

“Oh, aku tidak tertarik untuk membahas mereka sekarang. Lebih baik kau pergi.”

Tiffany mendengus kesal dibalik pilar sambil meremas-remas kedua tangannya gemas. Seharusnya disaat-saat seperti ini Gazelle dapat memanfaatkan kesempatan untuk mendekati Spencer agar pria itu bersedia untuk membantunya keluar dari penjara ini. Namun Gazelle justru menanggapi pria itu dengan sikap kasar dan sinisnya. Lalu kapan wanita itu akan keluar dari penjara ini jika seperti itu?

“Haruskah aku turun tangan untuk membantu wanita bodoh itu”

“Aku sedang menyusun rencana untuk membebaskanmu.”

Apa?

            “ Membebaskanku? Kau yakin akan melakukannya?” Tanya Gazelle memastikan. Spencer tampak berpkir sebentar di depannya dan kemudian ia langsung menganggukan kepalanya dengan yakin. Ia sudah memikirkan hal ini sejak kemarin, dan keputusannya telah bulat, ia akan membebaskan Gazelle dari penjara ini, meskipun tanpa persetujuan dari Aiden.

“Bagaimana dengan Aiden? Apa kau akan mengkhianatinya?”

“Sesekali sepertinya tidak apa-apa. Selama bertahun-tahun aku telah mengabdi padanya menjadi tangan kananya yang paling setia, tapi sebagai seorang manusia aku tetap saja memiliki kehendakku sendiri. Tidak selamanya aku harus patuh di bawah perintahnya. Dan kali ini aku ingin sedikit berkhianat untukmu. Tapi ingat, setelah aku berhasil mengeluarkanmu dari penjara ini, kau harus pergi sejauh mungkin dari Khronos dan jangan pernah muncul lagi di sekitar daerah Khronos. Aku ingin kau membangun kehidupanmu sendiri di luar Khronos. Rasanya aku tidak tega membiarkanmu di sini, menderita, dengan keadaan yang sangat mengenaskan seperti ini, sementara umurmu masih muda untuk menghadapi berbagai macam petualangan yang sangat menakjubkan di luar sana. Jadi aku memutuskan untuk membantumu keluar dari penjara ini.”

Tiffany dan Gazelle sama-sama termenung di tempat yang berbeda. Mereka berdua sama-sama tak habis pikir dengan sikap Spencer yang terlalu baik pada seorang wanita seperti Gazelle, padahal jelas-jelas selama ini Gazelle selalu bersikap sinis dan kasar padanya, tapi tetap saja pria itu selalu baik padanya.

Tiffany tersenyum masam menertawakan nasibnya yang ternyata jauh lebih menyedihkan dibandingkan Gazelle. Meskipun wanita itu jahat dan licik, tapi ia masih memiliki seseorang yang sangat tulus menyayangi tanpa harus berpura-pura menjadi baik sepertinya. Sedangkan ia harus selalu memakai topeng berwajah malaikatnya demi mendapatkan rasa simpati dari orang-orang disekitarnya. Betapa menyedihkannya hidupnya saat ini. Ia merindukan kehidupannya yang dulu yang penuh kedamaian. Ia benci hidupnya saat ini. Ia benci harus menjadi salah satu putri dari kerajaan Kairos. Dan ia benci pada Calistha, sumber dari setiap kesialan dalam hidupnya.

-00-

“Makan sarapanmu sekarang!”

Aiden berdiri jengkel di sebelah Calistha sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Pagi ini Calistha kembali bersikap menyebalkan dengan mengabaikan sarapannya dan lebih memilih bergelung di dalam selimutnya yang nyaman. Sebenarnya Calistha tidak benar-benar ingin mengabaikan sarapannya, ia hanya sedang menggoda Aiden karena sikap pria itu yang menyebalkan.

“Aku tidak mau makan jika kau tetap tidak mengijinkanku untuk keluar dari kamar ini.” Ucap Calistha keras kepala. Aiden menggeram kesal pada Calistha dan segera menarik kasar tangan wanita itu agar bangkit dari posisi tidurnya. Kesabarannya telah habis hanya untuk menunggu Calistha bangun dan mau memakan sarapannya dengan tenang. Lagipula ini semua ia lakukan demi kesembuhan Calistha, bukan untuk hal-hal lain atau keuntungannya semata.

“Makan, atau aku yang akan menyuapimu dengan caraku sendiri.” Geram Aiden tidak sabar.

Calistha mengerucutkan bibirnya sebal dan mulai mengambil sendok logam di depannya dengan kasar. Ia benci harus berhadapan dengan sikap arogan Aiden yang sangat menyebalkan seperti ini. Ia lebih suka sikap Aiden yang bijaksana dan penuh kelembutan seperti semalam.

“Jika kau menginginkanku bersikap lembut, maka menurutlah padaku.”

Lagi-lagi pria itu membaca pikirannya tanpa permisi dan membuat Calistha semakin sebal pada pria itu. Andai saja ia dapat mengunci pikirannya agar pria itu tidak sembarangan membaca isi kepalanya tanpa permisi seperti itu.

“Jangan membaca pikiranku sesuka hatimu seperti itu, aku tidak suka.” Ucap Calistha terang-terangan. Aiden meraih dagu Calistha lembut dan mengarahkan tatapan wanita itu padanya. Tiba-tiba saja ia merasa gemas pada Calistha, setelah sebelumnya ia merasa kesal karena sikap kekanakan wanita itu.

“Jika kau tidak mau aku membaca pikiranmu, maka berhentilah untuk menggerutu nona keras kepala.”

Calistha menggerak-gerakan kepalanya brutal dan mencoba menyingkirkan tangan Aiden dari dagunya, namun Aiden kembali mencengkeram dagu putih itu dan lebih mendekatkannya pada bibirnya.

“Apa aku pernah mengatakan sebelumnya jika kau memiliki bibir yang sangat menggoda?”

Ucapan Aiden itu sukses membuat pipi Calistha bersemu merah karena malu. Aiden benar-benar pria yang sangat berbahaya. Selain ia bisa menaklukan musuh-musuhnya di medan perang, ia juga bisa menaklukan wanita keras kepala seperti Calistha dengan kata-katanya yang terlewat vulgar, namun romantis.

“Jangan pernah menggodaku untuk mengalihkan rasa kesalku padamu, karena aku tetap merasa kesal dan ingin mencakar wajahmu sekarang.” Sembur Calistha sengit untuk menutupi rasa malunya dan juga rasa panas yang menjalar di seluruh wajahnya. Namun Aiden tampak tidak peduli, dan justru mengecup bibir Calistha pelan dan lembut.

“Hal yang paling kusukai selain menumpahkan darah adalah mencium bibir merahmu. Kau begitu nikmat dan menggoda sayang. Apalagi saat kau tengah meneriakan namaku dengan suara serakmu yang sangat seksi itu, aku menyukainya.” Bisik Aiden sensual di telinganya. Wajah Calistha semakin merah padam mendengar kata-kata vulgar yang diucapkan Aiden padanya. Rasanya ia ingin bersembunyi sejauh-jauhnya dari pria menyebalkan itu agar ia dapat menyembunyikan rona merah di wajahnya yang terlihat begitu jelas saat ini.

“Kau juga semakin cantik saat merona.”

“Arghh hentikan semua ucapan menjijikanmu, aku muak mendengarnya.” Teriak Calistha kesal sambil mendorong tubuh sekokoh baja itu menjauh darinya. Tapi seakan-akan tidak terpengaruh dengan dorongan Calistha, Aiden masih tetap bergeming di tempatnya sambil terkekeh geli melihat reaksi Calistha yang selalu menggemaskan itu.

“Sayang jika kau seperti ini, kau terlihat seperti seorang wanita.”

“Tentu saja aku wanita. Memangnya kau pikir aku pria.” Teriak Calistha kesal dan semakin mendorong-dorong Aiden menjauh darinya. Merasa gemas Calistha, Aiden kemudian mencium bibir merah itu dan menyesapnya dengan rakus seperti seorang musafir yang kehausan.

Tanpa mereka sadari, seorang wanita paruh baya yang menyamar sebagai seorang pelayan tengah berdiri kaku di depan pintu ruang pribadi Aiden yang sedikit terbuka. Wanita itu tampak tersenyum misterius dan setelah itu ia segera pergi dari ruangan itu sambil tersenyum samar dibalik wajahnya datar. Wanita itu tampak seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat misterius di dalam kepalanya. Dan mungkin saja setelah ini wanita itu akan melakukan sesuatu yang menjadi alasannya harus menyamar sebagai seorang pelayan.

35 thoughts on “Queen Of Time: Stay Beside Me!

  1. wooww…siapa wanita misterius itu.mudah2an dia dipihak chalista bkn org yg ingin mencelakai chalista.gmn klo nnti spencer ketahuan n mudah2an penglihatan chalista ttg aiden n gazelle tdk bnr2 terjadi.gazelle psti berusaha menjebak aiden n membuat chalista benci aiden.

  2. Kasian chalista, kakinya terluka parah, bagus tuh, chalista dipindahkan aja kekamar aiden, biar dia aman, dan juga lebih banyak deh moment romantisnya aiden chalista :* :* dan juga wooah, jadi itu resikonya ‘kekuatan aiden akan hilang dengan sendirinya, kalau mereka bercinta dan chalista mengandung’ dan mereka gk akan hidup kembali misalnya terbunuh woah daebak! Aku gk mikir sampe situ, imajinasi authornim gk main2 ya, keren. Dan juga. Kan..kan ini yg gak enaknya spencer mulai menghianati aiden, ya..ampun memang cinta itu buta ya. Semoga aja aiden gk memenggal kepalamu nak :'( dan aish pingin cepet2 gazelle and tiffany ketahuan sama rencana busuknya dan mereka mati. Dan juga siapa perempuan misterius itu? Apa dia berada dipihak aiden chalista? Atau malah sebaliknya? Duh, Cepat lanjut authornim fighting !!

  3. Siapa wanita paruh baya itu? Sepertinya dia punya niat sama mereka?.. next chapter ditunggu thor 😄

  4. apa wanita yang menyamar jadi pelayan itu ibunya chalista??
    semoga aja kalo bener aiden dapat memaafkan kesalahannya di masa lalu. next min semoga aja spencer gagal bebasin gazelle.

  5. Sbenernya siapa wanita paruhbaya yg mnyamar itu :-/ apa dia akan menghancurkan hubungan aiden dan chalista? Atau mlah brusaha melindungi mereka?
    Duuuhh pnasaran bgt sma klanjutannya, next aja lah thot 😁

  6. Hhh ,jadi siapa wanita berjubah merah dan menyamar jadi pelayan itu sebenernya ?? tapi siapapun itu cuma berharap semoga dia bukan orang jahat dan justru bisa bantu Aiden-Calista ^^

    Soal kekuatan Aiden ..semoga gak akan hilang sepenuhnya itu hal yg cukup baik sebenernya karna dengan adanya itu Aiden jadi tau apa yg kemungkinan bakal terjadi dan menghindari musuh .

    Dan Specer apa iya dia bakal kalah sama perasaan cintanya buat Gazelle ..dia mulai berkeinginan menghianati Aiden demi kebebasan Gazelle ..please Aiden harus tau masalah ini dan tolong sadarkan Specer dari perasaannya buat Gazelle yg salah !..

    di tunggu nextnya un ^^

  7. syukurlah chalista ngga terluka terlalu parah.
    siapa wanita paruh baya itu??
    dugaan ku wanita paruh baya itu ibu max atau ngga neneknya yuri.
    disaat aiden ingin mencari bukti atas kesalahan tiffany, spencer malah mengeluarkan gazelle dengan mudah dari penjara.
    kecewa sama sikap bodoh spencer .
    aiden bener” raja yg sensual

  8. Jadi…Aiden merasa khawatir jika Calistha hamil karena semakin tua kehamilan Calistha akan mmbuatnya kehilangan penglihatan masa depannya dengan seiring bertambah tuanya kehamilan Calistha dan Aiden takut tidak bisa melindungi Calistha.Uuuh…Tiffany dan Gazelle semakin menyebalkan dgn rencana rencana jahatnya.Bahkan Spencer bernia mmbebaskan Gazelle tanpa sepengetahuan Aiden.Siapa sebenarnya wanita paruh baya yg menyamar sebagai pelayan di istana Aiden??Mungkinkah ia ingin berbuat jahat pada Calistha atau Aiden??Adakah kemungkinn ia adalah ratu Hora yg sedang menyamar??mengingat ia berasal dari Burbury (ratu Hoora bukankah terakhir bermukim di Burbury sebelum penyerangan ke kerajaan Brbury terjadi).Tapi sikapnya bukan seperti orang jahat,tapi entahlah.Ditunggu kelanjutannya…😊😊

  9. Itu yg bagian akhir siapa??? Haduhhh aiden harus lebih hati2 lagi… musuh nx sudahbbanyak menyamar dan lebih bebas memasuki istana….. smga ja aiden tetap jadi raja yang berkuasa gue lebih suka liat dia yg kejam drpd seperti ini musuh nx lbh mudah menyerang sii kelemahan nx pd calistha. Next!!!!

  10. Gk suka sma spancer dia mau menhianati aiden karna gazelle wanita licik itu,ya ampun spanCer tdak tau kah dia di manfaat kan doang.semoga ajja aiden bsa sllu melindungi calista dan membongkar kedok tiffany agar dia mati sama gazelle jga.
    dan siapa kah nene itu yg menyamar jadi pelayan semoga ajja dia orng baik dan mau melindungi calista next

  11. Ceritanya makin seru, calistha sbnrnya hamil atau engga?
    Penasaran sm wanita misterius itu, siapa dy? Apa ada kemungkinan dy org yg pernah dibantu calistha atau ratu?
    Trlalu banyak nebak, semoga aja dia baik
    Please jgn blg spencer emg berhianat, ga ada keajaiban gitu, kalo ternyata itu rencana aiden wkwk
    Semoga kejahatan mereka cpt terbongkar dan calistha aiden bisa hidup bahagia

  12. Yah chingu siapa kah wanita itu, apakah dia orang baik atau orang jahat buat calistha. Semoga dia orang yang membeberkan kejahatan tiffany yah, moment yoonhae nya kurang greget chingu hehhee next nya ku tunggu banget yah…

  13. siapa sich pelayan itu ?
    ada niat jahat kah ?
    itu jg si spencer dibutakan cinta dqh tw gazelle jahat
    tif sama gaz hrs mati d tangan aiden

  14. Jejeritan sendiri klo aiden udah mulai keluar jurus2 menggodanya,
    Btw endingnya siapa yah itu paruh baya?? Ibunya changmin kah?? Atau musuh baru??
    Ya ampuun musuhnya bnyak bgt sih, satu2 napa 😢😢

  15. aduh siapa lagi itu thor? wanita bertudung ?hadehhh…..,,,,thor banyakin yoonhae moment nya dong meraku tu ya sukanya debat mulut mele duhh,,, jgn lelah thor disini kita para readers selalu dukung karya authorr semangat ne !!^^ fighting…

  16. Wiiihh aiden mindahin calista ke kamarnya nieee 😄😂 Jdi spencer bnar2 mau berkhianat?? demi gazelle?? Ohh tak kusangka 😂😂 Stelah aiden liat fany ma gazelle bertemu di pnjara bwh tnah apa yg bakal dia lakuin?? Dan siapa nenek(?) itu ?? apa dia org yg sma yg pernah calista temuin dulu?? yg neneknya yuri?? apa dia ada dikubu calista?? Apa rencana yg bakal dia lakuin shinga dia nyamar jdi plyan?? Cieee calista ma aiden makin so sweet 😂😂😉😍 meski masih ada cek cok dikit2 😂😂
    Next kk.. Fighting!! 😉

  17. Jadi, siapa wanita misterius yang nyamar jadi pelayan itu? Berharapnya dia adalah pelindung calistha dan aiden.
    Ini knapa spencer jadi punya niatan mengkhianati aiden huhu
    Kekuatannya aiden jangan hilang dulu lah. Kasihan calisthanya. Aidennya juga 🙁

    Ditunggu kelanjutannya kak ^^

  18. itu wanita paruh baya jahat ga ya semoga baik, aduh spencer jangan lembek dong jadi cwo huh jadi ksel sndri semoga calista tau qlo kakanya yg selama ini dia anggap baik ga lebih dari musuh dlm selimut
    next dtnggu

  19. Kyaknya wanita paruh baya yg nyamar itu ibunya pngeran yg di bunuh sma yoona deh eon next eon ☺

  20. Daebak, ceritanya makin menegangkan , suka sama ceritanya 🙂 selalu bikin deg2an, nenek2 yg nyamar jd pelayan itu td baik kan eon? Atau jgn2 dia itu nenek2 yg minta makanan ke chalista dulu? 🙂
    Next chap d tnggu ne? Fighting

  21. Hadududu itu wanita/nenek itu apa ya manusia apa bukan #🔫
    Tapi bukannya nenek”kemarin itu bilang yang terbaik untuk kerajaan
    Khronos dan kebahagiaan mereka kenapa kok misterius #berfikirkeras
    Aku kok makin penasaran??
    Hua……..

  22. Hello friends, how is the whole thing, and what you would like to say regarding this article,
    in my view its genuinely awesome for me.

  23. I must say, youve got one of the finest blogs Ive observed in a lengthy time. What I wouldnt give to be able to generate a weblog thats as intriguing as this. I guess Ill just have to keep reading yours and hope that one day I can write on a topic with as sutniastbally expertise as youve got on this 1!REPLY: Thanks Caryl!

  24. you are actually a just right webmaster. The website
    loading speed is amazing. It seems that you’re doing any
    distinctive trick. Moreover, The contents are masterwork.

    you have performed a great task in this
    matter!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.