Queen Of Time: Pain In The Ass

Calistha menggeliat pelan sambil mengerjap-erjapkan matanya berkali-kali. Wanita cantik itu kemudian mendudukan dirinya di atas ranjang sambil menatap bingung pada sudut-sudut kamarnya dengan aneh.

“Kenapa aku bisa berada di sini? Bukankah seharusnya……”

Calistha tiba-tiba menghentikan gumamannya saat ia merasa seluruh wajahnya terasa panas dan memerah padam. Semalam ia sangat ingat jika ia telah melakukan hal yang lebih jauh bersama Aiden, tapi ia sama sekali tidak tahu jika Aiden telah memindahkannya ke kamarnya sendiri. Dengan perlahan, Calistha mulai turun dari atas ranjangnya sambil menatap jendela kamarnya yang terbuka lebar. Pemandangan di luar sana masih tampak gelap dan sunyi. Calistha kemudian menolehkan kepalanya ke kanan, dan mendapati jam klasik di kamarnya masih menunjukan pukul satu dini hari. Sambil mengernyit aneh, Calistha kemudian memutuskan untuk menghampiri Aiden di kamarnya. Semalam, ia merasa jika Aiden memeluknya dengan erat ketika jam dinding di kamar Aiden menunjukan angka sembilan. Lalu, ia kembali memejamkan mata karena ia terlalu lelah dengan pergulatan panasnya dengan Aiden.

“Jam berapa Aiden memindahkanku ke sini?”

Calistha terus berjalan di sepanjang lorong yang sepi itu dengan perasaan aneh. Jujur ia merasa bahagia dengan kedekatannya dengan Aiden semalam, tapi ia juga merasa malu jika harus bertemu dengan pria itu nantinya. Selama ini ia selalu menolak pria itu dan mengutuknya dengan berbagai macam sumpah serapah. Namun kini, ia justru terjerat ke dalam pesonannya dan justru bersikap seperti seorang jalang yang dengan senang hati langsung jatuh ke dalam pesona seorang raja Aiden. Tanpa sadar Calistha mengusap pipinya berkali-kali untuk menghilangkan rasa panas yang semakin menjalar di setiap permukaan kulitnya ketika ia mengingat seluruh percintaan panas mereka yang ia lakukan siang hari hingga malam. Tak terhitung berapa kali ia meneriakan nama Aiden dengan bibir tipisnya setiap Aiden menenggelamkan tubuhnya ke dalamnya. Sungguh percintaan itu benar-benar menakjubkan untuknya. Dan untuk pertama kalinya, ia dapat melihat sisi lembut Aiden yang tak pernah pria itu perlihatkan sebelumnya. Saat menyentuhnya, Aiden selalu meminta ijin dan memberikan kecupan-kecupan lembut untuk menggodanya. Lalu saat pria itu harus merobek kewanitaanya dengan kejantanannya, Aiden terus mendekapnya erat sambil menenangkannya yang terisak pelan karena kesakitan luar biasa yang ia rasakan. Tapi, hal itu tak berlangsung lama, setelah ia berhasil melewati kesakitan itu, kenikmatan demi kenikmatan datang silih berganti merengkuh tubuh mereka hingga mereka lupa diri dan sama sekali tidak keluar dari kamar sepanjang siang, bahkan hingga malam menjelang.

Calistha mendorong pintu kayu besar itu perlahan sambil menatap was-was pada suasana di sekitarnya. Malam ini para penjaga sedang tidak berada di tempat, padahal biasanya para penjaga akan berdiri dengan kaku di samping pintu ruang pribadi Aiden untuk menjaga agar ruangan raja mereka bebas dari penyusup. Saat Calistha masuk ke dalam ruangan pria itu, hal pertama yang ia rasakan adalah hawa dingin mencekam dengan suasana gelap pekat di sekitar kamar itu. Lalu tanpa ragu, Calistha mulai berjalan menuju sudut ruangan, dimana ranjang besar Aiden tampak berdiri kokoh di sana. Dari ujung pintu, Calistha dapat melihat siluet tubuh Aiden yang sedang tidur menyamping membelakanginya. Namun, saat langkahnya sudah semakin mendekat ke arah peraduan Aiden, langkah kakinya terhenti tiba-tiba ketika ia melihat sesosok bayangan lain yang sedang memeluk Aiden dengan posesif. Bayangan itu tampak bergerak-gerak liar di sana sambil terus menggoda Aiden dengan sentuhan-sentuhan tangannya yang menjijikan.

“Aiden… Sentuhlah aku sekali lagi.” Desah wania itu cukup keras di sebelah Aiden. Lalu, Calistha melihat Aiden mulai bergerak dan menindih tubuh wanita itu di bawahnya. Mereka kemudian mulai melakukan kegiatan panasnya tanpa menyadari kehadiran Calistha diantara mereka.

“Bukankah itu… Gazelle?” Gumam Calistha dengan suara tercekat. Wanita itu masih setia berdiri di sudut tergelap ruangan sambil menyeka bulir-bulir air mata kepedihan di matanya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Aiden akan melakukan ini padanya. Padahal ia sudah meletakan kepercayaan pada pria itu untuk memilikinya, tapi Aiden justru mengkhianatinya dan bermain dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya.

“Calistha….. Calistha. Calistha!”

Calistha mendengar suara Aiden memanggilnya berkali-kali. Namun, ia memilih untuk tidak mempedulikan panggilan itu dan terus menangis terisak di tempatnya. Lalu, sebuah sentuhan lembut tiba-tiba mengejutkannya dan membuatnya segera mendongak dan membuka matanya untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Calistha, hey.. bangulah. Ada apa? Kenapa kau menangis?”

Calistha menatap Aiden bingung sambil memandang pemandangan di sekitarnya dengan pandangan buram karena bulir-bulir air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.

“Apa kau bermimpi buruk?” Tanya Aiden khawatir sambil menyeka bulir-bulir air mata yang telah turun membanjiri wajah Calistha. Wanita itu kemudian segera bangkit dari atas ranjang Aiden sambil menatap nyalang pada pemandangan disekitar kamar raja tampan itu.

“Aku.. masih berada di sini?” Tanya Calistha bingung pada dirinya sendiri. Aiden yang tidak mengerti maksud Calistha hanya menatap wanita itu datar dari balik mata elangnya.

“Kita belum pergi kemanapun setelah percintaan panas kita.” Ucap Aiden santai. Mendengar hal itu, Calistha langsung memekik kaget setelah menyadari jika setengah tubuhnya benar-benar telanjang dan tak tertutupi apapun. Padahal saat ini Aiden sedang berada di sebelahnya, dan sedang menatapnya dengan tatapan tajam setajam mata elang. Dan sialnya, mata itu tampak seperti sepasang mata elang yang kelaparan.

“Kyaa, apa yang kau lihat!” Teriak Calistha marah, namun dengan wajah merah padam. Aiden terkekeh pelan di tempatnya sambil menarik tangan Calistha agar wanita itu kembali berbaring di sebelahnya.

“Aku akan menjawab jujur, aku melihat tubuhmu.” Goda Aiden menyebalkan dengan mata mengerling menatap wajah Calistha. Calistha menepis tangan Aiden dari lengannya sambil merapatkan selimut merah tebal yang digenggamnya untuk menutupi sebagian tubuh atasnya yang terbuka.

“Jauhkan matamu dari tubuhku. Dasar raja cabul!” Teriak Calistha kesal. Aiden tampak tak peduli dan justru tersenyum kecil pada Calistha. Sepertinya hari ini akan menjadi hari paling bahagia bagi Aiden setelah bertahun-tahun ia tidak pernah merasakan kebahagiaan. Ia kemudian merengkuh tubuh Calistha ke dalam pelukannya, meskipun harus dengan sedikit tenaga esktra karena Calistha terus meronta-ronta untuk dilepaskan.

“Tenanglah, aku tidak akan menggigitmu.” Goda Aiden lagi pada Calistha. Rasanya Calistha sudah ingin berteriak lagi pada Aiden karena pria itu hari ini terlihat sangat menyebalkan dengan berbagai macam godaan yang dilontarkan pria itu padanya. Belum lagi dengan keadaan mereka yang masih sama-sama tak menggunakan apapun, hal itu semakin membuat Calistha merasa malu dan salah tingkah.

“Aiden, lepaskan. Kau membuatku tidak bisa bergerak dengan bebas.” Keluh Calistha tidak nyaman. Tapi, Aiden tetap terus memeluknya dan tampak tak berniat untuk melepaskan tubuh sang ratu darinya.

“Aku tidak akan melepaskanmu. Belum, hingga aku merasa puas dan mengijinkanmu untuk keluar dari ruangan pribadiku.” Jawab Aiden tenang. Pria itu mulai memejamkan matanya sejenak untuk menikmati setiap momen kedekatannya dengan Calistha. Tapi, meskipun kebahagiaan ini begitu memabukan untuknya, masih ada masalah lain yang akan mengganggu kebahagiaannya hari ini. Setelah ia bercinta dengan Calistha semalam, sebagian kutukannya telah hilang. Jika Calistha setelah ini mengandung anaknya, maka ia harus lebihs siap untuk menghadapi berbagai macam masalah yang mungkin saja akan menghadang hubungan mereka setelah ini. Seharusnya ia tidak tergoda dengan tubuh Calistha hingga bulan depan, saat bulan purnama kembali muncul di langit Khronos. Tapi, ketertarikan antara tubuhnya dan Calistha benar-benar sangat kuat, hingga ia merasa tidak sanggup untuk melepaskan diri dari tubuh Calistha. Wanita itu benar-benar bagaikan candu untuknya.

“Kenapa kau menangis?”

Pertanyaan tiba-tiba dari Aiden itu membuat Calistha kembali teringat akan mimpinya yang terasa begitu nyata baginya. Bayang-bayang saat Gazelle bergelung di atas tubuh Aiden kembali menampar wajah Calistha hingga Calistha merasa sakit dan pening. Ia tidak tahu apakah mimpi itu perlu ia takutkan atau tidak, tapi tetap saja mimpi itu akan menjadi bayangan mengerikan yang terus mengikutinya setelah ini.

“Aiden, kau tidak akan melepaskan Gazelle bukan?”

Aiden mengernyit bingung di atas pundak Calistha. Ia tidak menyangka jika tiba-tiba ratunya akan menanyakan hal ini, mengingat Calistha selama ini masih gigih membela Gazelle setelah apa yang dilakukan wanita licik itu padanya. Tapi, apapun yang terjadi, ia memang tidak akan melepaskan Gazelle dari penjara bawah tanahnya karena Gazelle adalah wanita yang sangat mengerikan. Kebencian yang mendarah daging di tubuhnya telah membuatnya tumbuh menjadi wanita paling jahat yang pernah dikenal oleh Aiden. Meskipun ia sadar jika semua itu masih ada kaitannya dengan dirinya, tapi ia sama sekali tidak menyangka jika kejadian itu akan berkembang menjadi kejahatan besar seperti ini. Andai saja saat itu ia tidak sedang dikuasai oleh amarah hingga membuatnya harus berbuat kasar pada Gazelle, pasti masa depannya tidak akan semakin rumit seperti ini. Sungguh ia sangat membenci jalan hidupnya yang penuh liku-liku seperti ini.

“Tidak. Meskipun kau yang memintanya sekalipun, aku tidak akan melepaskan Gazelle.” Jawab Aiden tegas. Calistha menghebuskan nafasnya lega sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang Aiden. Untuk saat ini ia akan mempercayai semua ucapan Aiden, tapi jika pria itu sekali saja melanggarnya, maka ia akan membenci pria itu seumur hidupnya.

“Aiden, apa yang kau lihat di masa depan?”

Meskipun dengan dahi yang masih berkerut, tapi Aiden tetap menjawab pertanyaan itu dengan nada tenang.

“Aku tidak melihat apapun. Apa kau melihat sesuatu?”

“Tidak. Aku hanya bermimpi, mimpi yang sangat mengerikan dan membuatku dapat menangis karenanya. Tapi, karena kau tidak melihat apapun, aku yakin jika mimpi itu hanya sekedar mimpi karena aku terlalu serius memikirkan semua ini.” Ucap Calistha getir. Aiden mengelus puncak kepala Calistha berkali-kali sambil mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia tidak ingin membuat Calistha semakin bersedih dengan mimpinya karena ia tahu jika mimpi itu pasti sangat mengerikan untuk Calistha. Beberapa saat yang lalu, saat ia sedang menyesap winennya sendiri sambil memikirkan berbagai macam kemungkinan yang mungkin akan terjadi pada hidupnya setelah ini. Tanpa sadar ekor matanya menangkap adanya gerakan tubuh Calistha yang disusul dengan isakan pelan wanita itu. Merasa penasaran, akhirnya Aiden memutuskan untuk meletakan gelas winenya di atas meja, dan beranjak untuk menenangkan Calistha yang semakin terisak dengan keras di dalam tidurnya. Berkali-kali ia mengguncangkan tubuh Calistha, agar wanita itu segera terbangun dan membuka mata, tapi Calistha tampak tidak terpengaruh, hingga membuatnya harus mengeluarkan suara yang cukup keras untuk menyadarkan wanita itu dari mimpi buruknya. Tapi, ada satu hal yang ia sadari dari ekspresi wajah Calistha yang terlihat terluka itu, sesuatu yang buruk terngah terjadi di dalam mimpi Calistha, dan ia yakin jika hal itu masih ada kaitannya dengan dirinya. Dan dugaannya, saat itu Calistha sedang melihat masa depan, meskipun sebenarnya ia tidak sepenuhnya yakin.

“Lupakan semuanya yang mengganggu pikiranmu malam ini, karena aku berjanji akan selalu menjagamu dari orang-orang jahat yang mengincarmu di luar sana.”

“Apa kau juga akan berjanji untuk tidak mengkhianatiku dan meninggalkanku?” Tanya Calistha sendu. Aiden lalu menganggukan kepalanya yakin, tanpa menyadari jika mungkin saja janjinya itu akan memberatkannya suatu saat nanti.

“Aku janji.”

Lalu keadaan disekitar mereka menjadi cukup hening untuk beberapa saat. Baik Calistha maupun Aiden, keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa berniat sedikitpun untuk membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu. Tapi, tiba-tiba Aiden mendapatkan ide untuk sedikit memberikan Calistha hadiah. Ia tahu jika wanita itu baru saja menghadapi berbagai masalah yang sangat pelik dalam hidupnya. Oleh karena itu ia ingin sedikit memberi hiburan pada Calistha dengan mengadakan sebuah pesta untuk wanita itu.

“Aku ingin mengadakan pesta…. untukmu.”

“Pesta? Untukku?”

“Hmm, pesta untuk penyambutanmu.”

“Kurasa itu terlalu berlebihan.” Komentar Calistha acuh dan seakan-akan tidak suka. Aiden menipiskan bibirnya kesal karena sikap Calistha yang terkesan tidak menghargainya, padahal ia sudah berniat baik dengan memikirkan kebahagiaan ratunya yang tampak murung itu, tapi usahanya justru tidak dihagai sedikitpun oleh Calistha. Sebenarnya apa yang harus ia lakukan untuk Calistha? Mengapa wanita itu sulit sekali untuk diraih? Bahkan dengan kelembutan sekalipun, wanita itu masih terasa mustahil untuk digapai.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan? Aku sudah berbaik hati ingin membahagiakanmu, tapi kenapa kau selalu menolakku dengan kata-katamu yang dingin itu? Apa kau masih meragukanku?”

Calistha mendongakan kepalanya heran sambil menatap wajah Aiden tidak mengerti. Sepertinya ia sedang tidak memicu konfrontasi apapun pada pria itu, tapi kenapa tiba-tiba Aiden marah padanya? Apa pria itu sedang dalam mode sensitif sekarang?

“Kau kenapa? Bukankah aku tidak mengatakan apapun? Aku hanya mengatakan jika pesta penyambutan akan terlihat sedikit berlebihan, tapi aku tidak menolaknya. Kau marah?”

“Dengar, kau adalah ratuku, jadi aku ingin memperkenalkanmu pada rakyatku. Jadi, kuharap kau bisa menyiapkan dirimu sebaik mungkin untuk pesta penyambutan nanti.”

“Baiklah, kali ini aku akan menuruti semua keinginanmu. Kuakui, aku menyerah pada pesonamu raja Aiden. Kau membuatku tak berkutik dan bertekuk lutut memohon setuhanmu. Jadi, tolong jangan marah padaku.”

Aiden tersenyum sumringah mendengar ucapan Calistha. Tak menyangka jika wanita itu akhirnya mengatakan hal itu padanya. Dengan erat, Aiden langsung memeluk Calistha ke dalam pelukannya dan memberikan beberapa ciuaman ringan di puncak kepala wanita itu. Hatinya yang selalu terasa panas, kini terasa sejuk dan dingin, seolah-olah Calistha baru saja menyiram seluruh permukaan hatinya dengan air es yang begitu menyejukan. Penantian panjangnya, terbayar sudah. Calistha menerimanya. Calistha telah menerimanya dengan sepenuh hati.

“Aku merasa bahagia. Apa kau tahu jika sebagian hidupku hanya kuhabiskan untuk mencarimu dan mendengar kata-kata cinta dari wanita yang ditakdirkan untukku. Jadi aku akan mempertegasnya sekarang, apa kau mencintaiku?”

Calistha terdiam cukup lama untuk mencerna kata-kata dari bibir Aiden.

“Apakah aku mencintai Aiden?” Batin Calistha tak yakin. Jujur ia tidak tahu apa yang dimaksud dengan rasa cinta. Hanya saja ia merasa tenang dan aman bila berada di dekat Aiden. Dan hal itu baru disadarinya saat ia berada di kerajaan Bibury. Sebenarnya saat berada di kerajaan Hora, saat Aiden untuk pertama kalinya muncul di hadapannya, perasaan aneh itu telah muncul dan menyusup secara perlahan-lahan di hatinya. Tapi, saat itu ia masih terlalu membenci Aiden dengan segala kearogansian yang ditunjukan oleh pria itu padanya, sehingga ia sama sekali tidak menyadari adanya sebuah ikatan diantara mereka. Dan kali ini ia akan mengatakan apa yang dirasakannya pada Aiden, karena ia sama sekali tidak ingin mengecewakan pria itu. Ia tahu jika Aiden benar-benar tulus padanya, tapi siapa yang akan tahu apa yang terjadi di masa depan. Apapun dapat berubah sewaktu-waktu dan tanpa terduga, termasuk perlakukan lembut pria itu padanya. Jadi, ia tidak akan terburu-buru untuk mengatakan kata cinta pada Aiden hari ini. Lagipula hubungannya dan Aiden baru saja akan dimulai, masih ada banyak waktu untuk mengetahui bagaimana perasaanya pada pria itu. Jadi, ia hanya ingin menjalani kehidupannya setelah ini dengan damai sambil menunggu adanya kejutan yang mungkin saja akan datang dan mengejutkannya.

“Kuakui, aku merasa nyaman dan merasa aman berada di sampingmu. Kau melindungiku dengan seluruh jiwamu, dan itu benar-benar sangat luar biasa untukku. Jadi, bisakah kita menjalani semuanya terlebihdahulu. Karena aku tidak tahu apakah aku men….”

Aiden langsung melumat bibir Calistha dalam sebelum Calistha berhasil menyelesaikan kata-katanya. Tidak masalah jika Calistha memang belum mencintainya. Tapi, melihat adanya kemajuan pada sikap wanita itu padanya, baginya itu sudah cukup.

“Tidak masalah jika kau belum mencintaiku, asalkan kau selalu berada di sampingku dan tidak mencoba untuk kabur, itu tidak masalah.”

Calistha tersenyum bahagia dengan ucapan Aiden. Wanita itu tidak menyangka jika Aiden akan bersikap selembut itu padanya.

“Terimakasih, dan aku berjanji akan berusaha untuk mencintaimu.” Ucap Calistha sungguh-sungguh. Kedua manusia yang telah dibutakan oleh gairah itu kembali saling melumat satu sama lain untuk menyalurkan rasa cinta mereka yang masih sama-sama terpendam oleh ego mereka. Tapi, meskipun begitu setidaknya hubungan mereka sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Hanya tinggal menunggu waktu hingga Calistha menyadari perasaanya dan Aiden dapat benar-benar terlepas dari kutukannya.

-00-

Sementara itu di dalam penjara bawah tanah yang lembab dan gelap, Tiffany sedang mencoba mendekati Gazelle dengan memancing wanita itu dengan cerita-cerita masa kecilnya dengan Calistha. Sejak awal melihat Gazelle masuk ke dalam penjara ini, Tiffany tahu jika Gazelle begitu membenci Calistha. Hal itu terlihat dari sikap Gazelle yang tampak menolak Spencer saat wanita itu akan melangkahkan kakinya ke dalam penjara. Saat itu Tiffany tanpa sadar melihat Spencer sedang membantu Gazelle untuk berjalan melewati palang jeruji besi yang cukup tinggi karena ia melihat salah satu kaki Gazelle sedang terluka. Namun, dengan kasar Gazelle langsung menyentak tangan kokoh itu sambil berucap jika selamanya ia tidak akan pernah mencintai Spencer, karena cintanya hanya untuk Aiden. Lalu setelah itu Tiffany langsung menyimpulkan jika Gazelle pasti sangat membenci Calistha, karena sudah pasti Aiden akan memilih Calistha dibandingkan wanita itu. Dan juga, jika Gazelle adalah orang yang baik, maka ia tidak akan mungkin dijebloskan ke dalam penjara yang dingin dan kotor seperti ini. Bahkan, jika dulu ia tidak mencoba untuk menggoda Aiden dan berusaha untuk membunuh pria itu dari jarak dekat, maka ia sendiri juga tidak akan berakhir seperti ini. Tapi, saat itu ia benar-benar merasa marah. Rasa takut yang awalnya ia tunjukan pada Aiden hanya untuk memancing pria itu agar merasa sedikit iba padanya. Lalu saat ia memiliki kesempatan, ia langsung menggunakan kesempatan itu untuk menarik pedang emas yang berada di samping pinggang Aiden untuk membunuh pria kejam itu, tapi sayangnya Aiden telah terlebih dahulu membaca gerak geriknya, sehingga pria itu dengan mudah langsung menghindar dari serangannya, dan setelah itu ia justru hampir saja dibunuh oleh Aiden karena pria itu langsung mencekik lehernya tanpa ampun. Tapi, karena ia adalah kunci satu-satunya yang akan mengarahkan Aiden pada Calistha, akhirnya Aiden memilih untuk tidak langsung meremukan lehernya dan justru mengurungnya seperti binatang di dalam jeruji besi yang kotor dan menjijikan ini. Ia sungguh tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Aiden. Dan ia menganggap jika semua kesialan dan kesengsaraan hidupnya ini karena Calistha. Andai saja kedua orangtuanya tidak melahirkan Calistha, maka nasibnya tidak akan berakhir dengan sangat mengerikan seperti ini. Apalagi saat itu Aiden juga telah membunuh kekasihnya yang merupakan anak tertua dari raja Diamond. Saat itu ia telah merencanakan hari pernikahannya dengan pangeran Nick dan juga masa depannya dengan pria itu. Tapi, takdir berkata lain. Pangeran Nick mati terbunuh di medan perang karena ia berkorban untuk melindungi harga diri kerajaan dan juga dirinya, karena pada saat itu seluruh penghuni istana Diamond mengetahui, jika raja Aiden akan selalu mengambil seluruh wanita-wanita dari kerajaan yang diserangnya untuk dijadikan santapan hewan buas atau untuk disiksa saat jiwa membunuh pria itu sedang bergejolak. Dan tentu saja, pangeran Nick tidak ingin jika wanita yang dicintainya akan berakhir seperti itu, sehingga ia nekat pergi ke medan perang meskipun Tiffany telah melarangnya.

“Seberapa besar rasa bencimu pada Calistha?” Tanya Tiffany dengan wajah ceria pada Gazelle. Sekilas Tiffany tampak seperti seorang psikopat yang menyembunyikan kekejamannya dibalik wajah ceria dan wajah tenangnya yang menipu.

“Sangat besar. Bisakah kau hentikan ocehanmu yang tidak berguna itu? Aku tidak suka mendengar suaramu yang berisik itu. Jika kau tidak memiliki ide apapun untuk melakukan balas dendam pada Calistha, maka jangan pernah datang padaku dan mengatakan serangkaian omong kosongmu yang memuakan itu.” Bentak Gazelle kasar. Mendengar hal itu, Tiffany hanya tersenyum santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia pikir Gazelle terlalu angkuh dan sombong hingga ia berani-beraninya meragukan kelicikannya. Padahal ia yakin jika saat ini Gazelle tidak sedang memiliki ide apapun untuk membunuh Calistha, mengingat wanita itu sedang terluka dan juga tidak memiliki daya di sini. Berbeda dengannya, ia memiliki Calistha yang masih memihak padanya dan sama sekali tidak tahu jika kakaknya yang terlihat baik ini sebenarnya sangat membenci dirinya dan sedang berencana untuk membunuhnya.

“Hmm, kurasa kau bukan tipe wanita yang suka berbasa-basi. Baiklah, aku akan menjelaskan rencanaku padamu. Tapi, aku tidak yakin kau akan bersedia untuk melakukannya.” Ucap Tiffany santai dengan gaya mencemooh. Gazelle menatap tajam pada manik mata Tiffany dengan perasaan kesal. Dalam hati Gazelle benar-benar membenci sifat Tiffany yang sok berkuasa di penjara ini, padahal mereka berdua tak ubahnya hanya seperti seekor kecoa yang tak berdaya dengan kekejaman Aiden.

“Kau meragukanku? Apapun rencanamu, aku pasti akan melakukannya dengan sebaik mungkin, karena aku lebih berpengalaman daripada dirimu. Bahkan aku sangat hafal seluk beluk penjara ini dan jalan pintasnya agar aku dapat keluar dari penjara yang memuakan ini. Kau…

“Sssttt, kau tidak perlu memamerkan kesombonganmu padaku, karena semua yang kau katakan itu sama sekali tidak berguna selama kau masih terjebak di dalam penjara ini dengan kaki yang mengenaskan seperti itu. Meskipun kau hafal dengan semua sudut-sudut penjara ini, tapi apakah itu tetap berguna jika pada kenyataanya kau tidak bisa keluar dari penjara ini. Jadi, kuharap kau bisa menurunkan sedikit keangkuhanmu itu untuk mengikuti rencanaku, hmm?”

Gazelle mendecih kesal pada Tiffany sambil menyingkirkan jari telunjuk wanita itu dari bibirnya. Apa yang dikatakan Tiffany benar, semua pengetahuannya mengenai kerajaan ini tidak akan berguna jika ia masih terjebak di dalam penjara sial ini dengan luka menganga di kakinya yang mungkin sebentar lagi akan membusuk. Ia kemudian sedikit mengatur emosinya yang sedang meluap-luap itu dan mencoba untuk menekan egonya yang sangat tinggi itu. Meskipun ada sedikit perasaan tidak rela yang menyusup ke dalam hatinya, tapi kali ini ia tidak memiliki pilihan lain. Saat ini ia harus mengikuti permainan Tiffany jika ia ingin melakukan balas dendam pada Aiden, karena wanita itu adalah satu-satunya kunci yang akan membawanya keluar dari sini.

“Baiklah, sebutkan rencanamu? Kuharap rencanamu bukan hanya sekedar omong kosong.”

Tiffany tersenyum penuh kemenangan dan semakin menunjukan wajah berkuasanya di depan Gazelle. Padahal selama ini ia selalu berada di posisi depan untuk menjadi pemimpin di setiap peperangan yang melibatkan kaum pemberontak, tapi dengan mudahnya Tiffany langsung menginjak-injak harga dirinya dengan kelicikan yang dimiliki oleh wanita itu, dan melihat Tiffany yang sedang tersenyum bangga di depannya, membuat ia merasa marah dan benar-benar membenci wanita itu. Jika bukan karena keinginannya untuk melakukan balas dendam pada Aiden, mungkin ia sudah membunuh Tiffany dengan tangannya sendiri sejak tadi.

“Tak kusangka jika kau akan menurunkan egomu secepat itu. Tapi, tidak masalah, kau akan tetap menjadi sekutuku untuk melakukan balas dendam pada Aiden dan Calistha. Lalu..”

“Cepat katakan semua rencanamu sekarang sebelum aku berubah pikiran untuk menjadi sekutumu.” Potong Gazelle cepat. Rasanya kedua tangannya sudah sangat gatal untuk mencekik leher Tiffany agar wanita itu segera menghentikan omong kosongnya yang tidak penting itu.

“Tenanglah Gazelle, jangan terlalu terburu-buru untuk melangkah jika kau tidak ingin terjatuh. Dan jika kau ingin keluar dari sini, maka kau harus memanfaatkan kekasihmu yang bodoh itu.”

“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak memiliki kekasih di sini.”

“Ya ampun, apa kau ini jenis wanita yang tolol yang tidak peka? Pria tampan yang kemarin membantumu untuk masuk ke dalam penjara ini, bukankah ia kekasihmu? Maksudku pria itu memiliki cinta sepihak padamu, jadi kau bisa memanfaatkannya untuk membantumu keluar dari sini.”

Gazelle mengernyitkan dahinya bingung, namun sedetik kemudian ia mengerti dengan maksud ucapan Tiffany yang menyebutkan pria itu sebagai kekasihnya. Pasti saat ini Tiffany sedang membicarakan Spencer, karena hanya pria itu yang sejak kemarin tampak gigih untuk membantunya.

“Huh, apakah yang kau maksud itu Spencer? Apa kau yakin ia akan membantuku untuk keluar dari penjara ini?”

“Aku sangat yakin. Jika kau bisa menggodanya dan sedikit membujuknya, pasti ia akan mengeluarkanmu dengan mudah dari sini. Lagipula aku telah memiliki rencanaku sendiri agar aku bisa keluar dari penjara ini.” Ucap Tiffany mesterius. Lalu, tanpa diduga, Tiffany langsung menyerang Gazelle dan membuat wanita itu terjerembam ke atas lantai penjara yang lembab dan kotor. Tidak terima dengan perlakukan kasar dari Tiffany, Gazelle segera membalas wanita itu dengan menendang kakinya dan membuat Tiffany jatuh terlentang di atas lantai. Kemudian, dengan mudahnya Gazelle langsung menjambak rambut kusut Tiffany dan mencekik leher wanita itu hingga Tiffany tersenggal-senggal dan hampir kehabisan nafas. Tapi, sebelum hal itu terjadi, dua orang penjaga yang mendengar adanya keributan dari salah satu penjara, segera datang dan langsung melepaskan Tiffany dari cengkeraman Gazelle. Wanita itu dengan membabi buta mencoba untuk melawan penjaga-penjaga itu dengan tangannya yang bebas. Tapi, dengan mudahnya penjaga itu langsung melemparkan tubuh ringkih Gazelle ke sudut penjara dan membuat punggung wanita itu terbentur dinding penjara yang kokoh hingga menimbulkan suara berdebum yang cukup nyaring.

“Cukup! Dasar jalang! Jika kau membuat keributan lagi, kami akan melaporkanmu pada raja Aiden agar Yang Mulia segera memenggal kepalamu.” Hardik penjaga itu kasar. Sementara itu, di sudut penjara yang lain, Tiffany sedang menyembunyikan tawa kemenangannya di dalam hati. Sebentar lagi kedua penjaga bodoh itu pasti akan melaporkan kejadian ini pada Aiden. Dan saat Calistha mendengarnya, ia pasti akan memohon-mohon pada Aiden agar kakaknya yang malang ini segera dikeluarkan dari penjara.

“Kau memang cerdas dan licik Tiffany.” Batin Tiffany bangga. Saat penjaga itu telah selesai dengan Gazelle dan beralih padanya, Tiffany mulai menjalankan sandiwaranya dengan terlihat sedang menahan sakit pada sisi-sisi lehernya yang telah dicekik oleh Gazelle.

“Apa kau baik-baik saja nona?”

“Tuan, wanita itu sangat mengerikan. Ia hampir saja membunuhku. Aku takut.” Ucap Tiffany dengan gaya ketakutan dan suara yang dibuat-buat. Gazelle mendecih kesal dengan sikap Tiffany yang menurutnya sangat munafik itu. Padahal jelas-jelas Tiffany yang telah menyerangnya terlebihdahulu hingga ia jatuh terjerembam di atas lantai, namun dengan liciknya wanita itu mengatakan pada penjaga-penjaga itu jika ia telah diserang oleh dirinya. Benar-benar seperti ular berkepala dua.

“Kau tenang saja nona, kami akan melaporkan kelakuannya yang mengerikan itu pada raja agar raja segera menghukumnya dengan hukuman penggal. Dan jika ia mencoba untuk menyakitimu lagi, maka berteriaklah dengan kencang, kami akan datang untuk menolongmu.”

“Terimakasih tuan, anda sungguh sangat baik. Jika ia menyerangku lagi, aku pasti akan langsung memanggil kalian.”

Setelah itu, para penjaga segera kelar dari dalam penjara yang pengap itu dan menguncinya kembali dari luar. Sementara itu, Gazelle terus menatap Tiffanya dengan wajah muak dengan tangan terkepal yang sedang menahan marah.

“Dasar ular! Kau sengaja menyerangku dan menuduhku agar para penjaga itu melaporkan kelakuanku pada Aiden? Keparat kau!”

“Hahaha, maafkan aku Gazelle sayang, tapi ini adalah satu-satunya cara yang dapat kulakukan agar aku dapat keluar dari penjara yang menjijikan ini. Para penjaga bodoh itu pasti akan melaporkanmu pada Aiden, dan secara tidak langsung Calistha pasti juga akan mendengar berita ini dari para penjaga itu. Lalu, ia pasti akan memohon-mohon pada raja sial itu untuk mengeluarkanku dari penjara ini karena ia sangat menyayangiku. Adikku yang tolol itu tidak tahu jika kakaknya ini sebenarnya sangat membencinya dan ingin membunuhnya. Kemudian, tugasmu setelah ini adalah menggoda Spencer, karena kuyakin Spencer pasti akan segera datang ke sini setelah berita mengenai perilakumu yang kasar itu tersebar luas di atas sana. Jadi, kuharap kau dapat memanfaatkan keadaan ini dengan sebaik-baiknya. Kuncimu adalah Spencer dan kunciku adalah Calistha. Apa kau paham?” Tanya Tiffany angkuh setelah wanita itu menjelaskan seluruh rencana liciknya pada Gazelle. Gazelle tersenyum licik dan menganggukan kepalanya mengerti. Meskipun ia tidak sudi untuk mengakuinya, tapi rencana yang disusun oleh Tiffany benar-benar sempurna. Ia yakin, kesempatannya untuk melakukan balas dendam pada Aiden akan segera terlaksana dengan adanya Tiffany sebagai sekutunya.

“Hmm, aku mengerti. Kuharap rencanamu akan berjalan sesuai perkiraanmu.”

“Tentu saja. Aku berani bersumpah, tidak lama lagi Calistha pasti akan segera datang untuk mengeluarkan.” Ucap Tiffany yakin dengan wajah sombong. Gazelle berjalan mendekat ke arah Tiffany sambil berdiri ponggah di depan wanita itu dengan tangan yang terlipat di depan dada.

“Kita lihat saja nanti, partner.”

-00-

Calistha sedang berjalan-jalan di taman istana ditemani oleh Sunny di belakangnya. Sejak pagi tadi, pikirannya terus berkelana kesana kemari memikirkan kejadian mengerikan yang terjadi di dalam mimpinya. Meskipun itu bukan kejadian berdarah atau peperangan, tapi melihat Aiden sedang bercinta dengan Gazelle di ruang pribadinya membuat Calistha terus bergidik ngeri dan merasa was-was. Ia kemudian memutuskan untuk mendudukan dirinya di sebuah kursi kayu yang berada di tengah kebun bunga mawar agar pikirannya yang kacau itu dapat tersegarkan dengan melihat bunga mawar yang terlihat begitu cantik itu.

“Yang Mulia, apa anda ingin memetik bunga mawar untuk membuat hiasan meja?”

Tanpa pikir panjang Calistha langsung menganggukan kepalanya setuju karena kebetulan ia ingin memberikan sedikit warna pada ruang pribadi Aiden yang sangat kaku dan gelap itu. Terkadang ia berpikir jika Aiden adalah pria dengan selera seni yang sangat rendah karena selurh isi kamarnya hanya didominasi oleh warna hitam dan merah tanpa ada sentuhan hiasan atau lukisan yang dapat memperindah kamarnya. Dan hari ini ia ingin membuat hiasan meja untuk di letakan di atas meja kerja Aiden agar pria itu dapat mengamati bunga-bunga yang cantik hasil rangkaian tangannya jika ia merasa lelah dan penat dengan seluruh pekerjaannya.

“Aku ingin memberikan sedikit hadiah untuk raja, apa menurutmu raja akan suka dengan hiasan bunga yang kubuat?”

“Tentu saja, raja pasti akan senang saat menerima hadiah dari ratu. Oh, apa anda telah menyiapkan pakaian yang ingin anda kenakan saat pesta penyambutan anda besok?”

Tiba-tiba Calistha kembali teringat akan pembicaraannya tadi pagi dengan Aiden. Pria itu besok benar-benar akan mengadakan sebuah pesta rakyat yang mewah untuk upacara penyambutannya. Meskipun ia sudah mengatakan untuk tidak membuat pesta yang terkesan berlebihan, tapi Aiden dengan gigih ingin tetap mengadakan pesta yang sangat mewah untuknya. Lalu, pada akhirnya ia hanya mampu mengangguk pasrah untuk mengikuti semua kemauan Aiden yang sangat mutlak dan tidak bisa dibantah itu. Yah, sepertinya ini ia memang harus selalu siap dengan sikap Aiden yang keras dan tak terbantahkan itu jika ia ingin menjadi seorang isteri dan ratu yang sempurna bagi Aiden.

“Ya Tuhan, apa yang baru saja kupikirkan? Isteri? Rasanya sedikit aneh memikirkan hal itu, tapi terasa cukup menyenangkan untuk dibayangkan.”

            “Yang Mulia, apa anda melamun?”

Calistha mengerjap-ngerjapkan matanya cepat sambil tersenyum malu pada Sunny. Baru saja ia tertangkap basah sedang melamunkan Aiden dan memikirkan tentang menjadi isteri dari pria itu. Meskipun ia menyukainya, tapi sebisa mungkin ia tidak terlalu terbawa suasana dan terlalu gembira dengan hal itu, karena ia merasa sedikit jahat saat pikiran mengenai Max tiba-tiba menyusup ke dalam kepalanya. Tak dapat ia bayangkan bagaimana keadaan ratu saat ini, ia pasti sangat sedih mendengar berita kematian putranya. Tapi, menurut Spencer tadi pagi, seluruh rakyat Bibury yang tidak terlibat dalam peperangan telah dipindahkan ke desa Hora untuk selanjutnya akan menetap di sana selamanya. Jadi besar kemungkinan jika ibunda Max saat ini sedang berada di desa Hora dan akan melanjutkan hidup di sana sebagai rakyat biasa.

“Aku hanya memikirkan sesuatu. Ayo, bukankah kita akan memetik bunga mawar?”

“Baik Yang Mulia, saya akan mengambil keranjang bunga di rumah kaca itu. Apa ratu tidak keberatan jika saya tinggalkan sebentar di sini?”

“Oh, aku sama sekali tidak keberatan. Aku akan menunggumu di sini.”

Setelah mendapatkan ijin dari Calistha, Sunny segera melangkah pergi ke dalam rumah kaca untuk mengambil beberapa keranjang bunga yang disimpan oleh tukang kebun istana di sana. Sembari menunggu Sunny, Calistha mulai mengamati satu persatu penghuni istana yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tanpa sengaja ekor matanya melihat seorang nenek-nenek tua dengan pakaian yang telah robek di beberapa sisi sedang diseret paksa oleh dua orang penjaga istana. Nenek itu denga begitu gigih terus memohon pada para pengawal itu untuk masuk ke dalam istana. Tapi, dua penjaga itu tampak tak mempedulikannya dan terus menyeret nenek tua itu agar segera keluar dari halaman istana. Meras iba, Calistha akhirnya memutuskan untuk menghampiri penjaga itu agar mereka tidak berlaku kasar lagi pada nenek kasar itu.

“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan tangan kalian dan biarkan nenek ini masuk.”

“Maafkan kami Yang Mulia, nenek ini memaksa masuk dan ingin meminta makanan. Padahal raja Aiden telah menyediakan bahan makanan gratis yang bisa didapatkan di balai kota, tapi nenek ini tetap memaksa untuk masuk karena ia tidak bisa berjalan ke balai desa yang letaknya memang cukup jauh dari kerajaan.”

“Kalau begitu biarkan nenek ini masuk, aku yang akan bertanggungjawab. Kalian kembalilah bekerja.” Perintah Calistha tegas dan langsung dipatuhi oleh kedua penjaga itu. Dengan lembut, Calistha mulai menyapa nenek itu dan mengajak waita tua itu untuk duduk di atas kursi kayu yang sebelumnya ia duduki.

“Tolong maafkan para penjaga itu, mereka hanya sekedar mematuhi perintah.” Ucap Calistha pelan. Nenek itu hanya menganggukan kepala pelan dan tersenyum lembut pada Calistha.

“Sebelumnya hamba ingin meminta maaf pada Yang Mulia karena telah mengusik ketenangan Yang Mulia, tapi hamba benar-benar tidak bisa berjalan ke balai kota karena kaki hamba pincang. Apakah hamba bisa meminta sedikit makanan di sini? Cucu hamba di rumah sedang sakit, ia membutuhkan banyak nutrisi untuk membantunya agar cepat pulih. Hamba mohon, berikan hamba sedikit makanan.”

Calistha menganggukan kepalanya mengiyakan sambil mengelus lengan nenek tua itu prihatin. Sebagai seorang calon ratu ia harus selalu memperhatikan kondisi rakyatnya yang kurang beruntung seperti ini. Lain kali ia akan meminta ijin pada Aiden untuk mengunjungi rakyat kerajaan Khronos yang miskin agar ia dapat melihat sendiri bagaiman kondisi mereka selama ini.

“Tentu, pengawalku akan mengambilkan makanan untuk nenek dan cucu nenek yang sakit.”

Lalu saat Sunny datang, Calistha segera memerintahkan Sunny untuk mengambilkan sekarung gandum, beberapa kilo telur, dan juga segelas susu untuk nenek itu karena ia melihat jika nenek itu terlihat sedikit lelah dan haus.

“Terimakasih Yang Mulia, semoga Tuhan senantiasa melindungi anda.”

“Terimakasih nek, doa nenek sangat tulus. Dimana rumah nenek? Setelah ini aku akan memerinthkan salah satu pengawalku untuk mengantar nenek pulang dan juga membawakan seluruh bahan makanan itu pulang ke rumah nenek.”

“Rumah hamba berada di pinggir kota dan terletak di dekat sungai semit.”

“Baiklah, aku akan memerintahkan pengawalku untuk mengantar nenek. Apakah nenek masih membutuhkan sesuatu selain makanan, seperti selimut, pakaian, atau yang lainnya?” Tanya Calistha lembut. Nenek itu tampak menggelengkan kepalanya pelan. Tujuannya datang ke kerajaan ini hanya untuk meminta makanan, jadi ia tidak akan meminta apapun lagi selain makanan.

“Terimakasih Yang Mulia, tapi hamba hanya membutuhkan makanan. Yang Mulia pasti akan menjadi ratu yang disegani oleh seluruh rakyat Khronos dan rakyat dari kerajaan yang berada di bawah kekuasaan raja Aiden. Apakah anda saat ini sedang mengandung?”

Calistha tampak terpaku di tempat sambil berusaha menutupi wajahnya yang terlihat merona. Ia sebenarnya tidak masalah dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh pengemis tua itu, hanya saja pertanyaan itu membuatnya kembali teringat pada percintaan panasnya dengan Aiden semalam.

“Kurasa itu tidak mungkin. Kami belum menikah, jadi aku tidak mungkin mengandung sekarang.” Jawab Calistha tenang, lebih tepatnya ia sedang berpura-pura untuk tenang dengan wajah yang telah merona merah.

“Oh maafkan kelancangan hamba, tapi menurut hamba Yang Mulia akan segera mengandung setelah ini. Anak itu akan membawa kebahagiaan untuk anda berdua. Tapi, beberapa kerikil tajam akan muncul silih berganti untuk menyakiti kaki anda karena kebahagiaan ini sebenarnya masih bersifat semu. Jika anda ingin kebahagiaan itu berubah menjadi kebahagiaan yang abadi, maka anda harus segera menikah dengan raja Aiden saat malam bulan purnama. Dan selama menunggu malam bulan purnama itu tiba, anda harus selalu menuruti semua perintah raja Aiden karena raja Aiden pasti akan memberikan yang terbaik untuk anda. Jangan sekali-kali melanggar perintah dari raja Aiden jika anda tidak ingin malapetaka itu datang. Apakah anda mengerti Yang Mulia?”

Calistha mengangguk-anggukan kepalanya pelan dengan tatapan mata kosong yang mengarah pada nenek tua itu. Ia tidak tahu apakah yang dikatakan oleh nenek itu memang benar, tapi ia merasa begitu merinding saat nenek itu mulai menasehatinya dengan berbagai macam ucapannya yang sangat misterius itu. Tak berapa lama, Sunny tiba-tiba muncul diantara mereka, ditemani oleh seorang pengawal yang sedang memanggul sekarung beras di punggungnya. Kemudian Sunny mengangsurkan segelas susu dan memberikan sekantung telur pada nenek itu untuk dibawa pulang. Dan sebelum benar-bemar pergi, nenek itu sempat berbalik sambil menggenggam tangan Calistha dengan erat.

“Ingatlah kata-kata hamba, jangan sekali-sekali melanggar perintah raja Aiden jika anda ingin kehidupan anda bahagia.”

Kemudian tanpa menunggu jawaban dari Calistha, nenek itu langsung pergi begitu saja, diikuti oleh seorang pengawal di belakangnya. Sedangkan Sunny yang melihat hal itu hanya mampu mengernyitkan dahinya bingung karena ia tidak mengerti dengan maksud ucapan nenek itu yang terdengar misterius.

“Yang Mulia, ada apa?” Tanya Sunny pelan. Calistha segera merubah mimik wajahnya yang khawatir itu menjadi ceria kembali. Meskipun ia cukup merasa terganggu dengan ucapan nenek itu, tapi sebisa mungkin ia akan melupakannya dan tidak terlalu menganggap hal itu terlalu serius, karena menurutnya tidak akan ada apapun yang terjadi padanya. Ia pasti akan baik-baik saja hingga malam bulan purnama itu tiba bulan depan.

“Tidak apa-apa. Ayo kita masuk, sepertinya aku merasa lelah dan ingin segera beristirahat di kamar.”

“Baik Yang Mulia, mari kita masuk ke dalam.”

-00-

Spencer tampak melangkah terburu-buru sambil melewati satu persatu undakan batu di depannya dengan peasaan khawatir. Baru saja penjaga penjara melaporkan pada Aiden jika Gazelle membuat keributan di penjara dan hampir saja membunuh Tiffany dengan mencekik wanita itu. Raja kemudian memutuskan akan datang ke penjara sore ini setelah menyelesaikan tugas-tugasnya untuk menemui Gazelle. Dan sebelum sore ini Aiden datang ke dalam penjara, maka Spencer dengan cepat langsung mengambil inisiatif untuk datang terlebihdahulu ke penjara. Ia sendiri merasa tak habis pikir dengan sikap Gazelle yang sangat sulit untuk dikendalikan itu. Padahal ia telah menasehati Gazelle supaya wanita itu senantiasa berbuat baik selama berada di penjara agar raja memberikannya keringanan. Tapi, belum genap dua hari ia berada di penjara, wanita itu sudah berbuat onar di dalam penjara dengan menyakiti Tiffany. Spencer tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Aiden setelah ini. Tapi, mungkin saja Aiden akan semakin memberatkan hukuman Gazelle karena wanita itu berani-beraninya telah mengusik ketenangannya. Apalagi Tiffany adalah kakak kandung dari Calistha, tidak menutup kemungkinan jika setelah ini Calistha akan meminta pada Aiden untuk menambah masa hukuman Gazelle karena ia telah melukai kakaknya.

Ketika berada di ujung terbawah undakan, Spencer semakin mempercepat langkahnya untuk menuju ke salah satu penjara yang berada di ujung lorong-lorong gelap itu. Saat Spencer datang, para penjaga tampak tak menaruh curiga sedikitpun padanya, mereka langsung mengijinkan Spencer untuk masuk ke dalam untuk melihat kondisi Tiffany. Lagipula, Spencer adalah salah satu orang kepercayaan Aiden, sehingga mereka yakin jika kedatangan Spencer kali ini pasti atas perintah dari sang raja.

“Apa yang kau lakukan?”

Suara penuh nada menuduh itu langsung terlontar begitu saja pada Gazelle ketika Spencer telah berada di depan sel penjara yang ditempati oleh Gazelle. Melihat Spencer datang, Gazelle hanya memasang wajah datar dan terlihat begitu acuh. Namun, Tiffany segera memberikan kode padanya agar ia mulai melakukan sandiwara yang telah mereka sepakati sebelumnya, karena ini adalah kesempatan bagi Gazelle untuk mendapat simpati dari Spencer agar ia dapat keluar dari penjara itu secepatnya.

“Aku tidak melakukan apapun, ia yang telah mengusikku dan membuatku merasa tidak nyaman berada di sini.” Ucap Gazelle akhirnya dengan gaya arogan dan juga angkuh yang terlihat sangat jelas dari cara pandang wanita itu pada Spencer. Pria itu kemudian beralih pada Tiffany dan mencoba untuk meneliti tubuh Tiffany dengan mata kepalanya sendiri karena para penjaga itu mengatakan jika Tiffany hampir saja kehilangan nyawa karena dicekik oleh Gazelle.

“Nona Tiffany, apa kau baik-baik saja?”

“Tuan, tolong aku. Aku tidak mau berada di dalam sel yang sama dengan wanita itu. Ia sangat mengerikan. Ia sering melakukan kekerasan padaku dan kemarin ia hampir saja membunuhku. Tolong aku tuan.” Rengek Tiffany dengan suara yang dibuat-buat. Spencer menatap prihatin pada Tiffany, dan setelah itu ia langsung menatap tajam pada Gazelle. Wanita itu kini dalam bahaya. Jika Aiden datang ke sini dan melihat ini semua, maka sudah dapat dipastikan jika hukuman yang didapatkan Gazelle akan semakin berat.

“Kau, bukankah sudah kukatakan padamu untuk bersikap baik selama berada di dalam penjara. Kenapa kau sama sekali tidak pernah mendengarkan kata-kataku dan terus berbuat kasar seperti ini pada orang lain? Jika raja Aiden melihat hal ini, raja pasti akan memberimu hukuman yang sangat berat.”

“Huh, kau tidak berhak mengatur hidupku. Aku, memiliki kehidupanku sendiri. Lalu apa pedulimu jika aku harus berada di penjara ini lebih lama lagi, bukankah itu bagus? Jika aku berada di dalam penjara ini, maka aku tidak akan memiliki kesempatan untuk melukai Aiden atau membunuh Calistha. Jadi, lebih baik kau pergi dan jangan pernah hiraukan aku.” Ucap Gazelle acuh tak acuh. Spencer menggeram marah dengan aksi nekat Gazelle yang dengan terang-terangan melawannya. Padahal ia hanya menginginkan yang terbaik untuk wanita itu. Tidak masalah jika cintanya tidak akan pernah terbalaskan, tapi biasakah wanita itu tetap menghargainya sebagai teman? Yah meskipun mereka telah berada di dua kutub yang berbeda, tapi tidak bisakah mereka tetap menjalin persahabatan seperti dulu?

“Spencer, sedang apa kau di sini?”

Tiba-tiba Aiden datang diantara mereka, membuat Spencer sedikit terkejut, namun ia berhasil mengendalikan keterkejutannya dengan bersikap hormat pada Aiden dan membungkukan tubuhnya sedikit pada Aiden.

“Maafkan saya Yang Mulia, saya hanya ingin melihat kondisi nona Tiffanya, para penjaga itu mengatakan pada saya jika kemarin nona Tiffany telah dicekik oleh nona Gazelle.”

“Hmm, begitukah? Lalu bagaimana kondisi Tiffany sekarang?”

“Tiffany…”

“Calistha…”

Tiba-tiba Calistha muncul dari belakang tubuh Aiden sambil berteriak histeris memanggil nama kakaknya. Siang tadi ia mendengar kabar jika kakaknya menjadi korban dari kekasaran Gazelle, lalu dengan panik ia mulai berlari menuju penjara bawah tanah untuk melihat bagaimana kondisi Tiffany. Tapi, karena ia belum meminta ijin pada Aiden, penjaga-penjaga itu tidak mengijinkan Calistha untuk masuk, dan terpaksa ia harus menunggu hingga sore hari saat Aiden telah selesai dengan seluruh pekerjaannya. Dan pada akhirnya di sinilah ia berada, di dalam penjara bawah tanah yang lembap dan juga kotor. Ketika Calistha datang, Tiffany langsung berjalan menuju jeruji besi untuk menggapai tangan Calistha yang telah bersiap untuk memeluknya.

“Tiffany, apa kau baik saja? Apa yang telah dilakukan Gazelle padamu?”

“Cals, dia sangat mengerikan. Sepanjang malam ia terus mengancamku dengan berbagai macam ancaman yang sangat mengerikan. Aku ingin keluar dari sini, tolong keluarkan aku. Aku tidak mau berada di dalam sel bersama dengan pembunuh itu.” Tunjuk Tiffany tegas dengan suara yang menyiratkan nada kebencian yang kental. Aiden yeng melihat Calistha telah berada di dalam penjara tanah ini langsung menatap Calistha dengan marah, ia mencengkeram lengan Calistha, dan membawa tubuh wanita itu agar semakin dekat ke arahnya, bukan pada Tiffany.

“Siapa yang menyuruhmu datang ke sini? Seharusnya saat ini kau berada di dalam kamarmu dan mempersiapkan diri untuk besok.” Ucap Aiden dingin pada Calistha. Awalnya Calistha berniat untuk mengabaikan Aiden, tapi kemudian ia teringat jika saat ini hubungannya dengan Aiden telah berubah menjadi sedikit lebih baik, sehingga mau tidak mau akhirnya ia harus berbalik dan menghadapi kemarahan Aiden dengan sikap berani, namun sebisa mungkin ia akan menghindari sebuah konfrontasi.

“Tidak ada yang menyuruhku, aku ke sini atas inisiatifku sendiri. Aku ingin melihat kondisi Tiffany.” Ucap Calistha tenang. Aiden mengetatkan rahangnya marah di depan Calistha. Meskipun hubungan mereka telah berkembang menjadi lebih baik, tapi bukan berarti wanita itu dapat dengan seenaknya melakukan apapun tanpa persetujuan darinya. Disini ia adalah raja, dan Calistha seharusnya patuh terhadap perintahnya.

“Kembali ke kamarmu. Tidak ada gunanya kau berada di sini.” Ucap Aiden datar. Calistha akhirnya merasa jengah dengan sifat Aiden yang tidak pernah berubah itu, selalu bersikap arogan dan memaksa orang lain harus tunduk di bawah kakinya. Padahal apa yang dilakukannya terkadang belum tentu benar dan berakhir baik. Calistha kemudian berpikir untuk menantang Aiden saat ini karena ia ingin Aiden juga menghormatinya sebagai seorang calon ratu. Setidaknya Calistha ingin membuat Aiden memandang sebuah masalah dari sudut pandang lain, dari sudut pandangnya yang lebih mengutamakan jalan perdamaian daripada jalan kekerasan.

“Aku tidak akan kembali ke kamar sebelum kau mengambil tindakan atas masalah ini. Lepaskan Tiffany, biarkan ia keluar dari penjara yang lembab dan kotor ini. Bukankah kau sudah mendapatkanku? Sekarang aku ingin kau menuruti janjimu padaku.”

Calistha berkata tenang sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sementara itu Aiden telah mengetatkan rahangnya sejak tadi dan masih mencoba untuk bersabar menghadapi calon ratunya yang keras kepala itu. Ia pikir Calistha akan benar-benar berubah menjadi wanita yang penurut dan juga kalem, ternyata tidak. Kedekatan mereka sama sekali tidak mengubah sikap Calistha menjadi lebih baik, dan justru wanita itu menjadikan kedekatan mereka sebagai senjata untuk melemahkannya. Benar-benar sial!

“Janji apa yang kau maksud? Tolong jangan membuatku melakukan hal-hal kasar yang akan membuatmu membenciku nantinya.”

Sementara Aiden dan Calistha sedang melakukan gencatan senjata satu sama lain, Tiffanya sedang tersenyum puas dibalik wajahnya sedihnya yang dibuat-buat karena rencananya untuk mengelabuhi Calistha berhasil. Adik tersayangngnya itu percaya jika ia mengalami sikasaan yang mengerikan di dalam penjara, padahal sejujurnya ia tidak selemah itu. Beberapa kali Tiffany melirik Gazelle dengan tatapan licik untuk memberikan kode jika rencana pertamanya hampir berhasil. Kini ia hanya tinggal menunggu bagaimana akhir dari perang dingin yang terjadi antara Aiden dan Calistha. Dalam hati Tiffany yakin jika perang dingin itu nantinya akan dimenangkan oleh Calistha, karena sikap Calistha yang mendominasi akan membuat Aiden mau tidak mau akhirnya akan menuruti keinginan Calistha, meskipun dengan setengah hati.

“Kau berjanji akan membahagiakanku. Sekarang kebahagiaanku adalah melihat satu-satunya saudara yang kumiliki bahagia. Jika Tiffany berada di sini dan selalu disakiti oleh Gazelle, bagaimana mungkin aku akan merasa bahagia? Kumohon keluarkan Tiffany dari sini. Aku yakin Tiffany tidak akan melakukan apapun setelah keluar dari penjara ini, jika itu yang kau takutkan. Aku akan menjamin Tiffany.” Ucap Calistha bersungguh-sungguh. Spencer tampak memandang raut datar milik Aiden dengan dahi berkerut. Sebagai tangan kanan Aiden yang sangat dipercaya, ia merasa penasaran bagaimana sikap rajanya itu setelah kehadiran Calistha di sisinya. Meskipun ia menduga jika Calistha tidak akan berpengaruh apapun pada kekejaman dari sang raja, tapi melihat hal ini membuat Spencer menjadi ragu. Sepertinya kali ini Aiden akan mengabulkan permintaan Calistha dengan mudah. Wanita itu sedikit banyak telah merubah sifat Aiden yang sebelumnya berwatk keras, menjadi sedikit lebih lunak dan juga tenang. Akhir-akhir ini Spencer merasakan adanya perubahan dari sikap Aiden yang mengaraha ke hal-hal yang lebih baik. Jika dulu Aiden sering membentak-bentak para menteri yang tidak mengerjakan tugasnya dengan baik dan langsung mencopot jabatan mereka tanpa memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan mereka, maka sekarang Aiden hanya akan menasihati menteri itu dengan kata-kata datarnya dan setelah itu ia akan memberikan kesempatan pada sang menteri untuk memperbaiki kesalahannya. Betapa kehadiran Calistha sangat berpengaruh besar pada diri Aiden. Namun di sisi lain Spencer merasa khawatir karena mungkin saja Aiden akan semakin lemah dengan adanya Calistha.

“Kau ingin aku membahagiakanmu dengan melepaskan saudara perempuanmu yang jahat ini? Baiklah, akan kulakukan. Tapi, kau harus bertanggungjawab penuh atas sikapnya. Jika ia melakukan kejahatan sekali saja, maka aku akan langsung memenggal kepalanya di hadapanmu.”

Calistha bergidik ngeri mendengar ucapan Aiden. Ia kemudian melirik Tiffany sekilas, berusaha untuk menenangkan Tiffany yang tampak begitu ketakutan dengan ucapan Aiden yang sangat mengerikan itu. Tapi, ia yakin jika Tiffany tidak akan melakukan apapun setelah ini. Tiffany adalah saudara kandungnya, dan ia adalah satu-satunya orang yang sangat mengenal Tiffany dengan baik karena mereka terlahir dari rahim yang sama, sudah pasti jika sifat Tiffany tidak akan jauh berbeda dengan sifatnya.

“Aku yakin Tiffany tidak akan berbuat apapun. Aku saudaranya, dan aku sangat tahu bagaimana sifatnya karena kami terlahir dari rahim yang sama.”

“Huh, begitukah? Ingat ucapanku baik-baik Calistha, Tiffany masih memiliki kemungkinan akan melakukan hal-hal jahat setelah ini karena kedua orangtuan kalianpun adalah orang yang licik. Mereka adalah dalang dibalik semua penderitaanku selama ini. Jadi, kuharap kau bisa mengendalikannya agar ia tidak berakhir seperti kedua orangtuamu yang licik itu.” Ucap Aiden dingin. Setelah itu ia segera pergi meninggalkan Calistha yang masih terpaku di tempat dengan ucapan Aiden. Pria itu, meskipun sangat menyebalkan, tapi apa yang diucapkannya memang benar. Meskipun ia sangat sulit untuk mengakuinya, tapi kedua orangtuanya memang jahat, sehingga ia harus membuktikan ucapannya pada Aiden jika Tiffany tidak akan pernah sama dengan kedua orangtuanya yang licik.

“Calistha, adikku..” Panggil Tiffanya parau dengan air mata palsu yang mulai membanjiri wajahnya. Calistha kemudian segera berjalan mendekati Tiffany dan memeluk wanita itu seadanya dengan jeruji besi yang menjadi penghalang mereka.

“Tiffany, kau bebas. Setelah ini kau akan tinggal bersamaku dengan layak.”

Calistha menangis haru di dalam pelukan Tiffany. Sedangkan Gazelle yang melihat itu semua hanya mampu bertepuk tangan kagum pada sandiwara Tiffany yang sangat sempurna itu. Ia yakin setelah ini kesempatannya untuk melakukan balas dendam pada Aiden akan terbuka lebar.

“Tunggu pembalasanku Aiden, kau tidak akan pernah hidup tenang dengan ratu sialanmu itu.”

-00-

Spencer berlari mengejar Aiden yang tampak berjalan dengan langkah cepat di depannya. Setelah pertengkarannya dengan Calistha di penjara bawah tanah, Aiden memutuskan untuk segera pergi menjauh dari Calistha karena emosinya saat ini benar-benar sedang sulit untuk dikendalikan. Jika ia tetap berada di sana, maka besar kemungkinan ia justru akan menyakiti Calistha dan membuat hubungannya dengan wanita itu menjadi memburuk.

“Yang Mulia.”

Spencer berteriak keras pada Aiden agar pria itu sedikit memelankan laju langkahnya yang cukup cepat itu. Dengan enggan, Aiden langsung berbalik ke arah Spencer sambil menatap wajah pengawal kepercayaannya itu dengan wajah datar tak bersahabat.

“Ada apa?” Tanya Aiden datar. Merasa tatapan dingin itu menusuk manik matanya, Spencer menjadi salah tingkah tanpa berani menatap wajah sang raja lebih lama.

“Maafkan saya Yang Mulia, tapi mengapa anda melepaskan nona Tiffany dengan mudah? Bukankah ia wanita yang berbahaya? Ia hampir…”

“Aku tahu, Tiffany memang wanita yang berbahaya, tapi aku sedang tidak ingin memancing pertengkaran dengan Calistha hanya karena wanita sial itu. Lebih baik aku mengijinkan Calistha untuk membebaskan Tiffany daripada aku harus dipusingkan dengan sikap keras kepalanya dan juga sikap membangkangnya. Lagipula, dengan begini ia akan tahu bagaimana sifat Tiffany yang sesungguhnya.” Jelas Aiden gamblang. Spencer mengangguk-anggukan kepalanya mengerti sambil menatap penuh hormat pada Aiden.

“Baiklah Yang Mulia, kalau begitu saya akan pergi untuk mengerjakan tugas-tugas saya saya yang tertunda.”

Spencer hampir saja berbalik dan melangkahkan kakinya pergi sebelum suara bas nan dingin itu menggema pelan, menyiratkan nada peringatan untuknya.

“Hati-hati dengan perasaanmu Spencer jika kau tidak ingin dimanfaatkan oleh Gazelle.”

Spencer membeku di tempat sambil menatap gugup pada Aiden. Rupanya pria itu mengetahui perilakunya akhir-akhir ini yang sering mengunjungi Gazelle diam-diam.

“Apakah Yang Mulia mengawasi gerak-gerikku?”

            “Aku tahu jika kau memiliki perasaan lebih pada Gazelle sejak dulu, tapi sayangnya ia tidak mencintaimu dan justru tergila-gila padaku yang jelas-jelas sudah menolaknya. Kuharap kau tidak terjebak dengan perasaanmu sendiri karena Gazelle yang sekarang bukanlah Gazelle yang dulu. Ia telah berubah menjadi sosok yang berbeda, bahkan aku hampir-hampir tidak mengenalinya. Jadi, bersikaplah bijak sebelum kau menuruti egomu sendiri Spencer.”

Spencer mengangguk-angguk mengerti dan langsung menundukan kepalanya dalam di depan Aiden. Ia merasa telah melakukan kesalahan besar karena telah terhanyut dengan perasaanya. Ia berjanji, setelah ini ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak, terutama mengenai masalah Gazelle.

“Saya mengerti Yang Mulia, dan tolong maafkan saya.”

Aiden kemudian berjalan pergi meninggalkan Spencer yang masih berdiri kaku di belakangnya. Pria itu diam-diam membatin prihatin dengan nasib Spencer yang harus mengalami cinta sepihak. Dan sayangnya wanita yang menjadi cintanya adalah Gazelle, wanita keras kepala yang sangat sulit untuk dikendalikan. Dalam hati Aiden merasa bersyukur pada Tuhan karena wanita yang ditakdirkan untuknya adalah Calistha, karena ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib dirinya jika ia ditakdirkan dengan tipikal wanita yang keras dan kejam seperti Gazelle, sudah pasti kerajaannya akan hancur secara perlahan-lahan karena ia harus terus berperang melawan kekeraskepalaan wanita itu.

-00-

Malam ini Tiffany resmi keluar dari penjara bawah tanah kerajaan Khronos. Sejak melangkahkan kakinya ke dalam istana Khronos, Tiffany tak henti-hentinya berdecak kagum sambil menitikan air mata haru karena akhirnya ia dapat bebas dan keluar dari penjara yang kotor itu. Calistha yang sejak tadi terus menemaninya juga merasa begitu bahagia, karena ia dapat membebaskan Tiffany dari sifat tirani Aiden yang memang sangat semena-mena itu. Ketika keluar dari penjara, hal pertama yang dilakukan Calistha adalah membawa Tiffany ke kamarnya untuk membersihkan diri. Selama berada di penjara, Tiffany tidak pernah memiliki kesempatan untuk membersihkan diri. Bahkan saat ingin buang air kecil atau besar, Tiffany harus memohon-mohon pada para penjaga terlebihdahulu agar ia diijinkan untuk memakai toilet penjara yang juga sama-sama kotor. Hidup di penjara tak ubahnya seperti kehidupan seekor binatang. Dan itu benar-benar sangat memuakan untuk Tiffany yang sudah terbiasa hidup bersih di kerajaan Diamond.

“Tiffany, kau bisa menggunakan semua pakaianku sesukamu. Setelah ini kau akan tinggal di kamar ini bersamaku, jadi anggap saja semua barang-barang ini adalah milikmu sendiri.”

Calistha menunjukan satu persatu gaun miliknya yang diberikan oleh Aiden pada Tiffany. Ia pikir Aiden pasti tidak keberatan jika Tiffany juga mengenakan gaun-gaun pemberiannya. Lagipula gaun-gaun itu terlalu banyak, hingga terkadang tidak memiliki waktu untuk menggunakannya.

“Terimakasih banyak Calistha, kau baik sekali. Kalau begitu aku meminta ijin untuk menggunakan bak berendam milikmu untuk membersihkan diri. Sudah lama sekali aku tidak mandi dan membersihkan diriku, jadi.. kau bisa lihat jika tubuhku ini sangat kotor dan bau.” Ucap Tiffany dengan ekspresi wajah jijik pada dirinya sendiri. Calistha menganggukan kepalanya lembut sambil mengantarkan Tiffany menuju ke dalam kamar mandinya.

Sementara Tiffany sedang membersihkan diri, Calistha mulai mendudukam dirinya di depan perapian untuk membaca sebuah buku sejarah yang diambilnya dari ruang pribadi Aiden. Ketika ia berada di dalam ruang pribadi milik Aiden, ekor matanya tak sengaja melihat banyaknya tumpukan buku yang tersusun rapi di dalam rak-rak raksasa yang memenuhi sudut-sudut ruangan Aiden. Melihat banyaknya tumpukan buku yang sangat menggiurkan itu, membuat Calistha merasa berbinar-binar, dan ia langsung meminta ijin pada Aiden untuk meminjam beberapa buku untuk dibaca. Dan tentu saja, Aiden langsung mengijinkannya untuk membaca semua buku-buku miliknya yang sangat jarang ia sentuh setelah ia sibuk menjadi raja.

Calistha mulai membaca lembar pertama buku tersebut yang berjudul asal usul kerajaan Khronos. Satu persatu kalimat panjang itu dibaca oleh Calistha dengan seksama. Dari buku itu, Calistha dapat menyimpulakan jika dahulu kerajaan Khronos hanyalah sebuah hamparan bukit yang luas dengan sungai dan pohon-pohon besar yang tumbuh di dalamnya. Lalu, seorang pangeran yang berasal dari kerajaan barat tak sengaja menemukan lokasi yang sangat subur tersebut, hingga akhirnya pangeran itu merasa tertarik untuk mendirikan sebuah kerajaan di sana. Sepuluh bulan sejak kerajaan itu berdiri, pangeran hanya memiliki sedikit sekali rakyat dan juga prajurit. Kerajaanya yang baru saja berdiri itu benar-benar menuai kesulitan dalam mengumpulkan sejumlah penduduk dan prajurit. Tapi berkat kegigihan dari pangeran itu, ia dapat mengembangkan kerajaanya menjadi kerajaan besar yang sukses. Kerajaan pertama yang dapat ditaklukan oleh pangeran muda itu adalah kerajaan kecil yang letaknya berada di barat daya kerajaan Khronos. Tapi, meskipun pangeran itu telah berhasil merebut kerajaan itu, sang pangeran tidak menyadari jika putra mahkota dari kerajaan itu telah berhasil kabur dari kerajaan itu dengan membawa sebuah dendam di hatinya.

“Dendam akan membawa kehancuran.”

Calistha berjengit kaget ketika tiba-tiba Aiden telah berada di sampingnya sambil melingkarkan tangannya di pundaknya yang kecil. Pria itu melirik sekilas pada buku yang dibaca oleh Calistha sambil mengamati wajah Calistha yang masih setia menunjukan wajah keterkejutannya di hadapannya.

“Putra mahkota itu kemudian mendirikan kerajaannya sendiri di hulu sungai Broke dan kemudian membangun kekuatan untuk membalas perbuatan keji leluhurku yang telah memporak porandakan kerajaanya.”

“Aiden, apa yang kau lakukan di sini? Tunggu, apa kau baru saja mengatakan mengenai sungai Broke? Sungai itu…”

“Sungai itu adalah sungai yang mengalir di sepanjang kerajaan Kairos. Sebenarnya kerajaan Khronos dan Kairos sudah sejak lama bermusuhan. Lebih tepatnya karena sebuah dendam yang terus menerus menelurkan kebencian. Lalu saat kedua orangtuaku mengambil tahta kerajaan Khronos, mereka telah mengajukan permohonan pada kedua orangtuamu agar mereka saling memaafkan satu sama lain dan hidup damai tanpa adanya dendam. Awalnya kedua orangtuamu setuju, ayahmu dengan terang-terangan menyambut usulan ayahku dengan wajah sumringah dan tangan terbuka. Tapi, ternyata itu hanya janji palsu belaka. Ayamu mengkhianati ayahku dengan mengirimkan kutukan padaku untuk menghacurkan kerajaanku secara perlahan, lalu ayahmu juga membunuh kedua orangtuaku ketika mereka datang ke kerajaan Khronos untuk memintamu menjadi pasanganku. Dendam, memang sangat sulit untuk dihentikan. Mata rantainya akan terus berputar seperti lingkaran setan yang akan sangat sulit untuk diputus. Sekarang, setelah kau mengetahui semuanya, apakah kau akan berbalik membenciku dan mengikuti jejak kedua orangtuamu? Maafkan aku karena saat itu aku membunuh kedua orangtuamu, tapi aku benar-benar tidak memiliki cara lain selain membunuh mereka karena mereka telah menghancurkan hidupku terlebihdahulu. Bisa kau bayangkan bagaimana hancur dan terpuruknya hidupku setelah kedua orangtuaku meninggal? Saat itu korupsi dan kekacaun terjadi dimana-mana. Pemberontakan juga terus muncul silih berganti untuk menggulingkan posisiku sebagai putra mahkota. Saat itu bahkan aku pernah berpikir untuk mati daripada harus hidup dengan siksaan yang seperti tak bertepi ini. Tapi, sayangnya aku tidak bisa mati dengan mudah. Setiap aku menghunuskan pedang perak ke jantungku, maka keesokan harinya aku akan terbangun di ranjangku kembali dengan keadaan utuh. Akhirnya aku menyadari satu hal, bahwa aku memang ditakdirkan untuk menjadi pemersatu bagi dua kerajaan besar yang berthun-tahun telah mengalami konflik. Aku kemudian mulai menyusun pemerintahanku sendiri dengan tegas dan tanpa mengenal belas kasihan. Anak-anak atau orang dewasa, kedudukan mereka sama. Jika mereka berbuat salah, maka aku akan langsung menghukum mereka sesuai dengan bobot kesalahan mereka. Perlahan-lahan keadaan di kerajaanku mulai membaik. Jumlah pemberontak dan pejabat yang korup semakin berkurang dari hari ke hari dan pada akhirnya mereka semua benar-benar hilang dari kerajaanku. Hidupku sejak awal sangat sulit Cals, jadi tolong mengertilah dengan sikapku yang mungkin tidak sesuia dengan dirimu. Kutukan dan peliknya hidup telah merubahku menjadi sesosok monster yang sangat mengerikan seperti ini, aku…”

Greb

Tiba-tiba Calistha langsung memeluk tubuh Aiden erat hingga Aiden hampir saja jatuh terjengkang ke belakang, jika ia tidak dengan sigap menahan tubuh kecil yang kini telah menempel sempurna di tubuhnya.

“Aku mengerti sekarang. Tolong maafkan sikap orangtuaku di masa lalu. Aku janji tidak akan menjadi kejam seperti mereka. Meskipun awalnya aku menaruh dendam padamu, tapi sekarang dendam itu telah hilang. Aku sadar jika kau bukan pria jahat yang dengan tanpa alasan akan membunuh semua orang-orang yang tak bersalah. Semua tindakanmu pasti memiliki alasan tersendiri, jadi kumohon maafkan aku. Setelah ini aku akan berusaha untuk menjadi calon ratu dan calon isteri yang baik untukmu. Kita harus berdamai dan menghapuskan sejarah kelam dari kerajaan kita. Apa kau mau memberiku kesempatan?”

Aiden melepaskan pelukannya pada Calistha sambil tersenyum lembut. Senyum lembut yang benar-benar tulus hingga Aiden terlihat lebih manusiawi dan lebih tampan. Selama ini wajah Aiden selalu dihiasi dengan awan mendung yang selalu membuatnya tampak kejam dan mengerikan. Tapi, saat Aiden telah tersenyum seperti itu, ia sungguh-sungguh terlihat seperti pria tampan pada umumnya yang baik hati.

“Selalu ada kesempatan untukmu sayang, kita akan membuktikan pada leluhur kita jika kerajaan Khronos dan Kairos dapat bersatu untuk melahirkan kejayaan yang lebih besar.”

“Ya, aku setuju denganmu. Kita akan membuat para leluhur bangga pada kita.” Ucap Calistha yakin disusul dengan pangutan mesra bibirnya dengan bibir Aiden. Kedua manusia itu saling menyalurkan rasa cinta masing-masing tanpa menyadari kehadiran Tiffany yang sejak tadi telah mendengar seluruh pembicaraan mereka.

“Dasar pengkhianat, aku akan menghancurkanmu terlebihdahulu sebelum kau bisa bersatu dengan raja busuk itu Calistha.” Gumam Tiffany penuh amarah dan kebencian.

-00-

Malam hari saat semua penghuni istana sedang terlelap dengan mimpi mereka masing-masing, Spencer tampak mengendap-endap keluar dari kamarnya untuk melihat kondisi Gazelle di penjara. Sudah dua hari ini Spencer sering mengendap-endap ke dalam penjara bawah tanah untuk mengamati kondisi Gazelle di sana. Terkadang saat sedang mengamati Gazelle dari kejauhan, Spencer tampak merasa iba dan ia ingin menolong Gazelle utuk keluar dari penjara mengerikan itu, tapi ketika pikirannya melayang pada Aiden, maka niatnya itu akan segera hilang dengan sendirinya, digantikan dengan perasaan bersalah yang luar biasa pada Aiden. Tapi terkadang ia merasa khawatir dengan perasaanya yang terombang ambing itu, ia takut suatu saat nanti perasaanya akan berbalik menyerangnya dan melemahkannya.

“Argghh, kakiku.”

‘           Samar-samar Spencer mendengar suara erangan tertahan yang berasal dari salah satu sel tahanan di penjara itu. Dengan langkah cepat, Spencer mulai menuruni satu persatu undakan batu itu dengan perasaan cemas.

“Gazelle, apa kau baik-baik saja?” Tanya Spencer khawatir ketika ia telah berada di depan sel tahanan Gazelle. Wanita itu saat ini sedang mengerang tertahan pada kondisi kakinya yang terluka. Melihat kondisi Gazelle yang sangat menyedihkan seperti itu, membuat Spencer merasa ingin menghancurkan jeruji besi itu dan membawa Gazelle keluar dari dalam penjara yang lebab dan kotor itu. Tapi, ia tidak bisa. Ia telah bersumpah di hadapan seluruh rakyat Khronos dan Aiden jika hidupnya akan ia habiskan untuk mengabdi pada kerajaan Khronos, itu berarti seluruh jiwa dan raganya terikat pada kerajaan ini dan ia sama sekali tidak boleh melanggarnya. Jika ia melanggarnya, maka ia harus siap dengan konsekuensi yang akan ia dapatkan, yaitu hukuman mati dan seluruh keluarganya akan diusir dari kerajaan Khronos dengan tidak terhormat.

“Ssspencer, tolong aku. Kakiku arghh, sakit. Tolong keluarkan aku dari sini.” Erang Gazelle dengan kondisi mengenaskan di atas lantai. Merasa kalut, Spencer hanya mampu mengulurkan tangannya penuh permohonan pada Gazelle karena pria itu tidak dapat mengeluarkannya dari penjara itu.

“Maafkan aku Gazelle, aku tidak bisa. Tapi, aku pasti akan mencari cara untuk mengeluarkanmu dari sini, jadi tolong bersabarlah.”

“Dasar pria sialan! Untuk apa ia datang ke sini jika ia tidak bisa menolongku dan mengeluarkanku dari penjara kotor ini. Lebih baik ia mati daripada hidup di kerajaan ini tapi tidak bisa menolongku keluar dari sini.” Batin Gazelle kesal. Wanita itu kemudian segera berbalik memunggungi Spencer dengan perasaan marah dan dongkol yang luar biasa. Besok jika Tiffany datang untuk mengunjunginya, maka ia akan meminta pertanggungjawaban wanita itu atas nasib sialnya di sini.

“Gazelle, tunggulah sebentar lagi, aku pasti akan mengeluarkanmu.” Janji Spencer sebelum ia beranjak pergi dari penjara itu untuk menyusun rencana.

Setelah kepergian Spencer, Gazelle tersenyum penuh kemenangan sambil berdiri angkuh di depan jeruji besinya yang dingin.

“Kita lihat, seberapa tangguh dirimu Spencer.”

30 thoughts on “Queen Of Time: Pain In The Ass

  1. Hmmm apakah ucapan nene itu benar bahwa akan datang malapetaka..uh calista terlalu baik dan polos tdk tau kah bahkan fany menyimpan dendam begitu bnyak dan ingin membunuh nya .ih spancer bnr bdoh dia termakan kebhongan gazelle dia hnya mau memanfaat kan nya aduh kok spancer gk dengerin omongan aiden..Q seneng aiden sama calista sdak mulai membaik tapi bnyak bnget mslh yg akan dtang 😢😢 next😉😉

  2. Oh No!! 😱😱 Gazelle ma fany bener² krjasma buat hancurin calista ma aiden 😠👿 Bahkan fany udh kluar dri pnjra… Huwaaa 😂😂 Dibalik hbngan aiden ma calista yg makin baik dan intim ada 2 cwe yg pngen hancurin mereka ber2 😭😭 Fany bener² licik,, sma liciknya ma gazelle 👿 Smoga spencer nggk jdi ngeluarin gazelle dri pnjara dan fany jga smoga gagal smua rncananya buat ngehancurin aiden ma calista 😠 Dan ayo cepetan bulan purnamanya 😂 biar aiden ma calista cpet nikahnya 😂😝

    Next kk 😉 Fighting 💪 jgn lama² yah kk 😊

  3. keren thor tpi mngpa sprti bakalan banyak maslah y kedepannya huuuu,,,
    next 👍👍👍😁😁

  4. awal yang baik untuk hubungan chalista aiden.
    disaat chalista aiden ingin mempersatukan kerajaannya ada aja yg ingin menghancurkannya.
    tiffany dan gazelle wanita bermuka dua. kuharap spencer ngga membebaskan gazelle

  5. Kyaknya msih panjang yah thor storynya.. dan aku udah naruh feeling klo malapetaka itu bkal ada. Sebel sama kelakuan tiffany, saudara mcem apa sih dia??
    Klo sampe mimpi calistha tdi bner, udah psti ntar dia jdi benci dan dendam sma aiden… huh berat bgt dah hidup. Gk tega juga. Next cuussss
    #nebaknebakaja

  6. waah daebak !! chalista and aiden uda bercinta. tapi kenapa ya chalista mimpi aiden sama gazelle bercinta ?? andweee. ya..ampun mimpi chalista pastinya bukan hanya bunga tidur. apa itu nanti terjadi. duh jangan deh jauh. masa iya aiden mau becinta sama gazelle. dan juga. pas chalista blng ‘kau janjikan akan setia dan tidak menghianatiku’ aiden janji tapi kenapa di bacaanya seakan2 aiden akan mengingkari janji itu. apa yg sebenarnya akan terjadi nanti. dan juga nenek2 itu. apa nanti chalista akan melanggar apa yg dblng nenek itu. ya.ampun authornim plis konfliknya jangan rumit kali ya.. gk bisa bayangin nanti. pasti ada bencana untuk hubungan aiden chalista 😢😢😢

  7. Aku bacanya sambil marah2 kok tiffany jahatnya gak ketulungan ampun…..😥 aku kirain dia orang baik
    Haduh itu mimpi calistha buat aku merinding #ngerithor….
    #bacanyasambilkomatkamit
    Jahat banget tapi itu cuma jebakan kan thor tapi si mbak calistha salah sangka iya kan haduh ampun…….
    Wah kayaknya kekuatannya aiden udah mulai menghilang iya gak….
    #nebak
    #salahmaapyathor
    Ditunggu kekanjutannya thor
    SEMANGAT…

  8. Calistha kenapa mudah sekali percaa dg org2 dekat nx sihhh,,, yeah walaupun kk nx hrs nx dia jg perlu waspada dg kata2 aiden mengingat ortu nx yg jg berkhianat sm ortu aiden. Smga aiden dan calistha gak kenapa2 dan spencer gue harap dia nggak menghianati aiden. Next!!!

  9. Apa maksud dari mimpi Calista??Saat Calistha menangis dalam tidur dan kemudian Aiden membangunkannya,kenapa Aiden masih bertanya kepada Calistha apa yg membuatnya menangis?mesti itu hanya mimpi bukankah Aiden bisa membaca pikiran Calista???Mmm…nenek yg ditolong Calista menanyakan apa Calistha sedang mengandung..tapi apa iya Calista mengandung secepat itu,mereka kan baru melakukannya kemarin malam😊.Aah..Tiffany dan Gazelle memang licik.Dengan memanfaatkan Yoona akhirnya Tiffany bisa keluar dari penjara.Dan Yoona telah mengabaikan nasehat nenek utk menuruti Aiden tapa nyatanya justru Calistha tetap ngotot utk mengeluarkan Tiffany.Lalu kenapa Aiden mengijinkan Tiffany utk tinggal diistananya??kenapa tidak dilepaskan saja ke luar.Semoga saja Spencer tidak tergoda dgn rayuan Gazelle utk mengeluarkannya dari penjara.Ditunggu chapter selanjutnya…😊😊

  10. heeemmmm baru sja aiden&calista baikann dan hub mreka semkin membaik,,,pi selalu aja msalah mncul,,,
    aplgi tiffany & gazel jd partner,,,
    spencer jg mulai , bimbang ,,,
    jgn sampe mimpi calista jd kenyataan ,,,,
    apkah calista bkl hmil bneran,,,,semoga sja hidup mereka bkl bhgia dan kedua kerajaan tsb damai

  11. Huh akhirnya di next juga.. tapi btw aku kira setelah aiden calista bersatu dan menikah semua masalah itu bakal ilang ..tapi ternyata masih ada aja kekhawatiran di diri aiden tentang masa depan..
    dan tentang mimpi itu tadinya aku kira itu nyata soalnya udh takut aja, ternyata mimpi dan aku harap pemikiran aiden tentang ‘bisa jadi itu sedikit kilasan masa depan yg bakal jadi nyata itu salah juga..
    pokoknya di mohon bangt aku paling gak mau hal itu kejadian.. dan aku malah berharap Yoona nurutin semua perkataan nenek” itu biar dia bisa bahagia.. tpi blm apa apa calista udah mulai memdebat aiden lagi aja cuma karna tiffany padahal aiden bilang klau dia jahat tapi yaa namanya juga calista..

    cepet di next lagi un, dan di mohon bangt kejadian aiden-gazelle di mimpi calista itu cuma mimpi semata tanpa ada embel” masa depan pokoknya jangan sampe ada masalah berat bngt deh buat mereka.. yg bisa bikin mereka pisah..

  12. Pnasaran sma krikil” tajam yg di maksud nenek itu…. smoga krikil” itu takakan mmisahkan Aiden sma Chalista lgi

  13. Udh ada feeling sii, kalo mereka ngelakuin itu sblm waktunya bakal berpengaruh sm kekuatan/ kutukan mereka
    Takutnya, mereka bakal beneran mati kalo terbunuh, kalo engga aiden ga bisa liat masa depan
    Dy ga masuk ya ke mimpinya calistha?
    Semoga mimpi calistha ga jd kenyataan

    Sebenarnya kesel banget sm sifat naif dan keras kepalanya calistha, dy udh diingetin sm nenek itu, tp ga digubris
    Semoga dy cpt ngeliat kelicikan tiffany
    Spencer, please ingat perkataan rajamu, jgn smpe lengah dg gazelle

    Ditunggu kelanjutannya

  14. Tiffany sama gazella jahat banget yah. Bener” kasihan sama nasib yoonhae , saat mereka sudah mulai saling menyayangi tapi ada aja yang mau buat jahat sama mereka. Wajar sih kalau spencer berperilaku kaya gitu, yah namanya juga cinta susah emang. Tapi jangan buat spencer mati yah chingu, soalnya dia baik banget sama aiden ku 😅 next jangan lama” yah chingu, ditunggu oke 😉

  15. Akhirnya Calistha luluh juga sama Aiden, ternyata apa yg diomongin sama Aiden ke Calistha kalo Tiffany jahat itu bener dia mau ngebunuh Calistha, keselll Spencer percaya aja sama Gazelle pake janji segala lagi kalo mau ngeluarin Gazelle dari penjara. Next thor

  16. aduh chalista udh di peringati sama nenek tadi juga kalo dia harus nurutin kemauan aiden tadi dia tetep aja mau bebasin tiffany…. jangan sampe mimpinya chalista jadi nyata. next lah chingu

  17. hadeh si Calistha terlalu polos dia gatau aja si tifany itu musuh dalem selimut , ah spencer juga jdi lemah bakalan bebas dah si gazele huh sebel jadinya

  18. Ku suka akhir ny calistha luluh jg sna aiden
    Smg aiden bnr” jagain calistha
    Jangn smp si fany celakain calistha or aiden

  19. so sweet yoonhae momentnya…seneng banget akhirnya mereka bisa akur dan bersama walaupun masih penasaran sama rencana tiffany dan gizele…ga sabar nunggu next part….jangan lama lama ya thor…bagus…good job

  20. Please, Spencer don’t be stupid to get fooled by Gazelle. Jadi, nanti Aiden sama Gazelle bakalan……? Aiden bilang itu masa depan? KOK? 😨

  21. Jgn sampai terjadi hal buruk lagi. Smga saja calista cpt sadar klo fany pnya niat yg baik sma dy.. Aiden harus waspada tu..

  22. A motivating discussion is definitely worth comment.
    I believe that you need to publish more about this subject,
    it may not be a taboo matter but generally people don’t talk about these topics.

    To the next! Best wishes!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.