The Whisper (Oneshoot)

“Oppa, aku takut sendirian. Kau mau menemaniku?” Tanya gadis itu pada udara kosong.

“Tentu sayang, aku akan selalu menjagamu dan melindungimu.” Bisik udara kosong itu pada yoona kecil.

12 tahun kemudian~

Seorang wanita cantik sedang menggeliat di ranjang hangatnya. Mata bulatnya mengerjap beberapa kali saat ia mendengar bisikan dari seseorang.

“Baiklah aku akan segera bangun. Kau benar-benar telah mengusik mimpi indahku. Dengus Yoona kesal pada pria di sebelahnya. Wanita itu kemudian segera bangkit dari ranjangnya untuk masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap. Pagi ini ia memiliki meeting penting dengan bosnya, sehingga ia harus datang tepat waktu untuk mempersiapkan semua bahan meetingnya hari ini. Sembari ia mencuci wajah dan menggosok gigi, pria itu terus mengikutinya dan berdiri tepat di sebelahnya, membuat Yoona gusar pada kehadiran pria itu yang tiba-tiba.

“Kau tidak pernah menampakkan dirimu semenjak dua belas tahun yang lalu.”

Tiba-tiba Yoona berbicara pada pria itu sambil berkumur-kumur. Pria tampan yang berdiri di sebelahnya hanya tersenyum tipis dan mengendikan bahunya ringan.

“Karena kau tidak membutuhkanku.” Bisik udara itu lagi.

“Aku tidak pernah berkata seperti itu.” Ucap Yoona sedikit keras. Namun, setelah beberapa lama tidak ada bisikan apapun yang terdengar di sebelahnya. Hanya udara kosong yang menemani Yoona di dalam kamar mandinya yang luas. Yoona kemudian segera mengambil handuk untuk mengelap wajahnya dan bersiap keluar untuk mengambil perlengkapan mandinya.

“Lagi-lagi ia pergi.” Gumam Yoona frustasi.

-00-

Yoona bersiap-siap untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor. Sang ibu sudah menyiapkan berbagai hidangan lezat untuk yoona dan ayahnya.

“Pagi eomma.” Sapa Yoona riang. Ia lalu mendudukan dirinya di bangku yang biasa ia gunakan.

“Pagi sayang. Apa kau mengalami mimpi buruk? Tadi eomma mendengar kau sedang bercakap-cakap dengan seseorang.”

“Tidak eomma, tadi aku sedang berbicara dengan temanku.” Jawab Yoona sedikit kikuk.

“Kau yakin? Eomma kira kau mengalami gangguan seperti dulu saat kau berusia delapan tahun. Waktu itu kau suka berbicara pada udara kosong, psikologmu mengatakan jika kau memiliki teman khayalan. Tadi eomma sempat berpikir jika kau mulai berimajinasi lagi. Tapi sepertinya eomma salah, mana mungkin gadis berusia dua puluh dua tahun masih berbicara dengan teman imajinasinya.” Ucap nyonya Im dengan tawa renyahnya. Yoona tampak tersenyum kecut di balik wajahnya yang sengaja ia tundukan. Ia tidak ingin eommanya tahu jika selama ini ia memang memiliki teman khayalan. Tapi, sudah sejak lama teman khayalannya itu pergi. Namun, pagi ini ia menunjukan batang hidungnya lagi dengan mengganggu tidur nyenyaknya yang pulas. Ketika ia tengah memasukan potongan sandwich ke dalam mulutnya, tiba-tiba pria itu muncul lagi di hadapannya sambil tersenyum manis ke arahnya. Sejenak Yoona merasa terpana dengan senyuman pria itu, sebelum ayahnya berdeham dan membuat lamunannya menjadi buyar.

“Yoona, bagaimana dengan kekasihmu? Kapan ia akan melamarmu?” Tanya ayahnya tiba-tiba. Mendengar nama kekasihnya disebut, hatinya menjadi marah dan kesal. Entah mengapa ia sedang tidak ingin membicarakan nama kekasihnya, karena kekasihnya itu adalah pria brengsek yang telah mengkhianatinya dengan wanita lain.

“Tidak akan ada yang melamarku appa. Kami sudah putus.” Jawab Yoona seadanya sambil memain-mainkan sandwichnya dengan kesal. Sang ayah dan sang ibu saling bertatapan satu sama lain karena mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi pada putrinya. Menurut mereka Yoona dan kekasihnya dalam keadaan baik-baik saja. Apalagi tiga hari yang lalu Oh Sehun baru saja datang untuk mengantarkan Yoona dan berbicara pada mereka untuk melamar Yoona karena kedua orangtua Sehun sudah ingin menimang cucu dari Sehun, meskipun mereka berdua masih terlalu muda untuk menjalani hubungan rumah tangga. Tapi, hari ini tiba-tiba saja Yoona mengatakan jika ia sudah putus dengan Oh Sehun, hal ini benar-benar sangat aneh menurut mereka.

“Putus? Bagaimana mungkin? Bukankah kalian dalam keadaan baik-baik saja?” Tanya nyonya Im bingung. Yoona kemudian mendongak menatap wajah eommanya sambil cemberut. Padahal ia sudah berniat untuk melupakan semua kejadian yang menimpanya dua hari yang lalu, namun kedua orangtuanya justru memaksanya untuk bercerita, benar-benar sial!

“Dia berselingkuh dengan wanita lain di belakangku. Dan aku langsung meminta putus darinya kemarin sore. Aku tidak mau menjalani hubungan dengan pria pembohong sepertinya eomma, dia benar-benar brengsek.” Ucap Yoona sebal. Wanita itu kemudian segera berdiri dari duduknya, dan ia langsung menyambar tas tangannya begitu saja yang ia letakan di dekat tempat duduknya sambil berucap dengan nada dingin pada ayah dan ibunya jika ia akan berangkat ke kantor sekarang. Selera makannya tiba-tiba hilang karena ayah dan ibunya terus membahas Sehun dan membuat sakit hatinya yang sudah ia lupakan menjadi menganga kembali.

“Kau tidak menghabiskan sarapanmu?” Tegur ibunya lembut ketika Yoona mengulurkan tangannya untuk berpamitan. Yoona menggeleng pelan sambil mengecup pipi ibunya, kemudian ia segera berjalan pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang hanya mampu menggelengkan kepalanya pasrah.

“Dia benar-benar masih sangat kekanakan.” Keluh ibunya pelan. Sedangkan sang ayah hanya menatap acuh pada isterinya, dan setelah itu ia kembali melanjutkan sarapannya sambil membaca koran paginya yang sempat tertunda.

-00-

Di dalam mobil, menuju ke kantornya, Yoona tampak berkonsentrasi mengemudi sambil mendengarkan musik player yang memutarkan lagu-lagu kesukaanya. Sesekali ia bersenandung kecil mengikuti suara sang penyanyi yang sedang mengalunkan lagu kesukaanya. Tiba-tiba, seorang pria muncul di sebelahnya sambil terkekeh pelan mendengarkan suaranya yang memang tidak merdu itu.

“Suaramu merdu.” Ucap pria sedikit keras, dan berhasil membuat Yoona gusar setengah mati. Pasalnya ia sangat tahu apa yang dimaksudkan pria itu dengan merdu. Ia hanya ingin mengejeknya dengan cara halus.

“Huh, dasar menyebalkan. Aku tahu apa yang kau maksud dengan merdu itu tuan Lee. Katakan saja jika kau hanya ingin mengejekku. Keluar dari mobilku!” Usir Yoona sebal. Namun, Donghae hanya terkekeh sambil mengacak-acak rambutnya pelan.

“Maaf, aku hanya bercanda. Jadi, kau akan berangkat menuju kantor?” Tanya Donghae kemudian. Pria itu tampak sangat serius memperhatikan Yoona dari samping. Sedangkan Yoona tampak salah tingkah karena ia merasa ditatap begitu intens oleh Donghae. Sudah sejak lama pria itu menghilang dari hidupnya. Terakhir ia bertemu dengan pria itu saat usianya sepuluh tahun. Setelah itu Donghae pergi, dan tidak pernah muncul lagi di dalam hidupnya hingga pagi ini. Meskipun Donghae hanya teman khayalannya, tapi sekarang ia merasa jika Donghae bukan hanya sekedar teman khayalannya, karena di usianya yang telah menginjak dua puluh dua tahun, seharusnya ia sudah tidak memiliki teman khayalan semacam Donghae. Namun, ia tidak terlalu mempedulikan hal itu. Lagipula Donghae adalah teman yang menyenangkan dan sangat pengertian. Sejak ia berusia kanak-kanak Donghae selalu datang untuk menemaninya saat kesepian. Dan sejauh ini, hanya Donghaelah satu-satunya teman yang tidak pernah menyakitinya. Jadi, ia sama sekali tidak keberatan jika Donghae muncul kembali dan menjadi temannya.

“Yah, begitulah. Sekarang aku sudah dewasa, jadi aku harus berangkat bekerja seperti kebanyakan teman-temanku. Kenapa kau menghilang? Aku merindukanmu.” Ucap Yoona sedih sambil menoleh sekilas pada Donghae. Pria itu hanya tersenyum tipis pada Yoona dan menggenggam sebelah tangan Yoona yang bebas. Ia kemudian mengecup punggung tangan itu lama sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali pada wanita itu.

“Maafkan aku, kukira kau sudah tidak membutuhkanku lagi.”

“Lain kali kau harus bertanya padaku sebelum memutuskan untuk pergi. Kau adalah satu-satunya teman yang tidak pernah mengecewakanku. Jadi, tetaplah menjadi temanku hingg akhir.” Mohon Yoona pelan, sebelum ia menarik tangan kirinya untuk membelokan setirnya ke arah kantornya yang sudah berada di depan mata. Lee Donghae tersenyum senang di sebelah Yoona karena ia telah diterima oleh Yoona menjadi temannya lagi. Bahkan, wanita itu menginginkannya menjadi teman hingga akhir, maka ia akan mengabulkan permintaan wanita itu. Ia akan menjadi teman bagi Yoona hingga maut memisahkan mereka.

“Kau akan ikut bersamaku?” Tanya Yoona sebelum ia membuka pintu di sampingnya. Donghae mengangguk semangat dan segera mengikuti Yoona untuk turun dari dalam mobil.

Selama perjalanan memasuki loby kantor, banyak karyawan yang menyapa Yoona dengan ramah, karena Yoona memiliki posisi yang cukup penting di kantor itu, yaitu manager bagian keuangan, sehingga banyak karyawan yang begitu menghormatinya dan bersikap ramah padanya. Selain itu, Yoona adalah sosok wanita yang ramah dan tidak pernah melakukan hal buruk di kantornya. Meskipun ia memiliki posisi yang penting di perusahaan itu, tapi ia selalu memperlakukan semua orang dengan sama, tanpa memandang rendah orang-orang yang memiliki jabatan di bawahnya.

“Selamat pagi Yoong.” Sapa Hyukjae ramah di depan lift. Yoona tersenyum lembut pada Hyukjae dan membalas sapaan pria bergusi pink itu dengan ramah pula.

“Siapa dia?” Bisik Donghae di sebelahnya. Yoona kemudian berbisik pelan di telinga Donghae sambil melirik Hyukjae yang ternyata sedang menatap aneh padanya. Tentu saja pria itu merasa aneh padanya, karena ia tampak sedang berbicara pada angin.

“Kau sedang berbicara dengan siapa?”

“Oh, bukan siapa-siapa. Aku hanya sedang menghafalkan materi yang akan ku presentasikan hari ini.” Ucap Yoona gugup. Hyukjae tampaknya percaya begitu saja pada Yoona. Pria itu lantas melangkah masuk ke dalam lift ketika pintu lift itu berdenting keras di depan mereka.

“Ayo masuk.” Ajak Hyukjae ringan yang langsung disambut Yoona dengan senyuman manis.

“Dia pria yang baik.” Bisik Donghae lagi di sebelah Yoona ketika merasa sedang berada di lift. Pria itu masih sibuk mengamati penampilan Hyukjae dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil menilai pria itu lebih jauh. Sebagai teman, Donghae ingin memastikan jika Yoona juga memiliki teman yang benar-benar baik di dunia nyata. Ia tidak ingin melihat Yoona sedih dan mengeluarkan air matanya lagi seperti dulu.

“Dia memang baik, dia pria yang ramah.” Bisik Yoona pelan sambil mengawasi Hyukjae. Beruntung, pria bergusi pink itu sedang fokus pada ponselnya, sehingga ia tidak melihat Yoona yang sedang berbicara sendiri di depannya.

Ting!

Lift berdenting kencang dan berhenti tepat di lantai dua belas, tempat dimana divisi Hyukjae bekerja. Pria itu kemudian berpamitan pada Yoona dan segera berjalan keluar meninggalkan Yoona sendiri di dalam lift. Setelah pintu lift tertutup, Yoona langsung menghembuskan napasnya lega, karena ia merasa dapat bebas berbicara dengan Donghae tanpa dipandang aneh oleh orang lain. Ia sadar jika orang lain tidak akan mungkin bisa melihar wujud Donghae, karena pria itu adalah teman khayalannya, yang entah bagaimana selalu terasa nyata untuknya, sedangkan orang lain tidak akan pernah bisa melihatnya.

“Dimana kau bekerja? Kenapa kau tidak keluar bersama pria itu?” Tanya Donghae lagi. Pria itu rupanya benar-benar ingin mengetahui semuanya. Semua yang selama ini telah ia lewatkan selama ia pergi.

“Aku bekerja di lantai delapan belas.”

“Apa yang kau kerjakan di sana? Apa itu sesuatu yang membosankan?”

“Yah, bisa dikatakan seperti itu. Aku adalah manager keuangan. Jadi, semua pekerjaanku berhubungan dengan angka dan uang. Ayo, kita sudah sampai.”

Yoona melangkah keluar dengan anggun untuk menuju ke ruangannya. Ruangannya berada di sebelah ruangan presdir, sehingga jika presdir membutuhkan semua laporan keuangan darinya, presdir itu hanya perlu menekan tombol bel yang terhubung ke ruangannya. Ketika ia hendak berjalan masuk ke dalam ruangannya, seorang pria dengan wajah pucat yang maskulin telah menunggunya di depan pintu masuk ruangannya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Merasa mengenal pria itu, Yoona tampak mendengus kesal sambil berpura-pura berjalan melewati pria itu. Namun, pria itu justru mencekal lengannya dengan keras dan langsung menyeretnya masuk ke dalam ruangannya yang sepi.

“Oh Sehun, lepaskan! Apa yang kau lakukan di sini?” Bentak Yoona kesal karena Sehun dengan seenaknya langsung menyeretnya masuk ke dalam ruangannya. Untung saja suasana di luar sedang sepi, sehingga ia tidak perlu merasa tidak enak karena ia harus membawa masalah pribadinya ke lingkungan kantor.

“Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku ingin menikah denganmu.” Ucap Sehun langsung ketika ia berhasil menghempaskan tubuh Yoona ke atas sofa. Donghae yang berada di sebelah Yoona, tampak menatap was-was pada Yoona dan Sehun yang akan memulai pertengkaran. Pria itu sebisa mungkin membujuk Yoona agar wanita itu tidak menanggapi ucapan Sehun dan hanya mengabaikannya.

“Tenanglah, jangan terpancing dengan kemarahannya. Dia hanya ingin mencari titik kelemahanmu.” Bisik Donghae pelan di sebelah Yoona sambil menggenggam tangan Yoona yang terasa dingin. Yoona melirik Donghae sekilas dan tersenyum lembut pada pria itu, membuat Sehun merasa bingung dengan sikap Yoona yang sedikit aneh.

“Aku tidak ingin menjadi kekasihmu lagi. Lebih baik kau mencari wanita lain yang ingin bersanding denganmu. Dan jangan pernah mengganggu kehidupanku lagi, karena aku tidak ingin melihat wajahmu lagi.” Ucap Yoona dingin dan menusuk. Setelah itu ia segera bangkit dari sofa putih itu, dan langsung berjalan keluar menuju ruangan bosnya untuk memulai meeting pagi ini. Sedangkan Sehun tampak begitu kesal di tempatnya sambil menjambak rambutnya frustasi. Ia merasa bodoh karena telah tergoda dengan wanita murahan itu, yang merupakan sekertarisnya. Seharunya ia tidak menanggapi cumbuan wanita itu di ruangannya. Tapi, semuanya telah terlambat. Sekarang ia kehilangan Yoona dan ia tidak akan bisa membawa wanita itu lagi ke dalam pelukannya. Yoonanya telah benar-benar marah padanya.

“Shit! Bodoh kau Oh Sehun!” Maki Sehun pada dirinya sendiri sebelum ia keluar dari ruangan mantan kekasihnya. Sementara itu, Lee Donghae sedang memperhatikan gerak-gerik Sehun sambil bertopang dagu di atas meja Yoona. Menurutnya ini menarik. Saat ini kehidupan Yoona sudah semakin rumit dan tidak sesederhana dulu. Itu berarti ia dapat lebih mudah memanipulasi pikiran Yoona dan membuat wanita itu kacau secepatnya.

“Hmm, aku sudah tidak sabar menunggu saat-saat itu.” Seringai Donghae licik sambil memandang foto Yoona yang sedang tersenyum di atas meja kerjanya.

-00-

Saat makan siang, Yoona langsung melemparkan kaca matanya dengan asal ke atas meja sambil merentangkan kedua tangannya di udara. Hari ini banyak sekali laporan yang harus ia kerjakan. Belum lagi, presdir Kim menyuruhnya untuk memberikan data pengeluaran bulan lalu padanya besok pagi, sehingga malam ini ia benar-benar harus lembur untuk menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Sembari merenggangkan otot-otot lehernya, Yoona mulai berjalan menuju pintu untuk turun ke bawah. Siang ini ia merasa begitu lapar, karena pagi tadi ia hanya makan sangat sedikit sekali sandwich, sehingga siang ini ia akan makan siang bersama dengan para karyawan yang lain di cafe kantornya. Lagipula sudah lama sekali ia tidak makan di cafetaria kantor karena selama ini ia selalu makan siang bersama Sehun. Ngomong-ngomong mengenai Sehun, Yoona benar-benar sudah merasa muak dengan pria itu. Cepat-cepat ia menghapus nama itu dari kepalanya, dan segera berjalan keluar menuju lift.

“Kau mau ke mana?” Tanya Donghae tiba-tiba sambil mencekal lengannya. Yoona refleks berhenti melangkah dan berbalik untuk melihat Donghae. Pria itu saat ini tengah menatapnya intens dengan mata teduhnya yang menenangkan, membuta jantung Yoona berpacu lebih cepat dari biasanya. Jujur, saat bersama dengan Sehun ia tidak merasakan hal yang sangat mendebarkan seperti ini. Biasanya ia hanya berdebar saat pria itu menciumnya, tidak lebih.

“Aku akan makan siang di bawah. Kau mau ikut?”

“Tentu saja. Aku ingin melihat-lihat bagian lain dari kantormu, dan juga teman-temanmu yang lain.” Jawab Donghae santai dan langsung berjalan keluar mendahuluinya. Di depan pintu presdir Kim, tampak Sunny sedang mengamati Yoona dengan wajah aneh. Pasalnya saat sekertaris tuan Kim itu akan berjalan keluar menuju mejanya, ia melihat Yoona sedang berjalan keluar hendak melewati pintu ruangannya, namun ketika ia akan menyapa wanita muda itu, Yoona justru tampak sedang mengobrol dengan orang lain, padahal di lantai ini tidak ada siapapun selain dirinya dan juga Yoona. Sunny sempat berpikir jika mungkin saja di lantai tempatnya bekerja sedikit berhantu, karena konon katanya tanah yang dipakai untuk pembangunan kantornya adalah tanah bekas mansion kosong yang dulunya sempat terjadi kasus pembunuhan berantai. Dengan wajah pucat, Sunny segera berjalan menuju mejanya sambil menegak air sebanyak-banyaknya untuk mengurangi ketakutan yang berkecamuk di dalam hatinya. Dan saat Yoona berjalan melewatinya, wanita itu langsung menunduk takut pada Yoona, tanpa berani menatap atau menyapa wanita itu seperti biasanya.

“Eonni, kau tidak turun untuk makan siang?”

“Tidak, aaa aku hari ini membawa bekal sendiri.” Jawab Sunny terbata-bata. Yoona mengernyit bingung dengan perubahan sikap Sunny yang tampak tidak seperti biasanya. Wanita itu hari ini terlihat lebih pendiam dan juga tampak sedang menyembunyikan sesuatu.

“Eonni, apa kau baik-baik saja? Wajahmu tampak pucat.” Ucap Yoona khawatir. Donghae yang berada di samping Yoona hanya tertawa kecil menertawakan ekspresi wajah Sunny yang tampak ketakutan. Ia tahu jika sebenarnya Sunny sedang ketakutan, tapi ia enggan memberitahukannya pada Yoona karena ia sedang ingin menertawakan wanita berperawakan mungil itu.

“Tidak, aku baik-baik saja. Lebih baik kau segera turun untuk makan siang sebelum jam makan siang usai.” Usir Sunny halus sambil menyunggingkan senyum gugupnya. Setelah berpamitan pada Sunny, Yoona segera melangkah pergi menuju lift yang akan membawanya menuju lantai dua, tempat dimana cafetarianya berada. Selama di dalam lift, Yoona terus berbicara dengan Donghae mengenai berbagai hal, termasuk mengenai keanehan Sunny yang langsung membuat Yoona tertawa terbahak-bahak setelah Donghae memberitahukan yang sebenarnya.

“Jadi Sunny eonni ketakutan karena melihatku berbicara denganmu? Ya Tuhan, ia pasti mengira aku gila. Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?” Tanya Yoona kesal, namun ia justru tertawa terbahak-bahak setelahnya. Donghae yang melihat hal itu hanya mampu tersenyum kecil dan merangkul pundak Yoona sayang seperti Yoona adalah kekasihnya.

“Aku senang melihatmu bahagia. Untuk seterusnya kau harus selalu tersenyum dan jangan pernah mengingat-ingat pria brengsek itu. Apa kau mengerti?”

“Ya, aku mengerti. Lagipula aku sudah melupakannya sekarang. Ada seseorang yang jauh lebih menarik daripada Sehun saat ini. Dan untuk kedepannya aku hanya ingin memikirkan pria ini seorang.” Ucap Yoona misterius. Membuat Donghae langsung mengerutkan keningnya bingung karena ia tidak mengerti maksud ucapan Yoona. Ia pikir Yoona hanya memiliki satu pria yang menjadi kekasihnya, tapi tanpa diduga, Yoona ternyata memiliki pria lain selain Oh Sehun dalam hidupnya.

“Siapa? Apa itu bosmu?” Tanya Donghae tidak suka. Yoona yang melihat ekspresi tidak suka dari Donghae hanya mampu tersenyum jahil sambil mencubit hidung Donghae gemas.

“Ternyata teman kyayalanpun bisa merajuk.” Pikir Yoona tak habis pikir.

“Tuan Kim maksdmu? Oh yang benar saja. Kau pikir aku menyukai pria tua yang seusia dengan ayahku? Hmm, kau benar-benar keterlaluan.”

“Lalu siapa? Apakah pria bergusi pink yang kau temui tadi pagi? Ia sepertinya sangat dekat denganmu. Dan juga baik.” Tambah Donghae sambil mengingat-ingat wajah Hyukjae di dalam kepalanya.

Sembari Donghae sibuk berpikir, lift tiba-tiba berdenting dan berhenti di lantai dua. Ketika pintu lift terbuka, tampak beberapa karyawan kantor sedang mengantre untuk memesan makanan. Yoona yang selama ini selalu makan di luar kantornya merasa terpana dengan pemandangan cafetaria kantornya. Selama ini ia tidak pernah berpikir jika cafetarianya akan seramai ini saat jam makan siang. Dengan perasaan ragu, Yoona mulai melangkah keluar dan mengikuti barisan antrean yang berada di depannya, sedangkan Donghae hanya mengekor di belakangnya sambil mengamati pemandangan sesak di dalam cafetaria kantor Yoona.

“Kau yakin akan makan siang di sini?” Tanya Donghae pada Yoona yang masih sibuk membaca deretan menu yang tertempel di atas dinding. Wanita itu sekilas menoleh pada Donghae sambil menganggukan kepalanya.

“Di sini sangat ramai. Kau tidak akan mendapatkan tempat untuk duduk.” Bisik Donghae lagi. Yoona kemudian mengikuti arah pandang Donghae sambil menatap sekitarnya. Benar apa yang dikatakan oleh Donghae, ia tidak akan mendapatkan tempat di kafetaria ini karena semua meja dan kursi tampak sudah terisi penuh. Tapi, tiba-tiba pandangan matanya jatuh pada Yuri dan Taeyeon yang sedang menyantap makanan di sudut kafetaria. Yoona lantas menunjukan pada Donghae mengenai keberadaan Yuri dan Taeyeon yang merupakan sahabat akrabnya. Selama ini ia memiliki Yuri dan Taeyeon sebagai teman mengobrol jika ia sedang datang menuju ruangan staff yang berada di lantai enam belas. Mereka berdua memang anak buahnya, tapi di luar jam kantor mereka sering pergi bersama untuk berbelanja atau mengobrol sambil menum kopi di sore hari.

“Yuri dan Taeyeon pasti akan memberiku tempat duduk.” Ucap Yoona yakin. Donghae pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti sambil memperingatkan Yoona untuk berjalan maju, karena saat ini adalah gilirannya untuk memesan makanan.

“Aku ingin memesan nasi goren dan jus jeruk.” Ucap Yoona pada pelayan cafetaria. Tiba-tiba Donghae menyenggol pundaknya dan menunjukan padanya menu es krim dan udang goreng. Dengan bingung, Yoona menatap Donghae sambil menatap wajah pria itu aneh.

“Kau juga ingin makan?” Tanya Yoona tak yakin. Donghae kemudian menggeleng sambil membisikan sesuatu di telinganya, membuat Yoona merasa terharu dan langsung tersenyum lembut mengingat masa lalu.

“Dulu makanan favoritmu adalah udang goreng dan es krim, apa sekarang kau tidak ingin memesannya?”

“Kau masih mengingatnya? Aku merasa terharu. Tapi, hari ini aku sedang tidak ingin makan udang goreng dan es krim, mungkin lain kali aku akan memesannya.”

Setelah mengucapkan hal itu, seorang pelayan muda datang membawakan pesanannya dan memintanya untuk membayar tagihan makanannya di kasir. Sepeninggal Yoona, seorang wanita yang sejak tadi berdiri di belakang Yoona untuk mengantre hanya mampu mengernyit bingung ke arah Yoona. Sungguh ia merasa aneh dengan sikap Yoona yang sejak tadi terus berbicara sendiri. Awalnya ia pikir Yoona akan mengajaknya berbicara, namun saat ia memperhatikan dengan seksama, arah pandang wanita itu sama sekali tidak mengarah padanya. Arah pandangan Yoona justru mengarah pada udara kosong yang berada di sampingnya. Sambil tetap menatap aneh pada Yoona, wanita itu mencoba melupakan semuanya dengan berjalan mendekat pada sang pelayan untuk memesan makanan.

“Apa kau merasa manager Im hari ini bersikap aneh?” Bisik wanita itu pada si pelayan. Pelayan itu kemudian menatap sang lawan bicara sambil mengernyit heran karena ia tidak merasa ada sesuatu yang aneh pada Yoona, selain gerak-geriknya yang tampak kaku.

“Entahlah, aku tidak terlalu memperhatikannya karena aku terlalu sibuk melayani pembeli. Apa kau akan memesan sesuatu? Kau membuat antrean semakin panjang.” Ucap pelayan itu mengingatkan dan langsung di jawab dengan anggukan cepat oleh wanita itu.

“Tentu, bawakan makanan seperti biasa untukku.” Perintahnya pada pelayan di depannya, namun sejak tadi ekor matanya tak pernah lepas dari Yoona yang saat ini telah berjalan menuju sudut ruangan.

-00-

“Hai girls, boleh aku bergabung bersama kalian?” Tanya Yoona pada Yuri dan Taeyeon. Sontak dua wanita itu langsung menoleh ke arah Yoona, dan dalam sekejap mereka berdua menjadi heboh karena selama ini Yoona tidak pernah mekan siang di kafetaria kantor. Bisa dikatakan jika ini adalah momen-momen yang sangat langka terjadi.

“Yoona, akhirnya kau muncul di kafetaria ini. Ayo duduk. Kami sangat bahagia melihatmu di sini.” Teriak Yuri heboh sambil menarik tangan Yoona untuk duduk di sebelahnya. Dalam sekejap mereka bertiga sudah menjadi bahan pembicaraan karyawan lain yang sedang menyantap makan siang mereka karena tergangganggu dengan suara Yuri yang cukup nyaring.

“Aku juga merasa bahagia bisa makan siang di sini. Ngomong-ngomong bagaimana kabar kalian? Sudah lama sekali kita tidak pergi bersama dan mengobrol bersama.” Ucap Yoona memulai pembicaraan sambil memasukan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Sekilas, ekor matanya tampak menatap Donghae yang masih terlihat diam di sebelahnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dalam hati Yoona berdoa, semoga saja Donghae tidak merasa bosan karena ia pasti akan mengabaikan pria itu nantinya.

“Kami baik. Lagipula kami merasa maklum dengan kesibukanmu sekarang. Sejak kau dipromosikan menjadi manager, semua waktu yang kau miliki benar-benar tersita untuk mengerjakan semua pekerjaan rumit itu. Dan tentu saja jika kau memiliki waktu luang, kau pasti akan menghabiskannya dengan kekasihmu yang sangat tampan itu.” Goda Yuri sambil tersenyum genit. Taeyeon yang berada di depannya hanya mampu tertawa geli, menertawakan ekspresi wajah Yuri yang sangat aneh dan lucu menurutnya. Namun, berbeda dengan Yoona, wanita itu justru tampak murung ketika Yuri harus mengingatkannya pada Oh Sehun yang brengsek itu. Tapi, seketika wajah murungnya hilang ketika Donghae langsung mengelus punggungnya dengan lembut dan bergumam pelan melalui bibirnya jika semuanya akan baik-baik saja.

“Aku sudah putus dengan Oh Sehun kemarin. Ternyata ia bukan pria yang baik, ia pria yang brengsek.”

Seketika tawa Taeyeon dan Yuri berhenti, digantikan dengan tatapan mata penyesalan dan rasa bersalah. Yuri yang sejak tadi terus menerus menggoda Yoona langsung menggenggam kedua telapak tangan Yoona erat sambil meminta maaf berkali-kali pada wanita itu. Sungguh ia merasa tidak enak pada Yoona karena telah membuka luka lama itu kembali.

“Maafkan kami, kami tidak tahu jika kau sudah putus dengan Oh Sehun. Sebenarnya ada apa? Apa kau merasa tidak keberatan untuk menceritakannya pada kami?” Tanya Yuri dengan wajah simpatik. Yoona hanya tersenyum kecil pada Yuri dan Taeyeon sambil membalas remasan tangan Yuri di tangannya. Dua orang wanita itu sepertinya sangat merasa bersalah dengannya, padahal ia tidak merasa demikian. Sejak Donghae berada di sisinya kembali, ia merasa tidak perlu terlalu bersedih dengan berlebihan karena Donghae akan selalu ada untuk menghiburnya.

“Ceritanya panjang. Tapi, yang jelas dia adalah pria brengsek. Selama ini ia telah bermain-main di belakangku bersama dengan sekertarisnya yang genit itu. Jadi, akhirnya aku langsung memutuskannya, karena aku tidak ingin tersakiti oleh Sehun. Aku ingin hidupku bebas dari air mata dan rasa sakit. Karena sejujurnya, aku cukup merasa trauma dengan rasa sakit.” Ucap Yoona apa adanya. Taeyeon yang berada tepat di samping Yoona langsung memeluk wanita itu hangat dari samping. Sedangkan Yoona tampak tersenyum kecut di depan sahabat-sahabatnya karena ia merasa seperti menjadi wanita malang di sini.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Masih banyak pria-pria tampan di luar sana yang menungguku untuk menjadi kekasihnya, jadi lebih baik kita lupakan semua kesedihan yang terjadi di masa lalu, dan kita buka lembaran baru yang lebih baik. Apa kalian setuju?”

“Setuju! Sekarang lebih baik kita segera habiskan makan siang kita sebelum jam bulat itu berdenting beberapa kali karena waktu makan siang akan segera berakhir.” Ucap Taeyeon was-was sambil menatap pada jam bulat yang menempel di atas tembok, tepat di depan mereka. Yoona kemudian tersenyum kecil pada Donghae sambil berbisik, terimakasih pada pria itu, karena semuanya memang akan baik-baik saja. Selama pria itu berada di sampingnya, maka ia tidak akan merasakan kesakitan apapun dan hanya merasa aman dan juga nyaman.

-00-

Malam hari, Yoona sedang tengkurap di atas ranjangnya sambil mengerjakan tugas-tugas kampusnya yang begitu banyak. Sejak dua jam yang lalu, wanita itu terus berkutat dengan lapran-laporannya yang harus ia selesaikan malam ini agar sang atasan tidak memarahinya esok pagi karena ia tidak menyelesaikan semua tugasnya. Sementara itu, Lee Donghae sejak tadi hanya dapat menatap Yoona melalui sudut kamar wanita itu yang remang-remang. Sungguh ia merasa sangat bosan. Ia ingin sekali mengobrol dengan wanita itu, tapi sepertinya Yoona sedang tidak ingin diganggungu. Namun, setelah selama sepuluh menit ia berperang dengan hatinya, akhirnya Donghae memutuskan untuk mendekati Yoona. Ia merasa sudah tidak tahan karena sejak tadi ia hanya diam dan memperhatikan wanita itu mengerjakan semua tugas-tugasnya.

“Yoong, sebenarnya apa yang sedang kau kerjakan? Kenapa kau tampak serius sekali.” Tegur Donghae yang saat ini tengah berbaring di sebelah tubuh Yoona. Yoona yang awalnya sedang membuat grafik keuangan perusahaanya langsung menoleh sebentar pada Donghae, sebelum ia kembali berkutat dengan semua grafik dan angka-angka yang saat ini sedang ia kerjakan. Jujur, ia sebenarnya sudah merasa lelah. Tapi, ia tidak bisa menghentikannya sekarang, karena besok grafik-grafik itu harus ia presentasikan di depan seluruh investor perusahaanya.

“Aku sedang membuat grafik untuk presentasi esok pagi. Ada apa? Kau sepertinya bosan.” Ucap Yoona ringan tanpa menoleh pada pria itu. Merasa terabaikan dan bosan, akhirnya Donghae mengambil tindakan dengan meraih dagu Yoona pelan untuk menghadap ke arahnya. Ia tidak suka berbicara dengan wajah yang tidak saling menatap seperti ini. Itu terasa seperti ia tidak dihargai oleh lawan bicaranya.

“Kapan kau akan menyelesaikan semua ini? Aku ingin sedikit mengobrol denganmu atau bersenang-senang.” Ucap Donghae manja. Yoona menghembuskan napasnya pelan. Sebenarnya ia merasa bingung dengan Donghae. Pria itu bisa dikatakan hanyalah teman khayalannya, tapi pria itu dapat bertingkah sesuka hatinya dan terkesan seperti seorang anak-anak jika ia mengabaikannya. Padahal seharusnya pria itu bersikap sesuai dengan kehendaknya, karena ia yang menciptakan pria itu. Atau jangan-jangan Donghae sebenarnya bukanlah teman khayalannya, tapi seorang hantu yang tidak bisa masuk ke dalam surga karena ia masih memiliki sesuatu di dunia yang harus diselesaikan? Sekelebat pertanyaan itu tampak memenuhi hati Yoona yang terasa gamang. Tapi, secepatnya ia langsung melupakan hal itu, karena ia merasa itu tidak penting. Darimanapun Donghae berasal, ia tidak peduli. Yang terpenting, pria itu selalu hadir untuknya dan juga menemaninya.

“Sebenarnya kau ini apa?” Tanya Yoona pada Donghae. Donghae yang merasa telah mendapatkan atensi dari Yoona sepenuhnya langsung bersorak girang. Akhirnya saat-saat membosankannya telah berlalu. Dan sekarang adalah saatnya untuk meraih seluruh atensi yang dimiliki oleh wanita cantik di sebelahnya.

“Aku? Bukankah kau yang menciptakanku? Aku adalah teman khayalanmu.” Jawab Donghae apa adanya. Namun, jawaban itu sepertinya sama sekali tidak memuaskan Yoona, karena wanita itu langsung mengernyit tidak puas di sebelah Donghae.

“Benarkah? Tapi, kau sama sekali tidak terlihat seperti seorang teman khayalan. Kau terlihat seperti seorang manusia yang tak kasat mata. Apa kau seorang hantu?”

Mendengar ucapan Yoona, Donghae justru tertawa terbahak-bahak di sebelahnya karena pria itu sama sekali tidak menyangka jika Yoona akan mengiranya sebagai seorang hantu, padahal jelas-jelas jika wanita itu yang menciptakannya. Wanita itu yang membuatnya berada di dunia yang aneh dan fana ini.

“Hantu? Apa aku terlihat seperti seorang hantu? Ya ampun, kau ini benar-benar lucu. Sebenarnya terserah kau ingin menganggapku seperti apa. Yang jelas aku akan tetap berada di sini di saat kau membutuhkanku.” Jawab Donghae santai. Tapi, mendengar ucapan terakhir Donghae padanya, Yoona menjadi sedikit takut. Pria itu mengatakan jika ia akan berada di sampingnya selama ia menginginkannya. Itu berarti Donghae dapat pergi sewaktu-waktu jika ia sudah tidak membutuhkan pria itu lagi. Tapi, ia merasa hal itu tidak akan pernah terjadi, karena selamanya ia selalu membutuhkan pria itu. Hanya Donghae yang mampu memahaminya dan mampu membuatnya nyaman. Ia tidak ingin pria lain selain Donghae, ia hanya ingin Donghae yang menjadi temannya hingga akhir.

“Aku tidak ingin kau pergi. Berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkanku.”

“Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu menjadi sahabat sejatimu Yoona. Apapun yang terjadi.” Ucap Donghae yakin dan terdengar begitu menjanjikan. Refleks, Yoona langsung memeluk Donghae erat. Ia merasa begitu nyaman ketika Donghae akhirnya juga membalas pelukannya sambil mengelus surai kecoklatannya dengan lembut. Berada di dalam dekapan pria itu selalu membuatnya nyaman dan damai. Terakhir pria itu memeluknya saat ia berusia sepuluh tahun. Saat itu ia sedang menangis di dalam kamarnya karena ayahnya pergi. Tapi, setelah ia masuk ke dalam dekapan Donghae yang hangat, rasa sedih dan marah itu tiba-tiba menguap. Digantikan dengan rasa aman dan nyaman yang begitu menyejukan hatinya.

“Donghae… mengapa semua orang tidak dapat melihatmu? Kenapa hanya aku yang dapat melihatmu? Apa mereka bisa melihatmu juga? Aku tidak ingin terlihat seperti wanita aneh karena seolah-olah sedang berbicara dengan udara kosong.” Ucap Yoona pelan di dalam dekapan pria itu. Dari balik punggungnya, Donghae mengangguk pelan dan langsung menarik tubuhnya dari Yoona. Pria itu menatap Yoona dalam dan meyakinkan wanita itu melalui kedua mata teduhnya jika ia bisa membuat orang lain dapat melihatnya juga, sama seperti Yoona yang dapat melihatnya.

“Tentu saja. Apa kau ingat, mengapa kau bisa melihatku?” Tanya Donghae pelan dan lembut. Suaranya yang mendayu itu mampu membuat Yoona merasa terhanyut pada kelembutan yang diberikan oleh pria itu. Andai saja kekasihnya adalah Lee Donghae, maka Yoona pasti akan merasa sebagai wanita yang paling beruntung di dunia.

“Entahlah, aku tidak yakin. Tapi, sepertinya kau selalu muncul disaat aku merasa sedih dan tersakiti. Apa aku benar?”

“Ya, kau benar. Orang-orang yang dapat melihatku adalah orang-orang yang tersakiti. Jika kau ingin orang-orang disekitarmu dapat melihatku, maka kau harus membuat mereka sakit. Kau harus membuat mereka merasakan sakit yang teramat dalam agar mereka dapat melihatku sama sepertimu.”

Yoona tampak termenung sejenak dengan jawaban yang diberikan oleh Donghae. Dalam hati ia bertanya, bagaimana caranya ia membuat orang lain dapat tersakiti dengan rasa sakit yang teramat dalam sama seperti dirinya?

“Tapi, bagaimana caranya?” Tanya Yoona polos.

Tok tok tok

Tiba-tiba pintu kayu itu diketuk oleh seseorang, membuat perhatian Yoona sedikit teralihkan dan mau tidak mau wanita itu langsung berjalan menuju pintu kamarnya untuk membukakan pintu bagi sang pengetuk.

“Eomma, ada apa?” Tanya Yoona sedikit terkejut karena saat ini eommanya sedang berdiri di depan pintu kamarnya sambil membawa sepiring buah-buahan. Wanita setengah baya itu kemudian sedikit melongokan kepalanya ke dalam dengan mimik wajah yang terlihat khawatir. Akhir-akhir ini ia sering mendengar putrinya berbicara sendiri di dalam kamarnya. Tapi, jika ia menanyakan hal itu pada putrinya, Yoona pasti akan menjawab jika ia sedang berbicara dengan temannya melalui telepon. Tapi, lebih dari itu ia merasa benar-benar khawatir dengan keadaan Yoona. Ia khawatir jika kejadian dulu akan kembali menimpa Yoona dan membuat Yoona harus mengalami berbagai macam siksaan yang tidak mampu ia jelaskan dengan kata-kata.

“Yoona, eomma membawakan buah untukmu. Kau pasti merasa lelah karena seharian ini kau terus bekerja. Buah-buahan ini akan membuatmu merasa segar kembali.” Ucap sang ibu sambil berjalan masuk ke dalam kamar putrinya. Sembari meletakan piring itu di atas meja kayu milik putrinya, sang ibu terus meneliti setiap sudut kamar putrinya. Mungkin saja Yoona memang sedang berbicara dengan temannya melalui telepon, tapi ekor mata nyonya Im tak sengaja menatap pada ponsel milik Yoona yang tampak mati dan tergletak begitu saja di atas nakas ranjangnya. Dengan khawatir, nyonya Im langsung mendekati Yoona dan menarik Yoona untuk duduk di atas ranjang. Ia ingin menanyakan beberapa hal pada putrinya, sebelum ia menyimpulkan sesuatu.

“Ada apa eomma? Kenapa eomma menarikku?” Tanya Yoona tidak mengerti. Nyonya Im tampak tersenyum lembut pada Yoona, sedangkan Donghae sedang mendecih tidak suka di belakang nyonya Im sambil memain-mainkan garpu yang digunakan untuk menusuk buah-buahan.

“Eomma ingin bertanya padamu, apa kau tadi sedang berbicara dengan temanmu?”

Meskipun Yoona cukup bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh eommanya, tapi kemudian menganggukan kepalanya pelan sambil mengikuti arah pandang eommanya pada ponsel hitam miliknya yang mati.

“Tapi, ponselmu dalam keadaan mati. Lalu, bagaimana kau berbicara dengan temanmu itu?” Tanya nyonya Im lagi. Kali ini ia terlihat seperti sedang mengintrogasi Yoona, membuat Yoona merasa tidak nyaman dan merasa dirinya terancam.

“Aku berbicara langsung dengannya. Eomma, kumohon jangan terlalu berpikiran terlalu jauh, karena aku benar-benar sedang berbicara dengan temanku.” Ucap Yoona menegaskan. Namun, nyonya Im langsung mencengkeram bahunya erat sambil mengguncang-guncangkan tubuh Yoona kuat agar anak gadisnya itu segera sadar jika di dalam kamarnya itu sama sekali tidak terdapat apapun. Kamarnya kosong, dan Yoona tidak mungkin berbicara sendiri dengan udara kosong. Sedangkan di belakang nyonya Im, Donghae tampak menegang was-was dengan reaksi yang ditunjukan oleh nyonya Im. Ia tahu jika nyonya Im adalah ibu Yoona, tapi ia merasa wanita itu terlalu berlebihan dalam memperlakukan putrinya. Tak seharusnya nyonya Im bersikap begitu kasar pada putrinya hanya karena putrinya dianggap gila karena sedang berbicara sendiri pada udara kosong. Haruskah ia membuat wanita itu mampu melihat dirinya.

“Yoona, dengarkan eomma, semua ini tidak nyata. Kau tidak memiliki teman di dalam kamar ini, jadi berhentilah untuk berbicara sendiri pada udara kosong.” Ucap nyonya Im geram. Sedangkan Yoona hanya mampu menggelengkan kepalanya sambil menangis. Ia tidak menyangka jika eommanya akan bersikap seperti itu padanya dan menganggapnya gila. Padahal ia benar-benar memiliki seorang teman di sini. Seorang teman yang memiliki posisi lebih di hatinya.

“Eomma, aku tidak berbohong. Aku memang memiliki seorang teman, tapi mungkin eomma tidak dapat melihatnya.” Ucap Yoona sambil melirik frustasi pada Donghae yang saat ini sedang berdiri di belakang eommanya sambil memegang garpu. Melalui gerakan bibirnya, Donghae meminta ijin pada Yoona untuk membuat eommanya dapat melihatnya juga. Dan sedetik kemudian, eommanya telah menjerit-jerit di sebelahnya sambil memohon ampun pada Yoona untuk menghentikan semua hal menyakitkan yang terjadi padanya.

“Yoona, apa yang kau lakukan! Hentikan Yoona.”

Sedangkan Donghae di depannya tampak sedang menyakiti nyonya Im dengan garpu yang ia bawa. Ia ingin nyonya Im juga merasakan kesakitan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Yoona selama ini agar nyonya Im dapat melihat sosoknya. Meskipun Yoona tidak mengalami kesakitan fisik, tapi menurut Donghae itu sama saja. Jika seseorang tidak memungkinkan untuk mendapaptkan rasa sakit secara psikis, maka rasa sakit secara fisikpun tidak masalah.

Sementara Donghae sedang menusuk-nusuk tubuh nyonya Im dengan garpu hingga wanita paruh baya itu jatuh tak berdaya di atas lantai, Yoona tampak diam mematung sambil menunggu reaksi nyonya Im selanjutnya. Ia menunggu, apakah setelah ini ibunya itu dapat melihat sosok Donghae atau tidak. Namun, saat siksaan menyakitkan itu berakhir, nyonya Im justru menutup matanya rapat dan tidak akan pernah melihat sosok Donghae. Karena saat ini nyonya Im sedang sekarat dengan darah segar yang telah menggenang di bawah kaki Yoona.

“Donghae, apa yang akan kita lakukan pada eomma? Kenapa ia hanya diam dan menutup matanya? Bukankah seharusnya eomma dapat melihatmu? Kenapa ia justru menutup mata?” Tanya Yoona linglung dengan air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya. Beberapa menit kemudian, Yoona seakan-akan tersadar dari kelinglungannya. Wanita itu segera berjongkok sambil mendekap tubuh eommanya yang sudah lemah tak berdaya. Cepat-cepat Yoona berjalan menuju ruang tamu untuk menghubungi ambulan. Ia takut kehilangan eommanya. Ia tidak ingin kehilangan wanita yang paling disayangnya. Dan disaat hatinya sedang kalut, sosok Donghae justru menghilang dan entah pergi kemana. Mungkinkah jika saat ini Donghae sedang menemui eommanya di tempat lain? Sekelebat pertanyaan itu muncul di kepala Yoona sebelum suara klakson yang berasal dari garasi rumahnya berbunyi. Ayahnya telah kembali. Dengan wajah bingung dan kalut, Yoona mencoba menormalkan degup jantungnya. Ia tidak ingin ayahnya menyalahkannya atas kejadian yang menimpa eommanya hari ini. Akhirnya dengan air mata palsu, Yoona segera berlari menemui ayahnya yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah. Wanita itu tampak berlutut ketakutan di kaki ayahnya dan segera menarik tangan ayahnya menuju lantai atas, dimana kamarnya berada.

“Ayah, seorang perampok telah masuk ke dalam rumah kita. Lalu… eomma..”

Yoona sengaja menghentikan kalimatnya untuk memberikan efek dramatis kepada ayahnya. Dan setelah ayahnya menjadi panik, Yoona lantas segera melanjutkan kata-katanya sambil menunjukan sebuah fakta yang memilukan.

“Eomma terluka, perampok itu mencoba membunuh eomma.”

“Ya Tuhan Im Nara, apa yang terjadi pada eommamu Yoong!” Pekik tuan Im terkejut ketika ia melihat tubuh isterinya yang telah bersimbah darah dengan sebuah garpu yang tergletak di sebelah tubuh nyonya Im.

“Seorang perampok menerobos masuk ke dalam rumah dan eomma datang untuk melindungiku. Ta tapi, perampok itu justru menusuk eomma dengan garpu. Appa, kita harus segera membawa eomma ke rumah sakit. Aku sudah menghubungi ambulan. Sebentar lagi mereka akan datang.” Ucap Yoona terbata-bata. Namun, hal itu terjadi bukan karena ia mengkhawatirkan keadaan sang eomma, hal itu terjadi karena Yoona merasa begitu gugup dan bingung. Ia tidak tahu, sebenarnya apa yang diinginkan oleh Donghae. Kenapa pria itu justru menusuk-nusuk eommanya dengan garpu? Dan anehnya saat Donghae melakukan hal itu, ia tidak mencoba untuk mencegahnya. Ia hanya terdiam di tempat sambil menyaksikan semua kejadian itu dengan wajah datar.

“Sebenarnya apa yang telah terjadi denganku?”

Pertanyaan itu terus berputar-putar di otaknya hingga ia merasa pusing dan tanpa sadar ia telah kehilangan semua kesadarannya. Ia pingsan. Im Yoona pingsan di depan tubuh nyonya Im yang bersimbah darah.

-00-

Perlahan-lahan Yoona mulai membuka matanya ketika ia merasa sebuah goncangan keras beberapa kali menghantam tubuhnya. Dengan mata yang sedikit disipitkan, Yoona mulai memindai seluruh sudut ruangan yang saat ini sedang ditempati. Ruangan itu bercat putih dan berbau karbol yang begitu menyengat. Dalam sekejap Yoona sudah dapat menebak jika saat ini ia sedang berada di rumah sakit. Ia kemudian menoleh ke samping kanan, dimana guncangan itu berasal. Dan saat ia menolehkan kepalanya ke kanan, sosok pertama yang dilihatnya adalah Donghae. Pria yang beberapa saat yang lalu menghilang setelah melakukan sebuah percobaan pembunuhan pada ibunya. Secepat kilat Yoona langsung mendudukan tubuhnya di atas blangkar sambil menatap tajam pada Donghae, sedangkan pria yang ditatap tajam oleh Yoona hanya memberikan senyuman tanpa dosanya pada Yoona sebagai balasan dari tatapan tajam yang diberikan oleh Yoona.

“Darimana saja kau? Apa yang kau lakukan pada eommaku?” Tanya Yoona tajam. Perlahan-lahan Donghae melangkah mendekati Yoona dan secara tiba-tiba ia langsung menggenggam tangan Yoona erat.

“Aku hanya ingin memberikan kesakitan yang sama pada eommamu. Bukankah kau ingin eommamu dapat melihat wujud nyataku, maka aku harus menyakiti eommamu dengan sangat keji.”

“Apakah sesakit itukah rasa sakit yang kurasakan? Kenapa aku tidak merasa seperti itu?” Tanya Yoona linglung. Rasa marah meledak-ledak yang sebelumnya ia tunjukan pada Donghae tiba-tiba menguap begitu saja, digantikan dengan rasa linglung dan sedih yang tiba-tiba merayap ke dalam hatinya. Dengan hangat, Donghae kemudian memeluk Yoona dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Ia tahu jika saat ini Yoona sedang rapuh, maka ia akan menjadi penyangga bagi tubuh Yoona yang rapuh. Ia tidak ingin Yoona lemah dan menjadi dirinya yang menyedihkan seperti dulu.

“Rasa sakit yang kau rasakan sangat besar Yoona, bahkan sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh eommamu. Apa kau ingin keluar dari sini? Sepertinya kau sudah jauh lebih baik.” Ucap Donghae lembut sambil menarik pelukannya dari Yoona. Wanita itu mengangguk pelan dan segera berjalan turun mengikuti Donghae yang sudah melangkah terlebih dahulu di depannya. Sebelum ia meninggalkan ruangan steril itu, Yoona tak lupa untuk mencabut jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya. Meskipun sakit, ia merasa tidak masalah asalkan ia dapat pergi dari ruangan steril itu bersama Donghae.

-00-

Satu jam kemudian taksi yang ditumpangi oleh Yoona telah tiba di depan rumahnya yang sepi. Tampak di bagian depan, tuan Shim sedang membersihkan daun-daun yang berguguran di halaman depan rumahnya. Yoona kemudian berlari pelan menghampiri tuan Shim dan meminta pria pertengahan lima puluh itu untuk membayar biaya taksinya karena ia sama sekali tidak memiliki uang untuk membayar taksi itu.

“Tuan Shim, bolehkah aku meminjam uangmu terlebihdahulu, aku sama sekali tidak membawa uang untuk membayar taksi itu. Nanti aku akan menggantinya saat aku telah mengambil dompetku di dalam.”

“Nnnona, apa yang nona lakukan di sini? Bukankah…”

Ucapan tuan Shim terpotong seketika karena pria itu merasa terkejut dengan kehadiran Yoona. Seharusnya Yoona tidak berada di sini, seharusnya Yoona sedang berada di rumah sakit dan menjalani perawatan karena wanita itu sedang menderita sebuah trauma yang cukup serius di dalam kepalanya akibat indisen berdarah kemarin. Namun, tuan Shim lebih memilih untuk tidak mencampuri urusan nona mudanya lebih lanjut, karena sejujurnya ia merasa takut pada Yoona. Menurutnya saat ini Yoona telah berubah menjadi pribadi yang sangat mengerikan. Dan setelah ia menyelesaikan pekerjaanya, ia lebih memilih untuk segera pulang ke rumahnya daripada harus tinggal di dalam rumah bersar itu bersama Yoona. Ia tidak mau mengambil resiko mendapatkan kesialan jika berada di dalam bangunan yang sama dengan Yoona. Tidak, karena ia masih sangat menyayangi nyawanya.

Sementara itu, Yoona sedang menatap kosong pada tukang kebunya sambil menggenggam jeruji besi di dalam kamarnya dengan erat. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh tukang kebun itu, tapi Yoona merasa jika tukang kebun itu terlihat ketakutan. Tiba-tiba sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang dan membalikan tubunya hingga mereka berdua saling berhadap-hadapan. Lee Donghae saat ini tengah menatap Yoona dalam dengan iris teduhnya yang begitu menenangkan bagi Yoona. Lalu, dalam sekejap Yoona sudah terhanyut dengan ciuman memabukan yang diberikan oleh Donghae. Dan entah siapa yang memulainya terlebihdahulu, mereka berdua telah sama-sama terbanting di atas ranjang yang empuk untuk memulai pergulatan mereka yang panas. Dan sepanjang sore itu, suara lenguhan dan desahan terus mengalun di dalam kamar Yoona secara bersahut-sahutan hingga keduanya merasa lelah dan kemudian memutuskan untuk tenggelam dekapan sang dewi mimpi yang hangat.

-00-

Yoona mengerjapkan matanya berkali-kali sambil mengamati ruangan tempatnya berada dengan dahi berkerut samar. Seingatnya sebelum ia memejamkan mata, ia tengah bercinta dengan Donghae, mereka saling mengisi satu sama lain dan juga menghangatkan. Setelah itu ia dan Donghae sama-sama merasa lelah, dan akhirnya mereka jatuh tertidur di kamarnya. Tapi, mengapa sekarang ia berada di dalam kamar putih berbau karbol itu lagi. Dan juga, kedua tangannya saat ini tengah di rantai di dekat ranjang agar ia tidak dapat pergi kemanapun. Sambil berusaha melepaskan rantai itu dari pergelangan tangannya, Yoona terus berteriak memanggil siapa saja yang mau menolongnya. Dan setelah ia merasa benar-benar frustasi, hanya nama Donghae yang terus mengalun dari bibir tipisnya hingga suaranya serak dan terdengar lirih.

“Donghae, kau dimana? Tolong aku. Seseorang telah merantai pergelangan tanganku.” Ucap Yoona lirih dengan air mata yang mulai membanjiri kedua pipi mulusnya. Lalu tak berapa lama seorang pria dengan jas putih serta stetoskop di lehernya masuk ke dalam ruang perawatan Yoona ditemani oleh seorang perawat cantik yang memiliki postur tubuh kecil. Perawat itu tampak sedang membacakan riwayat kehidupan Yoona selama ini pada sang dokter. Sedangkan Yoona langsung beringsut mundur ketika dokter itu mencoba mendekatinya dan menyentuh pergelangan tangannya yang berdarah akibat gesekan borgol dengan kulit tangannya yang halus.

“Yoona, selamat pagi. Bagaimana kondisimu hari ini?” Tanya dokter itu lembut, berusaha untuk membuat Yoona tidak ketakutan dan sebisa mungkin ia mencoba untuk membangun kontak dengan Yoona.

“Dddi dimana aku? Apa yang telah kalian lakukan padaku?” Tanya Yoona ketakutan sambil merintih perih karena kedua pergelangan tangannya sudah mengeluarkan begitu banyak cairan pekat berwarna merah yang saat ini tampak menetes, mengotori lantai putih yang berada di bawahnya.

“Tenanglah Yoona, kau akan semakin menyakiti dirimua sendiri jika kau terus melakukan hal itu.”

Tiba-tiba sekelebat bayangan Donghae muncul di depannya sambil menyunggingkan senyum manis kepadanya. Refleks, Yoona langsung berteriak-teriak memanggil pria itu untuk menolongnya, tapi Donghae justru hanya berdiam diri di tempatnya tanpa melakukan sesuatu apapun padanya.

“Donghae! Lee Donghae tolong aku! Mereka akan menyakitiku. Donghae! Donghae!” Teriak Yoona frustasi sambil mencoba melepaskan ikatan rantai di tangannya. Dokter itu sebisa mungkin langsung menyadarkan Yoona dari ilusi dan delusi yang sedang dialami oleh Yoona.

“Yoona sadarlah, itu hanya ilusi. Donghae tidak nyata. Pria itu hanya ilusimu. Yoona, Im Yoona.” Panggil dokter itu berkali-kali ketika Yoona sudah mulai berontak dan hampir saja melukai pembuluh darahnya dengan gesekan borgol yang semakin dalam mengiris permukaan kulitnya. Dokter itu kemudian segera memanggil para perawat yang lain untuk membantu menenangkan Yoona dan melepaskan borgol itu dari tangan Yoona, sebelum Yoona kehabisan darah dan mati.

“Donghae! Lepaskan aku. Aku ingin bebas. Oh, Taeyeon, Yuri. Kalian tolong bantu aku! Aku janji akan selalu bersama kalian setelah ini. Bukankah kalian ingin mengajakku untuk mengobrol dan menghabiskan waktu dengan minum kopi bersama. Kwon Yuri, Kim Taeyeon! Tolong aku.”

Jeritan itu terus lolos dari bibir Yoona hingga akhirnya dokter mengambil tindakan dengan menyuntikan obat penenang di lengan kanan Yoona setelah ia dan beberapa perawat yang lain harus menahan rontaan dan gerakan membabi buta Yoona yang brtutal.

Perlahan-lahan, setelah obat itu masuk sepenuhnya ke dalam tubuh Yoona, Yoona merasa dirinya melayang-layang dan damai. Semua beban dan rasa sakit yang menghinggapi dirinya terangkat seketika. Dan setelah itu ia terhanyut ke dalam alam mimpi yang begitu menenangkan.

-00-

“Dokter, bagaimana kondisi Yoona? Mengapa ia bisa kabur dari rumah sakit ini?” Tanya tuan Im siang itu ketikan ia sedang mengunjungi Yoona di rumah sakit jiwa. Dua hari yang lalu ia merasa begitu terkejut ketika ia mendapati Yoona telah berada di rumahnya sambil menangis tersedu-sedu, dan melaporkan jika baru saja telah terjadi perampokan di dalam rumahnya. Namun, sebenarnya tuan Im sudah tahu, jika yang melakukan percobaan pembunuhan itu adalah putrinya. Ketika ia melihat rekaman cctv yang ia pasang di dalam rumahnya, saat itu Yoona sedang berada di dalam kamarnya. Entah bagaimana Yoona bisa masuk ke dalam rumahnya dan telah menginap semalam di kamarnya ketika ia dan isterinya tidak sedang berada di rumah. Kemudian saat isterinya pulang ke rumah malam harinya, ia begitu terkejut karena mendapati Yoona sedang berdiri di dalam kamarnya sambil menggenggam sebuah garpu di tangannya. Lalu tanpa diduga, Yoona langsung menusuk-nusuk perut isterinya secara brutal hingga isterinya ambruk di atas lantai dengan darah yang mengucur deras dari perutnya. Dan setelah melakukan hal itu, tiba-tiba Yoona menjadi tersadar dan langsung menangis meraung-raung di dekat tubuh ibunya yang sedang merenggang nyawa. Mengingat semua itu, tuan Im merasa begitu sedih dan terpukul. Satu-satunya anak yang ia miliki harus mengalami trauma mendalam yang separah itu karena sewaktu kecil Yoona pernah menjadi korban pembullyan teman satu kelasnya yang bernama Kim Taeyeon dan Kwon Yuri. Lalu, saat putri kecilnya itu menginjak usia sepuluh tahun, ia pernah dilecehkan oleh seorang pemuda pengantar koran yang bernama Lee Donghae. Sejak saat itu, Yoona menjadi pemurung dan sering melamun. Mental dan jiwanya terganggu karena ia tidak bisa menanggung semua beban berat itu sendiri. Akhirnya karena Yoona sering mengamuk dan menjerit histeris, tuan dan nyonya Im memutuskan untuk memasukan Yoona ke dalam rumah sakit jiwa. Mereka pikir dengan memasukan Yoona ke dalam rumah sakit jiwa, Yoona akan lebih baik dan berangsur-angsur pulih. Namun, siapa sangka, setelah lebih dari sepuluh tahun tinggal di dalam rumah sakit jiwa, Yoona tiba-tiba melakukan tindakan nekat dengan kabur dari rumah sakit jiwa dan pulang ke rumahnya sambil membawa teror yang mengerikan bagi nyonya dan tuan Im. Tapi, meskipun begitu, tuan Im merasa begitu iba pada putrinya dan tak sampai hati untuk melaporkan kejadian percobaan pembunuhan itu kepada pihak berwajib. Dan saat isterinya sadar hari ini, nyonya Im terus menerus menangis, meratapi nasib putri semata wayangnya yang begitu menyedihkan. Andai saja dulu mereka tidak sibuk mengumpulkan harta di luar rumah dan lebih sering memperhatikan kondisi putri mereka, maka semua ini tidak akan terjadi. Putri semata wayang mereka tidak akan gila dan mengalami trauma yang begitu mengerikan seperti saat ini.

“Saat ini kondisi Yoona sedang drop. Entah apa yang memicu hal itu terjadi dalam dirinya, tapi saat ini Yoona sedang dalam masa labil, sehingga kami perlu memantaunya selama dua puluh empat jam untuk melihat kondisi Yoona selanjutnya.” Terang dokter muda itu sambil mengamati catatan medik milik Yoona. Tuan Im tampak begitu frutasi sambil mengacak rambut putihnya dengan gusar. Apa yang terjadi pada Yoona saat ini adalah karena salahnya. Dan betapa ia begitu membenci dirinya saat ini karena ia tidak dapat melakukan apapun untuk menyembuhkan putrinya dan membawa Yoona keluar dari alam bawah sadarnya yang mungkin saja sangat mengerikan itu.

“Dokter Oh, tolong sembuhkan putriku. Ia tidak seharusnya menerima siksaan yang begitu menyakitkan seperti itu. Ia seharusnya dapat menjalani hari-harinya yang penuh warna, menghabiskan masa mudanya yang begitu indah. Apa aku bisa mempercayakan Yoona padamu?”

Oh Sehun menganggukan kepala pelan pada tuan Im sambil tersenyum tulus pada pria tua itu. Selama lebih dari sepuluh tahun ia mengenal Yoona dan menjadi dokter khusus bagi wanita itu, ia merasa begitu bersimpatik pada Yoona, karena wanita itu sebenarnya memiliki hati yang begitu bersih dan lembut. Pernah beberapa kali, saat kondisi Yoona sedang stabil, ia akan menemani Yoona menikmati suasana senja di taman belakang rumah sakit sambil bercanda ringan dengan wanita itu. Dan andai saja Yoona adalah wanita normal, mungkin ia akan jatuh ke dalam pesona Yoona yang begitu mengagumkan dengan mudah. Sayangnya, Yoona adalah pasien skizofrenianya yang cukup parah, sehingga hampir tidak ada harapan sama sekali untuk sembuh. Mungkin selama ini Oh Sehun hanya menjaga Yoona agar tetap stabil dan tidak melukai orang lain seperti kejadian beberapa hari yang lalu. Namun, sebenarnya ia sama sekali tidak dapat menyembuhkan wanita itu.

“Saya akan melakukan yang terbaik untuk putri anda.”

-00-

“Yoona, bangunlah. Hey, ayo buka matamu. Apa kau tidak mendengar suara kami! Hey, bangun!”

Seketika Yoona langsung membuka matanya lebar-lebar ketika ia mendengar suara teriakan teman-temannya yang dulu sering membullynya di sekolah. Dan ketika ia melihat sosok Yuri dan Taeyeon sedang bersedekap angkuh di depan tubuhnya, Yoona langsung beringsut mundur hingga ia terjatuh dari atas blangkarnya yang cukup tinggi. Yuri dan Taeyeon kemudian berjalan mendekati Yoona sambil tertawa terbahak-bahak dengan suara tawa mereka yang begitu nyaring seperti lolongan anjing. Membuat Yoona secara refleks langsung menutupi kedua indera pendengarannya karena ia sama sekali tidak ingin mendengar suara itu. Suara sialan yang sudah bertahun-tahun selalu mengganggu hidupnya.

“Pergi kalian semua! Pergi!”

“Yoona, kenapa kau begitu kasar pada kami? Bukankah kami adalah bagian dari dirimu juga, seharusnya kau tidak mengusir kami dengan sangat kasar seperti itu.” Bisik Yuri pelan dengan nada santai di telinga Yoona. Yoona yang merasa muak dan ketakutan dengan semua itu, hanya mampu berteiak histeris sambil menendang-nendang udara kosong di depannya, berniat untuk mengusir Yuri dan Taeyeon yang terus mengganggunya dan menghantuinya.

“Yoona, apa kau ingin mencoba bermain denganku?”

Tiba-tiba suara bariton itu mengalun di indera pendengaran Yoona, membuat Yoona semakin was-was dan hanya mampu menutup kedua telinganya rapat-rapat agar ia tidak perlu mendengar suara itu. Tapi, usapan lembut di wajah dan pangkal pahanya, membuat Yoona merasa semakin jijik dan tidak tahan dengan semua bisikan-bisikan yang terus menghantuinya. Ia kemudian segera merangkak menuju tembok untuk membentur-benturkan kepalanya di sana agar ia tidak perlu mendengar suara-suara itu lagi.

“Yoona, tubuhmu sangat nikmat, meskipun kau masih anak-anak. Saat kau beranjak dewasa nanti, kau pasti akan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan juga seksi.”

“Pergi! Pergi dari sini! Aku tidak mau mendengar suara kalian lagi! Pergi dari kepalaku sekarang juga! Pergi!”

Duk

Duk

Duk

Berkali-kali Yoona terus menghantam kepalanya ke arah dinding hingga darah segar merembes keluar dari sela-sela kulit kepalanya yang terluka. Semakin lama Yoona semakin keras memukulkan kepalanya pada tembok karena ia merasa sudah tidak kuat lagi menanggung semua beban itu sendiri. Suara bisikan itu terus mengahntuinya dan membuatnya selalu ketakutan setiap malam. Ia ingin pulang, bertemu dengan eommanya dan meminta perlindungan, tapi kemudian ia menjadi linglung dan eommanya terluka. Sekarang ia merasa ingin mati. Ia ingin mengubur semua bisikan itu bersamanya di dalam tanah, bersama dengan semua kenangan yang ingin ia lupakan selamanya.

Duk

‘           Satu benturan keras berhasil membuat kepala Yoona remuk dan mengucurkan begitu banyak darah di atas lantai rumah sakit yang putih. Lalu, tak berapa lama Yoona segera ambruk di atas lantai dengan bayangan Donghae, Yuri, Taeyeon, Sunny, serta seluruh teman imajinasinya yang sedang mengitarinya sambil bersorak-sorai gembira, menertawakan kematian yang akan menjemputnya sebentar lagi.

“Eomma, appa, aku menyayangi kalian.” Ucap Yoona lirih sebelum semua kegelapan itu melingkupi dirinya dengan begitu pekat.

27 thoughts on “The Whisper (Oneshoot)

  1. Jadi…Yoona gila dan sudah menempati rumah sakit jiwa selama 10 tahun karena mengalami pembullyan dan pelecehan sebelumnya.Mengenai Oh Sehun yg mnjadi kekasihnya yg ternyata menjadi dokter pribadinya apa juga hanya ilusi dan delusi Yoona saja??Bagaimana Donghae bisa menjadi teman khayalan Yoona??sementara Donghae adalah tukang koran yg melecehkan Yoona sewaktu berumur 10 tahun.Apa setelah mmbenturkan kepalanya itu Yoona benar meninggal???

  2. Karena Yoona merasa pernah mengalami perlakukan buruk di masa lalu, otaknya justru jadi memproses hal yg sebaliknya gitu. Istilahnya strategi coping, tapi coping yg dilakukan g pada tempatnya.

  3. Sedih bnget jdi semua nya hanya khayalan yoona doang .
    Q pikir hae baik jdi tmn khayalan yoona eh ternyataa hae jg termasuk orng yg membuat yoona terauma .dan hae meleceh kan yoona.
    Apa yoona meninggal

  4. Jdi yoong sbnarnya sakit jiwa??? Jdi yoong dlu wktu kcil jdi krban bullying dan pelecehan?? Huwaaa gue kira beneran yoong yg pnya tmn imajinasi ttp trnyata yoong gla :v gue kira jln crtnya ini hae kyk hntu yg berkeliaran krn blm mati (masih skarat) eh ternyataaa :v Crita2 kk susah2 ditebak alurnya :v

    Fighting kk!!

  5. wiih gilak. aku sampe merinding bacanya. aku pikir donghae adalah sesosok teman kyalan yg baik untuk yoona. tapi malah sebaliknya. menghancurkan. sifat donghae disini menakutkan banget. dan juga waaktu eomma yoona dicucuk pake garpu. itu sadis bener. dan lebih sadisnya yoona akhirnya meninggal dengan cara ngebentur kepalanya berkali2 ditembok. tapi btw. yoona ternyata uda dilecehin donghae waktu kecil. tapi kok yoona gk ingat ya wajah donghae?? malah bercinta lagi sama donghae waktu dewasa 😂😂 pokonya keren deh authornim meskipun sad endingnya sangat tragis.

  6. Jadi ternyata semua hanyalah khayalan yoona. Dan yoona udah gila sejak kejadian pembullyan dan pelecehan. Kasihan yoona. Ngga tega ㅠ.ㅠ

  7. Sadiiiiiiisss dah ceritanya..
    donghae ya ampuunn,
    Apa mungkin hidup Yoona dicerita ini bner2 dirasain sama korban2 di dunia nyata bhkan bisa lebih parah. Huh sereemm

  8. Jujur aku bingung dan gak tau harus koment apa.. baru pertama kali baca cerita gini jadi gimana gtu.. kirain Donghae juga emang temen hayalan yg baik tapi justru dia jahat.

  9. I’ve read some excellent stuff here. Definitely price bookmarking for revisiting.
    I surprise how much attempt you put to create the sort of wonderful informative site.

  10. Usually I do not read post on blogs, however I would like to say that this write-up very prereussd me to check out and do so! Your writing taste has been amazed me. Thank you, quite great post.

  11. I’m not sure exactly why but this blog is loading inceidrbly slow for me. Is anyone else having this issue or is it a issue on my end? I’ll check back later on and see if the problem still exists.

  12. Howdy very cool site!! Guy .. Excellent .. Amazing .. I’ll bookmark your site and take the feeds also?
    I am happy to find a lot of helpful information right here within the post, we’d like work out extra techniques on this regard,
    thanks for sharing. . . . . .

  13. Aku baru liat cerita kaya gini tapi keren 👍.
    Ceritanya yoong gila ?? Dan donghae pernah melecehkannya ??.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.