Handsome Doctor (Lee Family)

“Ester.. bagaimana kabarmu di London? Aku merindukanmu.” Kataku ditelepon. “Aku baik. Sangat baik. Aku juga merindukanmu.” Teriak Ester heboh. Ia selalu heboh kapanpun dan dimanapun ia berada.

“Datanglah ke Seoul. Aku akan menunjukkan hal-hal menarik padamu.”

“Tentu saja aku ingin ke sana, tapi bulan ini adalah bulan-bulan sibuk. Banyak ibu hamil yang melahirkan secara bersamaan. Kemarin aku hampir saja terlelap, kemudian aku mendapat panggilan pukul sebelas malam, ada seorang wanita yang akan melahirkan. Tentu saja aku tidak jadi tidur dan cepat-cepat pergi menuju rumah sakit. Akhirnya aku pulang dari rumah sakit pukul satu dini hari dan esoknya harus kembali bekerja pukul delapan pagi.” Cerita Ester lesu.

“Hey, jangan lesu seperti itu. Pekerjaanmu itu sangat mulia. Bagaimana jika di dunia ini tidak ada dokter kandungan yang membantu ibu hamil, pasti akan sangat sulit. Bersemangatlah, Tuhan akan memberikan yang terbaik untukmu. Dan cepatlah menikah, kulihat ada dokter tampan di rumah sakit London. Apa kau tidak tertarik dengannya? Siapa namanya aku lupa?” Kataku sambil mengingat-ngingat nama dokter tampan yang bekerja di rumah sakit Donghae oppa. Jika aku tidak salah ingat dokter itu adalah dokter bedah dan sekarang menjadi pemimpin rumah sakit London menggantikan Donghae oppa. Dulunya pria itu adalah sahabat Donghae oppa sekaligus kaki tangan Donghae oppa. Ia juga masih memiliki hubungan keluarga dengan eommonim.

“Oh Sehun maksudmu? Dia sama sekali tidak tampan. Dia lelaki yang menyebalkan dan juga galak. Setelah Aiden kembali ke Seoul bersamamu, banyak dokter yang mengeluh karena sikap otoriter Sehun. Dia membuat tim dokter kewalahan dengan tingkah arogannya. Kenapa kau dan Aiden tidak kembali saja ke London. Aku menderita di sini.” Teriak Ester frustasi. Helaan nafas berkali-kali terdengar dari mulut Ester.

“Benarkah? Menurut Donghae oppa, Oh Sehun adalah pria yang baik dan juga bertanggungjawab. Walaupun dia memiliki sikap yang dingin tapi hasil kerjanya bagus. Tidak mungkin Donghae oppa salah memilih orang. Apalagi untuk memimpin sebuah rumah sakit.” Jelasku pada Ester. Sekali-sekali ia perlu dinasehati, agar tidak terlalu buruk menilai sikap orang lain.

“Oh, sekarang Aiden menggunakan nama koreanya ya?” Tanya Ester. Sepertinya ia sengaja untuk mengganti topik bahasan tentang Oh Sehun.

“Begitulah. Tidak mungkin kami tetap memakai nama luar kami, sedangkan kami tinggal di tanah nenek moyang kami.”

“Ahh, aku jadi iri padamu. Kau dan Ai maksudku Donghae sangat serasi. Bagaimana kabar si kecil Hana?”

“Hah, kami tidak seperti yang kau kira. Hana tumbuh dengan baik. Aku sudah mulai memberinya makanan pendamping ASI. Besok adalah jadwal imunisasi Hana. Aku harus mencari dokter baru. Kau tahu kan, saat ia berumur tiga bulan, kami masih di London. Dan sekarang aku harus mencari dokter anak yang baru untuk Hana.” Keluhku pada Ester. Tapi Ester malah tertawa dengan ucapanku, memang ada yang lucu?

“Kau itu aneh sekali. Memang apa susahnya mencari dokter anak di rumah sakit suamimu sendiri. Tinggal kau tanyakan pada Donghae siapa nama dokter anak yang bagus di rumah sakitnya, ia pasti akan dengan senanng hati memberitahumu.” Jawab Ester masih terbahak.

“Tapi, Donghae oppa pasti tidak akan sempat memberitahuku. Dia selalu sibuk. Padahal saat kami akan pindah ke Seoul aku mengira jika Donghae oppa tidak akan sesibuk di London, ternyata sama saja. Ia tetap sibuk bekerja dan sering pulang larut malam. Untung saja sekarang ada Hana, jadi aku tidak sendirian lagi di rumah.”

“Ah, kau itu memang tidak bersyukur. Apa yang kurang dari Donghae, dia tampan, kaya, pintar, menyayangi keluarga, dan juga pemimpin yang disegani.”

“Aku tidak setuju dengan pendapatmu.” Sangkalku malas. Memangnya Donghae oppa sebaik itu? Ia itu pria yang kejam. Saat di Belanda aku benar-benar dihukum dengan sangat tidak berperikemanusiaan. Dia benar-benar membuatku tidak bisa jalan dan lelah. Pagi harinya aku sampai tidak bisa memberi Hana ASI, karena badanku terasa remuk. Awas saja jika aku sampai hamil anak ke dua, aku akan membuatnya hidup menderita. Bukan berarti aku tidak ingin memiliki bayi, tapi Hana masih kecil. Ia baru enam bulan, bagaimana nasibnya jika bayi sekecil itu harus memiliki seorang adik. Donghae oppa benar-benar gila.

“Chals, kau masih di sana? CHALISTAA…” Teriak Ester di telepon. Aku hampir saja melempar ponselku karena terlalu kaget dengan teriakannya.

“Yak, jangan berteriak. Aku masih mendengarmu.” Omelku kesal. Memang dia pikir suaranya bagus.

“Kau melamun ya? Hobimu itu kenapa tidak hilang-hilang? Sudah ya, kututup teleponnya. Sebentar lagi jam istirahatku akan habis. Aku menyayangimu.”

Klik

Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Ester. Bahkan aku belum membalas ucapannya. Mungkin ia takut dengan omelanku. Dasar wanita aneh.

-00-

Keesokan harinya aku dan Hana telah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Semalam Donghae oppa tidak pulang karena harus melakukan operasi besar dan meeting dengan beberapa tim dokter. Sebagai isteri yang baik dan pengertian aku tentu membiarkannya melakukan itu. Tapi lihat saja, jika ia pulang aku akan mengulitinya satu per satu. Enak saja ia terus-terusan bekerja sedangkan anak dan isterinya menunggu kepulangannya dengan khawatir. Bayangkan saja, semalam aku menunggunya hingga pukul dua belas malam. Aku benar-benar khawatir dengannya, kenapa ia tidak pulang-pulang. Pikiran buruk terus saja menghantuiku kala itu. Lalu pukul setengah satu ia menelponku dengan santainya jika ia tidak bisa pulang. Aku ingin marah saat itu juga, kenapa tidak menelpon terlebih dahulu. Aku sudah susah payah menyiapkan makan malam dan menunggunya pulang, ternyata ia tidak pulang. Dan yang paling membuatku kesal setengah mati adalah alasannya mengapa ia tidak cepat-cepat mengabariku, ia mengatakan jika ia harus mendamping dokter co.ass di rumah sakit. Dan dari nada bicaranya sudah dapat kutebak jika dokter co.ass itu adalah wanita. Ia terdengar sangat semangat menceritakan pengalamannya. Pasti ia bertingkah sok jago didepan dokter co.ass itu. Lihat saja, aku juga bisa mendapatkan pria tampan. Akan kubuat ia cemburu setengah mati.

“Hana sayang, ayo kita imunisasi, dan bertemu ayahmu yang menyebalkan itu.”

Tiba-tiba aku menjadi kesal saat mengingat ayah Hana.

-00-

Rumah sakit Seoul terlihat ramai. Banyak perawat yang mondar-mandir melayani pasien rawat jalan. Aku berjalan sambil menggendong Hana menuju resepsionis dan menanyakan perihal dokter anak yang pagi ini sedang praktek.

“Selamat pagi. Apa pagi ini ada dokter anak yang sedang praktek?” Tanyaku sopan pada perawat yang berjaga di resepsionis. Perawat itu tampak melihat ke arah jadwal dokter praktek dan mencocokkannya dengan jam praktek dokter itu.

“Ada. Pagi ini ada dua dokter anak yang sedang praktek, ada dokter Cho Kyuhyun dan dokter Kim Taeyeon. Anda bisa memilih salah satu.” Jawab perawat itu ramah.

“Baiklah aku akan pergi ke dokter Cho Kyuhyun. Dimana ruangannya?”

“Anda bisa menaiki lift ke lantai dua, di sana ada ruangan yang bertuliskan dokter Cho Kyuhyun.” Jelas perawat itu.

“Terimakasih.” Kataku sambil tersenyum.

-00-

Tiba di lift aku terus berdoa, semoga dokter Cho Kyuhyun adalah dokter yang tampan. Tapi feelingku mengatakan demikian. Mumpung tidak ada Donghae oppa, aku akan sedikit cuci mata.

Tok tok tok

Aku mengetuk dengan perlahan pintu bertuliskan dokter Cho Kyuhyun. Setelah mendengar suara dari dalam aku memutuskan untuk masuk.

“Permisi, Selamat pagi.” Sapaku saat pertama kali masuk ke ruangannya. Ruangan itu tampak rapi dan didominasi karakter kartun kesukaan anak-anak. Dokter ini memang sangat tahu cara menangani anak kecil.

“Selamat pagi. Silahkan duduk.” Kata dokter itu ramah. Ternyata feelingku tidak pernah salah, dokter ini sangat tampan. Aku sampai girang dibuatnya.

“Terimakasih dok.”

“Bisa saya tahu siapa nama nyonya dan putri anda?” Tanya dokter itu terdengar formal. Aku sedikit risih dengan panggilan nyonya tersebut, terdengar sangat tua di usiaku yang masih muda.

“Panggil saja aku Yoona, aku sedikit risih dengan sebutan nyonya. Dan ini Hana, putriku.”

“Oh baiklah. Kau juga terlihat masih sangat muda, kita bisa menggunakan bahasa informal.”

“Ya, aku setuju.” Jawabku senang.

“Kau bisa meletakkan Hana ke dalam timbangan bayi. Kita akan lihat sejauh mana perkembangan berat tubuhnya.”

Aku meletakkan Hana secara hati-hati ke dalam timbangan khusus itu. Hana terlihat sangat santai dan justru tersenyum ke arahku. Dia memang anak baik. Disaat bayi-bayi seusianya menangis saat imunisasi, ia justru sangat tenang dan terlihat gembira. Apa ia tahu jika ini adalah rumah ke dua ayahnya, sehingga ia bisa sangat tenang seperti itu.

“Bayimu sangat sehat dan baik. Berat badannya delapan kilo lima ons, cukup normal untuk bayi seusianya. Bayimu sangat santai, biasanya bayi-bayi akan menangis saat di timbang.” Kata dokter Cho heran. Tentu saja ia santai, ia berada di rumah ke dua ayahnya.

“Ah, benarkah? Ia memang selalu seperti itu.” Jawabku sedikit basa-basi.

“Aku sepertinya sangat familiar denga wajah Hana. Apa ayahnya bekerja di sini?” Tanya dokter Cho sambil mengamati wajah Hana.

“Tidak. Ayahnya bukan orang yang penting.” Jawabku sambil mengibas-ngibaskan tanganku ke udara. Jika Donghae oppa tahu, dia pasti akan marah besar padaku. Dengan seenaknya aku menyebut dirinya tidak penting.

“Kukira ayahnya seorang dokter di sini, karena aku pernah melihat seseorang yang senyumnyaa mirip dengan Hana.”

‘Itu pasti Donghae oppa.’

“Yoona, apa Hana sudah pernah diberi vaksin meningitis?” Tanya Kyuhyun sambil mengeluarkan beberapa botol serum.

“Belum. Saat di London Hana hanya di beri vaksin polio, hepatitis, dan DPT.” Jawabku jujur, karena memang begitu adanya.

“Kau baru pindah dari London? Di sini juga ada dokter baru, sebenarnya dia tidak bisa dikatakan sebagai dokter baru. Dia pemilik rumah sakit ini. Sebelumnya dia juga tinggal di London dan memimpin rumah sakitnya yang ada di sana, tapi entah kenapa ia pindah ke Seoul dan memimpin rumah sakit di sini.” Kata Kyuhyun sambil menyiapkan sebuah jarum suntik yang telah diisi oleh vaksin.

“Benarkah? Apa kau kenal dengan dokter itu?” Tanyaku mencoba memancing. Kita lihat, apa Donghae oppa dikenal oleh rekan sesama dokternya?

“Aku hanya sebatas tahu. Kami jarang bertemu. Lagipula ia adalah dokter spesialis bedah toraks dan cardiovaskuler dan sepertinya baru-baru ini ia menyelesaikan studi S-3 nya di London. Ah, dan jangan lupakan bahwa ia salah satu anggota termuda FESC, Fellowship of European Society of the Cardiovaskuler. FESC adalah jabatan yang diinginkan oleh setiap dokter. Tidak mudah untuk mencapai gelar itu. Kau harus memiliki kemampuan yang baik dan juga diakui oleh tim dokter dari spesialis bedah toraks dan cardiovaskuler di seluruh Eropa.” Jelas Kyuhyun panjang lebar. Sehebat itukah Donghae oppa? Aku tidak percaya.

“Apa dia sehebat itu?” Tanyaku meragukan. Donghae oppa itu tidak lebih dari seorang anak lima tahun yang terjebak didalam tubuh pria dewasa. Ia adalah pria yang sangat manja dan juga kekanakan disamping sifat galaknya.

“Tentu saja dia hebat, jika tidak, ia tidak mungkin memiliki jabatan tertinggi di rumah sakit ini. Yoona, bisakah kau pegang tangan Hana, aku akan menyuntikkan vaksin ini.”

Aku membelai lembut pipi Hana dan tersenyum manis kepadanya. Memberikan rasa aman dan nyaman kepada Hana itu penting, agar ia tidak kaget saat jarum suntik itu menembus kulitnya.

Dokter Cho menyuntikkan vaksin itu dengan perlahan dan hati-hati. Saat jarum itu sudah menancap di lengan Hana, Hana sedikit menangis. Namun, saat aku mengelus pipi chubbynya ia kembali tenang dan hanya sedikit merengek.

“Wah, Hana sangat pintar. Ia tidak menangis meraung-raung seperti bayi lainnya.” Puji Kyuhyun takjub. Tentu saja, jika ayahnya sehebat itu maka anaknya juga sama hebatnya seperti sang ayah. Like father, like daughter.

-00-

Aku menggendong Hana menuju lobby rumah sakit. Semakin siang suasana rumah sakit semakin ramai. Hana tampak sedang bermain dengan bulu-bulu halus yang ada di mantelnya, sesekali ia membuat ekspresi lucu saat bulu-bulu halus itu menggelitik hidungnya.

“Hana sayang, kau tampak semakin sehat setelah di vaksin. Semoga kau selalu sehat nak.” Kataku sambil mengelus punggungnya.

“Yoong, sayang.”

Seseorang menarik tanganku tiba-tiba dan menggiringku menuju lift khusus.

“Oppa, kau membuatku kaget.” Kataku gusar.

“Maaf, kau tidak mendengar suaraku saat aku memanggilmu?”

“Tidak. Suasana rumah sakit sangat ramai, suaramu tertelan oleh suara bising orang-orang.” Jelasku padanya.

Donghae oppa terus menggiringku ke dalam ruang kerjanya dan mendudukanku di sofa untuk tamu.

“Kau tidak merindukanku?” Tanya Donghae oppa. Mungkin ia gusar karena aku tak kunjung mengajaknya berbicara.

“Tidak. Sudah cukup ada Hana disampingku.” Jawabku kesal. Ingat, aku masih marah padanya.

“Ya ampun, sayang. Kau marah padaku?” Tanya Donghae oppa frustasi. Walaupun sebenarnya aku kasihan padanya, tapi rasa kesalku lebih jauh besar daripada rasa kasihanku.

“Tidak.” Jawabku lagi.

“Lalu?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak sedang merindukanmu. Karena…” Kataku menggantung. Rasakan, ia pasti penasaran setengah mati.

“Karena?”

“Karena aku sudah bertemu dengan dokter yang sangat tampan. Dokter itu begitu perhatian padaku dan juga Hana. Tidak seperti seseorang yang mengabaikan kami.” Kataku dengan sinis di akhir kalimatku.

“Jangan mulai lagi Yoong.” Geram Donghae oppa terlihat marah. Oh no!!! Sepertinya aku membuatnya marah besar. Tamatlah riwayatku.

“Ah oppa, maafkanku. Apa kau ingin menggendong Hana. Dia melambai-lambaikan tangannya ke arahmu.” Kataku mengalihkan perhatian. Bisa gawat jika ia marah besar kepadaku.

Donghae oppa menghampiriku dan menggendong Hana kedalam dekapannya. Hana langsung menempel di dada bidang Donghae oppa, dan bersandar dengan nyaman di sana.

“Oppa, hari ini Hana imunisasi.” Kataku memulai pembicaraan.

“Ya, aku tahu. Dan kau bersikap genit di depan dokter Cho?” Tebak Donghae oppa telak. Kenapa ia bisa tahu semua hal yang kulakukan? Jangan-jangan ia memasang alat penyadap di tubuhku. Aku langsung berusaha meraba-raba setiap bagian tubuhku, tapi tidak kutemukan apa-apa di sana.

“Jangan berpikiran bodoh. Kau kira aku menempelkan alat pelacak di tubuhmu?” Kata Donghae oppa sakarstik.

“Lalu, bagaimana oppa bisa tahu?”

“Aku sejak awal sudah melihatmu dan Hana. Aku memperhatikan kalian hingga kalian masuk ke dalam lift. Dan kau masuk ke dalam ruangan Dokter Cho Kyuhyun. Pintunya tidak di tutup dengan sempurna, jadi aku tahu apa saja yang kau lakukan didalam sana.” Akhir Donghae oppa menjelaskan.

“Salah oppa sendiri tidak pernah pulang. Jangan salahkan aku jika aku sedikit cuci mata dengan dokter-dokter muda di sini. Dan lagi, kenapa oppa tidak pernah mengatakan padaku, jika disini ada dokter setampan dokter Cho?”

“Ya ampun, Yoong. Kau membicarakan laki-laki lain dihadapan suamimu sendiri. Hana sayang, ibumu sedang tidak waras.” Adu Donghae pada Hana. Bayi itu hanya melihat bingung ke arah ayahnya dan kembali menghisap jempol mungilnya sambil terkantuk-kantuk.

“Haha, Hana tidak sedang berada di pihakmu. Ia tahu mana yang salah dan mana yang benar.” Ejekku pada Donghae oppa. Yes, aku berhasil membuatnya cemburu.

“Terserah. Aku sedang tidak ingin memulai perdebatan. Aku lelah dan ingin pulang. Ayo kita pulang, Hana sudah terlelap karena menunggu kita berdebat.”

Kali ini Donghae oppa bersikap dewasa dengan tidak menanggapi perkataanku yang kekanak-kanakan itu. Walaupun aku sedang sangat semangat untuk mendebatnya, tapi yasudahlah, masih ada hari esok untuk berdebat.

-00-

Pukul sembilan malam Hana mulai rewel, karena badannya merasa tidak enak setelah imunisasi. Bayi itu terus meronta-ronta di dalam gendonganku. Aku sudah memberinya ASI dan juga menggendongnya kesana kemari, tapi tangisannya tak kunjung reda juga. Donghae oppa sedang tertidur pulas di kamar kami. Aku tidak tega membangunkannya, ia terlihat sangat kelelahan. Oleh karenanya aku lebih memilih menimang Hana di ruang keluarga sambil memutar lagu-lagu klasik. Lagu-lagu klasik sangat baik untuk perkembangan otak anak dan menenangkan pikiranku. Ini sangat ampuh untuk membuatku tenang dan tidak panik saat menenangkan Hana.

Dua puluh menit kemudian Hana sudah mulai tenang dan terlelap. Jempol mungilnya dimasukkan ke dalam mulutnya yang kecil. Ia terlihat sangat lucu saat tidur. Sangat mirip dengan Donghae oppa.

“Ia rewel?”

Donghae oppa datang dari arah tangga dan berjalan menghampiri kami. Mata lelahnya nampak setengah terbuka. Ia belum sepenuhnya bangun.

“Kenapa turun? Oppa istrirahatlah.”

“Aku mencarimu.” Jawab Donghae oppa manja. Jika sudah seperti ini aku jadi meragukan kehebatannya yang sangat dikagumi oleh dokter Cho.

“Dasar manja. Hana tidak enak badan, apa dia akan baik-baik saja?” Tanyaku khawatir.

“Dia akan baik-baik saja. Itu hal yang wajar, tubuhnya sedang bereaksi terhadap vaksin yang diberikan oleh dokter Cho. Ayo tidur, Hana juga sudah tertidur.” Ajak Donghae oppa sambil meraih Hana dari gendonganku. Ia mengelus punggung Hana sayang dan membawanya menuju kamar kami. Aku lantas mengekornya menuju kamar kami.

“Oppa, apa kau menyayangi kami?” Tanyaku sambil memeluknya dan menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. Saat ini aku sedang memeluk Donghae oppa yang tengah berbaring telentang di ranjang kami.

“Pertanyaan macam apa itu? Terdengar sangat bodoh.”

“Oppa, aku hanya butuh jawabanmu, bukan omelanmu.” Kataku kesal. Kenapa pria ini tidak bisa diajak bicara secara baik-baik. Apa aku harus mengeluarkan urat-urat di seluruh tubuhku, baru ia mau bicara padaku?

“Pertanyaanmu terdengar konyol. Kenapa kau harus menanyakan hal itu jika kau sendiri sudah tahu jawabannya.” Kata Donghae oppa berusaha tenang.

“Aku hanya ingin mendengar jawaban yang sesungguhnya dari oppa. Mungkin saja aku salah mengira.”

“Hahhh.” Helaan nafas jengah terdengar dari mulur Donghae oppa. Kemudian Donghae oppa kembali melanjutkan kalimatnya yang tertunda.

“Im Yoona dan Lee Hana adalah separuh jiwaku, aku sangat menyayangi kalian lebih dari apapun. Kalian sangat berharga untukku. Sesibuk apapun diriku, aku tetap selalu memikirkan kalian. Tidak pernah sedetikpun otakku berhenti untuk kalian. Bahkan jantung ini juga berdetak, karena kalian. Coba kau dengar degup jantungku, sekarang ini berdegup dengan normal. Tapi, jika kalian pergi dari jangkauanku, maka jantung ini juga akan melemah. Dan jiwaku akan pergi secara perlahan.”

“Sepenting itukah posisiku dan Hana? Kami juga tidak bisa hidup tanpa oppa. Oppa adalah sosok suami dan juga ayah yang baik. Walaupun oppa terkadang galak, bersikap kekanakan, dan juga acuh pada kami, kami selalu menyayangi oppa.” Kataku sambil memeluk erat tubuh Donghae oppa. Donghae berbalik menghadapku dan memeluk tubuhku tak kalah erat.

“I love you.”

“Love u too Hana’s dad.”

“Ayo tidur. Besok akan menjadi hari yang sangat melelahkan untuk kita.” Kata Donghae oppa sambil mengecup keningku.

“Tapi aku belum mengantuk. Oppa, aku ingin makan strawberry dengan saus coklat. Temani aku makan.” Rengekku seperti anak kecil. Malam ini aku sungguh ingin makan strawberry berdua dengan Donghae oppa. Pasti akan terlihat sangat romantis.

“Baiklah, untuk menebus kesalahanku aku akan menuruti semua keinginanmu.” Kata Donghae oppa lantas bangkit dari posisi tidurnya. Dengan gerakan tiba-tiba, Donghae oppa mengangkat tubuhku. Membuat aku memekik kaget.

“Oppa, jangan melakukan hal-hal yang membuatku kaget.” Protesku padanya sambil mengalungkan kedua tanganku di lehernya.

“Today, special for Hana’s mom. Kau pasti lelah menggendong Hana seharian, aku akan menggendongmu menuju meja makan.” Kata Donghae oppa lembut. Aw, sikapnya malam ini membuatku berdebar-debar. Donghae oppa hari ini memperlakukanku dengan sangat lembut, seakan-akan aku adalah barang keramik yang mudah pecah.

“Sering-seringlah bersikap seperti ini. Dengan begitu aku tidak akan bersikap genit dengan dokter-dokter muda di rumah sakitmu.”

“Jangan mulai lagi Yoong. Kau bisa membuat moodku menjadi buruk. Kau mau kujatuhkan dari sini?” Ancam Donghae oppa padaku.

“Ternyata kau tidak berubah, kau tetaplah pria galak. Pasti kau tadi sedang kerasukan dewa cinta, sehingga semua perkataanmu terdengar sangat manis. Dan sekarang dewa cinta itu telah kembali ke kayangan.” Cibirku padanya sambil mengeratkan pelukanku padanya.

“Apapun itu jangan membahas seorang pria didepanku, aku mengaku cemburu dengan pria-pria yang kau ceritakan itu.” Kata Donghae oppa sungguh-sungguh. Ya ampun, kuberi makan apa Donghae oppa malam ini? Ucapannya benar-benar sangat manis dan jujur.

“Oppa, sepertinya aku salah memberimu makan.” Gumamku pada diriku sendiri.

Sepanjang malam kami bercerita banyak hal mengenai aktivitas kami masing-masing. Kami saling berkeluh kesah dan menumpahkan semua masalah yang kami hadapi sepanjang hari ini. Malam ini merupakan malam terbaik untukku, karena malam ini aku bisa menghabiskan waktuku berdua dengan Donghae oppa, hanya berdua tanpa gangguan dari Hana. Semoga kami bisa tetap seperti ini, tetap bersatu walau terkadang dibumbui oleh perdebatan kecil.

-00-

Siang ini aku berencana mengantarkan makan siang ke rumah sakit. Aku merasa harus menjadi isteri yang baik dan penuh perhatian pada suami. Dan kebetulan juga, hari ini eomma dan appa datang untuk menjenguk cucu satu-satunya, maka kesempatan untukku untuk menitipkan Hana pada eomma dan appa.

“Eomma, aku titip Hana sebentar. Aku kan mengantarkan ini untuk Donghae oppa.” Kataku sambil menggoyang-goyangkan rantang di genggamanku.

“Baiklah. Sampaikan salam eomma dan appa untuk Donghae.”

“Nanti akan kusampaikan. Dah Hanna, mommy pergi dulu.” Kataku melambai pada Hana. Bayi mungil itu tampak sedang sangat aktif, hingga ia tak merespon lambaian tanganku.

-00-

Lagi-lagi suasana rumah sakit tampak ramai. Kali ini ada beberapa blangkar yang membawa korban kecelakaan. Aku sungguh tidak mau melihatnya, maka aku berjalan sambil menundukkan wajahku.

Bruk!

Hampir saja rantang yang kubawa jatuh berantakan. Tapi itu semua tidak terjadi, karena aku dengan sigap menangkap rantang itu sebelum berhasil menyentuh lantai. Tapi, mungkin saja makanan didalamnya menjadi berantakan.

“Maafkan saya.” Kata seorang pria sambil menundukkan badan dihadapanku. Diperlakukan demikian membuatku merasa tidak enak. Tentu saja hal ini merupakan kesalahanku, aku berjalan sambil menundukkan kepala.

“Tidak apa-apa justru aku yang minta maaf.” Kataku tak enak hati.

Pria itu mengangkat wajahnya dan bertemu tatap dengan wajahku.

“Yoona, sedang apa kau disini?” Tanya Dokter Cho kaget.

“A..aku hanya ingin mengantarkan ini.” Jawabku sambil menunjukkan rantang didepan wajahnya.

“Untuk temanmu? Tapi ini belum jam makan siang, masih ada waktu tiga puluh menit sebelum makan siang. Bagaimana jika kita mengobrol sebentar di kantin rumah sakit.” Tawar Dokter Cho padaku. Kulirik jamku sekilas. Memang benar apa yang dikatakan Dokter Cho padaku, daripada aku mengganggu pekerjaan Donghae oppa, lebih baik aku menerima ajakannya.

“Baiklah.” Jawabku mengiyakan.

-00-

Suasana kantin ternyata cukup ramai. Walaupun jam makan siang belum dimulai, tapi ada beberapa dokter yang waktu prakteknya telah selesai datang ke sini untuk sekedar mengobrol di kantin ini. Kami sedikit kesulitan mencari tempat kosong di kantin ini, karena banyaknya orang yang menikmati waktu siang mereka di sini.

“Dokter, dimana kita akan duduk?” Tanyaku sambil berbisik kepadanya. Dari tadi kulihat tidak ada kursi kosong yang tersisa.

“Tenang saja, temanku sudah mendapatkan tempat kosong. Kau tahu, kali ini kau bisa melihat sosok pemimpin di rumah sakit ini. Kebetulan dia akan mentraktir kami makan siang. Itu disana.” Tunjuk Kyuhyun pada dua orang dokter yang sedang duduk di sudut kantin.

“Sosok pemimpin? Siapa?” Tanyaku sambil melihat arah telunjuk Kyuhyun.

Dokter muda itu tidak menjawab pertanyaanku dan berjalan mendahuluiku menuju meja yang ia tunjuk.

“Maaf aku terlambat.” Kata Kyuhyun dengan riang sambil menarik kursi untuknya duduk. Aku mengikutinya duduk dan tersenyum canggung pada dokter muda yang duduk di sebelah Kyuhyun, sedangkan dokter muda di seberangku, ia terus menunduk sambil memperhatikan ponselnya. Sepertinya aku mengenal kemeja hitam garis-garis yang ia kenakan.

“Kekasihmu Cho?” Tanya dokter muda yang ada di sebrang meja Kyuhyun. Seketika pipiku menjadi merona karena malu. Ternyata mukaku masih terlihat muda, padahal aku telah memiliki satu anak dan seorang suami yang menyusahkan.

“Bukan, dia Yoona, ibu dari pasienku.” Jawab Kyuhyun sedikit terbahak.

“Hai, aku Hyukjae, senang berkenalan denganmu. Aku dokter spesialis bedah disgestiv. Dan ini pemimpin di rumah sakit kita, Lee Donghae.”

Seketika tatapan kami saling bertemu. Donghae oppa menatap tajam ke arahku. Tamatlah riwayatku. Baru semalam kami membicarakan tentang dokter-dokter muda, dan ia tidak suka. Sekarang aku justru tertangkap basah sedang bersama Kyuhyun.

“Yoona, kenapa kau diam saja. Ini adalah dokter yang kuceritakan kemarin.” Kata Kyuhyun dengan semangat. Duhh, kenapa dia semangat sekali, tidak tahukah dia jika sekarang aku ingin menenggelamkan diriku ke laut.

“Hai.” Sapaku dengan kikuk.

“Yoona, kau terlihat masih sangat muda. Benarkah kau ibu dari pasien Kyuhyun?” Tanya Hyukjae penuh minat. Dari sorot matanya, ia adalah seorang player yang handal.

“Ya begitulah. Aku memang menikah di usia muda.”

“Wah, biasanya jika seorang wanita menikah di usia muda, pasti suaminya yang berusia tua. Temanku juga seperti kau. Karena suaminya sudah berumur lebih dari 40 tahun, maka ia dipaksa menikah muda.” Jelas Hyukjae sok tahu.

“Temanmu itu pasti bodoh.” Timpal Donghae oppa sakarstik. Aku merasa Donghae oppa sudah tidak bisa menahan emosinya. Aku lebih memilih ia diam saja daripada menimpali pembicaraan tidak penting ini.

“Tidak. Suamiku masih muda.” Kilahku cepat.

“Apa suamimu orang yang penting? Maksudku, pria muda yang pekerjaannya sudah mapan itu bisa dihitung dengan jari. Pasti suamimu orang penting.” Tebak Hyukjae sok tahu. Dokter ini benar-benar banyak bicara.

“Kau bilang suamimu bukan orang yang penting. Lalu apa pekerjaan suamimu?”

Tiba-tiba Kyuhyun menimpali obrolan tidak jelas ini dan mengeluarkan kata-kata keramatnya. Aku yakin, setelah ini aku akan dikuliti hidup-hidup oleh Donghae oppa.

“Bukan orang yang penting ya? Apa dia tidak marah jika kau mengatakan hal itu di depan pria lain?”

Suara Donghae oppa yang dingin bagaikan pertanda kematian untukku.

“Dia pasti akan marah.” Jawabku lemas.

“Hey, kau jangan memojokkan wanita. Ia pasti tidak sungguh-sungguh mengatakannya.” Kata Hyukjae sambil menepuk-nepuk bahu Donghae oppa pelan.

“Iya Hyung, ia hanya bercanda. Aku yakin, Yoona sangat mencintai suaminya. Dilihat dari wajah Hana, suami Yoona pasti sangat tampan. Kau harus melihat bayinya hyung, bayi itu sangat menakjubkan. Dia cantik dan juga pemberani.” Kata Kyuhyun ikut-ikutan membelaku.

“Tidak perlu.” Jawab Donghae dingin.

“Hae, kau sudah menikah kan? Kenapa kau tidak mengundang isterimu kemari dan memperkenalkan pada kami. Aku penasaran dengan wajahnya. Kulihat seleramu sangat tinggi.” Kali ini Hyukjae mencoba mengganti topik. Tapi menurutku topik yang diangkatnya sama-sama menjerumuskanku ke lubang setan.

“Kalian sudah bertemu dan berkenalan dengannya, jadi aku tidak perlu repot-repot memperkenalkannya.” Kata Donghae oppa sambil melirikku.

“Maksud hyung?” Tanya Kyuhyun tak mengerti. Donghae tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun dan justru beranjak dari kursinya.

“Hae kau mau pergi ke mana? Jam praktekmu sudah selesai kan?”

Kali ini Hyukjae bertanya dengan heran ke arah Donghae oppa. Pria itu justru menunjukkan sisi angkuh dan arogannya.

“Aku akan mengantar isteriku pulang. Yoong, ayo kita pulang, tidak baik meninggalkan Hana terlalu lama.” Kata Donghae oppa sambil menarik tanganku untuk berdiri. Kedua dokter itu tampak terkejut dan juga mematung di tempat mereka masing-masing.

“Emm, terimakasih karena telah mengajakku. Sampai jumpai.” Pamitku tidak enak sebelum Dongae oppa menarik tanganku dengan paksa meninggalkan dokter muda itu. Samar-samar dapat kulihat Kyuhyun dan Hyukjae saling menyalahkan.

“Gara-gara kau Donghae marah pada Yoona.”

“Hyung kenapa kau menyalahkanku? Aku juga tidak tahu jika Yoona isteri pemimpin kita.” Kata Kyuhyun membela diri.

Apapun yang sedang diperdebatkan Kyuhyun dan Hyukjae tidak akan bisa menolongku. Setelah ini aku harus bersiap menerima kemarahan Donghae oppa.

“Kau membuat moodku jatuh ke tingkat yang paling dasar.” Bisik Donghae oppa mengerikan di sela-sela menarik tanganku.

“Maaf.” Gumamku penuh sesal.

“Tuhan.. tolong selamatkan hidupku. Semoga aku masih bisa menghirup udara bebas setelah ini.” Batinku penuh harap.

 

 

One thought on “Handsome Doctor (Lee Family)

  1. baca yg kesekian 7 apa 8 ya hehehe. ngebayangin muka yong yg ketangkap haepa wkwkwk plus tambahan komebtar hukjae dan kyuhun wow haepa ngasih hukuman yong apa ya??

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.