Mommy Yoong (Lee Family)

 

          Hari ini rumahku benar-benar sepi. Di rumah yang sangat besar ini aku hanya tinggal berempat dengan satpam, pembantu, dan Hana. Donghae oppa sejak seminggu yang lalu pergi ke Jerman untuk urusan pekerjaan. Untung saja sebelum pergi Donghae oppa sempat mencarikanku pengurus rumah tangga untuk membantuku yang sudah mulai repot dengan kehamilanku dan juga Hana. Selain itu aku jadi memiliki teman curhat jika aku sedang ingin berkeluh kesah saat Donghae oppa tidak ada di rumah. Tapi hari ini aku sangat bosan dan menginginkan keramaian. Hana sedang berguling-guling disebelahku sambil memainkan ponselku. Huh, apa yang harus kulakukan? Aku juga sedang ingin makan strawberry dan kiwi, siapa yang akan membelikanku buah-buahan itu? Aku mengelus sayang perutku yang sudah mulai membesar, usianya sudah tiga bulan jadi sudah terlihat sedikit benjolan di perutku.

“Nak sabar ya, mommy sedang berpikir, siapa yang kira-kira bisa mommy suruh.” Gumamku pada perutku. Hana memperhatikanku tanpa berkedip kemudian ia kembali menggigit-gigit ponselku.

“Hana sayang, ini kotor. Kau makan biskuitmu saja.”

Aku mengganti ponsel yang tadi digigit Hana dengan biskuit bayinya. Sepertinya bayi kecilku sedang lapar. Aku mengutak-atik ponselku dan melihat daftar kontak yang mungkin saja dapat kuhubungi. Pergerakan tanganku berhenti pada nama kontak Eunhyuk oppa. Aha, aku punya ide. Aku akan menghubungi Eunhyuk oppa dan memintanya membelikanku buah-buahan segar.

“Eunhyuk oppa!!” Teriakku girang. Akhirnya pria itu mau mengangkat teleponnya juga setelah tiga kali aku menghubunginya dan ia tidak menjawab panggilanku.

“Ya Tuhan, nyonya Lee. Apa yang kau lakukan pada telingaku.” Gerutu Eunhyuk oppa kesal. Aku sudah dapat membayangkan bagaimana raut mukanya saat ini. Pasti sangat lucu.

“Oppa. Aku ingin makan strawberry dan kiwi.” Rengekku manja. Semenjak Donghae oppa mengenalkannya padaku, aku dan Eunhyuk oppa menjadi dekat. Ia seperti kakak bagiku. Walaupun ia suka berkata dengan seenaknya, tapi ia pria yang baik dan juga lembut.

“Lalu? Kenapa kau memintanya padaku? Aku bukan penjual buah.” Kata Eunhyuk oppa acuh. Mendengar jawabannya aku jadi merasa gemas dan ingin memukul kepalanya. Apa ia benar-benar tidak peka dengan keinginan ibu hamil.

“Belikan untukkuuuuuuuuuuuu.”

“Apa? Minta saja pada Donghae!” Teriak Eunhyuk oppa tak kalah kerasnya dengan suaraku.

“Oppa. Donghae oppa sedang di Jerman. Apa kau lupa?”

“Tidak, aku sangat ingat. Karena Donghae pergi ke Jerman ia menyerahkan semua tugas rumah sakit padaku. Aku benar-benar lelah dengan semua pekerjaan ini.”

“Oppa, aku mohon. Hiks, aku ingin makan strawberry dan…”

“Iya iya, aku akan membelikannya. Tak usah menangis. Kau membuat hidupku tidak tenang saja.” Keluh Eunhyuk oppa. Yes akhirnya siasatku berhasil. Eunhyuk oppa tidak akan tega melihat ibu hamil sepertiku menagis meraung-raung karena menginginkan sesuatu. Bagaimanapun juga ia masih memiliki hati nurani yang baik.

“Terimakasih oppa, kau sangat baik. Aku mencintaimu.” Teriakku girang.

“Aku tidak perlu cintamu. Simpan saja cintamu untuk Donghae, ia lebih membutuhkannya. Lagipula aku sudah mendapatkan cinta dari Stephani.

“Iya iya, aku tahu. Kau cerewer sekali oppa. Sampai jumpa.”

Klik.

Aku memutuskan sambungan telepon secara sepihak karena tidak mau mendengarkan ocehan Eunhyuk yang tidak berguna. Pria itu memang sedikit berbeda dengan pria-pria pada umumnya. Ia sangat suka bergosip dan mengobrol. Jadi jangan heran jika ia terus bicara hal-hal yang tidak penting seperti tadi. Ah, sembari menunggu Eunhyuk oppa datang aku akan menghubungi Kyuhyun dan Stephani, aku akan mengundang mereka makan malam di rumah.

-00-

Nah aku sudah selesai mengirim pesan pada Kyuhyun dan Stephani, tapi Eunhyuk oppa belum datang juga.

“Hana, ayo kita telepon Daddy. Kau juga merindukannya kan?”

“Da.. Dad..” Kata Hana dengan celotehan bayinya. Ah, semakin hari Hana semakin lucu dan pintar. Ia sudah bisa berbicara beberapa kata, seperti mommy dan daddy.

“Hana, katakan MOMMY.”

“Mom.. mom..”

“Bukan mom mom, tapi MOMMY.”

“Mom..my.”

“Nah, bagus. Hana memang pintar. Ayo kita tunjukkan pada daddymu yang super sibuk itu.”

Aku mengambil ponselku dan mulai menekan nama kontak Donghae oppa. Aku akan memanggilnya via video call, jadi aku bisa tahu apa yang ia lakukan selama di Jerman. Mungkin saja sekarang ia sedang berkencan dengan wanita-wanita asing, who knows.

“Oppaaaaaaa.” Teriakku girang. Akhh, aku merindukan suamiku yang jelek ini.

“Yoong, kenapa kau berteriak-teriak? Suaramu sangat keras, membuat orang-orang menoleh ke arahku dengan tatapan aneh.”

Sepertinya Donghae oppa tidak sedang di hotel, latar belakang tempat duduknya sangat ramai.

“Oppa, kau dimana?” Tanyaku penasaran. Awas saja jika ia ketahuan sedang bersama seorang wanita.

“Aku sedang makan bersama rekan-rekan sesama dokter bedah toraks dan kardiovaskuler. Ada apa?” Tanya Donghae oppa mengangkat sebelah alisnya.

“Coba lihat.”

“Ya Tuhan, Yoong. Kau tidak usah berprasangka buruk padaku.” Ucap Donghae oppa kesal.

“Hanya mengantisipasi. Siapa tahu oppa tertarik dengan wanita cantik yan ada disana, mengingat sekarang aku sudah tidak muda dan perutku agak buncit.” Ucapku acuh. Akhirnya Donghae oppa memilih mengalah dan menunjukkan layarnya pada kerumunan orang yang sedang makan. Di seberang meja Donghae oppa ada seorang wanita korea yang menyapaku.

“Annyeonghaseyo.” Kata wanita itu sambil melambaikan tangannya. Aku membalas melambaikan tangan dengan sedikit canggung. Bagaimana tidak canggung, penampilanku sangat seadanya. Aku juga belum merapikan rambutku dengan benar, aku jadi merasa tidak percaya diri.

“Kau sudah puas?” Tanya Donghae oppa galak. Aku hanya membalasnya dengan menganggukkan kepala.

“Aku ingin bertemu Hana, apa ia ada?” Tanya Donghae oppa. Aku segera mengangkat Hana mendekat agar wajahnya dapat terlihat di layar.

“Hai Daddy.” Kataku sambil menggerak-gerakkan tangannya. Hana tampak antusias melihat wajah daddynya. Biasanya saat Donghae oppa menelponku Hana sedang tidur siang atau sedang tidak ada bersamaku.

“Hana, Daddy merindukanmu. Daddy membelikanmu hadiah dari Jerman, kau pasti suka.”

“Mom.. mom.” Kata Hana sambil menunnjuk layar. Aku yang mengerti maksud ucapannya langsung mengangguk-anggukkan kepala mengerti.

“Yoong, Hana sudah bisa bicara?” Tanya Donghae oppa kaget. Haha, rasakan ia tidak bisa mendengar celotehan pertama Hana. Salah sendiri ia sibuk bekerja.

“Iya, dia sudah bisa mengucapkan beberapa kata. Hana sayang, ayo katakan MOMMY.” Kataku pada Hana. Bayi mungil itu melihat ke arahku lalu ia mulai membuka mulutnya.

“Mom..my. Mommy.” Kata Hana girang. Yeay, aku bertepuk tangan senang dan menjulurkan lidahku pada Donghae oppa.

“Lihat, Hana sudah bisa menyebutku mommy.” Kataku bangga. Lalu aku menciumi kedua pipi chubby Hana.

“Hana sayang, kau bisa mengatakan DADDY kan?” Tanya Donghae oppa pada Hana. Bayi mungil itu melihat ke arahku dan aku menggelengkan kepalaku. Sepertinya Hana mengerti maksudku, setelah itu ia hanya diam saja tanpa menyebut kata Daddy. Pasti Donghae oppa sangat kecewa, tapi biarkan saja.

“Yoong, ini buah-buahanmu.”

Suara Eunhyuk oppa dari ambang pintu mengagetkanku. Pria itu berjalan menghampiriku ke arah ranjang dan mendudukan diri di sebelahku.

“Gomawo oppa.”

“Uncle Hyuk.” Celoteh Hana. Eunhyuk oppa merasa gemas dengan Hana dan mencubit pipi chubbynya pelan.

“Ahh, kau sangat manis sekali.” Puji Eunhyuk oppa.

“Yaa, kau kenapa masuk kedalam kamarku.”

Suara teriakan Donghae oppa kembali membuatku tersadar jika aku masih melakukan video call dengannya.

“Oppa, kenapa kau berteriak?” Omelku kesal.

“Kenapa ada Eunhyuk disana? Siapa yang menyuruhnya masuk.”

“Aku yang menyuruhnya membelikan srtrawberry dan kiwi. Harusnya kau ada disampingku saat aku sedang hamil.”

“Donghae! Cepatlah pulang. Tugas-tugasku menjadi semakin banyak.” Teriak Eunhyuk oppa dari layar ponsel.

“Yakk, kenapa kau bersama isteriku. Yoong, kenapa Hana tidak bisa mengatakan Daddy dan justru mengatakan uncle Hyuk.” Protes Donghae oppa berapi-api. Semoga saja ia cemburu pada Eunhyuk oppa dan memutuskan untuk pulang hari ini.

“Mungkin Hana merasa dekat dengan Eunhyuk oppa dan merasa asing denganmu.” Jawabku asal.

“Yoona, kami datang.”

Tiba-tiba suara lain dari arah pintu membuat kami berdua menoleh ke arah sumber suara. Disana telah berdiri Kyuhyun dan Stephani. Akhirnya mereka datang. Ahhh, aku senang sekali. Kupastikan setelah ini aku akan memasak banyak makanan untuk mereka.

“Yoong siapa lagi itu?” Tanya Donghae oppa kesal.  Aku mengabaikan teriakan Donghae oppa dan menyuruh mereka masuk kedalam kamarku.

“Ayo masuk, kebetulan ada Donghae oppa.”Aku menunjukkan layar ponselku pada mereka berdua kemudian mereka sama-sama menyapa Donghae oppa.

“Selamat siang dokter Lee.” Sapa dokter Stepahani ramah, kemudian disusul oleh Kyuhyun.

“Hai Hyung, lama tak berjumpa.”

Mereka berdua duduk disebelah Eunhyuk oppa dan muali bermain-main dengan Hana. Hana terlihat bahagia dengan kedatangan mereka, apalagi dokter stephani membawakan hadiah boneka kelinci yang sangat cantik.

“Ty.. Aunty..” Celoteh Hana. Dokter Stepanhi tampak sangat senang dan mencium kedua pipi chubby Hana.

“Dokter Lee, Hana bisa memanggilku aunty.” Pamer dokter Stepanhi senang. Mendengar itu Donghae oppa terlihat semakin mendung. Wajah tampannya langsung dihiasi berbagai macam petir yang siap meledak.

“Yoong, Hana kenapa tidak bisa memanggilku daddy?” Protes Donghae oppa untuk kesekian kalinya. Aku lalu memangku Hana dan menyuruhnya memanggil daddynya. Akhirnya aku merasa kasihan juga pada Donghae oppa.

“Hana, siapa itu yang ada di layar?” Tanyaku sambil menunjukkan wajah Donghae oppa yang tampak memelas.

“Daddy.” Jawab Hana lancar. Bagai mendapat durian runtuh, Donghae oppa langsung bersorak kegirangan.

“Sayang, ayo katakan lagi.” Pinta Donghae oppa. Hana tentu saja dengan senang hati mengabulkan permintaan Donghae oppa.

“Dad.. Dad.. Daddy.” Ulang Hana tiga kali. Aku tersenyum senang menyaksikan kegirangan Donghae oppa. Sebagai orang tua aku tentu paham bagaimana senangnya Donghae oppa saat Hana menyebutnya daddy. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya memanggil mereka mommy-daddy, eomma-appa, atau ayah-ibu. Karena itu merupakan panggilan sayang untuk orang tua mereka.

-00-

Tengah malam aku terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Aku beranjak dari ranjang dan meninggalkan Hana dengan bantal guling yang ditata disampingnya, terkadang bayi mungil itu bergerak tak terduga dan tiba-tiba sudah ada di tepi ranjang. Aku takut dia jatuh saat aku berada di kamar kecil.

“Huh.” Kuhembuskan nafas jengah saat melirik sisi yang biasa ditempati Donghae oppa. Aku merindukannya. Kapan pria itu pulang? Ini sudah lebih dari seminggu ia berada di Jerman, biasanya ia hanya pergi paling lama lima hari, tapi ini sudah seminggu lebih tapi tidak ada tanda-tanda ia akan pulang. Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan disana?

Keluar dari kamar kecil perasaanku bukannya semakin membaik tapi malah semakin hancur. Aku merasa ingin menangis sekeras-kerasnya sekarang. Aku benar-benar tidak memiliki alasan yang jelas untuk menangis. Padahal hari ini aku sudah menghabiskan waktu dengan penuh canda tawa dengan Eunhyuk oppa, Kyuhyun oppa, dan Stephani. Tapi rasanya sekarang aku sangat sedih dan ingin menangis. Tuhan, ada apa ini? Semoga bukan sesuatu yang buruk.

Aku berjalan menuju sofa di sudut ruangan dan meringkuk disana. Aku menangis meraung-raung sendiri dengan hati pilu. Aku ingin Donghae oppa kembali, aku ingin pelukan hangatnya dan perhatiannya. Aku merindukan Donghae oppa.

“Yoong.”

Rasanya suara Donghae oppa terdengar nyata di pendengaranku. Aku terlalu merindukannya, hingga aku berhalusinasi tentang Donghae oppa.

“Im Yoona.”

Lagi. Suara itu kenapa berputar-putar di kepalaku. Aku semakin sedih saat mendengar suaranya. Lihat, air mataku semakin banyak membanjiri dress yang kugunakan.

“Arggh, berhenti berputar-putar di otakku.” Teriakku kesal sambil menjambak-jambak rambutku. Sebuah tangan hangat dan besar mencekal kedua lenganku dan membawanya kedalam dekapan hangatnya.

“Hey, ada apa?” Tanyanya lembut. Ya Tuhan, sudah berapa lama aku tidak merasakan pelukannya dan mendengar suaranya yang lembut ini secara nyata?

“Oppa, kau kah itu?” Tanyaku tak yakin. Rasanya ini seperti mimpi. Bukannya tadi Donghae oppa mengatakan jika ia masih di Jerman. Lalu siapa pria ini?

“Tentu saja ini aku. Aku sudah kembali. Kau ini kenapa, menangis sendiri dan menjambak rambutmu? Mulai gila?” Tanyanya sakarstik. Ahh, kalau sekarang aku sudah percaya dan yakin, ini benar-benar Donghae oppa. Mendengar nada bicaranya yang sedikit sakarstik, membuatku gembira.

“Oppa…. Aku merindukanmu.”

Aku menghambur ke pelukannya dan benar-benar menempel padanya sangat erat. Donghae oppa sampai kewalahan mengimbangi tubuhku yang menghambur kepelukannya. Ia terjungkal ke sofa dan membuatku menindihnya.

“Yoong, kau ini kenapa? Kau benar-benar gila karena kutinggalkan?” Omel Donghae oppa kesal. Aku mengabaikannya dan justru menciumi wajahnya.

“Oppa, aku tersiksa karena terlalu merindukanmu. Tidakkah kau merindukanku?”

“Aku merindukanmu dan Hana. Maaf aku terlalu lama meninggalkan kalian.” Kata Doghae oppa penuh sesal. Aku meletakkan kepalaku di dada bidangnya dan bersandar disana sambil mendengarkan detak jantungnya yang merdu.

“Kapan oppa sampai? Kau tidak memberitahukannya padaku?” Tanyaku sedikit mendongakkan kepalaku ke arahnya.

“Kejutan. Tapi aku yang justru terkejut melihat keadaanmu.” Dengusnya. Aku memandang dengan cengiran dan sedikit menghapus sisa-sisa air mata di pipiku.

“Aku juga tidak tahu kenapa aku tiba-tiba menangis. Aku hanya merasa sesak dan sedikh.” Kataku apa adanya.

“Emosimu sedang tidak stabil. Itu biasa terjadi pada ibu hamil.” Terang Donghae oppa. Ia membelai punggungku dengan lembut.

“Oppa, apa aku berat?”

“Sedikit. Kau tidak ingin bangkit? Kasihan anak kita, kau terlalu lama tengkurap di atasku.”

“Akhh, aku lupa.”

Aku segera beranjak dari posisiku dan mendudukkan diri di sisi sofa yang lain. Donghae oppa juga ikut duduk di sebelahku dan mulai merapikan pakaiannya yang kusut.

“Apa oppa ingin segelas teh hangat?”

“Tidak usah, aku sudah terlalu banyak minum. Aku hanya ingin dirimu.”

“Hah, maksud oppa? Akhh.”

Tiba-tiba Donghae oppa mendorong tubuhku hingga berbaring diatas sofa. Sepertinya aku mulai paham dengan maksudnya.

“Ya Tuhan, oppa. Kau membuatku kaget. Kenapa tidak mengatakan secara jelas?”

“Aku takut kau akan menolaknnya.” Kata Donghae oppa penuh seringaian. Dia sudah mulai berubah menjadi monster mesum.

“Memang. Kau tahu kan aku sedang hamil. Jadi minggir.” Perintahku galak. Donghae oppa ini dokter tapi bodoh. Seharusnya ia tidak melakukannya saat aku hamil. Dasar pria mesum.

“Aku akan melakukannya dengan hati-hati, kau tenag saja. Aku sudah hafal di luar kepala, semua posisi-posisi yang harus di jamah atau dihindari. Jadi kau tak perlu takut.”

“Tapi oppa, kasihan bayiku.”

Aku tetap tidak mau melakukannya sekarang. Aku sedang lapar dan ingin makan sesuatu. Sekarang aku sedang membayangkan ramen dengan potongan cabai sebagai toppingnya, pasti lezat.

“Yoong, wajahmu terlihat sangat lapar.” Selidik Donghae oppa. Aku meringis ke arahnya dan menganggukkan kepalaku.

“Aku lapar.”

“Kau ingin makan sesuatu?”

“Ya. Ramen dengan topping potongan cabai di atasnya. Itu sangat lezat oppa.”

Akhh, aku sudah membayangkannya di kepalaku. Dan ramen itu sekarang sedang menari-nari disana.

“Yakk, kau ingin membuat anakku diare. Kau tidak boleh makan-makanan pedas. Aku sangat tahu bagaimana makanan yang kau maksud, makanan yang dibuat bukan untuk manusia.” Tolak Donghae oppa galak.

“Maksud oppa bukan makanan manusia? Itu terdengar sangat lezat untuk dimakan, lagipula bayiku tidak akan diare didalam sana. Ia yang menginginkannya.” Dengusku sebal. Pria ini benar-benar. Sekalinya pulang ia justru marah-marah dan melarangku makan ramen. Lebih baik ia tidak usah kembali ke Korea.

“Itu makanan setan. Kau pasti akan menaburkan lusinan cabai kedalamnya. Aku tidak setuju jika kau makan itu.”

“Oppa, tapi aku ingin.. Ya ya ya, pliss. Aku janji tidak akan memasukkan cabai banyak-banyak. Hanya tiga.” Mohonku memelas. Perutku sudah meronta-ronta minta diisi. Tapi aku harus bernegosiasi dengan pria jelek ini, menyebalkan.

“Tidak! Aku hanya mengijinkanmu menggunakan satu cabai.” Geleng Donghae oppa tegas. Saat-saat seperti ini rasanya aku ingin mencakar-cakar wajahnya.

“Yaa, satu mana pedas. Itu tidak akan terasa sama sekali.” Protesku kesal. Aku sudah memajukan bibirku dan menatap penuh permusuhan ke arah pria yang masih menindihku ini.

“Satu atau tidak sama sekali.” Tegas Donghae oppa. Ia semakin memajukkan wajahnya hingga kening kami bersentuhan. Ia bahkan memberikan seringaiannya padaku.

“Sebelum kau merasakan panas dari cabai, aku akan membuatmu panas dan terbakar.” Kata Donghae oppa dengan seringaiannya yang menjijikan itu.

“Oppa, mmpfhh.”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimat protesku ia sudah lebih dulu membungkam bibirku dengan bibirnya. Ia bahkan dengan leluasa menari-nari didalam sana. Ya ampun, bisa habis aku di makan Donghae oppa. Mengingat selama di Jerman ia tidak mendapatkan sentuhan dariku, pasti hari ini ia akan menghabisiku hingga lemas.

“Hey, kau kenapa? Tumben diam saja.” Tanya Donghae oppa heran. Aku tidak terlalu memerhatikannya karena sibuk mengusap bibirku yang basah. Ahh, pria ini menodai bibirku.

“Haloo, nyonya Lee, aku sedang berbicara padamu.” Kata Donghae oppa mulai kesal karena kuabaikan.

“Oppa, kau ini aneh. Saat aku menolak kau marah, saat aku diam saja kau juga marah. Untuk saat ini aku akan membiarkan oppa melakukannya, tapi setelah ini aku akan mendapatkan ramenku kan?” Tanyaku dengan puppy eyes. Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengeluarkan puppy eyesku.

“Huh,baiklah.” Jeda, kemudian Donghae oppa kembali berucap dengan seringaian jahatnya.

“Tapi sepuluh ronde.”

Apa? Dia ingin membunuhku? Tapi baiklah, demi semangkuk ramen penuh cabaiku yang menggiurkan. Apapun akan kulakukan.

“Donghae oppahhh.” Desahku pasrah.

-00-

“Yoong, pelan-pelan saja. Aku tidak akan mengambilnya darimu.” Kata Donghae oppa ngeri. Semenjak ramen ini terhidang diatas meja, Donghae oppa sudah meringis melihat banyaknya cabai yang kutaburkan. Ia tidak bisa melarangku karena semalam ia juga mengingkari janjinya.

“Salah oppa sendiri, oppa melakukannya lebih dari sepuluh kali. Sekarang jangan salahkan aku karena aku benar-benar lapar dan membutuhkan tenaga. Seharusnya aku sudah memakan ramen ini sejak semalam, tapi kau malah menahanku dengan sentuhanmu yang mengerikan itu.”

Aku melirik ke arahnya sekilas dan kembali menyibukkan diri dengan ramenku. Akhh, aku merasa hidup. Ini sangat enak.

“Mengerikan? Bukannya kau menikmatinya?” Cibir Donghae oppa kesal. Bosan memarahiku ia lalu menyeruput kopi hitamnya sedikit.

“Aku hanya terbawa suasana.” Jawabku asal.

“Oppa, Hana menangis. Tol..”

“Aku tahu. Kau tidak usah memintanya padaku, aku akan membawa Hana ke sini.” Potong Donghae oppa. Kemudian dengan santainya ia melenggang pergi dan menaiki tangga menuju kamar kami. Huh, aku rasa rumah tanggaku sedikit unik. Aku tidak pernah merasa jika hubunganku dengan Donghae oppa seperti suami dan isteri pada umumnya. Terkadang aku masih menganggap Donghae oppa sebagai teman. Ya teman, teman seumur hidupku.

-00-

“Oppa.. perutku sakit.” Rengekku sambil memegang perutku yang sakit. Ini pasti gara-gara ramen setan tadi, sebutan Donghae oppa pada ramen yang tadi kumakan. Tapi itu sungguh enak, hanya saja efeknya yang tidak enak.

“Salah sendiri, aku kan sudah mengingatkannya padamu. Jika terjadi sesuatu pada anakku, aku tidak akan pernah memaafkanmu.” Ancam Donghae oppa galak. Ia lalu mengabaikanku begitu saja dengan berkas-berkasnya.

“Oppa, aku jadi takut. Ayo kita ke dokter. Kau harus menghubungi dokter Stephani.” Rengekku lagi. Jujur saja aku menjadi khawatir dengan janinku. Padahal saat aku makan ramen aku tidak memikirkannya sama sekali. Ya Tuhan, ibu macam apa aku ini. Ampunilah dosaku Tuhan.

“Ini, kau bisa menghubunginya sendiri.” Kata Donghae oppa acuh sambil memberikan ponselnya padaku. Dengan terpaksa aku meraih ponsel itu dengan kasar dan menghubungi dokter stephani dengan panik.

“Sudah berapa kali oppa katakan untuk tidak memakan makanan pedas saat hamil. Sekarang tanggung sendiri akibatnya. Sakit bukan?” Tanya Donghae oppa kejam. Aku hanya menganggukkan kepala lemah sambil membelai perutku yang sakit.

“Nak, maafkan mommy ya.” Batinku penuh sesal.

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “Mommy Yoong (Lee Family)

  1. dokter mesum yang kejam tp yong cinta
    wkwkwk yong juga g dengerin jd deh tersiksa
    sendiri. keluarga unik …love it

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.