Extra Ordinary (Oneshoot)

Duduk termenung sendiri ditemani dengan puluhan bunga daisy adalah favoritku. Disini aku bisa merasakan ketenangan yang dipancarkan oleh alam. Tak ada suara bising kendaraan, tak ada detak jarum jam yang memekakan telinga, dan tak ada suara celotehan manusia. Harum rumput-rumputan seakan menjadi penawar racun bagi paru-paruku yang sesak. Disini benar-benar hanya ada aku dan alam. Tidak ada seorangpun yang mendekat atau sekedar menyapaku. Aku terabaikan, kecuali oleh satu orang. Orang yang sangat berharga untukku. Orang yang mau menerima segala kekuranganku. Orang yang selalu mengkhawatirkanku dan orang yang selalu menemaniku.

“Chalista, apa yang sedang kau lakukan disini?”

Suara suamiku mengalun merdu memenuhi setiap rongga pendengaranku. Aku menoleh ke arahnya dan menepuk sisi kananku yang kosong. Lalu ia mengelus puncak kepalaku dan meletakkan beban tubuhnya di sisi kursi yang kosong.

“Aku bosan.” Gumamku pelan. Melalui ekor mataku aku bisa melihat suamiku tersenyum maklum dan mendekap tubuhku erat.

“Aku tahu. Tapi kenapa kau tidak mencoba bergabung dengan mereka? Kakakku dan adikku tidak akan memarahimu atau berbuat jahat padamu.” Kata Aiden lembut. Ia mengelus surai coklatku dengan penuh sayang.

“Aku sudah pernah mencoba, tapi mereka menatapku penuh permusuhan. Dan aku merasa tidak nyaman.” Keluhku frustasi. Berkali-kali aku mencoba berinteraksi dengan keluarga Aiden, tapi hasilnya selalu sama. Aku merasa terabaikan. Mereka selalu menatapku dengan tatapan yang tidak bersahabat. Sungguh dari lubuk hatiku yang paling dalam aku ingin berinteraksi dengan mereka. Aku ingin mengobrol tentang banyak hal, tapi aku selalu tidak bisa. Aku merasa mereka sedang mengulitiku melalui tatapan tajam mereka.

“Sayang, itu hanya ketakutanmu. Ayo kita masuk ke dalam rumah. Ibu sudah membuatkan butter beer untukmu. Tidak baik bagi wanita hamil terlalu lama berada di luar rumah.” Nasihat Aiden. Dengan langkah kecil aku mengikuti Jensen menuju ke dalam rumah. Dari luar aku bisa merasakan betapa hangatnya ruang keluarga itu. Ditemani penghangat ruangan dari perapian, lampu kuning cerah, dan canda tawa dari keluarga Aiden, rumah itu tampak hidup dan juga nyaman. Tapi bagaimana jika aku menginjakkan kaki disana? Apa semuanya akan sama?

“Hai semua.”

Suara Aiden tampak ceria membelah suasana ramai yang sedang berlangsung. Semua tatapan mata seketika beralih kepada kami. Aku bisa melihat perbedaan sorot mata yang mereka tujukan padaku dan Aiden. Kepada Aiden mereka tersenyum ramah dan dengan senang hati mengajak Aiden bergabung, sedang denganku mereka hanya melayangkan tatapan jijik dan mencemooh. Aku berusaha mengukir senyum kepada mereka semua dan sebisa mungkin mengerahkan tenagaku untuk menggerakkan bibirku.

“Hai semua.” Sapaku dengan kaku. Aku menggenggam tangan Aidem dengan erat dan sedikit merapatkan tubuhku padanya. Mengetahui ketidaknyamananku, Aiden meletakkan sebelah tangannya di pundakku dan berbisik pelan.

“Santai saja. mereka tidak akan memakanmu. Ayo kita duduk disebelah Lili.”

Aiden membimbingku untuk duduk di sofa yang sedang diduduki oleh Lili, adik Aiden. Tapi saat aku akan meletakkan beban tubuhku, gadis muda itu justru berdiri dan menjauh dari kami.

“Li Lili, apa kau terganggu dengan kedatanganku?” Tanyaku takut-takut. Aku memang jarang berinteraksi dengannya. Jadi aku merasa sangat canggung saat membuka pembicaraan dengannya.

“Tidak. Sofa itu terlalu kecil untuk kududuki bersama kalian. Lebih baik aku mengalah pada ibu hamil.” Jelas Lili sambil berlalu. Entah kenapa aku selalu merasa mereka tidak menyukaiku. Mereka selalu mengacuhkanku dan tidak pernah menganggap keberadaanku nyata. Tapi cepat atau lambat aku tetap harus membangun kedekatan dengan mereka, tidak mungkin selamanya aku akan seperti ini. Terlebih lagi aku akan memiliki seorang bayi. Bayi ini harus seperti Aiden. Bayiku harus tumbuh dengan ribuan kasih sayang dan perhatian.

-00-

Tengah malam aku terbangun dengan nafas yang tidak beraturan dan peluh yang sudah membanjiri pelipisku. Aku mengalami mimpi buruk. Walaupun ini sudah biasa kualami, tapi tetap saja mimpi itu menggangguku. Kulirik Aiden yang masih terlelap. Ia sangat pulas dan damai. Dengan langkah pelan aku menuruni ranjang dan beranjak menuju dapur. Aku ingin mengambil segelas air putih karena kurasakan tenggorokanku yang sedikit mengering.

-00-

Aku termenung sendiri di meja makan. Ditemani suara jarum jam, aku menatap kosong ke arah gelas kaca yang isinya sudah tandas kuminum. Aku memikirkan banyak hal. Aku memikirkan kejadian hari ini, aku memikirkan keluarga Aiden, dan aku memikirkan Summer. Kejadian itu sudah cukup lama berlangsung, tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan detail kejadiaanya.

“Chalista awas!”

            “Chalista, ini salahmu!”

            “Chalista kau membuat semua keluargaku sedih.”

            “Chalista kau harusnya ikut bersamaku.”

            “Chalista! Dengar aku!”

            “Chalista. Chalista. Chalista….”

Aku mengerang sambil memegangi kepalaku yang berdenyut. Rasanya sangat sakit dan berdebum. Teriakan-teriakan itu melolong memenuhi setiap sudut otakku. Aku tidak bisa menghentikannya. Dia sangat mengerikan.

“Chalista, kau baik-baik saja?”

Suara Aiden yang khas menghentikan semua lolongan itu. Dengan raut khawatir ia mendekapku erat dan aku menagis di bahunya. Aku terseguk berkali-kali hingga tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Aku ingin menceritakannya pada Aiden, tapi semua perkataanku hanya tersangkut di tenggorokanku.

“Tenang, kau aman bersamaku.”

Kalimat menenangkan itu seakan-akan menjadi penawar kekalutan batinku. Kalimat itu mampu membuatku lebih tenang dan rileks. Aku sudah bisa mengontrol emosiku dan memilih untuk melepas pelukan Aiden.

“Aiden, aku takut.” Kataku pelan. Aiden mengusap sisa air mataku dan menggenggam tanganku erat.

“Kau harus tenang dan rileks. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting. Ingat perkataan dokter Erica, kau harus tenang dan tidak boleh stress. Kau menyayangi bayimu bukan?”

Aku menganggukkan kepalaku pelan dan mulai mengatur  nafasku agar lebih rileks. Lalu aku mengelus perut buncitku dengan seduktif dan menatap mata Aiden dalam.

“Maafkan aku. Aku hanya terlalu lelah.”

“Tidak masalah. Ayo berdiri, kau harus banyak istirahat.”

Aiden memapah tubuhku yang ringkih ke kamar kami. Kemudian ia merapikan letak selimutku dan mengecup keningku dalam sebagai pengantar tidur. Aku harap bisikan itu tidak menggangguku lagi.

-00-

“Chalista, sayang bangunlah. Hari ini jadwalmu untuk bertemu tuan Rick bukan?”

Aku membuka mataku perlahan dan sedikit silau dengan sinar matahari yang sudah mulai bersinar terik. Dari balik bulu mataku, aku melihat Aiden sudah rapi dan siap untuk berangkat ke bandara. Ya, Aiden adalah pilot. Terkadang ia libur jika tak ada jadwal penerbangan, tapi jika ada jadwal penerbangan ia akan pergi meninggalkanku sendirian di rumah.

“Aiden, kau akan terbang untuk berapa hari?” Tanyaku dengan suara serak khas orang bangun tidur. Aiden berjalan mendekat dan memberiku segelas susu untuk ibu hamil.

“Tidak lama. Penerbangan kali ini hanya dua hari. Kau baik-baik di rumah, dan jangan lupa untuk melaporkan padaku hasil konsultasimu pada tuan Rick. Mengerti?”

“Ya, aku mengerti. Hati-hati dan pulanglah dengan selamat.”

Aiden mendaratkan sebuah kecupan di keningku dan berjalan keluar sambil menarik kopor serta menenteng jasnya. Aku suka melihat Aiden dengan seragam pilot, ia terlihat sangat gagah. Membuatku mengingat saat-saat pertemuan kami. Saat itu ia menyelamatkanku yang sedang terjatuh di bandara. Huh, kenangan itu sangat manis. Aku bergegas beranjak dari ranjang dan segera bersiap untuk menemui tuan Rick, psikiaterku.

-00-

Aku berjalan sendiri di koridor menuju ruangan tuan Rick. Walaupun ini bukan kali pertama, tapi rasanya aku tetap takut. Koridor ini sangat sepi, mungkin karena ini hari jumat. Semua orang sedang menikmati akhir pekan mereka. Jadi aku memutuskan untuk memercepat langkahku agar segera menemukan ruangan tuan Rick.

“Selamat pagi tuan Rick.”

Aku memasuki ruangan tuan Rick dan segera melangkahkan kakiku menuju ke mejanya. Pria setengah baya itu tersenyum ramah kepadaku dan mempersilahakanku untuk duduk.

“Pagi Chalista. Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah mulai tenang?” Tanya tuan Rick penuh kelembutan. Tuan Rick adalah pria yang sangat baik. Ia sudah seperti ayahku sendiri. Pertama kali aku mengenal tuan Rick adalah saat aku mengalami trauma pasca kecelakaan yang kualami bersama Summer. Saat itu aku benar-benar deperesi. Aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri atas kematian Summer. Walau pada kenyataannya aku memang bersalah, tapi orang tuaku mengatakan jika itu bukan kesalahanku. Semua yang menimpa Summer sudah kehendak Tuhan. Tapi jika saat itu aku tidak nekat untuk mengemudikan mobil, mungkin sekarang Summer masih hidup dan hidup bahagia dengan Andrew. Bayangkan, dia meninggal tepat sehari sebelum pernikahannya. Betapa aku sangat merasa bersalah dengan keluarga Summer dan keluarga Andrew. Karena kecerobohanku mereka membatalkan pernikahan itu. Dihari bahagia mereka, justru Andrew menangisi peti mati Summer. Gereja yang seharusnya menjadi saksi pernikahan mereka justru berubah menjadi tempat berkabung. Aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri atas kematian Summer. Aku terlalu berdosa pada Summer dan keluarganya, aku tidak berhak untuk sebuah kata maaf.

“Chalista, kau baik-baik saja?”

Aku tersentak kaget dengan sentuhan tangan keriput tuan Rick. Ia memerhatikanku dengan tatapan maklum dan mencoba tersenyum kepadaku.

“Maaf tuan Rick, aku melamun.” Kataku tidak enak. Tuan Rick hanya tersenyum dan menatapku maklum.

“Tadi pagi Aiden menghubungiku, dia mengatakan jika kau mulai resah lagi. Apa itu benar?”

“Entahlah, aku hanya merasa ada suara-suara yang berbisik di telingaku lagi. Suara itu seperti sebuah drum yang bergema di kepalaku. Aku tidak bisa menghilangkan suara itu walaupun aku sudah mencobanya.” Kataku frustasi.

“Kau pasti sedang banyak pikiran dan tidak bisa menenangkan pikiranmu. Kunci dari kesembuhanmu adalah dirimu sendiri. Apa yang sedang kau pikirkan?”

Tuan Rick mencoba bertanya padaku dengan hati-hati. Ia pria yang bisa diandalkan. Tanpa memberiku obat, ia bisa membuatku kembali tenang. Itulah alasannya mengapa aku lebih suka berobat kepada tuan Rick, selain ramah ia juga bisa menangani semua masalah pasien tanpa harus minum obat.

“Tuan Rick, aku..” Jeda sebentar. Aku bingung bagaimana menjelaskannya. Tapi wajah ingin tahu tuan Rick memaksaku untuk segera membuka suara.

“Dua hari yang lalu aku bertemu Andrew disebuah mini market, ia tampak sedang memilih buah-buahan. Walaupun aku ragu, aku memberanikan diriku untuk menyapanya. Aku berhasil menyapanya dan dia terlihat kaget dengan kedatanganku. Ia melirik perutku yang membuncit, setelah itu ekspresi wajahnya langsung berubah mendung. Ia belum bisa melupakan Summer, dan aku merasa berdosa atas segala hal yang menimpa Summer. Aku merasa menjadi orang jahat yang pantas untuk dibenci. Disaat Andrew menata hatinya yang hancur, aku justru menikmati kebahagiaan dengan keluarga kecilku. Aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri tuan Rick, aku tidak bisa.” Kataku sambil menelungkupkan kepalaku di atas meja. Aku sudah sangat frustasi dengan semua ilusi dan delusi ini, ditambah lagi aku belum menceritakan mengenai penyebab penyakit ini pada Aiden. Selama ini aku hanya mengatakan jika aku mengalami tekanan batin karena kematian ayahku, padahal sejujurnya aku seperti ini karena telah membunuh Summer. Aku telah merusak kebahagiaan seorang keluarga, aku pembunuh.

“Chalista, Chalista! Tenangkan dirimu. Tarik napas perlahan dan hembuskan. Cobalah untuk lebih rileks dan berhenti menyakiti dirimu sendiri. Ingat! Kau sedang mengandung.”

Aku mencoba menarik napasku perlahan dan menghembuskannya sesuai dengan perintah tuan Rick. Aku tidak boleh terlalu tegang dan stress. Terakhir kali aku stress, aku hampir saja keguguran karena mengalami pendarahan. Aku tidak mau menyakiti bayiku, aku harus menjaga bayiku agar ia bisa terlahir dengan selamat.

“Tuan Rick, aku sudah merasa lebih tenang. Terimakasih.” Kataku sedikit tersenyum. Tuan Rick kembali ketempat duduknya dan mulai mencatat perkembangan kondisiku.

“Chalista, kau belum memberitahu masalah ini pada Aiden?”

Aku menggeleng lemah sebagai jawaban atas pertanyaan tuan Rick. Sebenarnya aku tidak ingin menyimpan masalah ini sendiri, tapi aku takut Aiden akan membenciku dan menjauhiki.

“Aku terlalu takut untuk mengatakannya. Ak aku, aku takut dia membenciku.” Jawabku pelan.

“Aiden tidak akan membencimu, dia sangat mencintaimu. Jika memang ia membencimu, pasti ia tidak akan menikahimu. Bukannya kau bisa merasakan kesabaran Aiden dalam menghadapimu?”

“Ya, aku menyadarinya. Tapi aku juga malu pada keluarga Aiden, mereka selalu memandangku sebagai wanita aneh. Mereka seakan-akan ingin mengulitiku dengan tatapan tajam mereka.”

“Chalista, sudah berapa kali kukatakan, itu hanya ilusimu. Apa kau tidak bisa merasakan kebaikan dan perhatian mereka?”

“Aku tidak mersakannya.”

“Itu karena kau tidak mau membuka diri dengan mereka. Mau sampai kapan kau seperti ini? Apa kau tidak lelah?”

Tuan Rick menanyaiku dengan dahi yang berkerut-kerut. Sungguh jika bisa, aku ingin hidup normal. Terbebas dari bayang-bayang masa lalu, dan hanya menatap masa depan yang cerah. Tapi aku tidak bisa mengenyahkannya begitu saja, ini terlalu sulit untuk kulakukan.

“Baiklah Chalista, waktu konsultasimu sudah selesai. Saranku, kau harus jujur pada Aiden dan membuka diri pada keluarga Aiden. Mereka semua menyayangimu, tidak ada yang membencimu sama sekali. Dan cobalah untuk memaafkan dirimu sendiri. Jika perlu, temui Andrew dan keluarganya.”

“Ya, akan kupertimbangkan saranmu. Terimakasih. Selamat siang.”

-00-

Aku berjalan gontai menyusuri pertokoan di sekitar rumah sakit. Seharusnya aku langsung memanggil taksi dan pulang ke rumah. Tapi aku merasa ingin berjalan-jalan menikmati udara siang yang hangat. Rasanya sayang jika aku melewatkan musim semi dengan hanya berdiam diri di rumah, sesekali aku harus merasakan udara luar yang segar dan bisingnya kendaraan bermotor.

Berkali-kali aku mendengar suara decitan ban mobil yang berlalu lalang disekitarku. Lama-kelamaan suara-suara itu membuatku kembali pusing dan mengingat saat-saat kejadian kecelakaan. Suara itu bercampur antara decitan ban mobil juga dengan suara pecahan kaca yang nyaringnya memekakan telinga. Aku tidak kuat menahan semua bunyi-bunyian itu. Aku terduduk diatas aspal, entah bagaimana bisa aku sudah di kerumuni oleh banyak orang. Mereka semua menatap ku aneh dan berbisik-bisik pelan. Berkali-kali aku mengerang untuk menyingkirkan bisikan-bisikan itu, tapi semakin aku mencoba, bisikan itu semakin nyaring bergemerisik di kepalaku. Dengan sedikit tenaga yang tersisa, aku bangkit dari posisiku dan segera berlari sejauh yang aku bisa. Tak kuhiraukan banyaknya orang yang kutabrak. Susah payah aku berlari sambil memegangi perutku yang membuncit ini, hingga tiba-tiba seseorang menghentikanku.

“Chalista, apa yang kau lakukan?” Teriak seseorang di depanku. Aku mendongakkan wajahku untuk melihat siapa orang yang sudah menghalangi jalanku. Ternyata dia adalah Lili, adik iparku.

“Maaf, aku harus pulang.” Usirku halus. Aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk adik iparku sendiri.

“Tidak, kau harus pulang bersamaku.” Kata Lili mencekal lenganku. Aku berusaha melepas cengkraman tangannya, tapi ia terlalu kuat mencekal lenganku.

“Tolong lepaskan. Aku ingin pulang.” Kataku memohon. Sorot mataku sudah tidak fokus lagi, tertutup oleh genangan air mata yang sebentar lagi akan tumpah dan membanjiri pipiku.

“Chalista, kau bisa kehilngan bayimu jika memaksakan diri melakukan hal ini. Kumohon ikutlah denganku, aku akan mengantarkanmu pulang.”

-00-

Keheningan yang panjang melanda kami saat Lili mengemudikan mobilnya menuju rumahku. Bersama Lili aku merasa jauh lebih baik. Setidaknya dia adalah orang baik yang bisa menjagaku. Aku sangat bersyukur sekali sekarang, bagaimana jika Lili tidak memaksaku untuk ikut dengannya? Mungkin aku masih berada di jalan raya dengan tatapan kosong. Aku harus berterimakasih padanya.

“Lili, terimakasih.” Ucapku tulus. Gadis bersurai pirang itu tersenyum sekilas padaku dan kembali berkonsentrasi pada jalan raya yang ramai.

“Tidak masalah, aku adalah adikmu. Kenapa kau bisa ada di jalan seperti itu? Kau berlari-lari?” Tanya Lili khawatir. Aku menggigit bibir bawahku ragu. Apakah aku harus menceritakan yang sebenarnya? Tapi menurut tuan Rick aku memang harus terbuka dengan keluarga Aiden, jika aku tidak mencoba, segalanya tidak akan pernah membaik.

“Lili, apa kau ingin mendengar ceritaku?” Tanyaku ragu-ragu. Lili mengerutkan kedua alisnya bingung, kemudian ia mengangguk antusias.

“Ya, aku sangat ingin. Aku benar-benar ingin menjadi dekat denganmu. Kita ini adalah keluarga, tapi kau selalu diam dan memilih menyendiri.”

Aku tertegun dengan ucapan Lili. Seperti itukah diriku di mata mereka?

“Maaf. Aku.. Aku menderita gangguan jiwa ilusi dan delusi.”

Aku menunggu reaksi yang ditunjukan Lili. Ia hanya tersenyum ke arahku dan mengisyaratkanku untuk melanjutkan kalimatku.

“Sebelum aku melanjutkan ceritaku, aku ingin tahu, apakah Aiden mengatakan ini pada kalian?”

“Ya. Tapi dia bilang kau hanya depresi atas kematian ayahmu. Apa seperti itu?”

“Bukan. Itu tidak seperti itu. Sebenarnya aku juga belum menjelaskannya pada Aiden, kau yang pertama. Aku seperti ini bukan karena kematian ayahku, tapi karena kematian Summer.”

Entah aku mendapatkan kekuatan dari mana, tapi semua itu rasanya langsung lolos dari bibirku. Aku merasa ada satu beban di pundakku yang terangkat. Apa ini yang dimaksudkan tuan Rick?

“Summer? Pewaris tunggal Big Group?”

“Ya. Summer meninggal karena aku. Kami mengalami kecelakaan saat aku dengan nekat mengemudikan mobilnya, padahal saat itu aku belum terlalu mahir. Summer meninggal di tempat karena pecahan kaca yang menancap di setiap sisi kepalanya. Saat kecelakaan itu aku benar-benar masih sadar, aku tidak tahu bagaimana cara Tuhan menyelamatkanku, tapi aku hanya menderita luka ringan. Aku melihat sendiri bagaimana Summer menghembuskan nafasnya disampingku, ia tersenyum ke arahku. Padahal esok adalah hari pernikahannya dengan Andrew. Aku merasa sangat berdosa pada Andrew dan keluarga besar Summer. Aku membunuh Summer, dan merusak kebahagiaan mereka. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.” Erangku frustasi. Aku menyeka bulir-bulir air mata yang sudah menganak sungai di kedua pipiku.

“Maaf, aku benar-benar tidak tahu jika kau memiliki masa lalu yang suram seperti itu. Selama ini aku juga memandangmu sebagai wanita yang aneh, walaupun begitu aku sama sekali tidak membencimu. Aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi Aiden.”

“Terimakasih. Ini salahku, seharusnya aku memang memberitahu kalian lebih awal. Aku hanya takut.”

“Menurutku, kau harus memaafkan dirimu sendiri. Jangan kau pendam semua masalah dan emosimu. Keluarkan semua hal-hal yang mengganjal di hatimu. Jika Aiden pulang dari penerbangannya kau harus segera memberitahukan masalah ini padanya. Ia pasti akan mengerti dan tidak akan marah padamu. Ia sangat sangat mencintaimu.” Saran Lili panjang lebar. Aku terus menyimak kata-katanya dengan sungguh-sungguh. Dalam hati aku berjanji, setelah Aiden pulang aku akan mengakhiri mimpi buruk ini secepatnya.

-00-

Tak terasa dua hari berlalu begitu cepat. Hari ini Aiden sudah kembali dari penerbangannya menuju Maldives. Dua hari ini aku menghabiskan waktuku dengan berbagai hal yang menyenangkan. Setiap siang atau sore Lili datang mengunjungiku. Kami mengobrol tentang banyak hal. Dan baru kuketahui ternyata Lili adalah orang yang ceria dan sedikit banyak bicara. Ia menceritakan banyak hal padaku, mengenai kehidupan perkuliahannya, teman-temannya, dan dosen-dosennya. Walau begitu, aku sangat senang. Akhirnya kami berdua bisa sangat dekat dan akrab satu sama lain. Kemarin ibunya Aiden juga datang berkunjung, ia membawakanku sup rumput laut dan udang goreng tepung. Aku benar-benar senang dengan semua kepedulian mereka. Setelah ini aku harus menjelaskan semuanya pada Aiden. Aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi darinya. Bahkan sekarang aku sudah mulai belajar untuk memaafkan diriku sendiri.

-00-

“Chalista.”

Suara teriakan Aiden menggema di setiap sudut rumah. Aku yang sedang berada di lantai dua pun langsung turun dengan perlahan untuk menyambut kepulangannya. Sebelum beranjak dari kamar kami, aku menyempatkan diri untuk bercermin. Hari ini wajahku terlihat lebih cerah dari sebelumya, sudut-sudut bibirku juga saling tertarik dikedua sisi. Hari ini moodku dalam keadaan yang sangat baik.

“Hai sayang.” Sapaku sambil menghambur ke dalam pelukannya. Aiden membuang begitu saja kopor dan jasnya lalu beralih memelukku. Ia mengecup pipiku secara bergantian dan melepaskan pelukan kami.

“Hai. Hari ini kau terlihat sangat cantik. Sepertinya kau sedang bahagia?” Tanya Aiden penuh selidik. Raut wajahnya menampakkan keingintahuan yang mendalam. Aku tergelak kecil dan menyuruhnya untuk mengganti baju terlebih dahulu.

“Ya, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Tapi sebelum aku menceritakan semuanya, kau harus membersihkan dirimu terlebih dahulu. Aku menunggumu di meja makan.” Kataku sambil mengedipkan mata genit. Aiden menganga heran dengan tingkahku yang tidak biasa. Namun ia segera menarik kopornya dan bergegas menuju kamar kami.

-00-

Aiden sudah terlihat lebih segar dan santai. Ia mendudukan dirinya di kursi yang biasa ia tempati dan memandang takjub dengan hidangan-hidangan yang telah kusiapkan.

“Kau memasak banyak sekali? Apa akan ada tamu?” Tanya Aiden heran. Sorot matanya masih tidak lepas dari hidangan-hidangan yang kusediakan.

“Begitulah. Aku mengundang seseorang untuk makan siang di rumah kita. Aku harap kau tidak cemburu dengan orang ini.” Jawabku terkikik geli. Hari ini aku mengundang Andrew untuk makan siang bersama. Hari ini dengan tekad bulat, aku sudah memutuskan untuk membuka semua rahasiaku. Aku juga akan meminta maaf secara personal pada Andrew.

Ting tong

Bunyi bel rumah kami membuatku tersenyum sumringah. Itu pasti Andrew, aku akan membukakan pintu untuknya.

“Aiden, sepertinya tamu kita sudah datang. Tunggu sebentar, aku akan membukakan pintu.”

Aiden mengangkat sebelah alisnya sesaat sebelum menganggukkan kepalanya padaku.

Aku membuka pintu besar ruang tamu dengan sekali tarikan. Dibalik pintu itu, Andrew sedang berdiri sambil membawa sebuket bungan tulip yang cantik.

“Hai, aku sudah menunggumu.” Kataku riang. Andrew tersenyum manis dan menyerahkan bungan tulip itu kepadaku.

“Maaf jika aku membatmu menunggu. Jalan raya sangat padat di jam makan siang seperti ini.” Kata Andrew merasa tidak enak. Aku lalu mengibaskan tanganku ke arahnya.

“Tidak, kau belum terlambat. Ayo masuk, suamiku sudah menunggu di dalam.”

Andrew mengikutiku berjalan menuju ruang makan. Sesekali aku mengajaknya berbicara mengenai keadaannya saat ini.

“Kau tampak lebih segar, apa kau sering berolahraga?” Tanyaku pada Andrew. Pria itu mengangkat sebelah alisnya kemudian tersenyum simpul.

“Ya begitulah. Kudengar suamimu adalah pilot, apa itu benar?”

“Ya. Dan itu suamiku.”

Aku menunjuk ke arah Aiden yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ia mengangkat wajahnya ke arahku setelah mendengar suaraku yang cukup nyaring.

“Aiden, ini tamu kita.” Kataku merangkul Andrew untuk mendekat. Andrew cukup canggung dengan rangkulanku, tapi aku tetap memaksanya untuk mendekat.

“Hai. Aku Aiden.”

“Aku Andrew. Senang bertemu denganmu.”

“Oh ya, aku juga. Silahkan duduk.”

Aiden mempersilahkan Andrew duduk di kursi sebelahnya. Tidak lama kemudian mereka sudah terlarut dengan obrolan mengenai otomotif. Biasalah, pria memang suka yang berbau otomotif. Sembari mereka mengobrol aku mengambilkan minum untuk Andrew dan Aiden.

“Ini, silahkan diminum. Dan ini piring untuk kalian.”

Aku menyerahkan piring dan mangkuk pada Aiden dan Andrew. Aiden yang memulai mengambil hidangan disusul dengan Andrew. Aku sangat senang melihat keakraban mereka. Andai saja Summer masih ada, ia pasti juga bahagia.

-00-

Acara makan siang sudah selesai sejak lima belas menit yang lalu. Sekarang kedua pria itu tengah mengobrol santai ditemani dengan sekaleng bir.

“Huhhh.”

Aku menghembuskan napas dalam-dalam untuk membuat diriku rileks. Setelah ini aku harus mengatakan semuanya, aku tidak boleh menunda-nunda lagi.

“Mmm, maaf. Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”

Suaraku rasanya hampir tercekat di tenggorokan. Rasanya keberanianku mulai terkikis sedikit demi sedikit saat pandangan kedua pria itu hanya tertuju padaku.

“Andrew, sebelumnya aku ingin minta maaf, mungkin perkataanku yang selanjutnya akan membuka luka lamamu.”

“Chalista, ada apa?” Tanya Aiden heran. Ia memerhatikanku dengan serius dan berganti menatap kearah Andrew.

“Aiden, aku akan mengakui sesuatu.” Jeda sebentar, aku sedang mengatur emosiku agar tetap stabil. Dua hari ini emosiku sudah sangat baik. Harapanku selamanya emosiku akan stabil, dan ilusi serta delusiku akan hilang.

“Aku mengalami gangguan jiwa delusi dan ilusi bukan karena deperesi atas kematian ayahku, tapi karena kematian Summer.”

Dalam sekali tarikan nafas aku berhasil menyelesaikn tantangan pertamaku. Masih ada tantangan selanjutnya yang harus ku hadapi.

“Summer, siapa?” Tanya Aiden heran. Aku yakin Aiden tidak mengetahui siapa Summer, karena sebelumnya aku tidak pernah menceritakan soal Summer padanya.

“Summer adalah kekasihku.”

Tanpa kuduga Andrew membuka suara soal Summer. Ini sedikit diluar perkiraanku, tapi itu bukan masalah.

“Chalista, benarkah kau mengalami ilusi dan delusi karena kecelakaan itu?” Tanya Andrew tidak percaya. Kemudian aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.

“Ya. Aku trauma dengan kejadian waktu itu.” Jawabku pelan. Aiden semakin bingung dengan arah pembicaraan kami, ia semakin menuntut jawaban padaku.

“Chalista. Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Aiden, dua tahun yang lalu aku mengalami kecelakaan dengan Summer. Summer adalah kekasih Andrew. Kami mengalami kecelakaan karena kecerobohanku. Akibatnya Summer meninggal dunia tepat di depan mataku. Aku sangat takut dan merasa bersalah. Aku merasa depresi dan selalu tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Hiks.”

Aku mengatur nafasku yang mulai memburu, isakanku juga semakin tak terkontrol. Aku menarik napas perlahan dan mulai melanjutkan ceritaku.

“Aku selalu terbayang-bayang tentang kejadian itu. Bahkan sampai sekarang aku masih bisa mendengar suara decitan ban dan pecahan kacanya. Ak aku frustasi. Ditambah lagi aku selalu melihat bayangan Summer yang memandangku dengan tatapan bencinya. Maafkan aku karena tidak pernah jujur padamu, aku takut kau akan membenciku dan menyebutku sebagai pembunuh.”

Aiden maju ke arahku dan memberiku pelukan hangat. Ia mengelus punggungku dan mengatakan jika ia bisa memaklumi itu semua.

“Jujur aku kecewa denganmu karena kau tidak menceritakan masalah ini padaku. Tapi jika aku ada di posisimu, aku pasti juga akan melakukan hal yang sama. Aku memaafkanmu.” Kata Aiden sambil mengecup keningku. Aku meneteskan air mata bahagia setelah aku berhasil mengungkapkan rahasiaku pada Aiden. Aku yakin, nanti malam aku bisa kembali tidur dengan nyenyak.

“Ehem.”

Sebuah dehaman menghentikan aksi pelukan kami. Aku teringat akan Andrew yang masih ada di ruangan ini. Ya Tuhan, kenapa aku bisa melupakannya?

“Ah, Andrew maaf, aku terbawa suasana.” Kataku tidak enak. Ia tersenyum simpul lalu mendekat ke arahku.

“Chalista, aku minta maaf. Selama ini aku tidak tahu jika kau mengalami depresi dan akhirnya menjadi ilusi dan delusi. Jujur, dulu aku juga sempat menyalahkanmu. Tapi sekarang aku benar-benar sudah memaafkanmu. Ini adalah takdir Tuhan untuk Summer, kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri. Kau harus menatap masa depan dan jangan mengingat masa lalu yang menyedihkan. Ingatlah masa lalu yang menyenangkan, aku yakin Summer juga menginginkan hal yang sama.” Kata Andrew sambil mengelus bahuku. Aku mengangguk pasti dan berjanji pada diriku sendiri agar tidak lagi larut dalam kesedihan masa lalu. Sepahit atau sesedih apapun masa lalu, itu adalah takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Hanya saja cara takdir itu terjadi bervariasi. Mungkin saat itu Summer memang ditakdirkan untuk menghadap Tuhan, hanya kebetulan aku yang menjadi penyebab kematiannya. Untungnya sekarang aku sudah bisa belajar dari kesalahanku, aku tidak akan menutup diriku pada orang lain lagi, aku akan hidup lebih baik lagi, bersama Aiden dan anak-anakku.

15 thoughts on “Extra Ordinary (Oneshoot)

  1. Ksian yoong hrus trauma yg berat gitu… dan trnyata kluarga aiden baik smua tpi krn yoong yg depresi(?) jdi gitu deh.. ini udh end kk?? Aku kirain endnya bkl nunggu yoong lahiran :v Okee kk ditunggu ff lee family series dan queen of time nya kk..Fighting!

  2. Ffnya bagus eonn,, ‘new’ ff mu sll kutunggu. cause tokoh2ny ada yg sm aku sering terkecoh sm ff lee family lo eonn! ky ff yg ini, awal baca d ff ni kn summer couple-an ma andrew trus aku pikir lo pan summer tu adek andrew eh nyatanya tu mah di ff lee family😁😁😶

  3. Authornim kayaknya ini pernah aku baca deh, authornim juga ngepost ini kan di blog ‘SOY’ kalau gk salah?? Heheheh 😀 authornim sekarang aku bisa coment diblog, authornim, hehehe sekarang di hp aku bisa, authornim cepat lanjut quen of time nya ya,

  4. Ahhh gk nyangka yoona pnya masa lalu yg menyakit kan
    trauma dan yoona menderita karna rasa bersalah..dan yoona jdi depresi sedih banget.tapi q seneng andrew maafin yoona dan yoona jjr sama aiden..

  5. untung andrew baik dan mau memaafkan chalista dan aiden dapat menerima kejujuran chalista.

  6. commentnya susah masuk. haepa sabar
    dampingi yong saat terpuruk untungnya semua
    bisa selesai dengan terbuka dan saling memaafkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.