Queen Of Time: Haste Makes Waste

Aiden terus memacu laju kudanya dengan kencang tanpa peduli pada semak-semak dan ranting-ranting pohon yang sedari tadi menghadang jalannya dengan brutal. Tebasan demi tebasan pedang ia arahkan untuk menyingkirkan segala pengganggu yang mencoba untuk menghalangi jalannya. Tak berapa lama, Aiden telah tiba di gerbang utama menuju ke kerajaan Bibury. Mendengar suara derap langkah kuda yang mendekat, para penjaga itu langsung bersiap untuk menyambut sang tamu yang baru saja datang.

“Berhenti, anda tidak diijinkan untuk masuk sebelum melewati pemeriksaan dari kami.” Ucap salah satu penjaga itu tegas dan angkuh di hadapan Aiden. Raja kejam itu tampak menyeringai sinis dari atas kudanya sebelum ia memutuskan untuk melajukan kudanya dan menebas setiap penjaga yang berani menghadang jalannya. Kemudian setelah semua penjaga itu tewas dan tak berdaya di bawah kakinya, Aiden segera mendorong pintu besar itu dengan seluruh tenaganya agar ia dapat masuk ke dalam istana milik raja brengsek itu. Sejak tadi Calistha terus berteriak-teriak menyebut namanya, hingga rasanya kepalanya menjadi pening dan akan pecah karena mengkhawatirkan wanita itu. Berbagai macam kilasan bayangan Calistha yang sedang digerayangi oleh raja keparat itu terus muncul di dalam kepalanya, hingga rasanya seluruh darahnya kini mendidih. Ia benar-benar tidak akan membiarkan raja itu hidup. Ia bersumpah akan memenggal kepala raja keparat itu dan kemudian ia akan menggantung tubuhnya di alun-alun desa agar semua penduduknya tahu, jika sang raja yang mereka agung-agungkan selama ini adalah seorang pria keparat yang suka melecehkan wanita.

“Berhenti!”

Lagi-lagi seorang prajurit penjaga istana Bibury menghentikan laju kudanya. Namun, tanpa pikir panjang, Aiden langsung melibas penjaga itu dan memenggal kepalanya di tempat dengan penuh kebengisan. Hari ini jiwa haus akan darahnya sedang bergolak. Maka, ia tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh semua orang yang berani-beraninya mengganggu jalannya.

Setelah tiba di halaman istana, Aiden segera melompat turun dari kudanya dan segera berjalan ke dalam untuk mencari ratunya yang sedang dalam bahaya. Para prajurit yang melihat kedatangannya segera bersiap untuk melawannya dengan pedang perak yang mereka genggam di tangan masing-masing. Kemudian tanpa pikir panjang, Aiden segera berlari menerjang mereka semua sambil mengarahkan mata pedangnya pada urat nadi prajurit-prajurit itu. Suara pedang yang saling beradu langsung memenuhi seluruh penjuru istana yang senyap itu dan membangunkan seluruh penghuni istana yang sedang tertidur.

“Minggir kalian semua, aku ke sini ingin mencari raja kalian yang brengsek itu. Jika kalian tidak menghalangiku, maka aku tidak akan memenggal kepala kalian, tapi jika kalian memang ingin menantangku, maka aku terpaksa akan memenggal kepala kalian satu persatu.” Teriak Aiden pada prajurit-prajurit itu sebelum ia menerjang masuk. Namun, sepertinya prajurit itu lebih memilih untuk mati daripada menyerah. Lima orang prajurit dengan wajah garang segera maju ke depan untuk menghalangi Aiden. Dan akhirnya perkelahian dengan jumlah yang tak imbang itu terjadi. Kelima prajurit kerajaan Bibury tampak tersenyum menang karena mereka merasa unggul dalam hal jumlah, sedangkan Aiden hanya menatap mereka sinis sambil tertawa dalam hati, menertawakan kecongkakan mereka yang mengira jika perkelahian ini akan dimenangkan oleh mereka. Tanpa gentar, Aiden langsung menyerang salah satu prajurit yang berada paling dekat dengannya. Ia mengarahkan mata pedangnya pada perut prajurit itu, dan ia berhasil melukainya hingga prajurit itu tersungkur ke lantai. Kemudian, ketika dua orang prajurit tampak mencoba untuk memukul wajahnya, Aiden langsung menghindar dan ia dengan sekuat tenaga membalas pukulan prajurit itu dengan tendangan keras yang diarahkan pada wajah salah satu prajurit itu.

Srak

Prang

Pedang beserta prajurit itu terlempar beberapa meter dari tempat Aiden berdiri setelah ia menerima tendangan cukup keras yang diberikan oleh pria haus darah itu.

“Berani kalian maju, aku akan langsung mematahkan leher kalian satu persatu.” Geram Aiden marah ketika ia melihat ketiga prajurit yang tersisa sedang memasang kuda-kuda mereka untuk menyerang Aiden. Tapi, sepertiny mereka tidak peduli dengan ancaman Aiden. Ketiga prajurit itu justru maju bersama, menerjang Aiden dari berbgai sisi untuk menumbangkan pria itu. Dengan kemampuan bela dirinya yang mumpuni, Aiden sudah dapat menduga gerakan apa yang akan mereka lakukan padanya, sehingga ketika prajurit-prajurit itu maju secara bersamaan untuk melawannya, Aiden segera menghindar ke kanan sambil mengayunkan pedang emasnya pada punggung salah satu prajurit yang bertubuh sedikit tambun itu.

Cras

Bruk

“Arghh.”

Prajurit itu mengerang tertahan ketika ia merasakan cairan merah pekat yang berbau anyir mulai mengalir dari punggungnya yang terluka. Merasa geram, akhirnya kedua prajurit yang tersisa mencoba melakukan berbagai macam cara untuk menumbangkan Aiden, sekaligus untuk mebalas serangan Aiden pada ketiga temannya yang sudah tumbang dan mati.

“Siapa kau sebenarnya? Untuk apa kau datang ke kerajaan Bibury dan mengacau di kerajaan kami.” Ucap prajurit itu lantang sambil tetap menatap waspada pada Aiden. Sementara itu, Aiden tempak sedang tersenyum mengejek atas kebodohan dua prajurit itu yang sama sekali tidak mengenalnya. Tapi, menurut Aiden itu jauh lebih baik. Ia lebih suka bertemu dengan seseorang yang belum pernah mengenalnya atau mengetahui reputasi kejamnya selama ini, karena dengan begitu mereka tidak akan langsung berlari pergi menghindarinya dan justru akan menantangnya untuk bertarung seperti saat ini.

“Kalian tidak perlu mengenalku, karena aku berani bertaruh, jika kalian sudah mengenalku, maka kalian tidak akan mungkin menantangku seperti ini.” Jawab Aiden tenang. Namun, sebenarnya saat ini Aiden sedang menahan gusar di hatinya, karena sejak tadi teriakan Calistha terus menggema di dalam kepalanya, memanggilnya untuk melepaskannya dari si raja keparat Andrew. Tapi, hingga sejauh ini Calistha masih dalam keadaan yang baik. Raja keparat itu sama sekali belum menyentuhnya, karena Calistha sepertinya berhasil melawan pria itu dengan membuat kekacauan di kamarnya. Tapi, cepat atau lambat, Calistha pasti akan tersudut juga dengan sikap Andrew yang sangat menjijikan itu. Dan sebelum hal mengerikan itu terjadi, Aiden bersumpah, ia pasti sudah memenggal kepala pria itu dan menggantung tubuhnya di alun-alun desa Bibury untuk dijadikan pajangan bagi penduduk Bibury.

“Aku ke sini hanya untuk mengambil Calistha, putri kerajaan Kairos yang telah kabur dari kerajaanku, jadi kuperintahkan kalian untuk segera pergi dari jalanku, atau aku akan memenggal kepala kalian semua, sama seperti ketiga teman kalian yang sudah tak berdaya itu.” Geram Aiden murka. Kedua prajurit itu rupanya cukup memiliki nyali untuk melawannya, sehingga mau tidak mau Aiden harus membalas dan menangkis setiap serangan yang mereka arahkan kepadanya dengan cepat.

Sring

Srak

Aiden berhasil menghalau serangan dari salah satu prajurit itu dan membuat pedang yang sedang digenggam oleh prajurit itu terlempar jauh. Mengetahui jika lawannya sudah tak berdaya, Aiden segera memanfaatkan kesempatan itu untuk memenggal kepala prajurit sombong itu. Tapi, tanpa diduga, salah satu prajurit yang mengalami luka parah di punggung berhasil berdiri dan memungut pedang milik rekannya yang terlempar tadi. Dan tanpa disadari oleh Aiden, prajurit itu berhasil mendekat ke arahnya dan mengayunkan pedang itu tepat di lengan kirinya.

Cras

Darah segar merembes keluar dari lengan Aiden, menciptakan tetesan demi tetesan darah yang jatuh mengotori lantai marmer yang dipijaknya. Tapi, kemengan prajurit itu tidak berlangsung lama, karena sedetik kemudian Aiden segera membalas merek dengan mengarahkan mata pedangnya secara cepat pada kepala dan perut mereka, hingga mereka langsung tegletak begitu saja di atas lantai dalam keadaan tak bernyawa. Aiden kemudian mengumpat keras dan menginjak tubuh prajurit itu dengan marah sambil menahan rasa perih yang menjalar disepanjang lengan kirinya.

“Argh, dasar prajurit sialan.” Maki Aiden geram. Ia kemudian lebih memilih untuk melupakan rasa sakit di lengannya sejenak dan bergegas untuk mencari Calistha di dalam istana Bibury.

Aiden terus melangkah ke dalam sambil mengandalkan instingnya untuk mencari Calistha. Lalu ketika ia melewati sebuah persimpangan, Aiden samar-samar mendengar suara berang-barang yang sedang dibanting dengan keras. Ia kemudian segera berlari mengikuti arah suara itu untuk menemuka Calistha, karena ia sangat yakin jika suara itu pasti berasal dari perbuatan bar-bar Calistha yang sering wanita itu lakukan padanya juga selama ini.

“Pergi, jangan mendekat atau aku akan menusukmu dengan pecahan kaca ini.”

Calistha berteriak kencang pada Andrew sambil mengarahkan potongan kaca yang terlihat cukup runcing ke arah pria tampan yang saat ini sedang mencoba untuk mendekatinya. Dengan gerakan cepat, Andrew berhasil menjatuhkan potongan kaca itu dari tangan Calistha, dan pria itu cepat-cepat mengunci tubuh Calistha dengan tubuhnya yang tegap.

“Cukup main-mainnya sayangku, sekarang adalah saatnya untuk melayaniku di ranjang.” Geram Andrew gusar. Pria itu langsung menyeret Calistha dengan kasar ke arah ranjang dan melemparkan wanita itu begitu saja di sana. Dan ketika pria itu sudah bersiap untuk menindih tubuh Calistha, kilatan pedang emas yang entah darimana langsung menebas leher Andrew hingga cipratan darah pria itu langsung mengotori wajah Calistha yang berada tepat di bawahnya. Dengan jijik dan ngeri, Calistha langsung menyingkirkan tubuh pria itu dari atas tubuhnya untuk melihat siapa yang telah menyelamatkannya dari raja brengsek itu. Dan ketika Calistha berhasil melihat sosok penyelamatnya, wanita itu justru langsung mengarahkan jari telunjuknya pada pria itu sambil berteriak tak percaya dengan wajah lemas.

“Kau, kenapa kau bisa berada di sini?” Satu kalimat itu berhasil lolos dari bibir Calistha dengan tak tahu malunya. Padahal jelas-jelas jika wanita itu sejak tadi terus meneriakan nama Aiden di dalam kepalanya untuk meminta bantuan pria itu, tapi ketika Aiden telah datang dan menolongnya, wanita itu justru berteriak dengan tidak sopan sambil menunjuk pria itu dengan jari telunjuknya yang lentik.

“Ya, terimakasih juga atas sambutanmu.” Ucap Aiden dingin sambil menyelipkan pedangnya di pinggang. Calistha kemudian segera bangkit dari atas ranjangnya dan bersiap untuk memakai gaun yang lebih pantas. Jujur, ia meras malu pada pria itu karena saat ini ia sedang menggunakan sebuah gaun tipis yang begitu transparan dan memamerkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Selain itu, ia juga ingin membersihkan tubuhnya dari cipratan darah milik Andrew yang saat ini terasa begitu menjijikan dan membuat seluruh tubuhnya berbau anyir seperti telur busuk.

“Mau kemana kau?”

Calistha berhenti di tempat sambil menatap tajam pada Aiden. Meskipun pria itu memang telah menyelamatkannya dari raja busuk itu, tapi jangan harap ia akan mengucapkan terimakasih pada raja kejam itu, karena mereka berdua sebenarnya sama saja bagi Calistha.

“Membersihkan diri.” Jawab Calistha datar. Sungguh saat ini Aiden sedang menahan geram pada wanita itu, karena sikap wanita itu yang sangat menjengkelkan dan tak tahu terimakasih. Tapi, ia kemudian memutuskan untuk diam karena ia sedang lelah untuk berdebat dengan Calistha. Apalagi lengannya saat ini sedang terluka, ia harus menghemat tenaganya untuk membawa Calistha pergi dari kerajaan ini, karena saat fajar nanti pasukannya akan segera menyerang kerajaan tak berguna ini dan memporak-porandakannya. Itu berarti ia akan kembali berhadapan dengan prajurit kerajaan Bibury sebelum ia benar-benar keluar dari kerajaan ini.

“Cepatlah, kita harus segera pergi dari kerajaan ini.” Perintah Aiden datar. Pria itu hendak berjalan menuju sofa yang berada di sudut ruangan, namun pergerakannya langsung terhenti ketika Calistha tiba-tiba menahan lengan kanannya dan menggunakan tangannya yang bebas untuk menyentuh lengan kirinya yang terluka.

“Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau terluka?” Tanya Calistha gusar. Padahal saat ini wanita itu tengah mengkhawatirkan pria dingin yang sedang berdiri di hadapannya, namun karena egonya terlalu tinggi, kata-kata yang keluar dari mulutnya justru kata-kata pedas dan kasar yang sangat bertolak belakang dengan hatinya. Aiden mengangkat Alisnya sekilas sambil menatap wajah cantik di depannya datar. Sungguh ia merasa bingung dengan sikap wanita itu yang sering sekali berubah-ubah seperti bunglon.

“Untuk apa aku mengatakannya padamu jika pada akhirnya kau juga tidak akan mempedulikannya. Lebih baik kau segera membersihkan dirimu, karena kita tidak memiliki banyak waktu lagi.” Peringat Aiden sambil melepaskan cekalan tangan mungil itu dari lengannya. Namun, Calistha tetap bersikeras untuk mempertahankan tangannya di lengan pria itu. Dan dengan sedikit memaksa, Calistha langsung mendorong tubuh pria itu menuju sofa agar ia dapat mengobati luka sayatan yang sudah terlihat setengah mengering itu di lengan Aiden.

“Aku akan mengobatinya, jadi tunggu di sini dan aku akan mencari sesuatu untuk menutup luka sayatan ini.” Ucap Calistha tegas dan mencoba untuk mengacuhkan tatapan tajam Aiden yang tampak sedang menelisiknya. Ia tahu, pria itu pasti sedang memikirkan berbagai hal mengenai dirinya di dalam kepalanya. Tapi mau bagaimana lagi, sikapnya saat ini memang sangat berbanding terbalik dengan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Andai saja ia tidak sedang membenci pria itu, maka ia tidak akan repot-repot menyembunyikan perasaannya yang sedang mengkhawatirkan pria itu. Dan ngomong-ngomong tentang kehadiran Aiden saat ini, ia cukup bersyukur atas hal itu. Tidak tahu lagi bagaimana nasibnya setelah ini, jika seandainya Aiden tidak datang untuk menolongnya. Tapi, bagaimana mungkin Aiden tahu jika dirinya sedang dalam masalah? Apakah.. mereka benar-benar memiliki sebuah koneksi yang rumit di dalam pikiran mereka masing-masing? Pertanyaan demi pertanyaan menghantui benak Calistha, hingga rasanya wanita itu merasa pening dengan semua hal-hal aneh yang akhir-akhir ini sering menimpanya. Padahal hidupnya dulu tidak pernah seaneh ini, hidupnya yang dulu selalu normal dan penuh dengan keceriaan.

“Aku tidak dapat menemukan obat atau perban yang bisa digunakan untuk membebat lukamu, jadi…”

Srekk

Calistha menyobek ujung gaunnya untuk dijadikan sebagai perban bagi luka sayatan Aiden yang tampak menganga di lengannya. Wanita itu melambai-lambaikan kain putih itu di depan wajah Aiden sambil tersenyum malu karena ia tidak berhasil menemukan sesuatu yang layak untuk pria itu.

“Apa kau tidak keberatan jika aku menggunakan ini?” Tanya Calistha sambil mendudukan dirinya di sebelah Aiden. Aiden tampak menggeleng pelan pada wanita itu sambil terus memperhatikan raut wajah Calistha yang tampak berubah-ubah di depannya. Dengan perlahan, Calistha mulai menyentuh luka sayatan yang sedikit menghitam itu dan mencoba mengusapnya sedikit demi sedikit dengan kain basah yang sudah ia persiapkan sebelumnya.

“Apa ini sakit?” Tanya Calistha sedikit ngeri dengan luka itu. Aiden hanya mengangkat alisnya sekilas di depan Calistha karena menurutnya Calistha terlalu berlebihan dengan lukanya yang ringan itu.

“Luka ini bukan apa-apa. Bahkan, jika kau tidak mengobatinya pun, aku tetap akan baik-baik saja.” Jawab Aiden santai. Selama Calistha sedang membersihkan sisa-sisa darah yang mengering di lengannya, pria itu tampak tidak kesakitan sama sekali. Ia justru sedang sibuk menatap wajah Calistha yang tidak biasanya tampak begitu tenang di dekatnya. Selama ini Calistha selalu menunjukan wajah angkuh dan cenderung sering berteriak di depannya, jadi momen kedekatannya dengan Calistha saat ini cukup membuatnya sedikit takjub dan merasa aneh.

“Kenapa kau bisa datang ke sini?”

“Kenapa memangnya? Bukankah kau yang memanggilku ke sini?”

Calistha tampak gusar dengan ucapan Aiden yang justru memberinya pertanyaan yang sangat sulit seperti itu. Sekarang apa yang harus ia katakan pada pria itu? Apakah ia harus mengaku jika ia memang telah meneriaki nama pria itu berkali-kali di dalam kepalanya untuk meminta pertolongan? Tapi, bagaimana dengan harga dirinya setelah ini? Pria itu pasti akan merasa di atas angin jika ia mengakui kelemahannya hari ini.

Aiden tersenyum mengejek di hadapan Calistha ketika ia mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu. Aiden kemudian mengangkat tangannya tepat di depan wajah Calistha, dan dengan gerakan yang sangat lembut ia langsung menarik dagu Calistha agar menghadap ke arahnya.

“Apakah sesulit itu untuk mengakui semuanya?” Tanya Aiden menggoda. Dalam hati Aiden ingin tertawa terbahak-bahak, menertawakan ekspresi wajah Calistha yang tampak bodoh itu. Tapi, sedetik kemudian Calistha langsung memasang wajah garangnya di depan Aiden sambil menyentak tangan kekar itu dari dagunya.

“Lepaskan tanganmu dari daguku, kau pasti sedang mencari kesempatan untuk menyentuhku kan?” Tuduh Calistha sengit. Aiden akhirnya tertawa terbahak-bahak di depan Calistha setelah melihat reaksi wanita itu yang sangat tidak terduga. Ia tahu, jika saat ini Calistha sedang mencoba mengalihkan pembicaraannya dengan memasang wajah garang dan sikap kasar seperti biasa. Tapi, yang membuatnya merasa geli dan tertawa adalah karena ekspresi wajah Calistha dan warna wajah wanita itu saat ini yang tampak tidak sinkron. Disisi lain ia merasa egonya terlalu tinggi, namun disisi lain wajahnya tampak sedang memerah karena malu, jadi kedua hal itu berhasil membuat wajah wanita di depannya itu menjadi tampak aneh bodoh. Calistha benar-benar terlihat seperti kepiting rebus dengan wajah galaknya yang memerah itu.

“Kenapa tertawa? Apakah wajahku terlihat seperti badut?” Dengus Calistha sebal. Wanita itu dengan sengaja menekan-nekan luka di lengan Aiden dengan sedikit keras, hingga refleks Aiden langsung menjauhkan lengannya dari tangan Calistha yang sangat mengerikan itu.

“Kau ingin membuat lukaku menjadi semakin parah?” Amuk Aiden pada Calistha. Sedangkan Calistha tampak tidak peduli, dan justru menunjukan wajah tanpa dosanya yang berhasil membuat Aiden semakin geram.

“Bukankah luka itu bukan masalah besar untukmu? Huh, ternyata kau payah. Padahal aku tidak menekannya dengan keras.” Cibir Calistha mengejek. Aiden kemudian memelih diam tanpa berniat untuk menanggapi ejekan Calistha yang sangat menyebalkan itu. Seumur hidupnya, belum pernah ada seorang pun yang berani mengejeknya seperti ini, jadi ia merasa harga dirinya saat ini cukup tertampar dengan ucapan Calistha yang sangat menyebalkan itu.

“Kenapa diam? Kau merasa tersinggung?” Tanya Calistha lagi. Sungguh wanita itu sangat menyebalkan, dan Aiden sangat ingin menyumpal bibir tipis itu dengan bibirnya agar ia tidak terus berbicara dengan cerewet. Tapi, saat ini ia sedang tidak ingin merusak momen indahnya dengan Calistha, setidaknya meskipun Calistah sedang mengejeknya, wanita itu tidak sedang dalam mode marah atau menantangnya, jadi ia merasa momen ini harus ia pertahankan lebih lama lagi.

“Apa kau masih ingin mengobati lukaku? Jika tidak, lebih baik kau segera bersiap, karena sebentar lagi matahari akan segera terbit.” Ucap Aiden datar sambil memandang jendela kamar Calistha yang menampilkan pemandangan langit pagi yang masih sedikit gelap. Namun, samar-samar Aiden dapat melihat adanya semburat orange kuning dari sang cakrawala yang hampir menampakan diri ke bumi.

“Berikan lenganmu. Aku hanya tinggal membebatnya dengan kain, jadi ini tidak akan lama.”

Dengan cekatan, Calistha mulai melilitkan kain putih itu pada lengan Aiden yang sudah lebih bersih dari sebelumnya. Dan setelah selesai membebat luka itu, Calistha langsung tersenyum bangga di depan Aiden sambil memandangi hasil bebatannya dengan takjub.

“Ternyata aku cukup berbakat untuk mengobati seseorang.” Gumam Calisttha sombong pada dirinya sendiri. Setelah itu ia segera bangkit berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang sudah kotor dengan cipratan darah milik Andrew.

Sementara Calistha sedang mengganti pakaiannya di kamar mandi, Aiden justru sibuk dengan hatinya. Hari ini perasaanya benar-benar kacau dan berubah-ubah tanpa dapat ia mengerti. Saat diperjalanan menuju kerajaan Bibury, perasaanya terasa terbakar dan jantungnya juga berdegup dengan kencang setiap ia melihat kilasan-kilasan gambar Calistha yang hampir dilecehkan oleh pria keparat itu. Dan saat Calistha mengobati lengannya, hatinya tiba-tiba berubah menjadi dingin dan lebih terasa hangat. Wanita itu dengan caranya mampu meredam setiap gejolak emosi yang dirasakannya. Mungkinkah ini yang dimaksudkan oleh ramalam itu? Selama ini, ia tidak pernah benar-benar hidup dengan hati dingin dan hangat. Biasanya ia selalu merasakan hatinya panas dan terbakar, sehingga ia merasa ingin marah dan melampiaskan seluruh amarahnya dengan membunuh setiap orang yang mencoba untuk menghadang jalannya. Tapi, setelah kedatangan Calistha di hidupnya, tanpa sadar hatinya menjadi lebih tenang dan tidak pernah sepanas dulu. Sungguh ini sesuatu yang sangat luar biasa baginya. Andai saja dulu orangtua Calistha tidak melakukan konspirasi untuk membunuh kedua orangtuanya, maka kutukan itu pasti tidak akan sampai parah hingga ke tahap ini. Tapi, mungkin semuanya memang telah digariskan oleh Tuhan. Semua kegetiran dan kepahitan ini adalah jalan baginya untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan yang nyata dan abadi. Jadi, ia memutuskan untuk bersikap lebih bijak dengan menerima semua takdirnya yang menyedihkan ini dengan lapang dada. Toh sekarang ia telah menemukan sumber kabahagiaan hatinya, meskipun Calistha belum menerima dirinya sepenuhnya, tapi ia akan berusaha. Berusaha untuk menjadi layak di hadapan wanita itu dan menjadi pria sejati yang hanya akan memberikan cintanya untuk Calistha seorang. Ngomong-ngomong mengenai cinta, apakah perasaanya saat ini sudah dapat digolongkan sebagai sebuah perasaan cinta? Selama ini ia hidup dalam lingkungan yang keras dan tidak pernah mengenal cinta sedikitpun, terutama setelah kedua orangtuanya meninggal, jadi bisa dikatakan jika saat ini hatinya sudah mati rasa dan membeku. Tapi, dengan kehadiran Calistha di sisinya, hatinya yang semula beku dan mati rasa, pasti akan kembali hangat dengan sikap Calistha yang meskipun terlihat angkuh dan kasar, tapi sebenarnya membawa sebuah kedamaian tersendiri baginya.

“Aku sudah selesai mengganti bajuku, apa kita akan pergi sekarang?” Tanya Calistha tiba-tiba. Kini wanita itu telah menggunakan gaun merah yang sebelumnya telah digunakan Calistha saat kabur dari kerajaanya. Dengan wajah cemas, Calistha mulai mendekati Aiden sambil meremas kedua tangannya gugup. Sejak tadi sebenarnya Calistha sangat ingin menanyakan hal ini pada Aiden, namun ia merasa ragu. Tapi, keraguannya itu justru membuatnya semakin tersiksa dan dihujam akan perasaan penasaran yang begitu kuat. Akhirnya dengan wajah sedikit malu dan gugup, Calistha mulai bertanya mengenai mimpinya yang aneh kemarin malam. Saat ini ia hanya ingin memastikan, apakah mimpi itu benar-benar terhubung dengan Aiden atau tidak. Karena jika tidak terhubung, maka Calistha akan merasa lega karena ia tidak perlu menanggung malu seumur hidupnya pada pria itu.

“Katakanlah, tidak perlu meremas-remas kedua tanganmu seperti itu.” Ucap Aiden datar. Calistha kemudian menghebuskan napasnya pelan sambil menatap Aiden dengan intens. Ditatap dengan begitu lekat seperti itu, membuat Aiden menjadi tidak nyaman. Ia merasa ini terlalu aneh dan sedikit canggung untuknya. Padahal seharusnya perasaan itu tidak perlu hadir di dalam dirinya, karena ia sudah terbiasa bertatapan intens dengan musuh-musuhnya. Namun, tetap saja hal itu tidak akan pernah sama jika yang menatap kedua mata legamnya adalah Calistha, ratunya.

“Apa… apa kau bermimpi kemarin malam?” Tanya Calistha sedikit terbata-bata. Sekilas Aiden tampak tidak mengerti dengan maksud ucapan Calistha. Namun, ia kemudian teringat akan mimpinya, atau lebih tepatnya mimpi wanita itu yang sedang bersandar di atas bahu Max di sebuah padang bunga Daisy yang indah. Dan kemudian ia hampir saja bercinta dengan wanita cantik itu, sebelum akal sehatnya kembali mengambil alih dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk melakukan hal itu pada Calistha. Tapi, yang membuatnya tak habis pikir, mengapa wanita itu tiba-tiba mengungkitnya? Bukankah Calistha selalu bersikap angkuh dan pura-pura melupakannya jika ia sudah mulai menggoda wanita itu dengan kalimat-kalimatnya yang vulgar?

“Bermimpi? Apakah yang kau maksud mengenai mimpi di sebuah padang bunga daisy, dan kemudian kita melakukan ciuman…”

“Stop! Berhentilah, dan jangan kau teruskan lagi. Cukup, sekarang aku sudah mengetahui semua keanehan ini dan jawabanmu itu sudah cukup untuk menjawab semua rasa penasaranku.” Potong Calistha dengan wajah merah padam. Sungguh ia sangat malu dan tidak ingin mengingat semua mimpi itu. Ia lebih memilih untuk menganggap mimpi itu sebagai mimpi buruk belaka. Tapi, ketika ia berpikir demikian, hatinya justru menolak dengan keras. Ia tidak bisa mengaggap mimpi itu sebagai mimpi buruk belaka! Mimpi buruk itu terlalu manis untuk dianggap sebagai mimpi buruk.

“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?”

“Emm, tidak apa-apa. Ayo kita pergi sekarang, aku akan segera membangunkan Max dan Gazelle terlebihdahulu.” Ucap Calistha terbata-bata. Ia hampir saja berjalan pergi meninggalkan Aiden, sebelum lengan kekar itu menariknya dan mendudukannya tepat di atas pahanya yang keras.

“Kenapa kau terburu-buru sekali sayang, apa kau tidak ingin meraskannya lagi?” Goda Aiden dengan wajah sensual. Sedangkan Calistha sudah terlihat panik sambil meronta-ronta untuk melepaskan diri. Sekarang ia menjadi takut jika Aiden tiba-tiba melakukan kontak dengan tubuhnya seperti ini, karena reaksi tubuhnya benar-benar diluar akal sehatnya. Jika Aiden sudah mulai bermain-main dengan pesonanya yang mematikan itu, maka ia akan seperti sebuah magnet yang dengan mudahnya akan langsung tertarik oleh pesona yang dimiliki oleh pria itu.

“Lepaskan! Aku sedang tidak ingin bermain-main atau memenuhi nafsu binatangmu itu, jadi lebih baik lepaskan aku sekarang karena aku ingin membangunkan Gazelle dan Max.” Ucap Calistha tegas. Aiden tampak tidak suka ketika Calistha mulai membawa dua orang tidak penting itu ke dalam pembicaraan mereka karena semua kekacauan hari ini tak ubahnya adalah ulah mereka berdua. Tapi, sayangnya Calistha terlalu baik pada dua makhluk sialan itu, sehingga ia sama sekali tidak berpikir jika kejadian yang menimpanya hari ini adalah kesalahan mereka. Dan wanita itu justru sama sekali tidak menunjukan rasa terimakasihnya padanya, padahal ia sudah menyelematkan wanita itu dari si brengsek Andrew. Yah, meskipun wanita itu sudah menunjukan etikad baik dengan mengobati lengannya, tapi itu belum cukup! Ia menginginkan sesuatu yang lebih tulus dan bermakna.

“Tinggalkan saja mereka disini. Semua ini adalah salah mereka. Bukankah sudah kukatakan padamu jika mereka hanyalah pembawa petaka bagimu, kenapa kau sama sekali tidak mendengarkanku?” Tanya Aiden geram. Calistha mengerutkan dahinya kesal pada Aiden. Dengan terang-terangan Calistha berani menatap manik legam itu dengan pandangan menantang, bahkan ia sudah tidak berniat untuk pergi dari pangkuan Aiden, ia sekarang lebih terfokus pada nama baik sahabat-sahabatnya yang sudah dihina oleh Aiden. Karena bagaimanapun juga, Gazelle dan Max adalah sahabat sekaligus keluarganya. Dan Calistha tidak mungkin akan memusuhi keluarganya sendiri, meskipun perlakukan mereka sangat buruk padanya.

“Dasar licik! Mereka adalah kelugaku, aku tidak akan mungkin meninggalkan mereka. Jika kau ingin pergi, maka pergilah! Aku akan pergi bersama mereka!” Ucap Calistha lantang dan penuh kemarahan. Sekuat tenaga ia menghentakan tangan Aiden yang berada di sekitar pinggangnya, tapi Aiden dengan tenaga yang lebih besar sudah mengantisipasinya dengan mengeratkan cengkeraman itu di pinggangnya hingga menciptakan rasa terhimpit yang cukup menyakitkan.

“Bisakah sekali saja kau mendengarkan kata-kataku? Dan juga, seharusnya kau menunjukan rasa terimakasihmu padaku karena aku telah menyelamatkanmu dari raja brengsek itu. Apa jadinya jika aku tidak datang untuk memenggal kepala si brengsek itu, kau pasti sudah menjadi salah satu wanita jalangnya!”

Plak

Satu tamparan berhasil lolos dari tangan Calistha, dan tepat mengenai pipi kanan Aiden. Pria itu, meskipun cukup terkejut, tapi ia berhasil mengendalikan dirinya dengan hanya bersikap datar di hadapan Calistha sambil mencengkeram pinggang wanita itu dengan lebih erat. Ia marah. Ia merasa terhina. Dan untuk pertama kalinya perasaanya merasa terluka. Ia terluka karena perlakukan wanita itu padanya. Pantaskah wanita itu menamparnya setelah apa yang ia lakukan untuk wanita itu?

“Tidak tahu diri! Wanita sialan.” Umpat Aiden dalam hati. Sementara itu Calistha masih menatap tajam pada Aiden sambil mencengkeram kerah jubah kebesaran pria itu. Hatinya merasa sakit karena ucapan pria itu yang sangat menohok hatinya. Apakah selama ini ia tidak pernah diajari untuk menghargai wanita? Pantas saja jika Gazelle begitu membenci pria ini, karena ia pun juga sangat membenci sikap pria itu yang semena-mena dan tak memiliki perasaan dengan wajah dingin sedingin salju.

“Kau menamparku?” Desis Aiden akhirnya setelah cukup lama mereka saling terdiam untuk memikirkan tindakan selanjutnya yang akan mereka lakukan. Calistha tampak tak gentar ketika iris pekat itu mulai menatapnya dengan begitu tajam. Bahkan jika pria itu akan menghunuskan pedanya tepat ke arah nadinya, ia tidak akan takut, karena harga dirinya saat ini sedang diinjak-injak oleh pria itu. Dan sudah menjadi kewajibannya untuk mempertahankannya.

“Ya, dan itu memang pantas kau dapatkan karena kau sudah menghinaku. Kau boleh saja menghancurkan semua hal yang kumiliki di dunia ini, tapi tidak dengan harga diriku! Kau tidak berhak menginjak-injak harga diriku dengan seluruh kekuasaanmu dan keangkuhanmu yang memuakan itu.” Balas Calistha tegas. Aiden tampak tersenyum miring di hadapan Calistha, sejujurnya ia sama sekali tidak menyesal telah mengatakan wanita itu jalang, karena ia sendiri sudah merasa gusar dengan sikap Calistha yang pembangkang dan selalu mengaggung-agungkan kedua manusia tidak berguna itu. Lagipula, apa yang didapat Calistha dari mereka? Mengapa ia begitu melindungi mereka berdua, sedangkan dirinya yang selalu berusaha bersikap baik di hadapan Calistha justru selalu mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari wanita itu.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?”

Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Aiden sebagai bentuk protes dari hatinya karena ia tidak pernah mendapatkan perlakuan yang adil dari Calistha. Namun, wanita itu nyatanya tidak menyadari adanya sebuah nada getir yang tersirat dari kalimat itu, sehingga Calistha hanya menanggapi kata-kata itu dengan kata-kata mencemooh yang semakin menambah perih hati Aiden.

“Aku ingin kau mati. Aku ingin terbebas darimu dan semua keanehan yang kurasakan setelah kau masuk ke dalam hidupku. Aku muak hidup seperti ini, dan aku menginginkan kehidupan normalku kembali!”

Aiden semakin mengencangkan cengkeramannya pada pinggang Calistha, dan setelah itu ia langsung melumat bibir Calistha dengan kasar hingga Calistha merasa sakit karena bibirnya seperti dirobek paksa oleh Aiden. Tapi, meskipun Calistha terus meronta-ronta di dalam cekalannya, Aiden tidak peduli. Saat ini ia sedang marah, dan ia ingin wanita tak tahu diri itu merasakan kemarahannya yang terasa begitu bergejolak di dalam dirinya. Andai saja saat ini ia sedang berada di  medan perang, maka kemarahannya yang pekat ini dapat tersalurkan dengan membunuh semua musuh-musuhnya tanpa ampun. Tapi, sayangnya saat ini ia sedang bersama Calistha, meskipun wanita itu telah melukainya dan membuatnya sangat marah, ia tidak akan pernah bisa membunuh wanita itu, karena jika ia membunuhnya, maka sama saja dengan ia membunuh dirinya sendiri. Jadi, satu-satunya cara untuk melampiaskan rasa marahnya pada Calistha adalah dengan menunjukan kekuasannya yang penuh atas wanita itu. Tak peduli seberapa kuat Calistha akan menolaknya, ia tetap akan menarik wanita itu ke dalam hidupnya, ke dalam dirinya.

“Sayangnya keinginanmu itu tidak akan pernah tercapai. Aku dan kau, kita tidak akan pernah mati dengan mudah.” Bisik Aiden parau sebelum ia kembali melumat bibir merah yang tampak bengkak itu. Calistha bergumam marah di sela-sela ciumannya karena lagi-lagi ia tak berdaya di bawah kuasa Aiden. Akal sehatnya menolak ini semua, namun tubuhnya justru tergerak untuk membalas setiap ciuman dan sentuhan yang diberikan oleh Aiden. Bahkan kedua tangannya justru semakin erat mencengkeram kerah baju kebesaran Aiden agar pria itu semakin memperdalam ciumannya. Jika seperti ini, dengan berat hati ia akan mengakui, jika semua yang dikatakan oleh Aiden tentangnya memang benar. Ia adalah wanita jalang. Wanita jalang yang terlalu munafik dan terlalu memandang tinggi pada harga dirinya yang sudah terlanjur jatuh pada pesona seorang raja Aiden.

-00-

Saat matahari telah terbit, semua prajurit kerajaan Khronos tampak bersiap untuk melakukan penyerangan pada kerajaan Bibury. Spencer dan panglima Heren sibuk mengatur semua prajurit dan mengecek kelengkapan senjata mereka masing-masing. Kemudian setelah semuanya dirasa sudah siap, Spencer segera bergegas untuk memberitahukannya pada Aiden di tenda milik rajanya itu, tapi ketika Spencer masuk ke dalam tenda itu, Aiden sama sekali tidak berada di sana. Tenda besar itu kosong dan tampak belum tersentuh sama sekali. Bahkan, wine yang semalam dituangkan oleh Spencer untuk Aiden sama sekali belum diminum oleh pria itu. Dengan panik, Spencer mulai mencari panglima Heren dan seluruh pejabat lain yang ikut berperang untuk merundingkan masalah ini.

“Panglima Heren, kita harus melakukan rapat sekarang.” Ucap Spencer terburu-buru ketika memasuki tenda pria itu. Merasa bingung, panglima Heren langsung mengangkat kedua alisnya ke arah Spencer sambil memasukan pedangnya ke dalam sarung pedang yang berada di pinggangnya.

“Ada apa? Apa raja memerintahkan kita untuk melakukan rapat? Apa kerajaan Bibury menolak surat tantangan kita?” Tanya panglima Heren bertubi-tubi. Dengan cepat Spencer menggeleng dan langsung memberitahukan semuanya pada panglima muda itu, semua hal mengenai hilangnya raja mereka pagi ini.

“Kita harus mengadakan rapat dengan para pejabat yang lain karena Yang Mulia Aiden menghilang. Pagi ini ia tidak berada di tendanya dan wine yang semalam kusajikan untuknya pun sama sekali tidak disentuh olehnya, itu berarti raja sudah pergi dari tendanya sejak semalam. Tapi, yang menjadi masalah adalah apakah raja pergi sendiri karena kehendaknya ataukah raja telah diculik oleh sekelompok orang yang tidak menyukainya? Karena menurut mata-mata yang telah diseleundupkan raja Aiden ke dalam kelompok pemberontak, mereka sejak kemarin telah berada di kerajaan Bibury untuk mencari perlindungan dari raja Andrew, jadi tidak menuntup kemungkinan jika semalam beberapa anggota dari kelompok pemberontak itu datang mengendap-endap untuk menculik raja.” Ucap Spencer menjelaskan jalan pikirannya pada panglima Heren. Tapi, disisi lain panglima Heren sedikit tidak percaya pada ucapan Spencer, karena selama ini rajanya itu terkenal sebagai raja yang tangguh. Bahkan terkadang rajanya itu mampu memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya pada kerajaan Khronos hingga membuat kerajaan Khronos selalu unggul saat berperang. Saat ini ia justru berpikir jika sebenarnya raja Aiden sedang pergi ke suatu tempat karena suatu hal yang mendadak, sehingga ia tidak sempat untuk memberitahukannya pada pasukannya. Panglima Heren kemudian menyuruh Spencer untuk mengumpulkan para pejabat yang lain dan melakukan perundingan terlebihdahulu untuk menentukan tindakan selanjutnya yang akan mereka lakukan.

“Sebaiknya kau kumpulkan para pejabat yang lain terlebihdahulu untuk membahas masalah ini lebih lanjut. Aku akan memerintahkan pasukanku untuk mencari petunjuk di sekitar sini, karena menurutku raja Aiden sama sekali tidak diculik, mungkin ia sedang pergi karena ia memiliki suatu kepentingan yang mendesak.”

Spencer mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dan segera keluar dari tenda milik panglima Heren untuk memberitahukan berita penting ini pada seluruh pejabat kerajaan yang ikut berperang.

Sementara itu, panglima Heren langsung memerintahkan seluruh anak buahnya untuk melakukan penyisiran di sepanjang hutan dan mencari adanya tanda-tanda atau jejak yang mungkin saja ditinggalkan oleh raja mereka. Lalu, ketika panglima Heren tidak sengaja melewati tenda raja, pria itu langsung menyadari sesuatu, kuda milik sang raja tidak ada di sana, itu berarti sang raja memang berinisiatif untuk pergi sendiri tanpa memberitahu Spencer karena ia memiliki masalah yang mendadak. Dengan cepat, panglima Heren segera mencari Spencer untuk memberitahukan informasi ini pada pria tersebut. Tapi, saat ia tiba di dekat tenda milik Spencer, bersamaan dengan itu seorang mata-mata yang selama ini telah disusupkan ke dalam kelompok pemberontak datang dan mengatakan jika kelompok pemberontak dan prajurit kerajaan Bibury yang lain sedang bersiap untuk menyerang raja Aiden yang saat ini sedang berada di dalam istana kerajaan Bibury untuk menyelamatkan Calistha. Mendengar berita itu, tanpa pikir panjang panglima Heren segera memerintahkan anak buahnya untuk bersiap. Karena ini adalah keadaan darurat, maka tanpa kehadiran sang raja di tengah-tengah mereka, panglima Heren dapat memerintahkan seluruh pasukannya untuk menyerang kerajaan Bibury dan para kelompok pemberontak yang sudah seperti hama itu.

“Kita haru berangkat sekarang, jangan sampai mereka melukai raja kita.” Ucap panglima Heren tegas. Spencer dan pejabat yang lain pun segera bersiap dengan kuda mereka masing-masing untuk masuk ke dalam wilayah kerajaan Bibury. Namun selama perjalanan, Spencer tampak begitu gelisah dan was-was. Penyusup yang ditugaskan oleh Aiden untuk menyamar ke dalam kaum pemberontak itu memberitahunya jika semua penyerangan ini dikomando oleh Gazelle, dan menurut penyusup itu Gazelle tampak begitu berambisi untuk menghabisi sang raja serta Yang Mulia ratu, hal itu tentu saja membuat Spencer gelisah, karena Gazelle akan berada dalam bahaya jika wanita itu ada dalam pertempuran ini. Wanita itu pasti akan habis di tangan Aiden jika sampai Aiden menemukannya diantara para prajurit kerajaan Bibury dan para kaum pemberontak.

-00-

Gazelle membuka matanya perlahan sambil menguap beberapa kali. Wanita itu dengan semangat langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Meskipun matahari belum terbit sepenuhnya, tapi ia berniat untuk mengadakan rapat dengan anggota kaum pemberontak yang lain. Lalu ia segera berpakaian dengan rapi dan bersiap untuk keluar dari kamarnya. Tapi, ketika ia akan berjalan keluar, ia melihat kamar di sampingnya, yaitu kamar Calistha tampak terbuka. Tanpa berpikiran apapun Gazelle segera berjalan menuju kamar Calistha untuk bertemu dengan wanita itu. Namun, ketika ia akan melangkah masuk, gerakannnya seketika terhenti saat ia melihat ada banyak darah yang berceceran di atas lantai marmer yang putih itu. Lalu, di sudut ruangan ia dapat melihat tubuh raja Andrew dengan kepala yang sudah terlempar jauh dari tubuhnya tergolek dengan begitu mengerikan dan mengenaskan. Meskipun ia hendak memekik, tapi semua itu diurungkannya, apalagi setelah ia melihat Calistha dan Aiden sedang berciuman dengan begitu panas di atas sofa yang berada di tengah-tengah kamar wanita itu. Dengan marah Gazelle mengepalkan tangannya kuat-kuat. Meskipun ia tahu jika Calistha tidak menyukai Aiden, tapi wanita itu sekarang tampak begitu menikmati setiap lumatan yang diberikan oleh Aiden, bahkan wanita itu melakukannya tanpa pemberontakan sama sekali. Tiba-tiba hatinya merasa sakit dan remuk. Meskipun ia telah mengatakan pada semua orang jika ia sangat membenci Aiden dan ingin menghancurkan pria itu, tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih mencintai pria kejam itu. Ia masih memiliki rasa yang begitu dalam padanya. Tapi, sebesar apapun cintanya, itu tidak akan membuat Aiden menoleh ke arahnya, karena pria itu sudah terlanjur bertekuk lutut pada Calistha. Gazelle mengusap air matanya dengan kasar sambil berlari pergi dari kamar Calistha. Hari ini ia harus membunuh Calistha dan Aiden agar dendamnya dan juga sakit hatinya terbalaskan. Ia kemudian berjalan menuju kamar Max untuk membangunkan pria itu, karena ia harus tahu jika wanita yang dipujanya selama ini adalah pengkhianat! Pengkhianat sejati yang ingin merusak kehidupan mereka semua.

“Max, cepat bangunlah. Kita harus segera menghimpun pasukan.” Teriak Gazelle lantang sambil mengguncang-guncangkan bahu Max keras. Max yang merasa terusik langsung membuka matanya sambil menatap Gazelle dengan bingung.

“Ada apa? Apa sesuatu terjadi di luar sana?” Tanya Max dengan suara parau. Ia kemudian berdeham beberapa kali sambil merentangkan tangannya yang kaku sehabis tidur.

“Ya, kita harus segera mengumpulkan semua prajurit kerajaan Bibury dan semua anggota kaum pemberontak. Kita telah dikhianati Max. Calistha mengkhianati kita dengan berpura-pura terluka dan membenci Aiden, tapi nyatanya mereka saat ini sedang berciuman dengan begitu mesra di kamarnya, dan juga raja Andrew sekarang telah tewas. Pria itu mati dipenggal oleh Aiden, dan saat ini jasadnya masih berada di dalam kamar Calistha. Max, kita harus bergerak cepat, sebelum Calistha dan Aiden pergi meninggalkan kerajaan ini. Mereka harus mati.” Ucap Gazelle menggebu-gebu. Max tampak termenung di tempatnya sambil mencerna seluruh ucapan Gazelle. Baru saja wanita itu mengatakan jika Calistha telah mengkhianati mereka, tapi bagaimana mungkin? Ia sangat mengenal Calistha, dan wanita itu tidak mungkin setega itu pada mereka. Tapi, melihat Gazelle yang begitu menggebu-gebu dan marah seperti itu membuat Max tidak yakin dengan penilaiannya terhadap Calistha. Dan apapun dapat terjadi pada Calistha selama wanita itu berada di kerajaan Khronos, termasuk perasaan wanita itu pada Aiden.

“Apa kau yakin jika Calistha telah melakukan hal itu? Aku… merasa itu tidak benar. Aku sangat mengenal Calistha, dan selama ini ia tidak pernah mengkhianatiku sedikitpun. Mungkin saja kau salah menilai, mungkin saja sesuatu telah terjadi dan Aiden datang ke kerajaan ini.” Ucap Max mencoba menyangkal. Gazelle tampak geram di depannya dan setelah itu Gazelle langsung mencengkeram kerah kemeja Max sambil mengguncang-guncangkan tubuh pria itu keras. Sungguh ia begitu geram dengan sikap bodoh Max yang masih saja mempercayai Calistha setelah apa yang dilakukan wanita itu padanya. Meskipun apa yang dikatakannya belum tentu benar, tapi Max harus membenci Calistha, karena ia sangat membenci Calistha dan sangat ingin membunuh wanita itu.

“Sadarlah Max! Kau telah diperdaya oleh Calistha dengan sikapnya yang terlihat polos dan manis itu. Jika kau tidak mempercayaiku, kau bisa keluar dan melihat semuanya sendiri dengan mata kepalamu!” Teriak Gazelle gusar sambil terus mencengkeram kerah kemeja Max. Dengan kasar Max langsung melepaskan tangan lancang itu dari kerahnya dan segera menyuruh Gazelle untuk keluar dari kamarnya, karena ia akan bersiap. Dan sejujurnya ini adalah pilihan terberat dalam hidupnya, dimana ia harus memilih antara Calistha atau kaum pemberontak yang telah memberikannya perlindungan.

“Keluarlah, aku percaya padamu. Sekarang biarkan aku bersiap sebentar, dan aku akan menemuimu di aula. Kau kumpulkan semua prajurit terlebihdahulu.” Ucap Max dingin. Melihat Max yang telah masuk kedalam hasutannya, Gazelle langsung bersorak girang. Dengan langkah ringan ia segera berjalan menuju kediaman panglima perang kerajaan Bibury, karena hari ini ia harus mempersiapkan seluruh prajurit Bibury untuk peperangan yang pastinya akan sangat dahsyat hari ini, karena jika Aiden telah berada di kerajaan ini, sudah dapat dipastikan jika saat ini pasukannya pasti sedang menunggu di perbatasan kerajaan Bibury. Oleh karena itu, sebelum prajurit kerajaan Khronos masuk ke dalam kerajaan Bibury, ia sudah harus melenyapkan kedua manusia tak berguna itu dari dunia ini.

“Kalian akan segera mati di tanganku.” Gumam Gazelle penuh tekad dengan seringaiannya yang mengerikan.

-00-

Aiden melepaskan tautan bibirnya dari Calistha sambil memandang wajah cantik itu dalam. Setelah ia melampiaskan semua rasa marah dan sakitnya pada Calistha, kini hatinya menjadi tenang dan dingin kembali. Entah sihir apa yang digunakan oleh wanita itu  untuk mendinginkannya, yang jelas ia benar-benar memberikan sebuah ketenangan untuknya.

“Apa kau puas?” Sembur Calistha sinis sambil mengusap bibirnya yang sedikit bengkak. Aiden kemudian membantu Calistha mengusap bibir wanita itu dengan tangannya, namun hal itu justru membuat jantung Calistha kembali beredetak kencang dan gugup.

“Sepertinya kau gugup.” Ucap Aiden santai. Mendengar hal itu Calistha semakin menundukan kepalanya dalam, ia merasa malu untuk menatap wajah Aiden dengan wajahnya yang pasti akan terlihat bodoh di depan pria itu. Lalu, Aiden menarik dagunya untuk mendongak, dan sebelum Aiden melepaskan Calistha dari pangkuannya, pria itu menyempatkan diri untuk mencium bibir bengkak itu sekilas sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.

“Sebenarnya aku sama sekali belum puas, tapi kita harus segera keluar dari sini karena kita sedang kedatangan tamu di luar.” Bisik Aiden sensual. Sungguh rasanya Calistha ingin mencakar wajah menyebalkan itu dengan kuku-kukunya yang tajam. Berani-beraninya pria itu menggodanya dengan tatapan genit yang menjijikan seperti itu. Awas saja, setelah ini ia pasti akan membalas pria itu dengan pembalasan yang lebih keji.

“Berhentilah untuk mengumpatiku. Ambil ini.”

Aiden memberikan pedang emasnya pada Calistha yang langsung dibalas wanita itu dengan tatapan bingung.

“Ini untuk apa?”

“Kau bisa menggunakan pedang bukan?” Tanya Aiden lagi. Calistha sudah bersiap untuk meneriaki pria itu dengan kata-kata kasarnya, sebelum Aiden membungkam bibirnya dengan kata-katanya yang tegas.

“Kita akan berperang dengan prajurit kerajaan Bibury dan kaum pemberontak.”

“Apa? Tidak tidak, kau pasti sedang bercanda. Mengapa kau justru mengambil keputusan sepihak seperti ini? Apakah belum cukup kau membunuh raja Andrew? Walaupun raja Andrew memang pantas untuk dibunuh, tapi kau jangan melibatkan nyawa-nyawa lain yang tidak bersalah. Bagaimana dengan penduduk kerajaan Bibury yang selama ini hidup tenang? Mereka pasti akan sangat sedih dengan peperangan ini.” Ucap Calistha marah. Aiden tampak tak peduli dengan teriakan Calistha. Ia lebih memilih untuk mempersiapkan dirinya pada kemungkinan yang paling buruk yang akan dihadapainya nanti. Ia kemudian mengangkat sedikit jubah kebesarannya untuk mengambil sebuah belati yang ia sembunyikan di balik jubah yang ia kenakan. Sebagai seorang raja, ia harus selalu siap dengan menyiapkan senjata tambahan untuk melawan musuh-musuhnya di medan perang.

“Ayo.” Ajak Aiden dengan suara datar. Calistha menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan tampak bergeming di tempatnya. Ia sama sekali tidak mau pergi bersama Aiden jika pada akhirnya pria itu hanya mengajaknya untuk menumpahkan darah di luar sana. Lebih baik ia tinggal di kerajaan ini asalkan ia tidak perlu mengangkat senjata untuk melenyapkan nyawa-nyawa yang tidak bersalah itu.

“Calistha, jangan coba-coba untuk membantah jika kau tidak tahu apa yang sedang terjadi.” Geram Aiden gusar. Namun, Calistha tampak tidak peduli. Ia justru berjalan menuju kursi panjang di tengah-tengah ruangan dan berbaring di sana layaknya seorang putri yang angkuh.

“Aku tidak akan pergi denganmu.”

“Kuperintahkan kau untuk berdiri sekarang atau kau akan menyesalinya Calistha.” Geram Aiden dengan suara penuh penekanan. Dan saat Calistha sedang mengayun-ayunkan pedang itu dengan santai, sekelompok orang masuk ke dalam kamarnya dengan membawa berbagai macam senjata. Orang-orang itu yang merupakan anggota kaum pemberontak langsung menyerang Aiden dengan membabi buta hingga Aiden sedikit kewalahan. Sedangkan Calistha yang awalnya merasa terkejut, langsung melompat turun dari atas kursi itu untuk membantu Aiden. Sebisa mungkin wanita itu mencoba mengajak kaum pemberontak itu untuk berdiskusi, tapi mereka justru mengayunkan pedangnya ke arah Calistha dan berhasil mengenai pundak Calistha hingga pundak itu meneteskan darah segar berwarna merah pekat.

“Ahh, apa yang kalian lakukan? Bukankah kita berada di pihak yang sama?” Tanya Calistha dengan rintihan tertahan. Aiden yang mengetahui Calistha sedang terluka, langsung mengarahkan serangannya pada kaum pemberontak itu hingga si penyerang jatuh berlutut di hadapannya karena Aiden berhasil menebas kaki kaum pemberontak itu hingga terluka cukup parah.

“Kau bukan bagian dari kami lagi, kau adalah pengkhianat!” Maki pria itu tanpa gentar. Merasa geram, Aiden kemudian langsung menebas kepala pria itu dengan pedangnya yang ia rebut dari tangan Calistha. Setelah para penyerang itu mati, Calistha hanya mampu terpaku di tempatnya dengan perasaan kacau. Sekarang ia benar-benar sendiri. Tak ada lagi yang akan mendukungnya ataupun melindunginya. Semua orang-orang itu telah berbalik membencinya. Mereka semua tidak menyukainya lagi!

“Sudahlah, sekarang bukan saatnya untuk meratapi nasib. Kita harus keluar dari kerajaan ini dan kembali ke Khronos. Ini, gunakan pedangku untuk melindungimu, karena aku pasti tidak akan bisa melindungimu di sana.” Ucap Aiden tegas. Calistha kemudian mendongakan wajahnya ke arah Aiden sambil menahan tetesan air matanya yang hampir jatuh.

“Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membunuh mereka? Aku tidak yakin apakah aku bisa melakukannya. Mereka pernah menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak bisa melakukannya.” Ucap Calistha terisak-isak sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Melihat itu, Aiden hanya mampu menghembuskan napasnya pelan sambil menarik Calistha ke dalam pelukannya. Saat ini di luar sana sedang terjadi pertempuran, dan seharusnya ia berada di barisan terdepan untuk memimpin seluruh prajuritnya, tapi ia tiak bisa meninggalkan Calistha dalam keadaan seperti ini.

“Wanita memang makhluk yang sangat membingungkan.” Batin Aiden gusar.

Setelah Calistha tenang, Aiden mulai mencoba membujuk Calistha agar wanita itu tidak terus menerus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Meskipun ia sama sekali belum pernah membujuk seorang wanita, tapi kali ini ia akan melakukannya demi Calistha. Demi ratunya, demi pendamping hidupnya.

“Tenanglah, semua ini bukan salahmu. Kau hanyalah korban dari kelicikan seorang iblis yang begitu jahat di luar sana. Jadi, sekarang kau harus menemukan iblis itu dan membalaskan dendammu padanya karena ia telah merusak nama baikmu. Ia telah menyebarkan berita buruk tentangmu dan menyebabkan peperangan ini terjadi.”

“Siapa?”

“Aku tidak bisa memberitahukannya padamu. Kau harus menemukannya sendiri diantara para prajurit yang sedang berperang. Tapi, tanpa kau mencarinya pun, ia pasti akan datang padamu dengan sendirinya untuk membunuhmu.”

“Baiklah, mari kita mencari iblis itu.”

Kali ini usaha Aiden untuk membujuk Calistha berhasil. Dengan mata yang berkilat-kilat marah, Calistha segera berdiri dari duduknya sambil mengacungkan pedang itu ke depan. Ia tampak sudah siap untuk berperang hari ini.

“Ingat, kau tidak boleh pergi ke mana-mana dan tetap berada di belakangku. Aku akan mencarikan jalan keluar yang aman untuk keluar dari kerajaan ini.”

Calistha mengangguk paham dan segera berjalan keluar dengan langkah mantap. Saat mereka berada di lorong yang menghubungkan dengan aula, suasana di sana sudah tampak kacau balau. Beberapa mayat prajurit Bibury sudah bergelimpangan di atas lantai marmer dengan darah mereka yang masih mengucur dengan deras dari dada maupun kepala. Calistha kemudian menghela napasnya sekali lagi untuk menguatkan dirinya.

“Tuhan, apapun yang terjadi, tolong lindungilah orang-orang yang kusayangi.” Batin Calistha pelan sambil melirik pada tubuh tegap Aiden dengan perasaan ragu.

-00-

Di halaman istana, para prajurit Khronos sedang bertempur melawan pasukan kerajaan Bibury dan para kaum pemberontak yang ternyata jumlah mereka cukup banyak. Di barisan terdepan, Gazelle tampak begitu gigih untuk menumbangkan satu persatu prajurit Khronos yang hendak melawannya. Dengan menggunakan topeng, Gazelle berhasil menipu para musuhnya yang sama sekali tidak mengetahui jati dirinya.

Sring

Gesekan pedang milik Gazelle dengan salah satu prajurit kerajaan Khronos terdengar begitu nyaring di tengah-tengah kekacauan yang terjadi di kerajaan Bibury. Gazelle kemudian menendang prajurit itu sambil mengarahkan pedangnya pada wajah sang musuh. Namun, dengan sigap prajurit itu berhasil menghindar dan langsung menebaskan pedangnya pada tangan Gazelle, namun Gazelle berhasil menangkisnya dengan tameng yang berada di tangan kirinya.

“Sudah cukup main-mainnya, aku akan segera membunuhmu.” Teriak Gazelle marah. Wanita itu lalu mengerahkan segala tenaganya untuk mencari titik lemah prajurit itu, dan saat prajurit itu benar-benar lengah, Gazelle berhasil menusuk dada prajurit itu dengan pedangnya hingga pedang itu menembus ke belakang.

“Huh, dasar lemah!” Maki Gazelle dengan wajah sombong. Gazelle kemudian menyapukan pandangannya pada seluruh halaman istana yang telah berubah menjadi lautan darah dan manusia. Dari kejauhan ia dapat melihat Max sedang bertarung melawan panglima Heren. Melihat hal itu, Gazelle merasa merindukan masa lalunya. Dulu ia dan panglima Heren adalah sahabat dekat. Tapi, sayangnya semua itu telah berubah. Mereka kini adalah musuh, oleh karen itu ia tidak boleh terlarut dengan masa lalunya dan segera mencari Calistha. Karena ia yakin jika wanita itu masih berada di dalam kerajaan Bibury. Tak berapa lama, ekor matanya menangkap bayangan Calistha yang sedang melawan seorang prajurit dengan sebuah pedang emas yang ia yakini adalah milik Aiden. Dan benar saja, tak jauh dari Calistha, Aiden sedang membantai semua musuhnya sambil tetap melindungi Calistha. Dengan licik Gazelle mulai berlari mendekati Calistha untuk membunuh wanita itu. Tapi, baru beberapa langkah ia berjalan, seorang pria yang merupakan musuh terbesarnya tiba-tiba datang sambil menghunuskan pedang ke arahnya. Dengan marah Gazelle langsung menangkis pedang itu dari hadapannya karena ia tidak memiliki banyak waktu lagi untuk sekedar bermain-main dengan pria itu. Karena setelah ini Aiden pasti akan langsung mengamankan Calistha ketika posisi mereka tidak terjepit seperti itu.

“Minggir Spencer, kau bukan targetku.” Ucap Gazelle dingin. Spencer segera turun dari kudanya sambil tetap menghunuskan pedangnya penuh perhitungan pada Gazelle.

“Menyerahlah, jika kau berani melukai ratu, maka Yang Mulia Aiden tidak akan segan-segan untuk membunuhmu.” Ucap Spencer mencoba memperingatkan. Namun, Gazelle tampak tidak peduli dan justru menyerang Spencer ketika pria itu lengah. Kini pipi sebelah kiri Spencer tampak mengucurkan darah segar akibat tebasan pedang Gazelle yang tak berhasil dihindarinya.

“Kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu itu? Aku sama sekali tidak takut Spencer. Justru aku ingin menunjukan diriku di hadapan Aiden dan membuatnya mengingat semua kesalahannya padaku. Sekarang pergilah. Atau jika kau tetap bersikeras untuk menghalangi jalanku, maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu.”

“Aku tidak akan pergi kemanapun Gazelle, aku akan melindungi ratu Calistha dari wanita picik sepertimu.”

Sring

Kedua pedang Gazelle dan Spencer saling beradu dengans sengit, menciptakan sebuah gesekan yang begitu memekakan telinga. Gazelle kemudian mulai menyerang Spencer dengan mengarahkan pedangnya pada dada kiri Spencer, namun sebelum Gazelle berhasil menusukan pedangnya pada jantungnya, Spencer langsung menangkis pedang itu dan memberikan serangan pada Gazelle dengan menendang perut wanita itu.

“Uhuk uhuk.”

Gazelle terbatuk-batuk beberapa kali ketika ia merasakan perutnya terasa sesak dan bergejolak. Tapi, ia segera membalas serangan yang diberikan oleh Spencer dengan menebaskan pedangnya pada lengan kiri Spencer, namun lagi-lagi pria itu berhasil menghindar, membuat Gazelle semakin geram dan membenci pria itu.

“Lebih baik kau mundur dan hentikan semua peperangan ini agar rakyat Bibury tidak semakin menderita.”

“Huh, sampai kapanpun aku tidak akan mundur, karena aku bukan pengecut sepertimu.”

Gazelle kembali menyerang Spencer dengan mengarahkan pedangnya pada kaki Spencer. Lalu dengan tamenya, Gazelle mencoba menghimpit tubuh Spencer dan menohok perutnya kuat-kuat hingga pria itu terdorong mundur, jatuh di atas tanah. Gazelle tampak menyeringai puas di hadapan Spencer, dan dengan sekali tebasan, Gazelle berhasil melukai kaki kiri Spencer hingga pria itu tidak mampu untuk berdiri atau berjalan.

“Kali ini aku tidak akan membunuhmu, tapi lain kali mungkin aku akan membunuhmu. Sampai jumpa Spencer.” Ucap Gazelle mengejek sambil berjalan pergi meninggalkan Spencer yang tampak marah dengan dirinya sendiri. Seharusnya saat ia memiliki kesempatan ia langsung menghabisi Gazelle agar wanita itu tidak bisa mendekati Calistha. Tapi, jauh di dalam lubuk hatinya, Spencer merasa tidak tega dan menaruh rasa simpatik pada wanita itu, sehingga ia menjadi lemah dan berhasil dikalahkan oleh wanita itu dengan mudah. Kini ia hanya berharap, semoga rajanya berhasil melindungi Calistha dari Gazelle dan anak buahnya, karena saat ini Gazelle sudah semakin dekat dengan posisi Calistha yang tampak kewalahan untuk membalas serangan demi serangan yang diarahkan prajurit kerajaan Bibury padanya. Dan jika Calistha sedikit saja lengah, maka Gazelle sudah siap dengan pedang yang akan mengunus jantung wanita itu.

-00-

Sring

Trang

Bruk

Berkali-kali Calistha mencoba melawan serangan demi serangan prajurit Bibury kepadanya. Sementara itu tak jauh darinya, Aiden juga tampak begitu sibuk untuk menumbangkan lawan-lawannya. Sebagai seorang raja, ia selalu dijadikan target nomor satu oleh para musuhnya, sehingga banyak sekali prajurit kerajaan Bibury yang sedang mencoba untuk membunuhnya.

Srak

Pedang perak milik salah satu parajurit kerajaan Bibury berhasil ditangkis Calistha hingga pedang itu jatuh ke atas tanah. Sang prajurit yang merasa tidak terima, lantas maju ke depan dengan wajah ponggah sambil mencoba untuk mengarahkan pukulan dan tendangan pada wajah Calistha. Tapi, secepat kilat Calistha berhasil menghindarinya dan membalas pria itu dengan pukulan yang cukup keras di wajah pria itu.

“Dasar jalang pengkhianat, aku pasti akan membunuhmu karena kau telah membunuh raja kami.”

Tanpa terpengaruh dengan ucapan prajurit itu, Calistha segera maju ke depan untuk menyerang pria itu. Ternyata Aiden benar, mereka sekarang tidak lagi berada di pihaknya, maka ia boleh membunuh mereka semua satu persatu jika mereka juga menghinanya dan juga menyerangnya.

“Aku bukan jalanga seperti yang kau tuduhkan. Kupastikan setelah ini kau akan membayar semuanya dengan membusuk di neraka.”

Dengan marah Calistha mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke arah prajurit itu, dan dalam sekalin tebasan, Calistha berhasil melukai dada depan pria itu hingga terluka cukup parah. Tapi, meskipun dalam keadaan yang cukup kepayahan, prajurit itu masih mencoba untuk menyerang Calistha dengan tangan kanannya yang bebas. Tapi, karena kondisinya yang tak memungkinkan, Calistha berhasil menusukan pedangnya pada perut pria itu, hingga akhirnya pria itu mati tak berdaya di atas tanah.

“Itulah akibatnya jika kau mengejekku.” Geram Calistha marah sambil menginjak tubuh pria itu sadis. Lalu Calistha mulai berjalan lagi untuk mencari Aiden. Tapi, sayangnya pria itu masih disibukan dengan berbagai macam musuh yang tengah mengepungnya. Ia kemudian bergerak mendekat ke arah Aiden sambil bersiap untuk menebas seorang pria yang berdiri membelakanginya.

Srak

Dalam sekali tebasan, Calistha berhasil memenggal kepala pria itu dan membuat tubuh tak berdaya itu jatuh terkulai di atas tanah. Namun, betapa terkejutnya Calistha setelah ia mengetahui jika pria yang baru saja dibunuhnya adalah Max.

“Max!” Teriak Calistha histeris di depan mayat Max yang tampak mengenaskan. Sungguh ia sama sekali tidak tahu jika pria itu adalah Max. Calistha kemudian menangis meraung-raung di depan tubuh kaku Max sambil memeluk tubuh pria itu tanpa mempedulikan orang-orang jahat disekitarnya yang sedang berusaha untuk membunuhnya.

Aiden menoleh sekilas pada Calistha yang sedang menangis meraung-raung di depan tubuh Max. Pria itu dengan konsentrasi yang sudah terbagi mulai mendekati Calistah sambil menangkis setiap serangan yang diarahkan ke arahnya atau ke arah Calistha. Lalu saat tubuhnya sudah berada di samping Calistha, pria itu segera menyambar tangan Calistha dengan kasar agar wanita itu tidak terus menerus menangisi jasad Max karena musuh-musuhnya sedang mengincar mereka saat ini.

“Hapus air mata bodohmu itu dan angkat pedangmu, mereka sedang mengincarmu.” Marah Aiden pada Calistha. Namun, Calistha sama sekali tidak peduli dan hanya menatap kosong pada Aiden.

“Aku telah membunuh Max.” Racau Calistha berkali-kali seperti sebuah kaset rusak. Dengan gusar Aiden mencoba menyadarkan Calistha dengan mengguncang-guncangkan tubuh wanita itu. Dan tanpa mereka sadari, Gazelle sudah berada tepat di sebelah Calisha dengan pedang yang sudah terayun, hampir menebas kepala Calistha, namun Aiden berhasil menarik Calistha ke dalam pelukannya sehingga pedang itu tidak mengenai Calistha dan justru mengenai punggungnya.

Darah segar merembes keluar membasahi jubah kebesaran yang dikenakan oleh Aiden, tapi pria itu sama sekali tidak peduli dan justru menatap tajam pada si penyerengnya yang bersembunyi di balik topeng hitam yang dikenakannya.

“Aiden, punggungmu terluka.” Jerit Calistha histeris. Tapi Aiden seolah-olah tuli, dan langsung menyembunyikan Calistha di balik punggungmu.

“Berani-beraninya kau menyerang ratuku. Kupastikan kau akan mati di tanganku.” Geram Aiden marah. Calistha dengan sigap memungut pedangnya yang tergletak di atas tanah. Ia kemudian mencoba untuk membalas serangan si penyerangnya, tapi ia gagal dan pedangnya justru terjatuh kembali di tanah dengan mudah.

“Berlindung di belakangku dan tetap waspada.”

Trang

Aiden mengarahkan pedangnya pada leher Gazelle, namun Gazelle berhasil menangkisnya. Lalu dengan sigap Aiden mulai memberikan serangan pada kaki Gazelle. Kali ini serangan Aiden tepat mengenai kaki Gazelle hinga wanita itu hampir saja terjatuh karena kehilangan keseimbangan, tapi ia berhasil menopang tubuhnya dengan pedang perak yang ia bawa.

“Buka topengmu dan tunjukan jati dirimu padaku.” Ucap Aiden lantang. Tapi Gazelle sama sekali tidak mau melakukan hal itu dan justru menyerang Aiden dengan gerakannya yang mulai kepayahan karena kaki kanannya terluka. Melihat musuhnya terluka, Aiden langsung menggunakan kesempatan itu untuk menyerang musuhnya dengan mengarahkan pedangnya pada topeng yang dikenakan oleh si penyerang karena orang itu terlihat begitu mencurigakan menurutnya.

Trak

Aiden berhasil menangkis serangan yang diarahkan pada pinggang sebelah kirinya. Dan dalam sekejap ia langsung mengetahui siapa sosok si penyerang itu sebenarnya.

“Gazelle, hentikan semua ini.” Ucap Aiden lantang, dan bersamaan dengan itu topeng yang dikenakan oleh Gazelle berhasil dihancurkan oleh Aiden dan membuat rambut kecoklatan milik Gazelle tampak berhamburan karena tertiup angin.

“Gazelle, apa kau baik-baik saja? Aiden hentikan, jangan lakukan.”

Dengan gegabah Calistha justru berlari ke arah Gazelle sambil merentangkan tangannya untuk melindungi Gazelle dari serangan Aiden. Dan hal itu langsung dimanfaatkan Gazelle untuk menusuk tubuh Calistha dari belakang.

Jleb

“Argh!”

Calistha menoleh terkejut ketika ia mendengar suara erangan yang cukup keras di belakangnya. Dan saat ia berbalik, ternyata Gazelle sudah terlihat tak berdaya karena Spencer berhasil menusuk tangan kanan wanita itu dengan pedangnya.

“Spencer, kita hentikan peperangan ini. Umumkan pada seluruh prajurit kita dan prajurit Bibury yang tersisa.” Perintah Aiden tegas. Pria itu tampak menatap datar pada Gazelle yang sedang merintih kesakitan di atas tanah. Tanpa mempedulikan wanita itu, Aiden kemudian langsung membawa Calistha pergi dengan kuda hitam yang secara kebetulan sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Calistha… Aku… akan membunuhmu. Dan kau, Aiden, kau harus membayar semua perbuatanmu padaku di masa lalu.” Ucap Gazelle keras sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya yang terluka. Namun, Aiden lebih memilih untuk menulikan pendengarannya dan segera bergegas pergi meninggalkan kerajaan Bibury yang kacau balau.

“Gazelle.” Gumam Calistha parau dengan mata berair. Sedangkan Aiden yang berada di belakangnya hanya mampu menatap datar pada Calistha sambil memacu laju kudanya dengan kencang. Punggung dan lengannya terasa begitu sakit sekarang. Ia harus segera tiba di kerajaanya agar tabib istana dapat mengobati lukanya yang cukup parah itu.

“Aaiden,  apa yang harus kulakukan? Aku telah membunuh banyak nyawa yang tak berdosa.” Lirih Calistha dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya dengan deras. Saat mereka melintasi pedesaan Bibury, Calistha dapat melihat banyak anak kecil dan ibu-ibu yang menangis karena ayah atau suami mereka meninggal. Belum lagi kondisi rumah-rumah mereka yang turut hancur karena serangan prajurit Khronos dan Bibury. Dalam hati Calistha terus mengutuk dirinya sendiri. Ia merasa dirinya tidak pantas untuk hidup setelah ini. Seharunya Aiden tidak menyelamatkannya dan membiarkannya mati di tangan Gazelle. Sekarang rasanya hidup pun tidak ada gunanya. Lebih baik ia mati daripada harus hidup dengan menanggung penyesalan yang begitu besar di hatinya.

“Bukankah ini ini yang kau inginkan? Lalu untuk apa kau menyesalinya?”

“Aku tidak menginkan semua ini! Aku hanya ingin pergi darimu. Aku tidak ingin membunuh mereka.” Teriak Calistha marah. Sungguh ia sangat membenci sikap Aiden yang seakan-akan sedang menyalahkannya, padahal pria itu juga turut andil dalam masalah ini. Jika pria itu tidak terus mengusik hidupnya, maka kekacauan ini tidak akan pernah terjadi.

“Ibu… ayah.. kumohon bangunlah.” Jerit seorang gadis kecil pada kedua orangtuanya yang telah mati saat kuda mereka melewati sebuah rumah yang keadaannya sudah sangat mengenaskan. Rumah itu hancur karena prajurit Khronos dan Bibury yang saling menumpahkan darah tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Melihat gadis kecil itu, hati Calistha terasa perih dan teriris-iris.

“Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan? Aku telah membunuh banyak nyawa yang tak berdosa.”

“Aiden, bunuh aku.” Ucap Calistha datar dengan mata sembab. Aiden hanya mengacuhkan begitu saja ucapan Calistha yang menurutnya tidak sungguh-sungguh itu, karena saat ini Calistha hanya sedang frustasi sehingga ia dengan begitu mudahnya dapat mengucapkan hal itu. Tapi, sikap diam Aiden itu justru membuat Calistha semakin marah dan membenci pria itu. Dengan kasar, Calistha langsung menyentak tangan Aiden begitu saja dari tali kekang kuda, dan setelah itu mereka langsung jatuh terguling di atas tanah karena kuda yang mereka naiki terkejut dan melompat serampangan ke sana kemari hingga menyebabkan mereka terjatuh dengan sangat keras. Aiden yang terjatuh dengan punggung yang menghantam tanah langsung mengerang keras sambil memejamkan matanya untuk menahan setiap rasa sakit yang menggerogoti punggungnya. Ia rasa saat ini salah satu tulang punggungnya patah karena mereka berdua jatuh dengan sangat keras. Sedangkan Calistha yang terjatuh tak jauh darinya hanya mampu terdiam di atas tanah tanpa bergerak sedikitpun. Menurutnya rasa sakit yang mendera tubuhnya sama sekali tak sebanding dengan rasa sakit yang terus menjalar di hatinya. Bahkan sekarang ia justru merasa kecewa karena ia sama sekali tidak mati saat kuda itu melempar mereka dari atas pelana. Padahal ia sangat berharap untuk mati saat ini juga.

“Apa kau puas, hah? Apa kau puas karena telah membuat orang-orang yang berada di sekitarmu menderita?” Teriak Aiden marah. Pria itu kini mencoba untuk bangkit berdiri di tengah rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya. Namun, Calistha hanya bergeming di tempatnya tanpa berniat untuk membalas ucapan Aiden.

“Bangun! Apa kau pikir dengan kematianmu semuanya akan kembali membaik? Apa kau pikir orang-orang itu akan hidup kembali setelah kau mati? Dasar bodoh! Kau justru semakin melukai orang-orang yang berada di sekitarmu, termasuk aku. Apa kau tidak melihat luka sayatan yang menganga disepanjang punggungku? Jika kau menyesal, seharusnya kau tidak mengulang lagi kesalahanmu dengan menyakiti orang-orang disekitarmu!” Bentak Aiden marah. Tanpa diduga, Calistha langsung bangkit sambil memeluk leher Aiden kuat-kuat, membuat pria itu langsung tertegun dan membeku di tempat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini karena selama ini Calistha tidak pernah memeluknya dalam keadaan kacau seperti ini. Jujur, ia lebih menyukai Calistha yang berapi-api daripada Calistha yang rapuh dan lemah seperti ini.

“Aiden, maafkan aku. Aaaku, aku menyesal. Tolong maafkan aku karena aku telah melukaimu.” Ucap Calistha tersenggal-senggal. Dengan kaku, Aiden mulai mengangkat kedua tangannya untuk mengelus punggung Calistha. Saat ini wanita itu sedang rapuh, maka ia harus memberikan kenyamana pada wanita itu agar ia tidak semakin pecah berkeping-keping seperti sebuah keramik. Tapi, perilaku wanita itu beberapa saat yang lalu benar-benar membuatnya sangat marah sehingga ia tanpa sadar membentak wanita itu dan memakinya dengan kata-kata kasar. Ah, betapa ia menyesali perbuatannya itu.

“Lupakan saja, aku tidak apa-apa. Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Hanya satu hal yang perlu kau ingat, jangan pernah melakukan tindakan nekat lagi jika kau tidak memiliki rencana yang matang, karena semua itu akan berakhir sia-sia seperti ini.”

Calistha mengangguk-angguk di pundak Aiden sambil terus menangis. Setelah ini ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidupnya, karena ia sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini. Satu-satunya keluarga yang ia miliki justru ia bunuh dengan tangannya sendiri, lalu Gazelle mengkhianatinya, serta Tiffanya yang masih mendekam di dalam penjara. Apakah setelah ini ia harus tunduk di bawah kuasa pria arogan yang saat ini sedang memeluknya? Tapi, apakah hatinya siap untuk menerima Aiden sebagai takdirnya? Berbagai macam pertanyaan terus berputar-putar di dalam kepalanya, dan membuatnya semakin lelah untuk menjalani kehidupannya yang rumit ini. Tapi, sebuah suara yang begitu merdu berhasil menenangkannya dari berbagai macam kekalutan yang bergelayut di dalam hatinya.

“Tinggalah di sisiku, dan aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa dan ragaku.”

29 thoughts on “Queen Of Time: Haste Makes Waste

  1. Gazelle benar-benar bikin emosi 😈
    Chalista semoga ga keras kepala lagi… kasian Aiden… 😂 next chapter ditunggu… jangan lama-lama ya author 😆😆, penasaran banget sama kelanjutannya #maksa

  2. Akhir nya update jga aduh calista kras kpala sih untung dia gk knp” ada aiden yg melindungi coba ajja Q hrap calista bsa menerima aiden perlahan” gazelle mati semoga ajja dia bnr”jhat ..dan untung aiden dateng tepat waktu sBlum andrew memperkosa calista ..
    Ihhh geregetan ama calista skrng yg dia pnya hanya aiden ..next thor😉

  3. Uwalah gazela mati kah? Aku harap iya. Max kasihan juga sih mati tapi gapapa dah dari pada jadi pengganggu yoonhae nantinya. Semoga calista cepat sadar sama perasaan nya ke aiden. Next nya kalau bisa besok chingu hehehehe

  4. Nah loh..ga pernah nebak kalau Max bakal mati secepet itu. Jadi nanti pengganggunya Gazelle? Damn, that girl. NEXT!!! JANGAN LAMA, EON. Katanya mau bahagiain readers…huehehehe 😘

  5. Waaah…untunglah Aiden berhasil menolong Calistha..,Aiden bahkan berhasil memenggal kepala raja Andrew.Hmmm…ciuman Aiden memang sungguh memabukkan,bukankah Calistha menikmatinya,dan ternyata kejadian itu disaksikan Gazelle yg kmudian berhasil menghasut Max dan prajurit Birbury serta pemberontak untuk mmbunuh Calistha demi ambisinya mmbalas dendam terhadap Aiden.Ya ampun justru Calistha yg menebas leher dan mmbunuh Max.Kasihan Calistha,ia pasti menyesal orang yg disayanginya justru mati ditangannya.Sepertinya diakhir Calistha mulai luluh pada Aiden setelah menyaksikan akibat dari peperangan Birbury dan Khronos.Semoga saja Calistha segera bersedia menikah dengan Aiden.Ditunggu kelanjutannya…..

  6. Menegangkan!! Sumpah!! Aiden bener2 buktiin sbrapa bsar cinta dia ma calista meski calista masih gitu aja sikapnya… Gazelle bner2 perusak!! Knpa nggak sklian aja gazelle dibunuh saat itu,, gazelle blm mti kan?? Akhh pasti dia msih mau blas dendam… Akkkhh sikap calista bkin jngkel :v Diantara adegan(?)2 yg menegangkan terselip moment manis :v Ayoolaaah calista percaya ma aiden,, liat2 kan mereka smua mlh berkhianat ma kamu :v Aiden bisa baca pikiran calistakan ??

    Next kakak cants 😉 :v Fighting!!

  7. ceritanya makin seru, semoga calista cepat menyadari perasaannya sama aiden, semoga aiden dan calista bisa hidup bahagia next

  8. sampai kapan chalista bersikap seperti itu, kasian ngeliat aiden kesakitan dan chalista tetap egois..
    max udah terbunuh, tinggal gazelle wanita iblis.. semoga setelah ini aiden dan chalista menikah dan kutukan itu cepet hilang

  9. Akhirnya calistha mengetahui pengkhianat itu, ehh itu gazelle mati apa bukan ya? Takut nx spencer msh membantu nx karna menyukai nx dan balas dendam lgi dkmdn hari. Smga ja calistha benar2 bisa menerima aiden dan mw jadi pendamping nx… itu luka nx aiden gimana punggung nx, smga baim2 aja. Udah gak sabar liat kerajaan khronos damai dan liat moment yh yg sweet. Next!!!

  10. Ahh akhirnya masih banget walaupun sayang keburu tbc..
    cepet di next un berharap next nya nanti jangan ada bunuh”an dlu dan biarin full YoonHae moment dlu..

    Akhirnya Calista sendiri yg bunuh Max tapi kenapa Aiden gak sekalian juga bunuh Gazelle, kalau dia di biarin tetep hidup kayanya dia bakal terus bales dendam atau mungkin bisa sekokongkol lagi sama Tiffany buat bunuh Calista.. tapi btw lumayan seneng karna Calista udah mulai sedikit lunak sikapnya sama Aiden semoga next chap nya mereka makin akur ^^

  11. akhirnya chalista tau kalo temen yang dia anggap baik itu penghianat. Dan semoga aja chalista dapat menerima aiden sebagai calon suaminya..

  12. Wuihh Calistha juga jago dlm perang yah.. sudah nebas2 kepala lagi. Keren
    Smoga hati dia juga cpet terbuka buat Aiden. Kasihan Aiden dia juga psti terluka, tp gk tau bagaimana cara bersikap lembut dan menghadapi Calistha

  13. waaah akhirnya lanjut jugaak 😍 agak sebel liat chalista disini. uda ditlng tapi gengsi amat blngnya. dan jugaaa pedulii amat ama tuh 2 orang. aiden sebenarnya pasti sabar bangt hadapi chalista. apalagi waktu chalista nampar aidenn. sebeeel banget. giliran aja aiden nyium dia . dia gk bisa berkutik malahan membalas ciuman aiden. authornim pliss buat chalista mengakui sama aiden . kalau dia mencintai aiden. jenuuh banget sama sifat chalista disini. membangkang teruuus 😂😂 wiih dan juga gk nyangka max akan cepat mati apalagi yg bunuh chalista. kenapa si gazelle gk ikut terbunuh aja.. sebel. dia masih aja hidup. pasti setelah ini dia buat rencana yg lebih keji lagi untuk menghancurkan aiden chalista. 😧😧 dan juga discene terakhir chalista tiba2 meluk aiden?? apa dia akan nerima aiden sebagai takdirnya?? berharap part selanjutnya chalista aiden uda lovey-doveyy and mesra gitu 😁😁 soalnya uda sampe part ini belum ada moment aiden chalista yg sosweet gitu. 😢😢 huuhuh karna chalista gengsinya tinggi and membangkang amat. authornim cepat lanjut

  14. huwwaaa akhirnya di post…udah pingin baca banget dan bolak balik cek dari yg terakhir akhirnya dipost juga…tambah seru, pertemuan donghae dengan aiden ga sia sia smoga yoona mau tinggal smaa aiden dan semoga masih banyak kejutan kejutan lainnya…buruan di post ya thor…bagus banget….god job thor

  15. Kata2 aiden yang terakhir ituloh so sweet banget dan buat aku meleleh
    Omg kenapa aku yang berbunga2
    Semoga setelah ini calista sifat dan kelakuannya akan berubah…
    Dan semoga adegan sweet2 an nya lebih banyak #maunya
    Ditunggu kelanjutannya thor………….
    Semangat 45 ya…….

  16. Untunglaa aiden berhasil nyelamatin calistha
    Kesal bgt sm gazelle, dy ga sadar diri bgt
    Kenapa max cepat bgt matinya? Apa ntar gazelle bakal ngasih tau ibu max, dan kembali balas dendam, trs sekongkol sm tiffany?

    Semoga aja calistha ga kerja kepala, dan percaya sm aiden
    Ditunggu kelanjutannya

  17. Gazelle ternyata gak mau nyerah dia masih mau ngebunuh Calistha sama Aiden
    Kira kira Calistha mau gak ya menerima Aiden ???

  18. mkin seru dan menegangkan ,,,,calista selalu ska teriak2 pd aiden,,
    pi klu dah kena kiss dri aiden lgsung dech ,,,,,,
    heeeeemmnn pd akhirnya pra pemberontak itu mati,,,
    apa jgn2 tiffany jg jhat yawww,,,,

    ayo donk calista mau sama aiden ,,,,aduch dia rela punggungnya terluka,,,,meskipun dia tau calista g bkl nurut ????

  19. Hallo saya reader baru ijin baca ff nya thor dari awal dan menjelajahi blognya hehe
    akan tinggalkan jejak kok 🙂

  20. Definitely believe that which you said. Your favorite justification seemed to be on the web
    the easiest thing to be aware of. I say to you, I definitely get irked while people consider worries
    that they plainly do not know about. You managed to hit the nail upon the top and defined out the
    whole thing without having side effect , people could take a signal.
    Will probably be back to get more. Thanks

  21. each time i used to read smaller articles which as well clear their motive, and that is also happening
    with this paragraph which I am reading here.

  22. I don’t even know how I finished up right here, but I assumed this post used
    to be great. I don’t understand who you are but certainly you’re going to a
    famous blogger if you are not already. Cheers!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.