The Prince (Oneshoot)

Suasana siang di kota Roma tampak ramai. Banyak lalu lalang pejalan kaki yang sibuk menyebrang jalan sambil membawa gadget di tangan masing-masing. Tak jarang banyak pejalan kaki yang sibuk membagi konsentrasinya antara menyebrang jalan dan berbicara ditelepon. Terlihat seorang gadis sedang menyebrang jalan sambil membawa dua minuman dingin di kedua tangannya. Ia tampak tersenyum dengan seorang pria yang menunggunya disebrang jalan. Bibir mungilnya tampak menggumamkan sesuatu, kemudian lelaki di seberang jalan mengisyaratkan gadis itu untuk segera menyebrang jalan. Kemudian tanpa melihat lampu lalu lintas, gadis itu berjalan dengan sedikit tergesa ke seberang jalan. Dari arah berlawanan sebuah mobil hitam melaju dengan kencang ke arah gadis tersebut. Suara gesekan aspal dan ban membuat suasana siang yang semula ramai menjadi sangat ramai dan ricuh. Banyak pejalan kaki yang berteriak histeris saat kejadian tersebut terjadi, dan gadis itu tersungkur ke aspal.

“Kau baik-baik saja?”

Pengemudi tersebut yang ternyata seorang pria segera keluar dari mobilnya dan bergegas melihat keadaan sang gadis.

“Ya, aku baik-baik saja. Tapi, sepertinya kakiku terluka.” Kata gadis itu memelas.

“Ayo, aku akan mengantarmu ke rumah sakit.” Kata pria itu sambil membantu si gadis untuk berdiri.

Tiba-tiba seorang pria asing datang dengan heboh setelah ia berhasil keluar dari kerumunan orang-orang yang mengelilingi tempat kejadian kecelakaan.

“Chals kau baik-baik saja kan? Apa kau terluka? Mana bagian yang sakit? Katakan padaku chals, katakan!” Ucap pria itu sambil mengguncang-ngguncangkan tubuh Chalista.

Chalista masih shock dengan kejadian yang baru saja menimpa dirinya, ia nampak seperti orang linglung saat diberondong dengan begitu banyak pertanyaan dari pria asing tersebut.

“Kau mengenalnya?” Tanya si pengemudi mobil.

“Ya, aku temannya. Namaku Spencer. Apa dia baik-baik saja?”

“Aku juga tidak yakin, namun ia mengatakan bahwa kakinya terluka.” Kata si pengemudi mobil mencoba menjelaskan.

“Aku baik-baik saja Spen, pria ini akan mengantarku ke rumah sakit.”

Suara Chalista membuat dua orang pria itu menoleh ke arahnya. Mereka nampak prihatin dengan kondisi Chalista yang terlihat merintih kesakitan.

“Benarkah dia akan mengantarmu ke rumah sakit?” Tanya Spencer terdengar tak percaya.

“Aku akan bertanggungjawab dan mengantarnya ke rumah sakit. Ini semua salahku, jadi biarkan aku menebus segalanya.” Kata pria itu dengan satu tarikan nafas.

“Baiklah aku percaya padamu. Jadi, siapa namamu?”

“Aiden Lee. Panggil aku Aiden.” Kata pria itu dingin.

“Halo Aiden, aku Spencer. Dan aku percayakan sahabatku padamu. Setidaknya jika kau berniat melakukan hal yang tidak-tidak pada sahabatku, aku tahu namamu dan aku akan mencarimu hingga ke ujung dunia jika itu terjadi.”

Aiden nampak bosan dan jengah dengan pria cerewet di depannya. Ia tidak lagi memperhatikan ucapan Spencer. Ia malah memapah Chalista menuju mobil dan meninggalkan Spencer tanpa mengatakan apapun lagi.

-00-

“Pria cerewet.” Gumam Aiden. Namun, sepertinya telingan sensitif Chalista mendengar sedikit gumaman Aiden.

“Siapa? Spencer?” Kata Chalista sedikit tidak suka. Hey, bagaimana bisa seorang sahabat hanya duduk diam saat seseorang mengumpati sahabat baiknya. Hell no.

“Hmm.” Jawab Aiden seadanya.

Sepertinya pria itu mengalami mood yang buruk setelah bertemu dengan si pria cerewet, Spencer. Jadi Aiden tidak ingin lagi membahas masalah tadi ataupun membahas nama pria cerewet itu. Persetan dengan segala pikiran buruk mengenai dirinya. Ia tidak peduli dan tidak mau peduli.

-00-

Perkenalan singkat antara Aiden dan Chalista sangatlah unik dan mengerikan. Namun siapa sangka jika semua itu adalah sebuah skenario.

Siang itu Chalista dan Spencer memutuskan makan siang bersama di sebuah restoran jepang yang berada di dekat kantor mereka.

“Bagaimana keadaanmu setelah tiga hari mengambil cuti karena kakimu terkilir?” Kata Spencer memulai membuka percakapan.

“Aku merasa lebih baik. Dan ini bukan masalah besar.”

Chalista mulai menyumpit sushinya dengan tidak bersemangat. Terlihat jelas dari wajahnya bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.

“Benarkah? Tapi aku merasa kau tidak baik-baik saja.” Ucap Spencer sambil memperhatikan wajah Chalista.

“Sudah kuduga kau pasti akan menyadarinya. Sekeras apapun aku menyembunyikan masalahku, pada akhirnya kau akan tahu juga.”

Chalista menghelas nafas berat. Ia memang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dan ia lelah menganggap semua dalam keadaan baik-baik saja. Ia butuh Spencer untuk membantunya, jadi ia akan menceritakan semuanya pada Spencer. Ya, semuanya.

“Aku memiliki masalah. Masalah yang cukup serius.”

Jeda sebentar, kemudian Chalista mulai mengumpulkan semua keyakinannya untuk menceritakan masalahnya pada Spencer.

“Aku mengalami stress tiga hari belakangan ini.

“Karena kakimu?” Potong Spencer cepat.

“Bukan, maksudku tidak sepenuhnya karena kakiku. Aku memang stress karena setiap malam jika udara dingin kakiku terasa ngilu, namun itu tidak seberapa dibandingkan dengan stress yang aku alami.” Ucap Chalista terdengar frustasi.

“Lalu?” Tanya Spencer sambil mengangkat kedua alisnya.

“Aku diteror.” Kata Chalista singkat. Spencer nampak menaikkan satu alisnya bingung. Antara percaya dan tidak percaya, Spencer sendiri tidak yakin apakah di era modern seperti sekarang ini masih ada yang namanya peneroran.

“Kau yakin itu sebuah teror? Apa kau sudah menyelidikinya? Mungkin saja itu perbuatan orang iseng yang tidak bertanggung jawab.” Kata Spencer santai.

“Tidak, itu semua bukan sekedar hal iseng. Ini serius. Sesaat setelah aku diantar pulang oleh Aiden, aku menemukan surat di depan pintu rumahku, surat itu berisi ancaman, bahwa dia akan membunuhku. Dan dia juga mengatakan setelah ini akan ada banyak kejutan darinya, katanya aku harus menikmati permainannya. Kemudian malam harinya aku mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak kukenal, saat aku mengangkatnya hanya terdengar suara hembusan nafas seseorang, tapi di detik ke 20 orang itu mengatakan jika ia telah mengirim hadiah untukku. Selang 10 menit aku dikagetkan dengan suara bel pintu rumahku, saat aku membuka pintu tidak ada siapapun di sana. Hanya sebuah paket yang aku sendiri bingung siapa yang mengirimkannya. Kemudian saat aku membukanya isi dari paket itu adalah fotoku yang dilumuri darah kucing mati. Itu sungguh mengerikan Spencer. dan sejak saat itu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.” Erang Chalista frustasi sambil menutup mukanya. Ia benar-benar ketakutan dengan semua ini.

“Lalu, kenapa baru sekarang kau menceritakanya padaku?” Kata Spencer sambil memandang wajah Chalista prihatin.

“Aku merasa takut. Jadi selama dua hari kemarin aku hanya mengurung diriku di kamar. Aku tidak berani keluar rumah. baru pagi ini aku merasa perlu keluar rumah dan menceritakan hal ini padamu. Jadi, bisakah kau menolongku?”

“Tentu saja aku akan menolongmu. Kau adalah sahabat terbaikku. Tapi ada hal aneh dalam kasusmu ini. Kenapa baru sekarang ada orang yang menerormu? Mmm.. setelah kau bertemu dengan Aiden.”

Spencer mengatakan hal itu dengan raut wajah yang sulit diartikan, antara yakin dan tidak yakin. Spencer tidak yakin karena Aiden itu tidak terlihat seperti orang jahat, tapi sikapnya yang misterius membuatnya merasa harus mencurigai Aiden.

“Maksudmu Aiden yang menerorku?” Tanya Chalista mengangkat sebelah alisnya.

“Aku tidak mengatakan jika Aiden yang menerormu. Tapi kau perlu menyelidiki latar belakang Aiden lebih lanjut, karena dia memiliki aura yang misterius.”

Chalista mencerna semua pernyataan Spencer dengan gamang. Bagaimana bisa Spencer menyimpulkan hal tersebut, sedangkan dia dan Aiden hanya sebatas korban dan pelaku tabrakan. Namun, hati kecil Chalista merasa penasaran dengan sosok Aiden yang sesungguhnya. Dan Chalista jadi teringat kata-kata Aiden saat mengantarnya pulang.

Flashback

“Jadi, dokter mengatakan kakimu hanya terkilir?” Tanya Aiden sambil meneliti kakinya.

“Ya, dan terimakasih atas pertanggungjawabanmu.”

“Hmm. Padahal aku berharap kakimu patah.” Gumam Aiden.

Chalista sedikit aneh dengan gumamn Aiden. Walaupun hanya gumaman, Chalista sangat yakin jika Aiden merasa tidak suka jika kakinya itu hanya sebatas terkilir. Tapi mengapa? Itulah yang membuat Chalista bertanya-tanya. Jika memang pria itu memiliki niat jahat, tidak mungkin dia mau mengantarnya ke rumah sakit. Namun jika pria itu tidak memilki niat jahat, mengapa ia bergumam demikian? Chalista benar-benar tidak mengerti.

Flashback end

“Chals, heyy.. kau melamun?”

Spencer menggoyang-goyangkan bahu Chalista pelan. Chalista terlihat menyedihkan. Membuat Spencer khawatir dengan sahabat baiknya itu.

“Spencer, maafkan aku. Sepertinya aku harus pergi sekarang.” Jawab Chalsita terburu-buru.

-00-

Setelah meninggalkan Spencer begitu saja di restoran, Chalista berjalan tak tentu arah menyusuri trotoar jalan dengan lesu. Pikirannya berkecamuk. Apakah ia memang harus menyelidiki latar belakang Aiden atau tidak. Kalaupun ia harus menyelidikinya bagaimana caranya. Ia hanya sekilas mengenal Aiden. Ia juga tidak banyak membuka pembicaraan dengan Aiden saat Aiden mengantarnya ke rumah sakit. Ia hanya tahu jika Aiden memiliki sebuah perusahaan dibidang konstruksi. Selebihnya, kosong. Ia sama sekali tidak tahu. Disaat pikirannya sedang kalut, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara klakson mobil dari arah samping. Chalista terlihat kaget dan ia segera menengok ke arah sumber suara. Tampak seorang pria melambai dari arah kemudi.

“Aiden.” Gumam Chalista tak percaya. Bagaimana mungkin ia tiba-tiba bertemu dengan Aiden, disaat ia memang ingin menemuinya. Sungguh kebetulan yang ajaib, pikir Chalista.

“Aiden, kau masih ingat denganku?” Tanya Chalista dengan bodoh.

“Hah? Tentu saja. Kau ini bodoh atau apa? Bagaimana mungkin aku melupakan sosok wanita sepertimu. Yang sangat ceroboh dan suka membuat orang lain mendapatkan kesialan. Kau hampir tertabrak lagi olehku.” Kata Aiden dingin.

“Be benarkah? Maafkan aku. Aku sedang banyak pikiran.” Kata Chalista menyesal.

“Masuklah.” Perintah Aiden.

“Untuk apa? Kau tidak perlu mengantarkanku ke rumah sakit lagi. Kali ini aku tidak terluka. Sungguh, jadi tidak perlu repot-repor mengantarku ke rumah sakit.”

“Bodoh. Aku tidak berencana mengantarmu ke rumah sakit. Aku memiliki sedikit urusan denganmu. Jadi masuklah dan tidak usah terlalu banyak berbicara.”

Chalista merasa heran dengan urusan yang dimaksud Aiden. Kira-kira hal penting apa yang ingin dirundingkan Aiden? Dan tanpa banyak bicara lagi, Chalista segera masuk ke dalam mobil Aiden dan duduk dengan diam di sebelah Aiden.

-00-

Mereka berdua telah sampai disebuah restoran Italia. Kali ini Aiden memesan tempat yang lebih privasi untuk berbicara berdua dengan Chalista. Karena menurutnya hal ini harus dirahasiakan dari siapapun.

“Ehem, jadi ada perlu apa?”

Suara Chalista mampu membuat perhatian Aiden tertuju padanya. Aiden yang tadinya sedang sibuk dengan ponselnya, kemudian segera meletakkan ponsel itu dan menatap lebih serius ke arah Chalista.

“Apa hubunganmu dengan Spencer?” Tanya Aiden ambigu.

“Maksudmu? Penyataanmu itu sangat ambigu.” Kesal Chalista.

“Siapa dia? Kekasihmu?”

Aiden tidak mempedulikan kekesalan Chalista. Aiden tetap meneruskan pertanyaannya walaupun Chalista sedikit kesal dengan pertanyaanya yang tidak jelas.

“Tentu saja bukan. Spencer adalah sahabat baikku. Dia teman sekantorku, dan aku mengenalnya dua tahun yang lalu. Memangnya ada apa?”

“Rupanya dia sangat dekat dengan Chalista.” Gumam Aiden.

“Baiklah terimakasih atas waktumu, silahkan kau habiskan semua makanan ini. Aku harus pergi.”

Tanpa menunggu jawaban dari Chalista, Aiden segera pergi dari restoran tersebut. Ia sudah mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Dan ia merasa perlu menyingkirkan pengganggu itu.

Sebaliknya, Chalista merasa jengkel sekaligus bingung dengan sikap Aiden. Seenakknya saja mengajakknya bertemu kemudian ia ditinggalkan begitu saja setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan. Benar-benar Chalista rasanya ingin meledak karena kesal.

“Awas kau Aiden Lee. Aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi.” Tekad Chalista.

-00-

Sore harinya rumah Chalista diguyur hujan lebat. Dengan wajah bosan ia berdiri di balkon rumahnya sambil mengamati hujan yang tak kunjung ada tanda-tanda akan reda. Malah hujan tersebut semakin lebat mengguyur area rumahnya.

“Kenapa harus hujan. Membuatku semakin merasa takut jika membayangkan hal-hal buruk mengenai peneror itu.” Gerutu Chalista seperti orang gila.

Saat Chalista sibuk menggerutu, tiba-tiba daria arah ruang tamu telepon rumahnya berdering. Dengan sedikit was-was Chalista mengamati telepon tersebut. Antara ingin mengangkat atau tidak. Ia takut jika seandainya itu adalah telepon dari orang yang menerornya, tapi akal sehatnya mengatakan jika ia harus mengangkat telepon itu, mungkin itu telepon dari orang tuanya yang sedang bertugas di Amerika. Dengan langkah berat Chalista mengangkat telepon tersebut dan menyapa orang di seberang sana dengan suara yang ia buat ceria. Namun yang ia dengar hanya hembusan nafas dari orang yang menelponnya.

“Halo, apakah anda masih diseberang sana?” Kata Chalista dengan ragu. Ia sudah sedikit was-was dengan penelepon itu. Karena ia memiliki pengalaman buruk dengan suara hembusan nafas di telepon.

“Aku akan menutup teleponnya jika anda tidak segera berbicara.” Kata Chalista terdengar galak. Walau sebenarnya hatinya sangat takut.

“Hahahaa. Rupanya kau cukup galak nona. Dan aku sangat suka melihat muka panikmu itu.” Kata orang di telepon dengan suara yang menggelegar.

Chalista membeku ditempatnya. Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan untuk melihat apakah ada orang lain di dalam rumahnya selain dirinya. Tapi nihil, tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya. Lalu bagaimana orang itu mengetahui keadaan dirinya?

“A apa maumu?” Kata Chalista terbata-bata.

“Hmm.. aku hanya ingin melihatmu mati.”

Penelpon itu mengatakan dengan sangat tegas dan keras, membuat Chalista semakin takut dan ingin menangis.

“Tapi kenapa?” Isak Chalista. Ia sudah benar-benar sangat stress dengan semua teror ini.

“Karena kau telah merusak kebahagianku. Kau menghancurkan hidupku. Dan kau pantas untuk mati. Tapi tenang saja, sebelum kau mati aku akan memberikan siksaan terlebih dahulu kepadamu. Dengan begitu kau akan lebih tenang saat menghadapi kematianmu.”

“Hey, jika kau berani muncullah di hadapanku sekarang juga. Bunuhlah aku, aku tidak takut padamu. Jika memang aku yang membuat kebahagiaanmu hancur, maka aku rela mendapatkan hukumannya.”

Chalista berteriak frustasi pada telepon yang ia genggam. Sekarang ia merasa ingin mati saja, jika nyatanya hidup yang ia jalani malah menambah beban pikirannya.

“Tidak semudah itu nona. Aku akan memulai pemanasanku dulu dengan teman cerewetmu. Kau pasti sudah dapat menebaknya kan. Sampai jumpa.”

Klik. Sambungan terputus. Penelpon itu memutuskan sambungan teleponnya sebelum yoona sempat membalas ucapannya. Dan yoona cukup terpukul dengan kejadian itu. Matanya menatap nanar telepon yang ia genggngam. Air matanya jatuh menetes mengenai baju yang ia pakai. Cengkramannya pada telepon semakin mengetat seiring bertambahnya emosi yang ia miliki. Ia marah, sedih, dan takut. Kemudia ia teringat pada sahabatnya, Spencer.

“Spencer dalam bahaya.” Gumam Chalista.

Ia lantas berdiri, dan membanting telepon dengan keras. Ia harus menyelamatkan Spencer sebelum si penelpon gila itu mencelakai Spencer. Walaupun penelpon itu tidak menyebutkan nama Spencer, ia cukup yakin jika yang dimaksud teman cerewetnya adalah Spencer, karena Aiden pernah mengatakan jika Spencer adalah laki-laki cerewet. Chalista sempat terdiam saat ia menaiki anat tangga ke lima, ia teringat dengan Aiden, dan dugaan Spencer. Apa benar jika Aiden yang melakukan semua ini? Tapi untuk apa? Chalista segera membuang jauh-jauh pertanyaan tersebut dari benaknya. Yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa Spencer sebelum temannyaitu menjadi korban sang penelpon misterius itu.

-00-

Chalista mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sama sekali tidak peduli dengan keselamatan nyawanya. Yang terpenting adalah menemukan keberadaan Spencer. Karena sudah berkali-kali ia menghubungi Spencer, tapi tidak kunjung mendapatkan jawaban dari pria itu. Akhirnya Chlista berinisiatif mendatangi apartemen Spencer untuk mencari tahu keberadaannya.

Sampai di loby apartemen Spencer, Chalista segera berlari menuju lift dan dengan tidak sabaran tangannya menekan tombol lantai apartemen Spencer. Saat Chalista hampir dekat dengan pintu apartemen Spencer, Chalista mendengar bunyi letusan dari arah apartemen Spencer.

“Spencer.” Teriak Chalista seperti orang gila. Ia segera menerobos pintu apartemen Spencer dan berlari masuk ke dalamnya. Ia merasa jantungnya akan berhenti saat itu juga. Ia melihat Spencer bersimbah darah di bagian lengannya. Sedangkan Spencer sendiri terkapar tak berdaya sambil menahan sakit di lengannya.

“Spencer apa yang terjadi?” Kata Chalista sambil membantu Spencer untuk berdiri. Ia harus membawa Spencer ke rumah sakit.

“Chals, orang itu melompat dari jendela.” Ucap Spencer sambil menunjuk jendela.

“Tenangkan dirimu Spencer. Saat ini kau harus di bawa ke rumah sakit. Nanti kau bisa menceritakan padaku tentang hal yang baru saja kau alami.”

-00-

Chalista menyetir mobilnya dengan tidak konsentrasi. Sesekali ia menoleh ke kursi penumpang sambil melihat kondisi Spencer. Ia takut Spencer akan mati. Meskipun luka tembak itu hanya mengenai lengan Spencer, tapi darah yang keluar dari lengan itu sangat banyak, membuat Chalista panik dan frustasi.

“Tahanlah sebentar Spen, kita hampir sampai. Kumohon bertahanlah.” Kata Chalista berusaha menenangkan Spencer. Walau kenyataanya saat ini yang butuh ketenangan adalah dirinya.

-00-

Dokter dan para perawat dengan sigap segera menangani Spencer. Chalista tidak diijinkan masuk ke ruang UGD, sehingga ia hanya bisa pasrah menunggu di ruang tunggu dengan gelisah. Saat pikirannya tengah kalut, seorang pria menepuk pundaknya dari samping.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Kata orang itu mengagetkan Chalista.

Chalista segera mendongakkan wajahnya dan bermaksud meliahat siapa pria yang membuatnya kaget beberapa saat lalu, tapi saat melihat sosok yang ada di sebelahnya Chalista menjadi lebih kaget lagi.

“Aiden, kenapa kau ada di sini?” Tanya Chalista sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.

“Aku sedang menjenguk kolegaku yang sakit. Kau sendiri?” Ulang Aiden bertanya mengenai maksud keberadaan Chalista ada di rumah sakit. Tapi Chalista haanya diam saja sambil menutup mukanya frustasi. Ia bingung dan kalut, ia juga takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi padanya. Ia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa atas masalah ini. Terakhir kali ia meminta tolong pada sahabatnya, malah sekarang sahabatnya menjadi korban. Chalista tidak mau ada korban lagi yang jatuh karena dirinya. Ia bertekad, bahwa ia akan menyelesaikan sendiri masalahnya.

“Chals, bisakah aku bicara padamu.” Kata Aiden pelan. Ia sedikit ragu untuk mengatakan ini. Tapi ia merasa harus mengatakannya.

“Ya, bicaralah.”

“Menjauhlah dari Spencer.” Kata Aiden singkat.

“Menjauh? Kenapa?” Tanya Chalista tidak mengerti. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Aiden. Orang itu terlalu sulit dipahami oleh Chalista.

“Dia ingin membunuhmu. Dia jahat Chals. Jadi aku mohon menjauhlah darinya.”

Seketika hatinya merasa marah dengan semua perkataan Aiden. Tidak seharusnya Aiden mengatakan itu. Spencer tidak jahat dan mana mungkin dia mau membunuhnya, Spencer sahabatnya, dia tidak mungkin akan membunuhnya. Dan yang terpenting adalah disini Spencer bukan jahat justru dia adalah korban. Jadi menurut Chalista Aiden itu konyol.

“Kau tidak seharusnya mengatakan itu. Spencer sedang sekarat di dalam sana, dia adalah korban dari percobaan pembunuhan. Dia tidak mungkin membunuhku, akulah yang menyebabkan dia celaka.” Teriak Chalista tepak di depan muka Aiden. Nafasnya tampak terengah-engah saat ia selesai berbicara dengan Aiden.

Sebaliknya, Aiden terlihat datar-datar saja dengan semua yang diceritakan Chalista. Ia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. Ia tahu semuanya. Ya semuanya.

“Ya, aku tahu. Pasti ia akan berakhir seperti ini. Dan aku harap ia benar-benar mati didalam sana.” Kata Aiden kejam.

Chalista benar-benar tak percaya dengan ucapan Aiden. Kemudia tanpa diduga Chalista menampar dengan sangat keras pipi sebelah kanan Aiden.

“Kau gila. Kau menginginkan Spencer mati. Dia sahabatku. Dan sepertinya dugaanku selama ini benar, kau adalah peneror itu. Kau yang menginginkan kematianku. Setelah Spencer mati kau akan membunuhkan? Silahkan saja jika kau memang ingin. Aku sudah tidak peduli dengan kehidupanku. Tapi satu hal yang harus kau tahu, jauhi semua orang yang kusayangi. Ini adalah urusanmu denganku.”

“Kau salah paham Chals. Aku bukan penerormu, Spencer yang…..”

“Cukup! Pergi kau dari sini. Aku tidak mau melihatmu lagi. Pergi!”

Chalista berteriak dengan keras di lorong rumah sakit. Ia tidak peduli lagi dimana ia berada sekarang. Yang penting ia tidak mendengar omong kosong Aiden lagi. Ia muak dengan Aiden, ia muak dengan hidupnya. Semenjak kecelakaan yang menimpanya ia tidak bisa lagi hidup dengan tenang.

-00-

Dokter keluar dari ruang operasi beberapa saat setelah Aiden pergi. Wajah dokter tersebut tampak tak terbaca.

“Dokter, bagaimana kondisi teman saya? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Chalista dengan raut khawatir.

“Kami sudah mengeluarkan peluru yang ada di lengannya. Sekarang teman anda akan dipindahkan ke ruang rawat. Permisi.”

Dokter tersebut pamit undur diri setelah menjelaskan kondisi Spencer. Chalista bisa kembali bernafas lega, setidaknya sahabat baiknya itu bisa selamat dari maut. Walaupun setelah ini Chalista tidak tahu bagaimana kelanjutan hidupnya.

-00-

Chalista mengunjungi Spencer beberapa saat setelah Spencer sadar.

“Hey, merasa lebih baik?” Tanya Chalista sambil duduk disebelah ranjang Spencer.

“Yahh begitulah. Terimakasih karena kau datang tepat waktu. Jika tidak ada kau aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi dengan diriku.”

“Tidak masalah. Aku senang karena aku datang disaat yang tepat. Mmm, soal peneror itu, apa kau melihat wajahnya?”

“Maaf Chals, aku tidak melihatnya. Kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat.” Kata Spencer menyesal.

“Tidak masalah. Yang terpenting kau segera sembuh dan keluar dari rumah sakit. Sementara waktu aku akan mengambil alih pekerjaanmu di kantor.” Ucap Chalista dengan tulus.

Spencer mengamati wajah Chalista dengan prihatin. Seharusnya orang sebaik Chalista tidak menanggung masalah serumit ini.

“Chals, bisakah aku tinggal di rumahmu setelah aku keluar dari rumah sakit? Aku masih trauma berada di apartemenku, selain itu aku bisa menemanimu di rumah. bagaimana?”

“Baiklah, aku senang jika kau menemaniku di rumah. Terimakasih banyak Spen, kau memang sahabatku.”

-00-

Setelah Spencer keluar dari rumah sakit, Spencer benar-benar tinggal di rumah Chalista. Hubungan Chalista dengan Aiden menjadi buruk. Berkali-kali Aiden berusaha menemui Chalista, tapi Chalista tidak pernah mau menemuinya. Dan teror yang menghantui Chalista tidak terjadi lagi setelah Chalista menjauh dari Aiden. Namun itu semua belum berakhir, masih tersisa beberapa game yang akan dimainkan oleh sang peneror.

“Spen. Aku rasa peneror itu sudah berhenti menggangguku.” Kata Chalista suatu sore di pinggir kolam. Spencer dan Chalista sedang menikmati waktu sore dengan duduk di pinggir kolam sambil meminum segelas coklat hangat.

“Benarkah? Apa kau sudah tahu siapa pelakunya?” Tanya Spencer sambil memiringkan kepalanya.

“Umm, ya. Tapi aku merasa tidak yakin.”

“Katakan padaku siapa orangnya?” Tanya Spencer mendesak.

“Kau ingat dengan semua prasangkamu dulu? Kau benar tentang semuanya Spen, orang yang menerorku adalah Aiden.” Jawab Chalista sambil menundukkan kepalanya.

“Apa? Tidak mungkin Chals. Tidak, Aiden orang yang baik. Tidak mungkin ia tega melakukan hal itu. Ia selalu baik padamu. Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?” Tanya Spencer tak percaya.

Kemudian Chalista menceritakan semua kejadian yang ia alami saat di rumah sakit. Ia menceritakan pada Spencer bahwa Aiden menginginkan Spencer mati. Chalista juga menambahkan, bahwa dulu saat ia mengalami kecelakaan ia mendengar gumaman Aiden mengenai kakinya yang seharusnya patah bukan malah terkilir.

“Jika memang seperti itu apa kau sudah melaporkan kejadian ini pada polisi?”

“Sebenarnya saat itu aku akan melaporkannya. Tapi aku masih takut. Aku takut akan membahayakan orang-orang disekitarku. Aku juaga mengkhawatirkan kondisimu.” Kata Chalista sedih.

“Tidak apa-apa Chals. Kau harus melaporkan kejadian ini pada polisi. Mereka pasti akan membuat kau aman. Besok aku akan menemanimu melaporkan kejadian ini.” Kata Spencer sambil menepuk pundak Chalista.

-00-

Malam harinya Chalista dan Spencer hanya menghabiskan waktu mereka dengan menonton film action yang dimiliki Chalista. Namun tiba-tiba seluruh lampu di rumah Chalista padam. Hal ini membuat Chalista panik dan segera memeluk lengan Spencer kencang.

“Tenang Chals, ayo kita cari di mana lampu senternya. Atau kau tunggu saja di sini. Aku akan mencarinya di kamarmu.”

Spencer berdiri dan meninggalkan Chalista sendiri di depan televisi. Sesekali Spencer meraba-raba dinding untuk berpegangan karena rumah dalam keadaan gelap gulita. Dilain tempat, Chalista menatap was-was seluruh sudut ruangan rumahnya. Matanya tampak nyalang jikalau ada sebuah pergerakan sekecilpun. Saat Chalista akan berbalik memunggungi kursi yang ia gunakan, seseorang membekapnya dan membuat ia tak sadarkan diri. Orang itu lantas membawa Chalista keluar tanpa diketahui oleh siapapun.

Spencer kembali dengan membawa dua buah senter. Tapi saat ia mencapai tangga terakhir, tiba-tiba seluruh lampu di rumah Chalista kembali menyala. Spencer tampak curiga dengan hal ini, karena tidak mungkin pemadaman listrik dilakukan secara singkat. Spencer segera berlari ke ruang tengah untuk mencari keberadaan Chalista, namun Spencer tidak menemukan siapapu di sana.

“Sial!” Geram Spencer marah.

-00-

Chalista terbangun di sebuah kamar yang tampak asing di matanya. Kamar itu jelas bukan kamarnya. Kamar yang didominasi warna hitam dan putih itu tampak sangat kaku seperti kamar seorang pria. Chalista memutuskan untuk berdiri dan berjalan ke arah pintu, namun saat tangannya hendak menyentuh kenop pintu, seseorang telah lebih dulu membuka pintu tersebut. seketika perasaan Chalista menjadi sangat was-was. Ia takut.

“Rupanya kau sudah sadar?” Tanya pria itu saat memasuku kamar. Sebenarnya ia juga terkejut dengan keadaan Chalista yang sudah ada di depan pintu, namun ia menutupinya dengan wajah poker face andalannya.

“Aiden. Kau?”

Kalimat Chalista tergantung di udara, suaranya tercekat karena ia terlalu syok dengan apa yang baru saja ia alami.

“Tenanglah Chals. Aku tidak akan menyakitimu. Duduklah kembali ke atas tempat tidur.” Kata Aiden sambil menuntun Chalista kembali duduk di atas kasur king sizenya. Aiden benar-benar bersyukur karena Chalista tidak melakukan pemberontakan.

“Kenapa kau membawaku ke sini? Apa kau akan membunuhku saat ini juga?” Tanya Chalista sakarstik.

Aiden hanya tergelak menanggapi ucapan Chalista itu. Ia sangat ingin tertawa dan juga sedih disaat yang bersamaan. Bagaimana bisa ia membunuh isterinya sendiri. Sampai kapanpun tak akan pernah bisa. Ia terlalu mencintai Chalista, ia separuh jiwanya. Tidak, mungkin Chalista adalah seluruh jiwanya.

“Untuk apa aku membunuhmu? Jika aku membunuhmu sama saja dengan mengambil nyawaku secara keji.” Kata Aiden dingin.

“Lalu?”

“Aku ingin menjauhkanmu dari laki-laki itu. Ia berbahaya untukmu. Sekarang tidurlah, aku akan menceritakan semuanya besok.”

Aiden membaringkan Chalista dan ikut tidur di samping Chalista. Ia menarik selimut untuk mereka berdua dan juga memeluk Chalista posesif.

“Kenapa kau tidur di sini? Lepaskan tanganmu dari perutku.” Geram Chalista marah. Entah kenapa saat ini Chalista tidak menggunakan high voicenya untuk mengusir pria itu. Ia hanya merasa bahwa tempat pria itu memang seharusnya di sini. Namun jika ia tidak mengusir pria itu dia merasa menjadi wanita murahan yang dengan sesuka hati tidur dengan lelaki yang baru dikenalnya.

“Aku tidak memiliki kamar lain. Ini adalah kamarku, jadi kau tidak usah mengusirku.” Jawab Aiden enteng sekaligus tak terbantahkan.

Chalista memutar bola matanya malas dan lebih memilih memunggungi Aiden. Saat ini perasaannya sangat sulit dijabarkan. Seharusnya ia marah pada Aiden, tapi justru hatinya menghangat saat ia berdekatan dengan Aiden. Sebenarnya hal inilah yang selalu dirasakan Chalista saat bertemu dengan Aiden. Oleh karena itu ia selalu merasa tidak yakin dengan tuduhannya, yang mengklaim Aiden sebagai penerornya.

-00-

Pagi-pagi sekali Aiden terbangun dengan aroma masakan yang memenuhi indra penciumannya. Aroma pancake dengan saus maple menggelitik hidungnya. Cacing-cacing di perutnya seketika berteriak-teriak minta diisi. Aiden menuruni ranjang king sizenya dan berjalan menuju dapur. Seseorang tentu telah memasakannya untuk Aiden.

“Hai babe, how about your night?” Sapa Aiden sambil duduk di kursinya.

Tidak ada sahutan apapun dari wanita yang ia sapa. Aiden mengerutkan keningnya bingung.

“Chals. Kau mendengarkanku? Chalista Lee?” Panggil Aiden sedikit keras. Tapi tetap tidak ada sahutan dari sang wanita. Aiden terus memanggil-manggil Chalista, hingga tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh wajahnya. Kemudia Aiden terbangun. Dia bermimpi tentang indahnya kehidupan yang ia alami dengan isterinya pasca menikah.

“Aiden, kau memanggilku di dalam mimpimu?” Tanya Chalista dengan tangan yang masih memegang pipi Aiden.

Aiden mengerjapkan matanya dua kali kemudian segera tersadar, jika itu semua tak nyata. Itu hanya mimpi. Dan itu pertanda bahwa ia merindukan isteri cantiknya.

Tanpa aba-aba Aiden menarik tangan Chalista dan memeluknya dengan erat. Ia merindukan isteri cantiknya. Sangat.

Chalista merasa familiar dengan pelukan ini. Pelukan yang diberikan Aiden benar-benar hangat, membuat ia sangat nyaman kemudian ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Aiden. Chalista berharap ini tidak akan pernah berakhir, entah kenapa pelukan ini memberikan rasa aman bagi dirinya.

Aiden menyudahi acara pelukan itu dan mencium puncak kepala Chalista sekilas. Chalista yang sempat kaget juga dibuat nyaman secara bersamaan. Dan Chalista menginginkannya lagi.

“Apa aku terlalu keras?” Tanya Aiden dengan ambigu.

“Apa? Bisakah kau menanyakannya dengan jelas?” Gerutu Chalista kesal.

Aiden tergelak menanggapi gerutuan Chalista. Ia jadi teringat jika dulu Chalista sering bertingkah demikian jika ia mengatakan hal-hal yang tidak jelas, hal yang hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri, itu kata Chalista.

“Suaraku. Apa terlalu keras?” Kata Aiden mengulang pertanyaannya.

“Yah begitulah. Suaramu terdengar hingga ke dapur.” Kata Chalista acuh.

“Apa yang sedang kau lakukan didapurku?” Tanya Aiden menyelidik. Ia memandang wajah Chalista dengan penuh selidik.

“Aku? Aku berencana mengambil pisau dan membunuhmu saat kau tidur.” Jawab Chalista galak.

“Benarkah?”

“Tentu saja tidak. Aku terbangun karena aku lapar, lalu aku turun ke dapurmu untuk melihat apakah ada bahan makanan yang bisa dimasak. Dan syukurlah aku menemukan banyak bahan makanan, sehingga aku bisa memasak untukmu juga.” Kata Chalista riang. Sepertinya ia sudah lupa dengan kekesalannya saat berurusan dengan makanan.

“Kau tidak marah padaku?” Tanya Aiden sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Marah? Entahlah, harusnya aku marah padamu karena kau sudah menculikku. Tapi entah mengapa aku merasa tidak marah padamu, aku justru merasa senang berada didekatmu. Dan satu lagi, aku merasa tidak asing dengan rumahmu. Aku seperti sudah pernah tinggal di sini.” Kata Chalista dengan wajah bingung.

Aiden menyunggingkan senyum tipisnya ke arah Chalista. Ia senang karena sekarang Chalista berada di area jangkauannya.

“Ayo, aku sudah lapar.”

Aiden menarik tangan Chalista menuju dapur. Dan setelah ini Aiden berencana untuk menceritakan semua cerita yang sudah seharusnya diketahui Chalista.

-00-

“Jadi apa yang akan kau ceritakan padaku?” Tanya Chalista tidak sabar. Aiden hanya memandang Chalista sekilas dan melanjutkan memakan sarapannya yang tertunda.

“Habiskan makananmu dulu.” Kata Aiden singkat.

“Kau menyebalkan. Aku sebal padamu karena kau membohongiku. Katanya di rumahmu sudah tidak ada kamar lagi, tapi buktinya aku menemukan banyak kamar di rumah besarmu ini. Seharusnya semalam aku tidak percaya padamu begitu saja. Itu pasti karena pengaruh dari obat bius yang kau berikan padaku, sehingga aku dengan mudah mau kau perdaya.”

Chalista terus mengoceh sepanjang acara sarapan berlangsung. Tapi sang lawan biacara hanya mendiaminya saja tanpa mau menanggapi ucapan Chalista. Biarlah Aiden menikmati saat-saat yang paling dinantinya. Melihat sang isteri berada dalam jangkauannya dan terus mengoceh tanpa henti. Betapa Aiden sangat merindukan saat-saat seperti itu.

-00-

Setelah acara sarapan berlangsung Aiden mengajak Chalista duduk di depan televisi. Ia memerintahkan pada Chalista untuk membuka album foto yang ada dihadapannya. Wajah Chalista tampak menyiratkan kebingungan, tapi Aiden hanya menganggukan kepala dan menyuruh Chalista membuka album foto itu.

“Bukalah. Kau akan menemukan jawaban dari pertanyaanmu.”

Chalista mengambil album foto yang berwarna kuning. Di halaman pertama terdapat foto dirinya yang sedang tersenyum memandang ke arah kamera.

“Ini aku?” Tanya Chalista bingung. Seingatnya ia tidak pernah foto dengan mimik wajah seperti itu. Lagipula latar dari tempat tersebut adalah tempat yang asing bagi Chalista.

“Kau bisa membuka semuanya terlebih dahulu, kemudian aku akan menjelaskan semuanya.” Kata Aiden dengan tenang.

Chalista terus membolak-balik halaman demi halaman foto album tersebut. didalamnya terdapat banyak sekali foto dirinya dan juga Aiden. Ada foto dirinya saat sedang bergaya lucu ataupun ada foto dirinya yang sedang tersenyum manis ke arah Aiden. Tapi ia sama sekali tidak ingat pernah berfoto bersama Aiden sebelumnya. Ia merasa benar-benar bingung dengan semua foto-foto itu.

“Kau sudah selesai melihatnya?” Tanya Aiden sambil memperhatikan wajah Chalista. Sedari tadi Aiden terus memperhatikan perubahan ekspresi pada wajah Chalista. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Chalista saat melihat album kenangan mereka.

“Ya, dan aku sama sekali tidak ingat dengan semua foto-foto ini.” Kata Chalista sambil mengerutkan keningnya.

“Baiklah, aku akan menceritakan semuanya padamu. Foto-foto itu diambil tiga tahun yang lalu saat kita sedang berlibur di New Zaeland. Saat itu kita baru saja resmi menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih. Padahal saat itu kita baru saja mengenal, tapi kau sudah bisa memporak-porandakan hatiku. Kau adalah gadis manis dan juga gadis yang galak disaat yang bersamaan. Pertama kali kita bertemu adalah saat perusahaanku mengadakan sebuah pesta di London. Kau datang sebagai perwakilan dari perusahaanmu, dan yang tak pernah kulupakan saat kejadian itu adalah kau memanggilku dengan sebutan prince, karena kau mengira aku adalah pangeran Inggris. Saat itu kau sangat lucu sekali, memang saat pesta aku memakai kostum pangeran tapi bukan berarti aku seorang pangeran. Sejak saat itu kita semakin dekat dan resmi menjalin hubungan dua bulan setelah itu.”

“Benarkah? Kau pasti bohong. Aku sama sekali tidak mengingatnya.” Kata Chalista tidak percaya.

“Itu kenyataan Chals. Dan kau juga harus melihat album foto yang bersampul biru itu.” Tunjuk Aiden pada album foto yang tergletak tak jauh dari Chalista.

Chalista tampak ragu saat mengambil album foto itu. Ia takut akan fakta yang akan ia ketahui. Ia merasa belum siap menerimanya.

Secara perlahan Chalista membuka lembaran album foto itu. Chalista tiba-tiba langsung menangis saat lembaran pertama album foto itu menampilkan dirinya dengan Aiden yang berfoto di altar gereja. Mereka telah menikah. Selama membuka lembaran foto itu Chalista terus saja menangis sambil sesekali air matanya dihapus oleh Aiden.

“Kumohon jangan menangis. Apa kau belum siap dengan semua kenyataan ini?” Tanya Aiden sedih.

Chalista hanya terdiam dan kemudian menghambur ke pelukan Aiden.

“Aiden, aku bingung dengan semua hal-hal ini. Tolong jelaskan semuanya padaku. Kenapa orang tuaku juga tidak mengatakan apapun?” Tanya Chalista disela-sela tangisannya.

Aiden menceritakan semua kejadian yang dialami Chalista sambil tetap memeluk Chalista erat.

“Setelah kita menikah, kita menetap dirumah ini. Ini adalah rumah yang aku bangun khusus untukmu, jadi di setiap sudut rumah ini tersimpan banyak kenangan mengenai kita berdua. Apa kau sudah melihat lukisan yang tergantung di depan pintu utama, itu adalah lukisan dirimu saat sedang tertidur di taman. Aku melukisnya sendiri, karena aku sangat suka dengan ekspresi wajahmu saat tidur. Selama sepekan kita tinggal bersama kita selalu menghabiskan waktu dengan hal-hal yang indah. Kemudian keesokan harinya kau menghilang dari rumah, aku sudah sangat kalut mencarimu, tapi aku menemukan sebuah note di depan pintu kulkas, bahwa kau sedang pergi ke super market untuk membeli bahan makanan. Hingga siang kau tak kunjung datang, dan aku mulai khawatir. Aku memutuskan untuk mencarimu ke supermarket yang biasa kau datangi, tapi aku tidak menemukanmu. Lalu aku mendapatkan kabar dari ibumu jika kau baru saja mengalami kecelakaan saat pulang dari super market. Rasanya duniaku runtuh saat itu juga, aku benar-benar takut kau akan meninggalkanku. Kemudian aku segera pergi ke rumah sakit tempat kau dirawat. Disana ibumu terus menangis sambil memeluk ayahmu. Aku benar-benar sudah tidak sanggup berjalan ke arah mereka karena aku takut mendengar hal buruk yang akan mereka katakan. Tak beberapa lama setelah aku duduk, dokter keluar dari ruang operasi dan mengatakan bahwa kau koma. Kepalamu terbentur cukup keras, hingga kau kehilangan banyak darah. Tapi setelah satu minggu, tuhan menunjukkan mukjizatnya, kau bangun dari koma dan kondisimu juga sudah stabil, tapi kau mengalami amnesia. Kau lupa denganku, kau lupa dengan kenangan kita, dan kau lupa dengan semua yang telah kita lalui bersama. Kau hanya mengingat orang tuamu dan masa-masa sebelum kita saling mengenal. Kemudian orang tuamu memintaku untuk menjauhimu sesaat. Memberikanmu waktu untuk mengembalikan semua ingatanmu yang hilang. Sembari menunggu ingatanmu kembali, aku melakukan penyelidikan mengenai kecelakaan yang menimpa dirimu. Ternyata kau ditabrak oleh seorang wanita yang saat itu dalam kondisi mabuk, sang wanita ternyata sedang hamil lima bulan dan langsung meninggal saat itu juga. Sang suami yang tidak terima terus mencari informasi tentang dirimu. Suaminya menyalahkan dirimu atas meninggalnya sang isteri…”

“Siapa orang itu?” Tanya Chalista memotong cerita Aiden.

Aiden menghelas nafas berat dan mulai melanjutkan ceritanya lagi.

“Wanita itu adalah Kim Hyoyeon, isteri dari Spencer.” Kata Aiden.

“Ja jadi, selama ini Spencer mendekatiku karena ia ingin balas dendam padaku?” Tanya Chalista tidak percaya. Ia semakin menangis sesegukan karena semua fakta yang baru saja ia ketahui.

“Ya, selama ini dia terus mencari keberadaanmu. Dan sepertinya dia menunggu seseorang yang bisa ia gunakan sebagai kambing hitam. Ia tidak tahu jika aku adalah suamimu. Mungkin orang tuamu yang membuatkan identitas baru untukmu.”

“Tapi penyerangan itu?” Tanya Chalista tidak yakin. Pasalnya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Spencer terkena luka tembak di lengannya.

“Penyerangan itu tidak pernah ada. Spencer yang menembak lengannya sendiri. Apa kau melihat ada orang yang keluar dari apartemen Spencer?”

“Tidak, aku memang tidak melihatnya. Lalu bagaimana nasibku? Apa aku akan mati?” Tanya Chalista sedih. Aiden mengusap kepala Chalista dengan sayang dan mengecup puncak kepala Chalista.

“Tentu saja tidak. Aku akan selalu melindungimu. Lagipula kau tidak salah sama sekali, yang salah adalah Kim Hyoyeon, dia mengendarai mobil saat tengah mabuk. Dan setelah kuselidiki Kim Hyoyeon saat itu dalam keadaan kalut, karena ternyata anak yang ia kandung bukan anak dari Spencer. ia takut mengecewakan Spencer, makanya ia menegak banyak alkohol untuk mengurangi kekalutan yang ia alami.”

“Teruslah bersamaku my prince. Aku takut. Peneror itu membuatku stress, dan bantu aku mengingat semuanya.” Kata Chalista sambil memeluk Aiden dengan erat.

“Aku akan selalu ada disampingmu.” Janji Aiden.

-00-

Sepanjang hari itu Chalista dan Aiden tampak terus bercengkrama sambil menceritakan pengalaman masing-masing selama berpisah. Aiden juga menunjukan barang-barang Chalista yang masih ia simpan di rumah tersebut. Lalu Aiden memasangkan cincin di jemari Chalista. Itu adalah cincin pernikahan Chalista yang saat itu oleh orang tua Chalista diberikan kepada Aiden. Dan sekarang sudah saatnya Aiden mengembalikan cincin itu ke jari manis Chalista.

“Cincin ini sangat cantik. Apa aku yang memilihnya?” Tanya Chalista sambil memandang cincin di jari manisnya.

“Tentu saja, dan saat kau memilih cincin ini kau melakukannya dengan pemaksaan.” Kata Aiden terkikik. Chalista menaikkan alisnya bingung. Sepertinya Aiden mulai bertingkah ambigu lagi.

“Maksudmu pemaksaan?” Tanya Chalista tak mengerti.

“Jadi sebenarnya cincin itu sudah dipilih oleh pasangan lain. Tapi entah kenapa kau justru tertarik dengan cincin itu. Kau mengatakan jika desain cincin itu sangat unik, ada ukiran bunga mawar dan berlian-berlian kecil ditengahnya. Kau memohon-mohon pada pasangan itu dengan sangat memalukan. Walaupun aku sudah membujukmu dengan berbagai cara tapi kau tetap keras kepala memohon pada mereka. Dan kau juga mengancam tidak mau menikah denganku jika cincin pernikahannya buka cincin itu. Aku benar-benar dibuat repot dengan kelakuan ajaibmu itu. Dan untungnya pasangan itu mau mengalah dan memberikan cincin ini kepadamu. Mungkin mereka merasa kasihan denganku, karena ancamanmu sungguh sangat mengerikan.” Akhir Aiden dengan ekspresi lucu. Chalista malah tertawa terpingkal-pingkal dengan cerita Aiden. Ia tidak menyangka jika dirinya sangat memalukan.

“Ternyata aku seajaib itu yaa?” Gumam Chalista malu. Pipinya bersemu merah karena menahan malu. Aiden sampai gemas dibuatnya dan mencium kedua pipi Chalista.

“Kau sungguh menggemaskan, princess.” Kata Aiden sambil mencium pipi Chalista dilanjutkan dengan mencium bibir Chalista dengan lembut.

-00-

Hari itu Aiden dan Chalista kembali hidup bersama dan menjalani kehidupan rumah tangga mereka dengan bahagia. Sejenak mereka melupakan Spencer dan segala teror yang menghantui Chalista.

Setelah sebulan lamanya Chalista hidup dengan Aiden, sedikit demi sedikit ingatannya mulai kembali. Perjuangan Aiden untuk mengembalikan ingatan Chalista membuahkan hasil. Pagi ini Chalista terbangun dengan semua memory yang telah memenuhi kepala cantiknya.

“Morning Aiden.” Sapa Chalista sambil mengecup hidung Aiden. Aiden yang masih setengah sadar hanya mengerang dan kemudian melanjutkan tidurnya.

“My prince, ayo bangun. Aku sudah mengingat semua kenangan kita. terimakasih atas semua usahamu.” Kata Chalista sambil mengelus pipi Aiden.

Mendengar hal itu, Aiden segera membuka matanya dan memeluk Chalista dengan bahagia.

“Terimakasih sayang, akhirnya kau kembali.”

-00-

Malam harinya Chalista memasak banyak makanan untuk Aiden. Ia telah mempersiapkan meja yang berada dipinggir kolam renang untk acara dinner mereka. Lilin-lilin dan bunga-bunga tampak cantik menghiasi meja tersebut. Chalista tersenyum puas dengan hasil kerja kerasnya.

“Semoga Aiden menyukainya.” Gumam Chalista senang.

-00-

Chalista sudah bersiap dengan gaun selutut berwarna putih. Ia menggerai rambutnya dan membuat rambutnya bergelombang, tak lupa riasan tipis ia sapukan ke wajahnya. Chalista tampak sangat menawan dengan riasan itu. Wajah naturalnya terlihat lebih bersinar.

Pukul tujuh Aiden baru pulang dari kantor. Saat memasuki rumahnya ia tampak heran dengan suasana rumahnya yang sepi. Biasanya saat ia pulang Chalista akan selalu menyambutnya dengan heboh.

“Chalista sayang, kau dimana?” Teriak Aiden ke penjuru rumahnya. Samar-samar ia mendengar suara Chalista dari arah kolam renang. Aiden segera menghampiri sumber suara tersebut.

“Surprise!” Teriak Chalista didepan Aiden. Aiden tampak tercengang dengan kejutan yang diberikan Chalista. Kolam renang tersebut terlihat sangat indah dengan lilin dan bunga-bunga.

“Kau yang menyiapkan ini?” Tanya Aiden sambil memeluk Chalista.

“Mmhm, apa kau suka?”

“Sangat suka. terimakasih princess.”

Chalista menuntun Aiden ke meja makan yang telah ia hias dengan sangat cantik. Chalista juga menuangkan wine untuk Aiden, malam itu menjadi dinner paling romantis yang pernah disiapkan Chalista, dan Chalista sangat puas dengan hasil kreasinya.

-00-

Malam harinya saat mereka akan naik ke kamar, tiba-tiba lampu rumah mereka padam. Chalista yang ketakutan segera memeluk Aiden dengan erat. Sadar akan bahaya yang mengancam Aiden memberikan kode pada penjaga rumahnya untuk menghubungi polisi. Jauh-jauh hari Aiden sudah mengantisipasi hal ini. Ia sadar, cepat atau lambat Spencer akan mengetahui keberadaan Chalista. Dengan perlahan Aiden berjalan mencari lampu senter. Saat lampu senter telah menyala, sosok Spencer sudah ada didekat Chalista. Tentu saja itu membuat Chalista kaget dan menjerit ketakutan. Spencer telah berdiri sambil menodongkan pistol ke arah kepala Chalista.

“Hai Chals, apa kau masih ingat dengan sahabatmu ini?” Kata Spencer dengan Aksen yang menakutkan. Seluruh tubuh Chalista tampak bergetar sambil memeluk Aiden.

“Turunkan senjatamu Spencer.” Teriak Aiden emosi. Ia tidak akan membiarkan Chalista disakiti oleh siapapun, tidak akan pernah.

“Oh, ternyata ada Prince Aiden, senang bertemu denganmu prince.” Kata Spencer dengan semyum miringnya.

Aiden tampak menahan geram dengan tingkah Spencer. Dengan gerakan cepat Aiden mendorong tubuh Chalista ke belakang dan menendang tangan Spencer hingga membuat senjata yang ia pegang terhempas ke udara. Aiden memberikan pukulan yang membabi buta dan membuat Spencer terkapar di lantai.

“Hentikan semua ini Spen. Kau itu salah paham. Chalista bukan penyebab kematian isterimu dan bayimu, isterimu yang salah. Dia mengemudi saat tengah mabuk. Justru disini Chalista adalah korban, ia korban dari kecerobohan isterimu.” Teriak Aiden didepan wajah Spencer. Hal itu membuat Spencer semakin marah. Ia tidak suka jika isterinya disalahkan. Isterinya adalah orang yang baik, isterinya tidak mungkin melakukan hal itu.

“Tidak. Isteriku tidak salah. Chalistalah yang salah, dia melintasi jalan tanpa melihat jika ada mobil yang melintas. Chalista penyebab kematian isteriku dan bayiku.”

Spencer segera menendang perut Aiden dan bangkit dari kekangan Aiden. Saat ini Spencer telah mengeluarkan pisau dari saku celananya. Ia menodongkan pisau itu ke arah Aiden.

“Baiklah aku akan membunuhmu terlebih dahulu, setelah ini giliran isteri cantikmu itu. Jadi aku akan membuat kalian berdua membusuk di neraka.”

Spencer berlari menerjang Aiden dengan pisau yang menghunus ke depan. Aiden sudah mengambil ancang-ancang untuk menghindari serangan Spencer. Sebelum Spencer berhasil menusuk Aiden, terdengar suara tembakan dan Spencer tumbang dengan darah yang keluar dari perutnya. Chalista menembak pria itu karena pria itu akan menusuk suaminya. Setelah tersadar Chalista membuang pistol itu dan berlari menghambur ke pelukan Aiden. Tak berapa lama polisi datang ke TKP dan membawa tubuh Spencer yang terluka. Spencer belum mati, ia hanya pingsan dan kehilangan sebagian darahnya. Namun setelah ini Aiden menjamin, bahwa Spencer akan membusuk di penjara. Aiden tidak akan membiarkan seorangpun mengusik rumah tangganya.

-00-

Beberapa minggu setelah kejadian itu, rumah tangga Aiden kembali normal. Pasalnya beberapa minggu terakhir ia dan Chalista harus menjadi saksi di kantor polisi dan ruang persidangan. Spencer mendapatkan hukan bertingkat karena dia dianggap melakukan percobaan pembunuhan, dan perbuatan tidak menyenangkan dengan meneror Chalista. Sudah dapat dipastikan Spencer akan membusuk di penjara.

“Sayang, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Aiden sambil memeluk Chalista dari belakang. Chalista yang menyadari keberadaan Aiden semakin merapatkan diri ke tubuh Aiden.

“Aku sedang menikmati senja di balkon kamar kita. aku sekarang lega, akhirnya semua masalah yang aku alami selesai juga dan yang terpenting kau kembali lagi ke pelukanku.” Kata Chalista riang.

Aiden tersenyum menanggapi ucapan Chalista, ia juga ikut bahagia karena akhirnya ia dipertemukan lagi dengan Chalista. Ia sangat bersyukur ternyata Tuhan masih menyayangi dirinya dan Chalista.

“Aku juga bahagia. Setelah ini kita tidak akan terpisahkan lagi, aku janji akan selalu ada disampingmu.”

“Iya, aku tahu. Mana mungkin kau akan menyia-nyiakan isteri cantikmu ini, iya kan?” Tanya Chalista jahil sambil mencubit hidung Aiden. Kemudian Chalista segera berlari dari kejaran Aiden.

“Hmm, kurasa kau sekarang sudah mulai pandai menggodaku?” Ucap Aiden dengan seringaiannya sambil berlari mengeja Chalista yang sudah terlebihdahulu keluar dari kamar mereka yang luas.

Akhirnya kehidupan rumah tangga Aiden kembali seperti semula. Ia mendapatkan kembali isteri cantiknya, dan yang terpenting Chalista kembali dalam keadaan utuh tanpa suatu cacat apapun. Setelah ini tidak akan ada yang mengganggu kebahagiaan mereka lagi hingga maut memisahkan mereka.

14 thoughts on “The Prince (Oneshoot)

  1. Ternyata yoonhae itu suami istri tohh.. Aku hmpir prcya bhw bnr hae yg neror yoong tpi trnyt mlh hyuk yg notabenenya sbgai shabat (plsu) nya yoong.. untng aja hae cpt ngejauhin yoong dari hyuk.. klo nggk, bisa2 yoong nnggl..

    fighting kk..

  2. Ahhhh gk nyangka spencer jhat kirain dia baik 😯eh ternyata sebalik nya dia sbnr nya slah pham pdhal hyoyeon hamil bkn anak nya andai dia mngkn dia tdak akan melakukan itu..hmm gk nyangka calista istri aiden seneng nya mreka kembali bersama ingatan calista jga udh kembali 😊😊

  3. Jadi peneror itu Spencer yg menganggap Calistha sebagai penyebab istrinya meninggal.Dan selama ini Calistha amnesia dan melupakan Aiden suaminya yang pada akhirnya ingatan itu kembali dan membuatnya kembali bersama dgn Aiden.Happy ending…

  4. Belum pernah baca ff ini, aku pikir donghae itu psycopath, dan memang mau ngebunuh yoona, ternyata enggak, ternyata mereka suami istri, dan yoona ilang ingatan, pasti berat untuk hae, untung aja donghae cepet naklukin yoona, authornim fighting

  5. Nyesel dah udah berburuk sangka sama Aiden. Ehh ternyata Yoona amnesia, suami ganteng kek gtu kok bisa dilupain toh Chalista2 ?? 😁 Hamdallah akhirnya bhagia juga

  6. I’m very happy to read this. This is the kind
    of manual that needs to be given and not the accidental misinformation that’s at the other blogs.
    Appreciate your sharing this greatest doc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.