Embisil Man Love Story: Bloody Tears

“Selamat datang kembali tuan Lee di Lee corp.” Sambut kepala manager Shin ketika Donghae melangkah masuk ke dalam gedung pusat milik Lee corp yang berada di pusat kota Seoul. Beberapa karyawan yang lain juga ikut membungkukan tubuh mereka, memberi hormat pada bos lama mereka yang akhirnya dapat kembali memimpin mereka. Lee Donghae mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya atas keloyalitasan mereka dalam mengabdi padanya. Diikuti oleh tuan Kim, Donghae terus berjalan sembari menyalami seluruh karyawannya satu persatu. Setelah itu ia dan tuan Kim berjalan masuk ke dalam lift untuk naik ke ruangannya. Sudah lama sekali ruangan itu kosong tanpa ada yang menempati. Selama Kyuhyun menjabat sebagai CEO, pria itu menempati ruangan bekas ruangan ayahnya yang berada tepat di sebelah ruangan Donghae. Sejak awal tuan Kim tidak mengijinkan Kyuhyun untuk memakai ruangannya karena tuan Kim tahu jika suatu saat Lee Donghae pasti akan kembali dan akan menempati ruangan itu lagi, meskipun saat itu Kyuhyun sempat meragukan hal itu.

“Selamat datang kembali tuan.” Ucap tuan Kim sambil membukakan pintu ruangan milik Donghae yang didominasi warna abu-abu putih. Donghae menggumamkan terimakasih pada tuan Kim dan segera masuk ke dalam ruanganya. Ruangan itu tampak masih sama dengan ruangannya dulu. Tidak ada yang berubah dari ruangannya ini, meja dan semua peralatan kerjanya masih tertata rapi di tengah-tengah ruangan. Kemudian berbagai macam perabotan yang berada di ruangan itu, seperti sofa dan televisi, mereka masih berada di posisi yang sama ketika ia terakhir kali menggunakan ruangan ini. Lee Donghae menghirup dalam-dalam aroma ruangannya yang selalu beraroma citrus mint ini dalam-dalam. Ia sungguh merindukan ruang kerjanya. Ia sudah tidak sabar untuk melakukan pekerjaannya lagi di sini, dengan segala kerumitan yang ada.

“Terimakasih Kim, kau telah melakukan tugasmu dengan sangat baik. Kau bisa kembali ke ruanganmu, aku akan memulai pekerjaanku hari ini.” Ucap Donghae lembut pada tuan Kim dengan senyum hangatnya yang selalu ia tunjukan pada siapapun. Tuan Kim Dohyun kemudian menundukan kepalanya hormat, dan segera berjalan keluar menuju ruangannya yang berada di depan ruangan Donghae.

Setelah tuan Kim pergi, Donghae berjalan mendekat ke arah meja kerjanya sambil mengelus meja coklat itu dengan haru. Rasanya sudah lama sekali ia tidak duduk di atas kursi kebesarannya sambil mengerjakan berbagai macam laporan di atas meja coklat itu. Ia kemudian mendudukan dirinya di atas kursi hitam kulit itu dengan pelan dan mulai membuka berbagai macam file yang telah diletakan tuan Kim di atas mejanya. Semua file itu berisi data keuangan di berbagai perusahaanya dalam kurun waktu enam bulan terakhir ketika Kyuhyun masih menjabat sebagai CEO. Donghae kemudian meneliti data keuangan itu satu persatu dan ia langsung menemukan banyak sekali kejanggalan di dalamnya. Pemasukan perusahaan untuk tiga bulan terakhir tampak menurun, sedangkan untuk tahun lalu, pemasukan yang diterima perusahaan masih cukup stabil, namun tetap mengalami fluktuasi. Ia kemudian teringat pada laporan tuan Kim seminggu yang lalu jika Kyuhyun selama tiga bulan ini sering menggunakan uang perusahaan untuk mengembangkan bisnis ilegalnya yang berada di pinggiran kota Seoul. Donghae menghembuskan napasnya pelan dan melipat tangannya di atas meja. Ia menatap sedih pada sebuah foto yang ia pasang di sisi sebelah kiri mejanya. Di foto itu ia dan Kyuhyun serta ayah mereka sedang tersenyum bahagia ke arah kamera dengan penuh sukacita, tanpa ada permusuhan seperti sekarang. Betapa ia merindukan saat-saat itu, saat dimana ia dan Kyuhyun saling melengkapi satu sama lain dengan ayah mereka yang selalu berusaha memperhatikan mereka meskipun ia selalu disibukan dengan berbagai macam pekerjaan di kantor. Masih teringat jelas bagaimana sikap Kyuhyun saat pria itu untuk kali pertama datang ke rumahnya sambil berjalan takut-takut mendekat ke arahnya, ia adalah pria kecil yang polos dan penuh keluguan, hingga ia sendiri tidak pernah membayangkan jika pria kecil nan polos dan lugu itu akan berubah menjadi pria licik dan jahat seperti saat ini.

Flashback

            Hari itu tuan Lee pulang ke rumahnya lebih awal untuk menyambut anggota keluarga Lee yang baru. Sejak jauh-jauh hari ia telah mengatakan pada Donghae jika adik barunya akan datang hari ini. Tuan Lee juga sering menasehati Donghae agar mulai sekarang ia harus menjadi contoh yang baik bagi adiknya karena ia akan menjadi seorang kakak. Donghae yang saat itu berusia empat belas tahun tampak begitu tenang menuruni anak tangga di kediamannya satu persatu ketika sang ayah memanggilnya dari lantai bawah untuk menyambut adik barunya yang telah tiba. Ia yang awalnya tidak terlalu antusias menjadi sangat antusias ketika ia melihat sosok Kyuhyun untuk pertama kali. Pria kecil yang berusia sembilan tahun itu tampak begitu ketakutan ketika memandang banyak orang di sekelilingnya sambil menatap pada tuan Lee yang tersenyum lembut ke arahnya.

“Mereka adalah para maid yang bekerja di sini. Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa mengatakannya pada mereka. Dan yang berdiri di sana adalah Lee Donghae, kakak barumu.”

Seketika Kyuhyun menoleh ke arah telunjuk tuan Lee yang sedang menunjuk sosok Lee Donghae yang saat itu tengah berdiri dengan senyum hangat di dekat pilar besar berwarna putih. Donghae kemudian berjalan mendekat menuju sisi ayahnya untuk berkenalan lebih lanjut pada Kyuhyun. Ketika ia melihat sosok adik barunya, entah mengapa ia menjadi begitu ingin tahu dengan sosok pria kecil yang saat ini sedang berdiri di samping ayahnya. Meskipun mereka tidak pernah memiliki hubungan darah, tapi Donghae merasa jika Kyuhyun sedikit memiliki kemiripan dengannya. Sorot mata itu mengingatkannya pada sorot matanya saat pertama kali ibunya meninggal. Oleh karena itu ia ingin mengenal Kyuhyun lebih dekat dan menjadi kakak yang baik untuk adik barunya itu.

“Hai, siapa namamu?” Tanya Donghae pelan. Ia mengulurkan tangannya ke arah Kyuhyun dan tersenyum dengan lembut pada pria kecil itu. Awalnya Kyuhyun merasa ragu untuk membalas uluran tangan dari Donghae, tapi ketika tuan Lee menganggukan kepala meyakinkan, akhirnya Kyuhyun bersedia untuk membalas uluran tangan dari kakak barunya itu.

“Kyuhyun, Lee Kyuhyun.” Jawab Kyuhyun pelan masih takut-takut. Donghae tersenyum maklum pada Kyuhyun sambil menggenggam tangan kecil itu erat.

“Aku Lee Donghae. Mulai sekarang aku akan menjadi kakak barumu, jadi jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa mengatakannya padaku.”

“Baiklah, sebaiknya kita lanjutkan perkenalan kita di dalam sambil menyantap makan siang yang telah disiapkan oleh bibi Nam, Kyuhyun pasti sangat lapar karena ia baru saja menempuh perjalanan yang panjang.” Ucap tuan Lee sambil menggiring kedua anaknya untuk masuk ke dalam rumah. Mereka bertiga kemudian berkumpul di meja makan sambil membicarakan hal-hal baru pada Kyuhyun.

“Berapa usiamu?” Tanya Donghae berbasa-basi. Kyuhyun yang sejak tadi terus menundukan kepalanya sambil makan dalam diam, kemudian mendongakan wajahnya menatap dalam pada manik mata Donghae dengan sorot mata malu dan takut-takutnya.

“Sembilan tahun.” Jawab Kyuhyun pelan.

“Umurku empat belas tahun. Usia kita selisih lima tahun. Apa kau juga bersekolah?”

Kyuhyun menganggukan kepalanya pelan dan sorot matanya tampak semakin sedih. Ayahnya kemudian memandang ke arah Donghae, memberi kode pada laki-laki remaja itu agar tidak menyinggung mengenai kehidupan Kyuhyun sebelumnya, karena pria itu masih merasa sedih karena harus meninggalkan teman-teman lamanya di sekolahnya yang lama.

“Ayah akan mendaftarkan Kyuhyun ke sekolah baru milik yayasan ayah. Mulai minggu depan ia sudah bisa bersekolah di sana. Dan selama seminggu ini ia akan tinggal di rumah sambil melakukan adaptasi pada lingkungan barunya.” Ucap tuan Lee pada Donghae, namun diam-diam Kyuhyun juga ikut menyimaknya. Ia merasa begitu takut dengan keluarga barunya. Selama ini ia terbiasa hidup di lingkungan yang kumuh beserta dengan orang-orangnya yang kasar. Kemudian, sekarang semuanya tampak berubah drastis. Tidak ada lagi kata-kata kasar yang suka membentak-bentaknya, semua orang menghormatinya, ia memiliki seorang kakak laki-laki yang begitu hangat ketika menyambutnya, kemudian ia juga memiliki seorang ayah yang sangat baik. Ketika ia bertemu tuan Lee untuk pertama kali, pria paruh baya itu langsung menggendongnya dengan raut wajah bahagia, seakan-akan ia telah ditunggu oleh ayahnya itu sejak lama. Kemudian ia juga diperlakukan dengan sangat baik hingga ia merasa begitu aneh, karena ia belum terbiasa dengan semua itu. Hatinya belum menyatu dengan keluarga ini, ia masih terbayang-bayang dengan sosok ibunya yang selama ini selalu menyayanginya dan juga memperhatikannya. Tiba-tiba saja ia merasa sedih dan begitu merindukan ibunya. Ia takut, selama ini ia memiliki ibunya yang selalu menemaninya dalam menjalani kejamnya hidup. Namun, sekarang sosok lembut itu tiba-tiba pergi dan meninggalkannya pada seorang pria paruh baya dan seorang kakak yang masih terasa asing baginya. Donghae mengamati perubahan raut wajah Kyuhyun dengan seksama. Pria kecil itu masih tampak canggung dan takut dengan kehidupan barunya. Dalam hati Donghae bertekad akan membuat Kyuhyun bangkit dari keterpurukannya dan akan membuat Kyuhyun menjadi pria yang hebat di masa depan.

“Setelah ini ayah akan kembali ke kantor untuk bekerja. Kau akan ditemani oleh hyungmu untuk berkeliling mansion dan ia juga akan menunjukan kamar barumu di atas. Kau sudah menyiapkan kamar untuk Kyuhyun?” Tanya tuan Lee pada Donghae. Kyuhyun yang berada di sampingnya mulai memberanikan diri untuk menatap Donghae. Merasa ditatap oleh adik barunya, Donghae menoleh sekilas sambil menganggukan kepalanya pada sang ayah.

“Sudah, aku akan menunjukannya setelah makan siang.”

-00-

Makan siang telah usai. Sesuai janjinya, tuan Lee benar-benar pergi untuk kembali ke kantor dan seluruh masalah kepindahan Kyuhyun ke mansion keluarga Lee diserahkan pada para maid dan juga Donghae. Setelah ayahnya benar-benar pergi, Donghae segera mengajak Kyuhyun untuk berkeliling ke dalam mansion tersebut. Setiap sudut yang dimiliki oleh mansion itu tak luput dari jangkauan Donghae agar adik barunya itu dapat dengan mudah mengenali seluk beluk rumah barunya yang besar itu. Kemudian tiba saatnya Donghae mengajak Kyuhyun menuju ke kamar barunya di lantai atas. Kamar itu memiliki nuansa merah biru yang catnya dipilih sendiri oleh Donghae, sesuai dengan selera anak-anak. Di dalam kamar itu terdapat sebuah ranjang besar, meja belajar, lemari pakaian, dan kamar mandi dalam. Lee Donghae sendiri belum menambahkan apapun di sana, seperti mainan, atau pernak-pernik lain yang berhubungan dengan adiknya karena ia belum mengetahui selera adik barunya. Ia berencana akan menambahkan pernak-pernik itu nanti, setelah ia mengenal adiknya lebih jauh. Sekarang ia hanya memberikan sebuah kamar dengan isi standar pada adiknya. Tapi, ia berjanji, ia akan menambahkan banyak hal di dalam kamar adiknya, sesuai dengan minat pria kecil itu.

“Apa kau suka dengan kamar barumu?” Tanya Donghae pada Kyuhyun. Kyuhyun kecil tampak berbinar-binar senang dengan kamar barunya yang sangat mewah dan besar. Tak pernah terbayang sebelumnya jika ia akan mendapatkan sebuah kamar dengan lebar dan panjang yang hampir sama dengan rumah petaknya di kampung, atau mungkin justru lebih kecil dari kamar barunya. Di dekat bednya, para maid telah melatakan satu kopor kecilnya di sana. Kopor itu bagaikan sebuah tas tangan wanita yang terlihat begitu mini di dalam kamar barunya yang sangat luas. Ia kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya sambil berdecak kagum dan mulai melompat ke atas ranjangnya yang empuk. Lee Donghae tersenyum bahagia dengan respon Kyuhyun yang sangat diluar dugaannya. Ia kira Kyuhyun tidak akan menyukainya karena ia sendiri awalnya merasa tidak yakin dengan pilihan warna untuk kamar adik barunya ini.

“Hyung, terimakasih.”

Sebuah ucapan terimakasih pertama yang diucapkan oleh seorang adik membuat hati Donghae dipenuhi oleh perasaan haru dan bahagia yang luar biasa. Tak pernah ia duga sebelumnya jika ucapan terimakasih itu akan memberikan efek yang sangat luar biasa untuk dirinya. Ia merasa begitu dihargai dan dihormati oleh seseorang secara tulus. Benar-benar sangat luar biasa dan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Donghae kemudian berjalan mendekat ke arah Kyuhyun dan ikut mendudukan diri di atas ranjang baru milik pria kecil itu.

“Sama-sama, aku senang jika kau menyukainya. Apa kau suka bermain sepak bola?” Tanya Donghae penuh minat. Ia harap adik barunya ini juga memiliki hobi yang sama dengannya karena ia sangat ingin bermain bola bersama adik barunya di taman belakang yang sangat luas. Terkadang ia merasa bosan jika harus bermain bola sendiri di taman tanpa ada seorangpun yang mau menemaninya bermain. Satu-satunya teman bermain sepak bolanya adalah seorang tukang kebun milik ayahnya yang kadang bersedia menemaninya bermain ketika pekerjaanya telah selesai, tapi jika pekerjaanya belum selesai, maka tukang kebun itu tidak akan mau menemaninya bermain sepak bola. Dan hal itu tentu saja sering membuat hatinya dongkol karena ia harus bermain sepak bola seperti orang bodoh di halaman belakang rumahnya yang luas itu.

“Sepak bola? Aku menyukainya. Aku sering bermain sepak bola dengan teman-temanku ketika hujan sedang turun. Kami semua pasti akan sangat kotor dan juga basah kuyup. Tapi, ibu tidak pernah memarahiku dan selalu mengijinkanku untuk melakukannya. Apa hyung juga pernah melakukannya?”

Pertanyaan itu membuat Donghae merasa tertegun sejenak. Ia tidak pernah bermain bola ketika hujan, karena seluruh maid dan juga ayahnya selalu melarangnya untuk melakukan hal itu. Mengenai ibunya… ia tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya, karena ibunya meninggal ketika ia masih sangat kecil. Jadi, saat ibunya masih hidup ia belum terpikir untuk bermain bola di bawah guyuran hujan seperti apa yang diceritakan oleh Kyuhyun padanya.

“Belum, aku belum pernah melakukannya. Apa kau mau bermain bola bersamaku di taman belakang? Hari ini cuaca cukup mendung, dan jika kita beruntung, kita bisa bermain bola ditengah hujan lebat hari ini.” Tawar Donghae dengan semangat. Mata Kyuhyun berbinar-binar senang dan ia langsung melompat turun dari ranjangnya untuk mengajak Donghae bermain bola.

“Ayo hyung, kita harus bermain bola sekarang sebelum ayah pulang dan memarahi kita.” Ucap Kyuhyun bersemangat sambil menarik tangan Donghae untuk turun. Keduanya kemudian berlari bersama menuju taman belakang dengan perasaan riang dan bahagia.

Flashback end

            Lee Donghae tersenyum kecil mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu yang sangat menyenangkan dan juga membahagiakan. Tak pernah terbayang di benaknya jika kebahagiaan itu akan sangat cepat berlalu dan digantikan dengan kepelikan hidup seperti ini. Ia akui ia merindukan Kyuhyun kecilnya yang dulu, yang begitu bersemangat dan selalu menunjukan sikap yang menggebu-gebu terhadap sesuatu yang baru. Tapi, sayangnya ia telah kehilangan sosok itu sejak lama. Sejak ia harus pergi ke luar negeri selama tiga tahun untuk menyelesaikan studinya. Dan ketika ia pulang, Kyuhyun telah menjadi pria dewasa yang pembangkan dan pembuat onar. Andai saja sang ayah tidak mengirimnya ke Belanda untuk kuliah, mungkin ia tidak akan kehilangan sosok Kyuhyun yang penuh keceriaan dan Kyuhyun yang baik. Ia akan tetap mendampingi Kyuhyun di sini dan ia akan menjadi kakak yang sempurna untuk adiknya. Tapi, ia tidak boleh menyalahkan takdir. Semua ini jelas-jelas telah digariskan oleh Tuhan untuknya agar ia dapat menggali makna hidup ini dengan lebih dalam. Tapi, meskipun Tuhan telah menggariskan sebuah takdir yang rumit untuknya, Tuhan tidak pernah memberinya batasan untuk menentukan akhir hidupnya. Ia bebas memilih apa yang ingin ia lakukan. Jika ia menginginkan kehidupan yang pelik namun berakhir bahagia, maka ia harus mengakhiri semua perselisihan ini dengan baik pula. Tapi, jika ia ingin semua ini berakhir dengan tetesan air mata, maka ia dapat memilih jalan kekerasan untuk mengakhiri semua konflik ini.

Donghae menghela napasnya pelan. Ia sekarang begitu takut untuk mengambil keputusan. Apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki semua ini? Ia tidak pernah sekalipun ingin mengusir Kyuhyun dari rumahnya dan mengeluarkan Kyuhyun dari silsilah keluarga Lee. Kemarin ia hanya merasa emosi dan ia terlalu tenggelam dalam kenangan jahat yang dilakukan oleh Kyuhyun padanya. Ia tidak bisa seperti ini. Ia tidak ingin sebuah akhir dengan air mata, ia ingin akhir ceritanya penuh dengan keceriaan dan kebahagian. Donghae kemudian berpikir untuk membicarakan masalah ini secara baik-baik pada Kyuhyun dan ia akan mulai melupakan seluruh kebenciannya pada adik kecilnya itu. Toh, dendam itu memang sangat mengganggu dan merusak. Karena dendam, seseorang akan menjadi buta dan tidak dapat berpikir jernih. Mulai sekarang ia akan berusaha melupakan dendamnya dan berusaha mencari jalan keluar terbaik untuk masalahnya dengan Kyuhyun. Ia yakin, jauh di lubuk hatinya, Kyuhyun masihlah adik kecilnya yang dulu.

Tiba-tiba lamunan panjangnya buyar bersamaan dengan kedatangan tuan Kim yang tampak panik sambil menggenggam ponsel pintarnya yang besar. Pria tua itu membungkuk dalam dengan ekspresi wajah yang tak terbaca. Dan dalam sekejap pemikirannya untuk mengajak Kyuhyun berdamai menjadai kabur dan buram kembali.

“Tuan, nyonya Yoona diculik oleh anak buah Kyuhyun.”

-00-

Brugh

Jack melemparkan tubuh Yoona yang tak sadarkan diri begitu saja ke atas lantai keramik yang dingin. Pria itu telah mengikat tangan dan kaki Yoona serta telah menyumpal mulut wanita itu dengan kain agar ia tidak bisa berteriak meminta tolong. Kemudian Jack mengelurakan ponselnya dari dalam saku celana hitamnya dan segera memotret tubuh lunglai Yoona yang saat ini masih berada di bawah pengaruh obat bius. Dengan seringaian jahatnya, Jack mulai mengirimkan pesan kepada asisten Donghae, tuan Kim, beserta dengan gambar Yoona yang baru saja ia foto untuk memberikan gertakan pertama. Dan nanti jika gertakan pertamanya berhasil, ia akan mulai melakukan negosiasi dengan Donghae. Persetan dengan keberadaan Kyuhyun. Kali ini ia akan melakukan semua rencananya sendiri tanpa melibatkan Kyuhyun. Sejak awal Kyuhyun hanyalah batu loncatannya saja. Sekarang, setelah ia mendapatkan Yoona, ia dapat melakukan semua rencananya sendiri tanpa campur tangan pria pucat itu lagi.

“Bos, apa yang akan kita lakukan setelah ini?” Tanya anak buah Jack yang masih setia berdiri di sampingnya dengan tangan yang dilipat di depan dada.

“Kita akan memanfaatkan wanita ini untuk memeras Lee Donghae.”

“Bagaimana dengan tuan Kyuhyun? Kita harus melaporkan padanya jika tawanan kita telah tiba.”

“Laporkan pada Kyuhyun jika tawanan telah kita tiba, tapi jangan katakan apapun padanya tentang negosiasi yang akan kulakukan dengan pihak Lee corp. Kali ini aku akan melakukan semuanya sendiri tanpa Kyuhyun.”

“Tapi, bagaimana jika tuan Kyuhyun marah?” Tanya pria itu khawatir. Ia tidak ingin dihukum mati oleh Kyuhyun hanya karena membantu pria licik seperti Jack.

“Aku yang akan mengurus masalah Kyuhyun. Lebih baik sekarang kau jalankan perintahku, karena aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk kesempatan yang sangat langka ini.” Ucap Jack dingin dan datar. Pria bertato itu kemudian segera pergi untuk melapor pada Kyuhyun. Sementara itu, Jack masih berada di dalam ruang penyekapan Yoona sambil menatap wanita itu dengan seringaian jahatnya.

“Jika Kyuhyun berani macam-macam, maka nyawamu yang akan menjadi jaminannya.” Bisik Jack pelan di telinga Yoona sebelum ia berjalan pergi meninggalkan ruangan penyekapan Yoona yang pengap dan remang.

-00-

Yoona melenguh pelan sambil mencoba menggerakan tangannya yang terasa kesemutan untuk memijit pelipisnya yang sakit, namun semakin ia mencoba meronta, ia justru semakin tak dapat bergerak dan lunglai. Kemudian sebuah sentuhan yang sangat lembut menyentuh pipinya beberapa kali, hingga akhirnya Yoona dapat membuka matanya perlahan untuk melihat apa yang terjadi dengan dirinya.

“Kyu?” Ucap Yoona tak yakin sambil menyipitkan matanya berkali-kali untuk mengfokuskan pandangan matanya yang sedikit buram. Kyuhyun tampak duduk di hadapannya dengan gaya angkuh sambil terus mengamati pergerakan Yoona yang terlihat seperti seekor ulat kecil yang tak berdaya. Beberapa menit yang lalu setelah anak buahnya melapor, ia langsung datang ke ruangan ini dengan terburu-buru untuk melihat Yoona. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat wajah cantik wanita itu. Tapi, sayangnya saat ini ia dipertemukan kembali dengan Yoona dalam keadaan yang bisa dikatakan tidak baik. Meskipun ia sangat merindukan wanita itu dan ingin sekali memeluknya, tapi ia tidak bisa melakukan hal itu.

“Kyu, apa yang kau lakukan padaku?” Tanya Yoona marah sambil meronta-ronta brutal. Kyuhyun yang melihat itu langsung berjongkok di sebelah Yoona sambil mengelus-elus kepala Yoona lembut, namun dengan sorot mata yang begitu mengerikan seperti iblis.
“Senang bertem denganmu lagi Yoona. Aku sangat merindukanmu. Suamimu ini sangat merindukanmu Yoona.” Geram Kyuhyun marah. Ia kemudian menarik rambut Yoona kasar hingga kepala wanita itu terdongak dengan paksa ke arahnya.

“Lepaskan! Kau pria kejam dan jahat. Selama ini kau hanya salah paham dengan statusmu. Tuan Lee dan Donghae oppa tidak pernah berbuat jahat padamu, mereka baik. Kau hanya salah mengartikan bentuk kasih sayang mereka. Aww.”

Kyuhyun semakin keras menarik rambut Yoona ketika wanita itu mulai menyebut-nyebut nama bekas keluarganya yang terkutuk itu. Selama dua hari ini ia berusaha untuk melupakan sakit hatinya pada sang kakak, namun Yoona dengan lancangnya justru kembali mengungkit-ngungkit nama mereka sambil memuji-muji pria busuk itu beserta ayahnya. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah merubah penilaiannya terhadap keluarga Lee, karena mereka akan tetap menjadi keluarga yang jahat bagi hidupnya.

“Tahu apa kau mengenai mereka? Kau ini hanyalah kekasih dari pria brengsek itu, jadi kau tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaanku selama ini.”

“Kau salah paham. Selama ini kau salah jika kau mengaggap tuan Lee jahat karena telah menelantarkanmu dan membuat ibumua meninggal dalam keadaan yang mengenaskan. Tapi percayalah, jika sebenarnya tuan Lee justru menyelematkanmu. Aww, hentikan Kyu! Ini sakit.”

Tanpa peduli dengan teriakan memilukan dari Yoona, Kyuhyun terus menyakiti Yoona dengan menjambak rambut coklat wanita itu dengan keras, kemudian Kyuhyun juga mencengkeram rahangnya Yoona dengan kuat, hingga rasanya Yoona sudah tidak kuat lagi dengan semua siksaan itu. Bulir-bulir air mata itu terus menetes turun membanjiri seluruh sisi wajahnya yang tampak pucat.

“Kau terus menerus membela mereka karena Lee Donghae keparat itu pasti telah mempengaruhimu dengan cerita-cerita bualannya. Lihat ini! Kau adalah isteriku dan kau akan tetap menjadi isteriku selamanya karena aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia dengan Lee Donghae. Persetan dengan bayi yang ada di dalam perutmu saat ini, mungkin setelah menghabisi kekasihmu dan merebut seluruh harta warisannya aku juga akan membunuh bayimu. Tapi, jika kau tidak memberontak dan membangkang, aku akan memberikan sedikit penghargaan dengan tidak membunuh bayi itu, bagaimana, apa kau setuju?”

Yoona mendecih jijik di hadapan Kyuhyun sambil berusaha memalingkan wajahnya dari pria jahat itu. Ia tidak akan pernah mau jika dipaksa untuk diam dan membiarkan kekasihnya mati di tangan pria jahat itu. Jika Donghae mati, maka lebih baik ia juga mati bersama dengan pria yang dicintainya daripada harus hidup menderita dengan pria yang tidak dicintainya seumur hidup.

“Donghae oppa sebentar lagi pasti akan datang untuk menyelamatkanku dan calon anaknya. Kematianmu sudah dekat Kyu, jadi bersiaplah.” Balas Yoona tak kalah sengit di hadapan pria itu. Kyuhyun mendesis marah di depan Yoona sambil menghempaskan kepala Yoona begitu saja hingga wanita itu terbentur lantai. Suara jeritan dan rintihan Yoona yang keras seakan-akan tidak terdengar di telinga Kyuhyun, karena pria itu justru memandangi Yoona dengan datar tanpa berniat untuk menanggapi jeritan kesakitan dari wanita itu.

“Lee Donghaemu itu tidak akan pernah datang kemari untuk menyelamatkanmu, karena sebelum hal itu terjadi, aku dan anak buahku yang lain akan langsung menghabisi nyawanya saat itu juga. Atau jika kau mau, aku akan membunuhnya tepat di depan matamu.”

“Huh, daripada kau terus membual seperti itu, lebih baik kau segera menyewa seorang detektif swasta untuk menyelidiki asal-usulmu karena kau sama sekali bukan anak kandung tuan Lee. Donghae dan ayahnya selama ini telah memberikan kasih sayang yang berlimpah padamu dan menarikmu dari sebuah kubangan hitam nan kotor dan pekat untuk dipindahkan ke dalam sebuah kolam yang jernih dan indah. Namun, kau justru membalas kasih sayang mereka dengan perbuatanmu yang sangat tak bermoral dan menjijikan seperti ini. Benar-benar menyedihkan.”

Entah darimana keberanian itu berasal, namun Yoona merasa ia perlu mengungkapkan hal itu pada Kyuhyun agar pria itu dapat kembali ke jalan yang benar dan tidak tersesat. Selama ini Kyuhyun telah berbelok ke arah yang salah, namun sayangnya tidak ada seorangpun yang berani untuk menariknya ke jalan yang benar. Jadi beginilah akibatnya, Kyuhyun menjadi pria yang jahat sekaligus licik seperti ini.

Plak

Sebuah tamparan keras mendarat didi pipi Yoona hingga membuat ujung bibir Yoona sedikit sobek dan pipi sebelah kirinya menjadi lebam. Air mata kepedihan itu lagi-lagi menuruni kedua pipi pucatnya yang saat ini terasa begitu sakit dan panas. Kyuhyun menatap wajah Yoona datar dengan sorot mata yang tak terbaca. Entah apa yang saat ini dipikirkan oleh Kyuhyun, namun jelas-jelas pria itu tidak suka dengan setiap kalimat yang diucapkan oleh Yoona, seakan-akan kalimat tersebut dapat melukainya dan menyebabkan ia mati.

“Tutup mulutmu! Aku tidak akan pernah mempercayai semua bualanmu! Apa kau tahu apa yang dilakukan tuan Lee dan kekasih tersayangmu itu padaku? Mereka mencampakanku, mereka mengabaikanku. Lee Donghae yang seharusnya menjadi seorang kakak yang selalu ada untukku, ia justru pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan studinya. Kemudian ayah menjadi sangat sibuk dengan urusan bisnisnya yang memuakan itu dan akhirnya mereka semua melupakanku. Hanya Jack yang saat itu memperhatikanku dan mengajarkanku berbagai hal mengenai kehidupan. Tuan Lee keparat itu hanya berpura-pura baik padaku untuk menebus seluruh rasa bersalahnya padaku karena ia telah mencampakanku dan ibuku demi isteri pertamanya dan juga Donghae. Mereka semua sama sekali tidak menyayangiku seperti apa yang mereka katakan padamu!”

“Tidak Kyu, kasih sayang mereka nyata. Aku dapat melihat adanya ketulusan di mata Donghae oppa untukmu. Kumohon sadarlah, selama ini kau hanya dipermainkan oleh seseorang, apa yang dikatakan oleh orang itu tidak nyata Kyu, ia hanya ingin memanfaatkanmu untuk mengambil alih aset-aset milik Lee corp.”

Yoona bersikeras menyadarkan Kyuhyun dari segala prasangka buruk yang bersemayam di kepala pria itu. Namun, sayangnya hal itu tidak mudah untuk dilakukan. Mengingat kebencian itu setiap harinya semakin mengakar dan menancap kuat di hati Kyuhyun. Yoona perlu usaha eskstra untuk mencabut akar kesalahpahaman itu dari diri Kyuhyun.

“Kasih sayang itu hanyalah sebuah omong kosong yang tak ubahnya seperti sampah busuk yang bau. Kau tidak pernah tau apa yang kualami di masa lalu, jadi kau tidak berhak menghakimiku sebagai pria jahat jika nyatanya kau hanya mendengar semua cerita itu dari kekasihmua!” Teriak Kyuhyun marah sambil berusaha menetralakan deru napasnya yang tampak naik turun karena terlalu emosi. Ia kemudian teringat kembali pada peristiwa dua belas tahun yang lalu, peristiwa dimana untuk pertama kalinya ia merasa begitu kecewa dengan keluarga barunya, hingga ia merasa benar-benar sakit.

Flashback

            Kyuhyun kecil yang berusia dua belas tahun tampak berlari-lari kecil memasuki rumah barunya yang luas dengan menggenggam sebuah kertas berwarna putih yang baru saja ia dapatkan dari sekolah. Pagi ini ia mengikuti seleksi untuk menjadi kapten tim sepak bola di sekolahnya. Dengan semangat yang menggebu-gebu, Kyuhyun mendaftarkan dirinya pada seleksi itu dan ia bertekad untuk lolos dalam seleksi tersebut karena ia ingin menunjukan pada ayahnya jika ia juga dapat memberikan yang terbaik untuk ayahnya seperti apa yang selalu dilakukan oleh kakaknya. Setiap hari ia selalu berlatih denga keras untuk mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang kapten tim sepak bola yang hebat. Dan siang ini, ketika guru olahraganya mengumumkan sebuah nama yang akan menjadi kapten dalam kejuaraan sepak bola nasional, nama Kyuhyun terpampang di papan pengumuman sekolah beserta nama-nama siswa lain yang lolos dalam seleksi untuk menjadi anggota tim sepak bola sekolah. Dengan gembira, Kyuhyun segera menyobek kertas putih itu dari papan pengumuman sekolah tanpa peduli pada teriakan marah anak-anak lain yang berteriak padanya untuk mengembalikan kembali kertas putih itu ke tempat semula. Tapi, Kyuhyun tidak peduli, dan tetap membawa pulang kertas putih itu untuk ditunjukan pada ayahnya dan kakaknya. Ia ingin kertas putih itu menjadi bukti bagi kedua orang yang sangat dicintainya itu, bahwa ia juga mampu memberikan yang terbaik untuk ayahnya

Kyuhyun mulai mencari-cari keberadaan ayah dan juga kakaknya di dalam ruang tamu. Hari ini adalah hari sabtu, ayah dan kakaknya pasti sudah pulang karena biasanya mereka akan pulang lebih awal di akhir pekan. Samar-samar Kyuhyun mendengar suara ayahnya dan kakaknya sedang bercakap-cakap di ruang santai. Sesekali Kyuhyun mendengar suara tawa yang begitu nyaring yang berasal dari ayahnya. Dengan penuh percaya diri, Kyuhyun segera berlari menuju ruang santai sambil melambai-lambaikan kertas putih itu ke udara.

“Ayah, hyung, aku pulang.” Teriak Kyuhyun dari lantai satu. Pria kecil itu mulai berlari kecil menaiki anak tangga satu persatu dengan perasaan tidak sabar. Ini adalah prestasi pertamanya setelah menjadi baian dari keluarga Lee, maka ia benar-benar merasa momen ini sangat spesial.

Kyuhyun tiba di lantai dua dengan napas terengah-engah yang tak beraturan. Ia kemudian melanjutkan larinya yang hanya tinggal beberapa meter lagi untuk mencapai ruang santai.

“Kyu, kau sudah pulang. Kemarilah.” Panggil ayahnya hangat sambil melambaikan tangannya ke arah Kyuhyun. Ia kemudian segera berjalan cepat untuk menghampiri sang ayah sambil melambai-lambaikan kertas putih itu ke arah ayahnya.

“Hyung, aku punya kabar gembira.” Ucap Kyuhyun sambil tersenyum lebar ke arah kakaknya. Lee Donghae tersenyum kecil dan mengusap kepala Kyuhyun pelan. Ia tidak tahu bagaimana caranya memberitahukan pada Kyuhyun jika besok ia akan berangkat menuju Belanda. Baru saja ia mendapatkan pemberitahuan dari pihak universitas jika ia diterima di sana dan akan menjalani masa pendidikan selama tiga tahun. Mendengar hal itu, sang ayah tentu saja sangat senang dan langsung memberinya selamat berkali-kali. Tapi, saat ini yang dipikirkannya justru Kyuhyun. Selama tiga tahun terakhir mereka terus menghabiskan waktu bersama di rumah dengan bermain bersama dan saling melengkapi satu sama lain. Disaat ia membutuhkan bantuan, Kyuhyun pasti akan membantunya dengan senang hati, begitu juga sebaliknya. Dan ketika ia maupun Kyuhyun telah terbiasa satu sama lain, sang ayah justru mengirimnya untuk belajar ke luar negeri. Memang semua ini bukannya tanpa alasan. Ayahnya ingin ia menjadi penerus kerajaan bisnis Lee corp yang benar-benar hebat, sehingga ia harus dikirim ke luar negeri untuk belajar ilmu-ilmu bisnis dengan lebih mendalam. Beberapa kali Donghae sempat mengajukan keberatan atas permintaan ayahnya itu dan mengajukan permintaan pada ayahnya agar ia dapat berkuliah di universitas dalam negeri, namun ayahnya dengan keras menolak usulannya dan hanya mengijinkan dirinya untuk belajar ilmu-ilmu bisnis di Belanda. Akhirnya Donghae tidak memiliki pilihan lain selain harus menuruti ayahnya untuk belajar ke Belanda. Dan hari ini, ketika surat pemberitahuan itu dikirim ke rumahnya, Lee Donghae telah mengatakan pada ayahnya perihal kekhawatirannya pada Kyuhyun yang akan merasa kesepian jika ia mengambil kuliah di luar negeri. Namun, lagi-lagi ayahnya meyakinkan dirinya untuk tidak perlu mencemaskan hal itu, karena Kyuhyun pasti sudah dapat berpikir dewasa dan akan melepaskan kakaknya untuk belajar keluar negeri dengan ikhlas. Lagipula Kyuhyun juga akan dikirim untuk belajar ke luar negeri suatu saat nanti, jadi Lee Donghae tidak perlu mencemaskan keadaan Kyuhyun.

Saat ini Kyuhyun sedang duduk di sebelah ayahnya. Pria kecil itu terlihat ingin mengatakan sesuatu, dan Donghae jelas tahu akan hal itu. Ia kemudian memutuskan untuk menyembunyikan berita keberangkatannya ke Belanda hingga nanti malam, ketika jam makan malam, saat Kyuhyun merasa fresh dan tidak dalam keadaan lelah seperti ini. Namun, tiba-tiba sang ayah justru mengatakan semuanya pada Kyuhyun dengan wajah penuh kegembiraan hingga tanpa sadar sang ayah mengabaikan perkataan Kyuhyun mengenai terpilihnya ia menjadi kapten tim sepak bola nasional.

“Ayah sangat bangga pada hyungmu, suatu saat ayah juga akan mengirimmu ke luar negeri. Jadi, kau harus selalu giat belajar seperti hyungmu agar sukses dan mendapatkan banyak penghargaan.” Ucap tuan Lee dengan nada bangga yang sangat berlebihan. Terlihat sekali jika tuan Lee begitu membanggakan Donghae sebagai anak satu-satunya yang cerdas dan sesuai dengan harapannya. Tapi, tuan Lee justru melupakan Kyuhyun yang saat ini telah masuk menjadi bagian dari keluarga Lee. Seharusnya tuan Lee tidak bersikap seolah-olah ia masih memiliki satu orang putra, karena pada kenyataannya ia telah memasukan satu anggota baru ke dalam keluarganya, Cho Kyuhyun.

“Ayah, aku terpilih menjadi kapten tim sepak bola nasional.”

Sekali lagi Kyuhyun berusaha menunjukan pada ayahya mengenai pencapaiannya hari ini yang sangat luar bisa. Namun, tuan Lee hanya menggap pencapaian itu sebagai pencapaian biasa yang tak perlu untuk dibanggakan. Bertahun-tahun hidup dengan doktrin bahwa prestasi yang paling membanggakan adalah prestasi yang berhubungan dengan kecerdasan akademik membuat tuan Lee seakan-akan buta pada prestasi yang sifatnya non akademis. Lee Donghae kemudian berusaha untuk meyakinkan ayahnya jika prestasi yang dicapai oleh Kyuhyun juga membanggakan dan pantas untuk dihargai, tapi sang ayah tetap saja menganggap terpilihnya Kyuhyun menjadi kapten tim sepak bola nasional merupakan sebuah prestasi biasa yang dapat dilakukan oleh seluruh anak laki-laki di seluruh penjuru negeri ini.

“Ayah senang dengan terpilihnya Kyuhyun menjadi kapten di sekolahnya, tapi akan lebih baik lagi jika Kyuhyun dapat mengikuti jejakmu dengan banyak menorehkan prestasi di bidang akademik. Bukankah ayah telah mendatangkan guru les privat yang sangat hebat untuknya? Jadi ia harus mendapatkan prestasi akademik yang baik seperti dirimu.”

“Tapi menjadi kapten sepak bola juga hebat. Apalagi kejuaraan sepak bola ini dilakukan di tingkat nasional. Jadi sudah pasti untuk mendapatkan posisi sebagai seorang kapten di tim sepak bola sekolah sangat sulit. Ini benar-benar sebuah prestasi yang membanggakan ayah.” Ucap Donghae panjang lebar pada ayahnya agar sang ayah tidak terus menerus mengunggulkan dirinya. Donghae kemudian beralih pada Kyuhyun yang kini tampak sedang menundukan kepalanya dalam di sebelah ayahnya. Pria itu menggenggam erat kertas putih itu hingga lecek dan terlihat hampir sobek. Kemudian Donghae juga melihat Kyuhyun yang sedang menahan emosinya hingga seluruh tubuhnya bergetar. Dan untuk kali pertama dalam hidupnya, Lee Donghae menganggap ayahnya sebagai pria jahat yang tak berperasaan.

“Ayah, kita harus mendukung Kyuhyun dalam pertandingan sepak bola bulan depan. Aku pasti akan pulang saat perlombaan itu berlangsung.”

“Untuk apa kau repot-repot pulang ke Seoul hanya untuk menonton perlombaan itu? Lebih baik kau tetap berada di Belanda hingga seluruh kegiatan studimu selesai. Ayah tidak ingin jadwal perkuliahanmu menjadi terganggu karena kau harus pulang ke Seoul.”

Kyuhyun terdiam kaku di tempatnya ketika ia mendengarkan ucapan ayahnya mengenai prestasi pertamanya di sekolah. Padahal untuk mendapatkan posisi itu ia harus berlatih dengan sungguh-sungguh, siang malam, ia lalui dengan sabar demi memberikan yang terbaik untuk ayahnya. Bahkan, ia rela mengurangi waktu tidur siangnya agar ia dapat berlatih sepak bola dan tidak perlu mengganggu waktu les privatnya di sore hari. Namun, seluruh perjuangannya sama sekali tidak dihargai oleh ayahnya dan hanya dipandang remeh. Kemudian ia menatap marah pada Donghae dan menganggap pria itu sebagai sumber dari sikap ayahnya yang sering membeda-bedakan anaknya. Kyuhyun pun berlari pergi keluar dari rumahnya tanpa menghiraukan suara terikan Donghae yang menggema di belakangnya untuk berhenti.

“Ayah, kau melukai perasaan Kyuhyun.” Marah Donghae pada ayahnya. Tuan Lee tampak terdiam kaku sambil menatap Donghae dalam. Pria setengah baya itu kemudian menepuk pundak Donghae dan menyuruh anak lelakinya itu untuk duduk kembali ke tempatnya.

“Ayah bukannya tidak menghargai prestasinya, ayah hanya ingin mengarahkan menjadi seorang pria yang cerdas dan pandai. Ayah ingin Kyuhyun menjadi bagian dari keluarga Lee seutuhnya dengan memiliki otak yang cerdas sepertimu. Bagaimanapun juga ia akan memimpin salah satu perusahaan milik ayah suatu saat nanti, jadi ayah tidak ingin dia terus disibukan dengan kegiatan sepak bolanya yang melelahkan itu. Dia sekarang bukan lagi anak kampung yang hanya menghabiskan hari-harinya untuk bermain sepak bola, bermain air, dan melakukan hal-hal bodoh lainnya. Kyuhyun harus menjadi pria terpandang seperti dirimu.” Ucap tuan Lee menggebu-gebu. Donghae menatap ayahnya tak percaya sambil meremas kedua tangannya dengan kuat. Apa yang dikatakan oleh ayahnya memang benar, jika Kyuhyun harus selalu belajar untuk menjadi seorang pemimpin yang disegani oleh bawahannya, tapi setiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda. Jadi, sang ayah seharusnya tidak boleh memaksakan kehendaknya untuk membuat Kyuhyun sama seperti dirinya. Kyuhyun memiliki bakatnya sendiri, Kyuhyun lebih menonjol di bidang olahraga. Sayangnya ia tidak memiliki keberanian untuk membantah ayahnya. Ia tidak ingin memperpanjang masalah dengan mendebat ayahnya dan menciptakan atmosfer yang tidak menyenangkan di sekitar rumahnya. Jadi untuk kali ini ia lebih baik diam, dan ia akan memberikan pengertian pada Kyuhyun nanti, setelah emosi anak itu mereda.

-00-
Kyuhyun terduduk sendiri di sebuah taman dengan air mata kesedihan yang begitu menyesakan dada. Ia tidak menyangka jika ayahnya akan bersikap seperti itu padanya. Padahal ia telah berusaha keras untuk menjadi seorang kapten di tim sepak bola sekolahnya, tapi sang ayah justru mengatakan bahwa hal itu seharusnya tidak perlu dilakukan karena tidak membawa manfaat apapun untuknya. Kyuhyun kemudian meremas-remas kertas pengumuman itu dengan kuat dan melemparkan kertas itu ke udara dengan sembarangan. Tak peduli jika kertas itu akan mengenai seseorang atau tidak, yang terpenting ia bisa meluapkan rasa kesalnya saat ini.

“Apa ini milikmu?”

Tiba-tiba seorang pria bertato duduk di sebelahnya sambil mengulurkan kertas putih itu di hadapannya. Sejenak Kyuhyun merasa takut dan ingin segera lari dari tempat itu. Tapi, sebuah senyum yang menenangkan dari pria itu berhasil menghipnotis Kyuhyun dan membuatnya mengurungkan niat untuk berlari pergi dari tempat itu secepatnya. Ia kemudian justru menyadarkan punggungnya pada sandara kursi sambil menyeka bulir-bulir air matanya dengan kasar.

“Buang saja kertas bodoh itu. Aku tidak membutuhkannya!” Jawab Kyuhyun kesal tanpa mempedulikan uluran kertas dari pria bertato tersebut. Pria itu kemudian melipat kertas itu menjadi kecil dan memasukannya ke dalam saku celana hitamnya yang sobek.

“Kenapa kau menyimpannya?” Tanya Kyuhyun ingin tahu. Ia tidak menyangka jika pria itu akan menyimpan kertas hasil pengumuman miliknya dan tidak membuang kertas itu ke dalam keranjang sampah yang ada di dekatnya. Padahal ia sangat yakin, jika pria itu sama sekali tidak membutuhkan kertas itu.

“Tidak apa-apa, ini untuk kenang-kenangan. Ngomong-ngomong, kenapa kau menangis?”

“Aku hanya sedang marah. Ayahku tidak suka jika kau menjadi kapten di tim sepak bola sekolah. Ayahku lebih suka jika aku rajin dan cerdas seperti hyungku. Padahal aku tidak sama seperti hyungku, aku memiliki bakatku sendiri.” Cerita Kyuhyun sambil menatap sedih pada pemandangan rumput di dalam taman yang sepi. Pria bertato itu cukup merasa simpati pada Kyuhyun dan ia kemudian mengulurkan tangannya ke arah Kyuhyun untuk mengajaknya berkenalan.

“Namaku Jack, siapa namamu?”

“Aku Kyuhyun, Lee Kyuhyun.” Jawab Kyuhyun polos dan apa adanya. Jack tersenyum lebar di sebelah Kyuhyun sambil menggenggam tangan mungil itu dengan erat.

“Mulai sekarang aku akan menjadi temanmu. Kau tidak perlu lagi menuruti apa kata ayahmu. Aku akan mengajarimu cara bermain sepak bola yang baik agar kau dapat menjadi seorang kapten sepak bola yang hebat.”

“Benarkah? Wahh, terimakasih Jack, kau memang sangat mengerti aku.”

Setelah perkenalan singkat Kyuhyun dengan Jack, pria itu menjadi semakin sering mengunjungi Kyuhyun di taman. Dalam seminggu, Jack akan bertemu Kyuhyun pada hari sabtu dan minggu untuk berlatih sepak bola bersama atau hanya sekedar untuk bersenang-senang. Sejenak Kyuhyun dapat melupakan keberadaan Donghae yang telah lama meninggalkannya ke Belanda untuk melanjutkan studinya. Tapi, kebahagiaanya menjadi berkurang kembali ketika sang ayah menjadi semakin sibuk dan tak pernah memperhatikannya. Jika ayahnya pulang, ayahnya itu justru terus mengingatkannya untuk belajar, belajar, dan belajar agar ia dapat tumbuh seperti kakaknya yang membanggakan dan juga cerdas. Semakin lama kebencian Kyuhyun terhadap ayahnya semakin besar, apalagi dengan sikap ayahnya yang terus membandingkan dirinya dengan sang kakak. Lalu puncak dari kemarahannya adalah saat Jack menceritakan padanya jika sebenarnya tuan Lee selama ini telah menelantarkan ibunya hingga ibunya meninggal dalam keadaan mengenaskan. Jack mengaku pada Kyuhyun jika selama ini ia terus melakukan penyelidikan pada tuan Lee dan seluruh keluarga besarnya, untuk mendapatkan sebuah kebenaran dari status keberadaan Kyuhyun di keluarga Lee. Lalu dalam penyelidikan itu Jack menemukan fakta jika sebenarnnya ibunya adalah isteri kedua dari tuan Lee yang disembunyikan dari semua orang, agar isteri keduanya dan juga anaknya tidak mencoreng nama baik keluarga Lee. Kemudian setelah isterinya itu meninggal, tuan Lee memutuskan untuk mengangkat Kyuhyun menjadi anaknya demi menutupi perilaku jahatnya di masa lalu. Mendengar hal itu, Kyuhyun menjadi semakin marah dan membenci seluruh keluaga Lee, termasuk kakaknya sendiri, Lee Donghae. Kemudian ia mulai bersikap membangkang pada ayahnya dan mulai sering berbuat onar di sekolahnya. Ia pun memutuskan untuk kembali menggunakan nama marga ibunya di depan nama panggilannya karena ia merasa tidak sudi jika harus menggunakan nama marga Lee di depan namanya.

Kelakuan Kyuhyun yang terus menjengkelkan itu semakin membuat ayahnya pusing dan menjadi bersikap dingin pada Kyuhyun. Sang ayah kemudian mulai membiarkan saja putranya itu berbuat semaunya sendiri karena ia sudah tidak bisa mengendalikan putra bungsunya itu lagi. Hingga akhirnya tiga tahun berlalu dan Donghae pulang dari Belanda dengan membawa berbagai macam gelar dan prestasi yang begitu membanggakan, membuat ayahnya semakin berpaling dari Kyuhyun dan hanya melihat Lee pada Donghae seorang.

Flashback end

Kyuhyun menyeka kasar buliran bening yang mengumpul di pelupuk matanya dengan gusar. Sejak dulu kenangan pahit itu selalu menjadi momok tersendiri baginya yang akan membuat emosinya menjadi kacau. Yoona yang melihat hal itu menjadi semakin iba pada Kyuhyun. Ternyata semua ini memang berawal dari sebuah kesalahpahaman. Kyuhyun yang tidak dapat mengartikan keinginan baik dari ayahnya justru berlari ke atah yang salah dengan bergaul dengan Jack. Pria yang bernama Jack itu jelas-jelas memberikan dampak yang sangat buruk bagi Kyuhyun. Selain meracuni otak Kyuhyun dengan berbagai tipuan, Jack juga sedang memanfaatkan Kyuhyun untuk mengambil alih Lee corp dengan kesenagannya sendiri.

“Kyu maafkan aku jika aku selalu menilaimu buruk.” Ucap Yoona perlahan sambil menatap Kyuhyun dalam. Pria itu memalingkan wajahnya ke samping dan tampak enggan untuk membalas tatapan Yoona. Ia merasa Yoona saat ini sedang mengasihaninya, bukan merasa peduli padanya. Dengan kasar Kyuhyun kembali berbuat kasar pada Yoona dengan menendang kaki wanita itu hingga Yoona menjerit kesakitan dan merintih kera karena rasa ngilu yang menjalar di seluruh tulang keringnya.

“Aku tidak butuh belas kasihanmu! Dasar wanita jalang!”

“Kyu, aku tidak sedang mengasihanimu, aku peduli padamu. Aku tidak ingin pertengkaran ini terus berlanjut. Aku ingin kalian berdua hidup damai layaknya sebuah keluarga.” Ucap Yoona terbata-bata karena sedang menahan sakit.

“Cih, kau dan pria busuk itu sama saja. Kalian munafik! Kalian mengatakan ingin aku bahagia, namun kalian berdua justru mengambil semua kebahagiaanku dan membuatku semakin terpuruk dengan seluruh kebencian yang menyesakan ini. Apa kau tahu jika aku sangat kecewa dengan berita kehamilanmu itu? Aku marah! Aku benci dan aku sangat kecewa dengan diriku sendiri yang sejak dulu tidak pernah bisa menyaingi hyungku dalam segala hal. Bahkan dalam hal wanita, hyungku selalu lebih beruntung daripada aku. Apa kau ingat dengan pertemuan pertama kita? Tapi, kuyakin kau tidak akan mengingatnya karena aku telah menghapus seluruh memorimu hingga kau tak mungkin bisa mengingat apapun lagi di masa lalu. Sebenarnya, aku yang terlebihdahulu bertemu denganmu dan mencintaimu. Walaupun kau lupa, tapi aku tidak pernah melupakan hal itu karena pertemuan pertama denganmu terus membuat hatiku berdebar hingga aku tidak bisa berhenti melupakanmu. Kau adalah cinta pertamaku Yoona.”

Kyuhyun kemudian menatap Yoona dalam dengan sorot mata yang penuh kesedihan. Bertahun-tahun ia mencoba untuk melupakan kenagan itu dari pikirannya, tapi ia tak bisa. Pertemuan pertamanya dengan Yoona yang terasa begitu mendebarkan hatinya tidak akan pernah ia lupakan sedikitpun. Bahkan meskipun Yoona tidak mencintainya sekalipun.

Flashback

            Kyuhyun sedang berkumpul dengan teman-teman berandalnya sambil menghisap sebatang rokok dan bermain kartu. Hari ini ia memutuskan untuk membolos sekolah lagi karena ia sedang malas mengikuti pelajaran dari guru Park yang selalu membosankan dan membuatnya mengantuk. Kyuhyun kemudian mengeluarkan seluruh uang yang dimilikinya untuk memulai taruhan. Dan kali ini ia yakin, ia akan memenangkan taruhan ini  seperti kemarin. Satu persatu teman-teman Kyuhyun telah menggegam kartu mereka masing-masing di tangan mereka. Dengan senyum menyeringai, Kyuhyun mulai melirik gambar kartunya yang saat ini tengah ia genggam. Kemudian saat ia akan menunjukan gambar kartunya pada teman-temannya yang lain, pandangan matanya tak sengaja bertatapan dengan mata seorang gadis muda yang menggunakan seragam sekolah yang sama dengannya. Ia pun mulai melupakan kegiatan bermain kartunya dan hanya fokus pada gadis cantik yang telah mencuri seluruh atensinya. Karena merasa berasal dari sekolah yang sama, Kyuhyun segera melompat pergi meninggalkan teman-temannya untuk kembali ke sekolah. Untuk hari ini ia rela mengikuti pelajaran guru Park yang membosankan asalkan ia dapat berkenalan dengan gadis itu dan mengetahui seluk beluk dari gadis itu lebih lanjut.

Sesampainya di sekolah, Kyuhyun segera bertanya pada teman-temannya perihal nama gadis itu, tapi semua tema angkatannya tidak ada yang mengenal gadis itu satupun. Merasa frustasi, akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk menjernihkan pikirannya di pinggir lapangan sepak bola sambil mendengarkan musik. Kemudian, ketika ia sedang asik mendengarkan musik sambil mengamati sekitar gedung sekolahnya yang sepi, Kyuhyun kembali melihat gadis itu sedang berjalan masuk ke dalam gedung utama milik sekolahnya. Secepat kilat, Kyuhyun segera berlari untuk mengikuti kearah kemana gadis itu akan pergi. Dan setelah mengikuti langkah gadis itu cukup lama, akhirnya Kyuhyun dapat menemukan kelas gadis itu yang berada di lantai tiga gedung utama sekolahnya. Gadis itu adalah murid kelas satu yang merupakan murid yang cerdas karena ia masuk ke dalam kelas unggulan. Pantas jika semua temannya tidak mengetahui siapa gadis yang ia maksud, karena gadis itu adalah adik kelasnya. Kyuhyun kemudian tersenyum senang sambil berjanji dalam hati, bahwa ia pasti akan mendapatkan gadis itu sebagai kekasihnya.

-00-

Setiap harinya Kyuhyun selalu mengikuti kemanapun gadis itu pergi tanpa pernah memiliki keberanian untuk berkenalan dengan gadis itu secara langsung. Tapi, beberapa kali ia sempat mendengar teman sekelas gadis itu memanggilnya dengan sebutan Yoona. Dan dengan semangat yang menggebu-gebu, Kyuhyun mulai mencatat nama itu di dalam kepalanya baik-baik agar ia tidak lupa.

Suatu hari Kyuhyun sedang berjalan menuju ruang guru untuk menyerahkan tugas matematikanya yang sudah terlambat ia kumpulkan selama seminggu. Meskipun ia malas untuk melakukannya, tapi ia tetap harus mengumpulkan tugas itu sebagai syarat kelulusannya nanti. Sang ayah tadi pagi kembali mengancam akan menarik semua fasilitas yang diberikannya jika ia tidak bisa lulus dari sekolahnya tahun ini. Selama ini sang ayah selalu saja memarahinya dan selalu membanggakan hyungnya. Padahal jika ayahnya mau melihatnya sekali saja, pasti ia tidak akan bersikap buruk dan terus menerus membuat masalah seperti ini. Hidup memang tidak pernah adil padanya.

Sesampainya di ruang guru, Kyuhyun segera menghadap pada guru Jang, selaku guru matematika di sekolahnya. Dan tanpa sengaja ia bertemu dengan Yoona yang sedang mengumpulkan tugas milik seluruh teman sekelasnya pada guru Jang.

“Terimakasih nona Im, katakan pada teman-temanmu jika minggu depan akan diadakan ulangan harian, jadi suruh mereka semua untuk mempersiapkan semua materi dengan baik.”

“Baik saem, kalau begitu saya permisi.”

Suara lembut nan merdu itu terus mengalun dengan indah di dalam telinga hingga ia melupakan tugasnya untuk sesaat.

“Ini tugasku, tolong luluskan aku dalam mata pelajaranmu.” Ucap Kyuhyun langsung pada guru Jang dengan wajah datar. Guru Jang menggeleng-glengkan kepalanya lelah melihat perilaku salah satu muridnya yang sangat tidak sopan itu.

“Kenapa kau sangat berbeda dengan hyungmu? Hyungmu adalah murid yang sopan dan pintar, sedang kau, kau adalah murid bodoh yang tidak tahu sopan santun.” Ucap guru Jang begitu saja tanpa memikirkan perasaan Kyuhyun yang sangat marah dan hancur. Selalu saja kakaknya yang menjadi kebanggaan bagi semua orang. Padahal ia dan kakaknya tidak sama. Ia memiliki kecerdasan dalam porsisnya sendiri. Dan sampai kapanpun ia tidak akan pernah sama dengan kakaknya.

“Aku bukan hyungku. Jadi berhentilah untuk membanding-bandingkan kami berdua.” Desis Kyuhyun marah pada guru Jang. Pria berkacamata itu kemudian mendongak pada Kyuhyun dengan wajah bingung yang sangat kentara.

“Ada apa denganmu?”

Dengan marah, ia kemudian segera pergi dari ruang guru tanpa mengindahkan teriakan marah dari guru Jang. Biarkan saja! Bahkan sekarang ia sudah tidak peduli dengan nilainya atau nasib kelulusannya. Tidak masalah baginya jika ia tidak lulus tahun ini. Lulus ataupun tidak lulus ia tidak akan pernah menjadi kebanggaan bagi keluarganya dan akan menjadi seorang Kyuhyun yang selalu dinilai buruk oleh semua orang.

-00-

Malam ini Lee corp mengadakan pesta makan malam untuk meresmikan acara pembukaan hotel baru milik Lee corp. Berbagai tamu undangan tampak hadir di sana dengan busana terbaik mereka. Kyuhyun juga ikut hadir di sana untuk menuruti permintaan ayahnya yang memaksanya untuk hadir, karena rencananya hotel ini akan diberikan kepadanya untuk dikelola. Tapi, entahlah, ia sendiri tidak begitu yakin dengan perkataan ayahnya itu, karena ia yakin semua aset milik Lee corp tidak akan pernah diberikan padanya, dan hanya akan diberikan pada kakaknya, Lee Donghae.

Dari jauh ia melihat sang kakak sedang menyambut para tamu sambil menebarkan senyum manisnya untuk memikat semua orang. Kyuhyun tampak malas melihat hal itu, karena menurutnya kegiatan ini sangat membosankan dan tidak menarik. Lagipula, tidak ada satupun yang akan mengenalnya di sini. Ia bagaikan pria asing yang sedang menghadiri sebuah pesta mewah bagi kalangan jet-zet. Sembari mengamati suasana, Kyuhyun lantas berjalan menuju meja minuman untuk mengambil segelas anggur merah yang telah disediakan oleh pelayan hotel. Tanpa sengaja ujung tangannya bersentuhan dengan ujung jari seorang wanita yang hendak mengambil minuman yang sama dengan yang ingin ia ambil. Secara refleks, Kyuhyun menolehkan kepalanya ke samping untuk melihat rupa dari wanita itu. Dan betapa terkejutnya ia, ketika ia menemukan Yoona sedang berdiri di sebelahnya sambil tersenyum canggung ke arahnya.

“Maaf, aku akan mengambil gelas yang lain.” Ucap Yoona sungkan. Namun, Kyuhyun segera menggelengkan kepalanya cepat dan memberikan gelas berisi wine itu pada Yoona.

“Ini, ambilah. Aku akan mengambil yang lain.”

“Terimakasih. Kau sungguh baik sekali.” Puji Yoona tulus sebelum ia melangkah pergi meninggalkan Kyuhyun yang masih terpaku di tempat dengan perasaan gugup dan senang yang bercampur jadi satu.

“Dia benar-benar malaikat.” Gumam Kyuhyun pelan sambil terus memperhatikan punggung indah Yoona yang berjalan semakin menjauh.

-00-

Tiba saatnya acara untuk berdansa. Setiap tamu yang hadir di sana diwajibkan untuk mencari seorang teman dansa untuk melakukan dansa bersama di tengah ballroom. Dalam kesempatan tersebut, Kyuhyun berencana untuk menghampiri Yoona dan berniat untuk mengajak Yoona berdansa bersama. Berbagai macam perisapan telah Kyuhyun lakukan, termasuk mempersiapkan serangkaian kalimat yang akan ia ucapkan nanti pada Yoona.

Dengan langkah mantap, Kyuhyun mulai berjalan ke arah Yoona yang saat itu tengah berdiri di pinggir ballroom. Hampir saja langkahnya akan membawanya mendekat pada Yoona, namun wanita itu justru berjalan pergi menuju ke arah panggung sambil tersipu malu pada seorang pria. Ekor mata Kyuhyun langsung mengikuti arah pandangan Yoona yang mengarah pada seorang pria dengan setelan tuxedo hitam yang sedang menyapa para tamunya di dekat panggung. Pria itu ternyata adalah kakaknya sendiri, Lee Donghae. Kyuhyun kemudian segera menghentikan langkahnya untuk mengikuti Yoona dan memilih untuk melihat wanita itu dari jauh. Dengan perasaan hancur, Kyuhyun mulai melihat bagaimana Yoona yang sedang berbicara dengan kakanya untuk mengajak pria itu berdansa. Tapi, tanpa diduga, Yoona justru muntah di hadapan kakaknya dan jatuh pingsan di dalam dekapan kakanya. Ia kemudian melihat kakanya menggendong Yoona dengan wajah tenang sambil mengatakan pada para tamu yang lain jika mereka tidak perlu khawatir karena gadis itu hanya pingsan karena mabuk.

Sejak kejadian itu, hubungan kakaknya dan Yoona semakin dekat. Kemudian Yoona mulai mengenal Kyuhyun sebagai adik dari pria pujaan hatinya yang kebetulan juga merupakan kakak kelasnya. Tapi, sayangnya ia tidak pernah bisa mendapatkan hati Yoona. Ia hanya selalu puas dengan mengamati Yoona dari lantai dua rumahnya yang sedang bersenda gurau dengan kakaknya. Dan mulai saat itu ia bersumpah pada dirinya sendiri untuk merebut Yoona dari kakaknya karena ia tidak ingin hidup dengan sebuah kesedihan dan keterpurukan lagi. Ia ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Flashback end

            “Kyu, maaf… Aku tidak tahu jika kau memiliki perasaan yang sedalam itu padaku. Aku tidak ingat apapun. Selama ini aku hanya merasa lebih nyaman berada di dekat Donghae oppa, sehingga aku memutuskan untuk menjalin hubungan secara diam-diam dengan Donghae oppa. Aa aku minta maaf karena telah me….”

“Diam! Aku tidak butuh kata maaf darimu. Semua ini sudah berakhir. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah lupa pada pengkhianatan yang kau lakukan padaku, Yoona.” Ucap Kyuhyun datar, namun menyimpan sebuah kesakitan yang luar biasa menyakitkan dalam hatinya. Ia kemudian memilih untuk keluar dari ruang penyekapan Yoona, karena ia sudah tidak tahan lagi berada di sana dengan segala kesesakan yang ada. Ia kemudian berjalan keluar sambil membanting pintu kayu itu dengan keras hingga dinding-dinding yang berada di belakangnya sedikti bergetar. Kemudian Kyuhyun menyandarkan punggungnya pada tembok putih di belakangnya sambil menangis dalam diam. Hari ini ia telah berhasil mengungkapkan seluruh kesakitannya pada Yoona. Ia berharap setelah ini ia tidak perlu membawa batu ganjalan itu lagi dalam hatinya, karena ia sudah muak dengan seluruh emosinya yang sangat mengganggu itu. Setelah ini ia ingin fokus menjalankan rencananya untuk merebut seluruh Lee corp dari Lee Donghae, dan ia tidak akan pernah membiarkan emosi itu mengambil kendali atas dirinya lagi.

-00-

“Jadi, bagaimana dengan nasib Yoona sekarang?” Tanya Hyukjae khawatir sambil memandangi Donghae dengan wajah kalut. Ia takut, Kyuhyun dan komplotannya akan melukai Yoona. Karena bagaimanapun Yoona pernah mengecewakan Kyuhyun dan melukai pria itu.

“Aku bingung Hyuk, anak buah Kyuhyun meminta bertemu untuk melakukan negosiasi. Tapi, aku yakin hal itu hanya jebakan belaka. Tujuan mereka menculik Yoona adalah untuk merebut Lee corp dari tanganku karena Yoona adalah kelemahanku, jadi kurasa negosiasi itu akan berjalan sia-sia.” Ucap Donghae frustasi sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja. Ia sekarang juga sama takutnya dengan Hyukjae, apalagi saat ini Yoona sedang mengandung anaknya. Ia takut, Kyuhyun akan berbuat nekat dan mencelakai Yoona.

“Hae, kupikir kau harus tetap melakukan negosiasi dengan mereka.”

Tiba-tiba Hyukjae buka suara sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Donghae. Pria bermata sendu itu kemudian mendongakan kepalanya sambil menatap Hyukjae datar. Sudah berkali-kali ia memberitahu Hyukjae jika negosiasi itu tidak akan berjalan lancar karena ia sendiri tidak akan pernah memberikan sebagian Lee corp atau seluruh Lee corp pada Kyuhyun. Tapi, bukan berarti ia tidak mencintai Yoona dan hanya mementingkan Lee corp, ia hanya berusaha mempertahankan kedua hal yang memang harus ia pertahankan dan lindungi.

“Negosiasi itu ti…

“Kau pergi untuk negosiasi dan aku yang akan menyelamatkan Yoona.” Potong Hyukjae cepat dan tegas. Donghae langsung menggelengkan kepalanya cepat sambil menatap Hyukjae tajam. Ia tidak mau menempatkan sepupunya dalam situasi yang membahayakan seperti itu. Ia tidak mau kehilangan keluarganya lagi. Dan ia tidak ingin kehilangan sepupu satu-satunya yang bodoh dan memiliki selera humor tinggi seperti Hyukjae.

“Aku tidak akan menempatkanmu dalam situasi yang membahayakan seperti itu. Lebih baik sekarang kita memikirkan jalan keluar terbaik yang tidak perlu memakan korban jiwa. Aku tidak mau ada pertumpahan darah lagi di keluarga Lee.” Ucap Donghae tegas dan tidak ingin dibantah. Namun, Hyukjae segera bergerak cepat ke arah Donghae sambil mencengkeram kerah kemeja sepupunya itu dengan kuat.

“Hae, kita sudah tidak memiliki waktu lagi. Kita harus segera menyelamatkan Yoona, atau ia dan bayimu akan mati! Apa kau mau kehilangan Yoona lagi, hah? Jawab!”

Dengan kasar Donghae menghempaskan tangan Hyukjae begitu saja dari lehernya. Ia tahu bagaimana kekhawatiran Hyukjae saat ini, ia pun juga demikian. Tapi, ia tidak ingin bertindak gegabah dengan mengirimkan Hyukjae ke dalam sarang mafia-mafia itu, karena di sana sama sekali tidak aman dan sangat berbahaya.

“Kau tidak bisa bergerak begitu saja dan mengumpankan dirimu ke sana untuk dibunuh oleh mereka! Kau keluargaku, aku tidak mau kehilangan anggota keluarga lagi. Aku hanya ingin hidup dengan bahagia bersama seluruh keluargaku. Tolong mengertilah Hyuk.” Erang Donghae frustasi. Hyukjae kemudian menepuk bahu Donghae pelan sambil tersenyum dengan penuh keyakinan pada Donghae jika kali ini ia akan baik-baik aja. Lagipula ia tidak melakukannya sendiri, ia akan membawa seluruh preman bayaran milik Donghae dan juga beberapa anak buahnya yang lain. Ia yakin ia akan baik-baik saja dan akan kembali bersama Yoona dengan selamat.

“Percayalah padaku, aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskanku. Aku ini seorang pria, dan aku mampu melindungi diriku sendiri. Jadi, kau tenang saja.”

Donghae menunduk lesu di atas kursinya sambil memandang tidak rela pada Hyukjae. Tapi, saat ini ia memang tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan Hyukjae pergi untuk menyelamatkan nyawa Yoona. Donghae kemudian mendongakan kepalanya dan mengangguk pelan pada Hyukjae.

“Pergilah, aku akan melakukan negosiasi dengan anak buah Kyuhyun. Tapi kau harus berjanji padaku untuk kembali bersama Yoona dalam keadaan baik-baik saja. Jangan pernah bertindak bodoh dengan mengorbankan dirimu untuk menyelamatkan nyawa orang lain, apa kau mengerti?”

Lee Hyukjae terkekeh pelan dan langsung memeluk sepupunya itu lama untuk berpamitan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi ia memang harus selalu siap dengan segala resiko yang ada.

“Tenanglah, aku pasti akan baik-baik saja. Jaga dirimu baik-baik, kita akan segera bertemu lagi setelah aku menyelamatkan Yoona.” Ucap Hyukjae tenang sambil menepuk-nepuk pundak Donghae pelan. Setelah itu ia segera keluar dari ruangan Donghae untuk menyelamakan Yoona yang disekap oleh Kyuhyun di markasnya, di sebuah gudang kosong di pinggir kota Seoul.

Dibelakangnya, Donghae tampak menatap kepergian Hyukjae dengan berat. Ia sebenarnya tidak ingin menempatkan Hyukjae kedalam situasi yang membahayakan seperti itu, tapi ia tidak memiliki pilihan lain selain membiarkannya untuk pergi menyelamatkan Yoona dan segera mengakhiri semua perselisihan ini dengan Kyuhyun. Dalam hati Donghae berdoa pada Tuhan semoga Ia senantiasa melindungi orang-orang yang dicintainya dari bahaya.

-00-

Kyuhyun segera berjalan cepat menuju ruangan penyekapan Yoona setelah ia sempat berselisih dengan Jack beberapa saat yang lalu. Saat ini Jack sedang dalam perjalanan untuk melakukan negosiasi dengan Donghae, sehingga ia harus segera membebaskan Yoona sekarang juga sebelum Jack dan anak buahnya yang lain datang.

Beberapa saat yang lalu tanpa sengaja ia mendengar percakapan antara Jack dan anak buahnya yang berencana untuk melakukan negosiasi sendiri tanpa melibatkan kehadirannya. Kemudian cerita itu mengalir begitu saja dari bibir Jack. Mulai dari cerita masa kecil Kyuhyun yang ia rekayasa, hingga rencana untuk menguasai Lee corp dengan memanfaatkan keberadaannya, semua diceritakan Jack pada sang anak buah dengan lancar tanpa terlewat sedikitpun. Lalu, dengan marah ia menghampiri Jack dan langsung menghajar pria itu hingga terjungkal ke atas lantai. Tapi, Jack dengan santai justru menertawakannya dan mengatakan pada dirinya jika ia sudah terlambat untuk menyelamatkan semuanya, karena sekarang ia sedang dalam proses negosiasi dengan Donghae. Akhirnya Kyuhyun mulai berpikir untuk segera membebaskan Yoona dari ruang penyekapan agar pria licik itu tidak bisa memeras Donghae untuk menguasai Lee corp. Sekarang ia merasa menyesal dengan semua perbuatannya di masa lalu. Seharusnya dulu ia lebih mendengarkan Donghae dan ayahnya daripada mendengarkan semua perkataan Jack yang sangat busuk itu. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk meratapi masa lalunya yang kelam. Sekarang adalah saatnya bagi Kyuhyun untuk memperbaiki semuanya. Ia telah bertekad pada dirinya sendiri, bahwa ia akan mengorbankan seluruh nyawanya demi memperbaiki seluruh kesalahannya di masa lalu.

Dor!

“Tuan Kyuhyun, berhenti! Atau aku akan menembak anda sekarang juga.”

Seorang pria dengan tato naga di lengannya menghentikan langkah Kyuhyun yang akan memasuki ruang penyekapan Yoona untuk menolong wanita itu kabur. Dengan geram, Kyuhyun segera melawan pria itu dengan menendang perutnya dan memilintir tangannya hingga senjata milik pria itu jatuh ke atas lantai, kemudian Kyuhyun dengan keras mematahkan leher pria bertato itu hingga mati.

“Huh, dasar merepotkan.” Gumam Kyuhyun datar dan segera memungut senjata berapi itu dari atas lantai. Ia pikir ia memang harus memiliki sebuah pistol untuk sekedar berjaga-jaga dari serangan anak buahnya sendiri.

Brakk

Kyuhyun dengan tidak sabar menendang pintu kayu itu dengan keras dan langsung menyambar lengan Yoona begitu saja untuk berdiri. Yoona yang awalnya hanya diam sambil meringkuk di atas lantai langsung terperanjat kaget sambil menatap Kyuhyun dengan bingung.

“Kyu, ada apa? Aku mendengar suara letusan dari luar?”

“Cepat, kita tidak memiliki waktu lagi, kita harus keluar sekarang juga.” Ucap Kyuhyun gusar karena sekarang ia sedang panik, namun ia sedang berusaha untuk melepaskan ikatan tali dari tubuh Yoona. Tiba-tiba segerombolan anak buah Jack datang untuk menangkapnya dan membunuhnya. Dengan takut, Yoona segera berjalan ke sudut ruangan sambil meringkuk dengan ngeri di sana. Sementara itu, Kyuhyun tampak kewalahan untuk menghadapi semua anak buah Jack yang saat ini sedang mengelilinginya, siap untuk menyerang. Kyuhyun kemudian berusaha melindungi dirinya dengan memukul mereka semua secara membabi buta dan sesekali ia menggunakan pistolnya untuk menembak mereka satu persatu.

Dor dor dor

Dua orang anak buah Jack tumbang terkena serangan timah panas milik Kyuhyun. Namun, tanpa diduga, salah satu dari mereka berhasil menangkap Yoona dan sekarang sedang menodongkan pistol ke arah Yoona sambil menyeringai penuh kemengan pada Kyuhyun.

“Sekarang turunkan senjatamu, kalau tidak, aku akan memecahkan kepala wanita ini.”

Kyuhyun pun segera menurunkan senjatanya ke atas lantai sambil mengangkat kedua tangannya di atas kepala, tanda ia menyerah. Kemudian dua orang pria yang berada di sana bersiap untuk menembak Kyuhyun yang saat ini sedang menunduk pasrah di atas lantai. Namun sembari menunduk, Kyuhyun telah memberi kode pada Yoona, supaya wanita itu ikut menundukan kepalanya saat ia memberikan perintah.

Dor dor

Tiba-tiba dari arah pintu seseorang menyerang anak buah Jack dan langsung membuat perhatian mereka teralihkan. Kyuhyun pun mengambil kesempatan itu untuk memungut pistolnya kembali dan mulai menyerang anak buah Jack satu persatu. Yoona yang melihat keadaan disekitarnya semakin kacau menjadi ketakutan dan berniat untuk bersembunyi di sudut ruangan. Namun, tanpa diduga seorang pria dengan luka baret di wajahnya mengarahkan moncong pistolnya ke arah Yoona dan langsung menarik pelatuk pistolnya tanpa ragu ke arah Yoona.

Dor
Kejadian itu begitu cepat hingga Kyuhyun tidak bisa memprediksikan hal itu sebelumnya dan ia hanya dapat berteriak panik sambil membalas tembakan dari anak buah Jack itu satu persatu.

Dor dor

“Hyuk oppa!” Teriak Yoona histeris dengan darah yang mulai merembes di kakinya.

 

 

2 thoughts on “Embisil Man Love Story: Bloody Tears

  1. It’s pewrfect timne too makje a feew plajs
    forr the futurre aand itt is time tto be happy.

    I hawve reazd ths publish andd if I couldd I wiwh to recomend you ffew attention-grabbing thinvs
    or advice. Maybe you coulod wwrite nextt articles relatiing too thgis article.
    I dwsire to learn evdn mmore things aporoximately it! Ahaa,
    itts nie discuxsion aboutt thiis pist aat tthis placee att this website, I have readd alll
    that, sso now mme also cokmenting here. I ould noot refraiin frolm commenting.
    Very weell written! http://foxnews.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.