The Black World (Two)

Yoona terlihat sangat bersemangat di dapur. Ia membantu bibi Han menyiapkan sarapan untuk Donghae. Seumur hidup Yoona, ia belum pernah benar-benar memasak sendiri untuk seseorang, jadi ini merupakan pengalaman baru yang cukup menyenangkan bagi Yoona.

“Bibi, apa lagi yang harus kumasukkan ke dalam sup?” Tanya Yoona bersemangat. Wanita muda itu sedang mengaduk supnya dan mencicipi sedikit sup itu.

“Nyonya sudah memasukkan jamur?”

“Sudah.”

“Itu tandanya sudah selesai. Sup itu sudah matang dan nyonya bisa mematikan apinya.”

“Wahh, benarkah? Ini sungguh luar biasa. Bibi Han, kau harus sering-sering mengajariku memasak.” Kata Yoona antusias. Bibi Han hanya tersenyum menanggapi perkataan nyonyanya yang jarang memasak itu.

-00-

Yoona Pov

            Ini sudah pukul setengah tujuh, dan Donghae oppa belum pulang juga. Apa dia langsung pergi ke markas? Tapi ia mengatakan padaku akan mencoba masakan pertamaku untuknya. Sambil menunggu Donghae oppa pulang aku meneguk sedikit bir kalengku. Walaupun Donghae oppa sudah melarangku untuk mengonsumsi alkohol, tapi aku rasa meminum sekaleng bir tidak masalah. Kadar alkohol dalam bir sangat rendah, aku tidak akan mabuk hanya dengan sekaleng bir. Ekor mataku tak sengaja menangkap foto besar pernikahanku dan Donghae oppa. Tak terasa usia pernikahan kami sudah menginjak satu tahun, menurutku itu sangat luar biasa. Dulu aku berpikir jika pernikahan ini tidak akan pernah berhasil. Kami berdua memiliki latar belakang yang sangat jauh berbeda. Aku adalah seoarang penjahat dan Donghae oppa adalah pahlawan. Jika bukan karena Tuhan, mungkin kami tidak akan pernah bersatu dan bertahan selama ini.

Flashback

            Suara nyaring tembakan bersahut-sahutan memenuhi setiap rongga pendengaranku. Hari ini markas tampak kacau, intel negara berhasil mencium jejak kami, dan hari ini mereka melakukan serangan ke markas kami. Aku melihat banyak darah dan bawahanku mati berserakan disekitar markas. Aku berlindung dibalik tumpukan kardus yang berisi bahan peledak, rencananya hari ini kami akan mengirim bahan peledak itu ke Rusia, tapi rencana itu harus gagal karena intel-intel sialan itu. Aku memegang pistolku dengan was-was. Beberapa anak buahku sudah tumbang, jika aku mati, maka bisnis ayah akan selesai sampai disini. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Aku harus maju dan menghabisi intel-intel negara itu satu persatu. Aku tidak takut, bahkan dengan pemimpin mereka sekalipun.

Aku melihat seorang sniper berdiri mengintai dibalik tembok. Dengan perlahan aku mengendap dibelakangnya dan menarik pelatukku untuk menembak kepala sniper itu.

DORR

Aku berhasil menjatuhkan satu sniper. Tapi itu belum cukup. Masih ada beberapa sniper yang mengintai di balik kardus atau pilar-pilar gedung ini. Aku kembali mengendap-endap mengawasi sekeililingku, saat kurasa sudah aman aku kembali maju. Kusulut satu batang rokok yang kusimpan di saku celanaku. Disaat-saat seperti ini aku butuh ketenangan dari nikotin. Ekor mataku lagi-lagi menangkap seorang sniper yang mengintai dari celah pilar, sniper itu mengincar Minho. Aku bergerak cepat ke arah sniper itu dan berhasil menembaknya dari jarak jauh. Syukurlah, aku dapat menyelamatkan nyawa Minho. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika Minho sampai mati. Aku kembali mengawasi sekelilingku, saat aku akan berjalan maju sesuatu menancap di leherku. Sial, aku ditembak jarum bius oleh seseorang. Mataku mulai berkunang-kunang. Samar-samar aku melihat seorang pria yang berjalan tenang ke arahku, dan semuanya menjadi gelap.

-00-

Aku terbangun disebuah ruangan yang didominasi warna hitam dan putih. Aku berusaha menyesuaikan mataku dengan sinar lampu yang menyala terang dikamar ini. Aku mendudukan diriku dan mulai meneliti bagian tubuhku, syukurlah aku tidak dilecehkan oleh orang yang menangkapku. Tunggu, aku juga tidak diikat. Kira-kira apa mau orang yang sudah menagkapku? Mengapa ia tak menyakitiku sama sekali?

Aku berjalan perlahan menuju pintu dan memulai memutar gagangnya. Aku berhasil membuka pintu itu dengan sukses. Ini sungguh aneh, tidak ada penjagaan sama sekali. Ini bukan markas militer Korea.

“Sudah sadar rupanya.”

Suara dengan nada dingin dan datar menyambutku saat aku keluar dari pintu. Kuputar kepalaku seratus delapan puluh derajat untuk melihat siapa pria yang berani berurusan denganku.

“Siapa kau?” Tanyaku lantang. Aku sama sekali tidak takut dengan pria ini. Jika ia menyakitiku, maka aku akan maju dan melawannya saat ini juga.

“Aku, Jendral Lee Donghae.” Jawab pria itu angkuh dan sinis. Aku tersenyum mengejek dan melipat tanganku di depan dada.

“Oh, jadi kau yang bernama Lee Donghae. Senang bertemu denganmu.” Kataku tak kalah sinis. Aku mengamati tubuh pria itu dari atas sampai bawah. Ia pria yang cukup jantan dan penuh wibawa. Pasti ia sangat ditakuti oleh anak buahnya.

“Aku perlu berbicara denganmu. Ikut aku.”

Dengan langkah lebar, pria itu berbalik dan meninggalkanku di belakang. Aku menguti langkahnya menuju ruang bawah tanah yang sepertinya sangat rahasia. Sembari berjalan, aku mengamati setiap detail ruang bawah tanah ini. Ternyata pria ini memiliki selera yang tinggi juga, ruang bawah tanah ini terkesan mengerikan namun juga klasik.

“Masuk.” Kata pria itu singkat. Aku berjalan memasuki ruangan itu dan mendaratkan diriku di atas sofa hitam yang ada di sudut ruangan.

“Ehem, aku tidak menyuruhmu untuk duduk di sana.” Kata pria itu dingin. Aku memutar bola mataku malas dan beranjak ke kursi di depan meja kerjanya.

“Jadi ada apa? Kenapa kau menangkapku?” Tanyaku langsung. Aku adalah orang yang paling tidak suka berbasa-basi. Sejak kecil aku selalu diajarkan oleh ayah untuk bersikap tegas dan tanpa basa basi.

“Maaf, tapi aku merasa tidak menangkapmu.” Jawab pria itu sinis. Ia mengamatiku dengan senyum meremehkannya yang sangat menyebalkan.

“Lalu kau sebut ini apa? Penculikan?” Tanyaku mulai kesal. Jika aku membawa senjata, mungkin aku akan langsung menembak kepalanya dan mengeluarkan isi otaknya yang menyebalkan itu.

“Terserah apa katamu. Aku hanya ingin memperingatkanmu, jangan dekat-dekat dengan markasmu.”

“Apa? Hal gila macam apa itu? Tentu saja aku akan selalu ada di markasku. Kau pikir aku pemimpin yang tidak bertanggungjawab? Meninggalkan anak buahnya begitu saja dan hanya memantaunya dari jauh.” Pekikku marah. Napasku tersenggal-senggal karena terlalu emosi. Pria itu jutru menyandarkan tubuh tegapnya dengan santai.

“Apa aku mengatakan demikian? Aku hanya menyuruhmu untuk tidak terlalu sering berkeliaran di markasmu, karena itu terlalu berbahaya untuk nyawamu.”

“Hah, memangnya apa pedulimu? Aku tidak mengenalmu, dan kau adalah musuhku.” Jawabku sinis. Pria ini semakin lama semakin menyebalkan dan angkuh. Aku sangat membenci gayanya yang sok berkuasa itu.

“Kalau kau tetap tidak mau menuruti perintahku, maka…”

Apa yang akan dikatakan pria ini? Seenaknya saja ia menggantungkan kalimatnya, membuatku penasaran.

“Maka apa? Tidak usah membuatku penarasan seperti itu.” Sungutku kesal. Pria itu tersenyum separuh, kemudian melanjutkan kata-katanya.

“Maka menikahlah denganku.”

“Apa? Kau gila atau sedang mabuk?”

“Jika kau menikah denganku, maka aku bisa melindungimu dan mengawasimu.” Jawab pria itu santai.

“Aku tidak mau. Aku sudah memiliki kekasih.” Teriakku tak terima. Apa dia pikir mencintai seorang pria itu mudah? Dasar pria gila.

“Aku rasa Choi Minho tidak akan keberatan memberikan satu wanitanya padaku. Dia tidak akan sedih jika kau menikah denganku, karena dia sudah memiliki banyak wanita untuk menggantikan posisimu.”

“Jaga bicaramu. Minho adalah pria yang baik. Ia tidak brengsek sepertimu. Sekarang aku ingin pulang. Kurasa percakapan ini tidak akan merubah apapun.”

Aku beranjak pergi meninggalkan ruangannya. Pria itu sama sekali tidak mencegahku. Baguslah, aku bisa pulang tanpa hambatan. Karena hal pertama yang harus kupastikan adalah markas dan anak buahku. Semoga masih ada yang tersisa dari bisnis peninggalan ayah.

-00-

Keadaan markasku tampak utuh, tapi banyak barang yang rusak dan berserakan. Beberapa jasad anak buahku masih tergeletak di beberapa tempat. Aku terus melangkahkan kakiku tanpa ragu menuju ke dalam markas. Ya Tuhan, ini benar-benar kacau. Aku harus segera mengumpulkan anak buahku yang tersisa dan segera membangun kekuatan baru.

“Kang Minhyuk, dimana yang lainnya?”

Salah satu anak buahku kebetulan sedang mengobati lukanya didalam markas. Ia tampak sehat, hanya ada beberapa luka lebam dan lecet di sekitar tubuhnya.

“Nona, syukurlah anda selamat. Apa anda terluka?” Tanya Minhyuk padaku. Ia menelitiku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Aku tersenyum kecil dan mendekat ke arahnya.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan yang lain, apa mereka baik-baik saja?”

“Dari pihak kita ada dua belas anggota yang mati, selebihnya hanya luka-luka. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”

“Cepat kumpulkan mereka semua. Kita harus memindahkan markas kita secepatnya.” Perintahku tegas. Minhyuk mengangguk patuh dan segera pamit undur diri.

Aku kembali bergerak lebih dalam ke markasku. Aku ingin bertemu dengan Minho, mungkin ia berada di kamarnya. Tanpa mengetuk pintu, aku membuka kamarnya dengan satu tarikan tangan.

“Minho-ya.”

Aku menganga kaget dengan pemandangan yang baru saja kusaksikan. Dia, dia sedang berciuman dengan wanita yang aku sendiri juga tidak tahu siapa dia. Minho yang kaget dengan kedatanganku langsung mendorong wanita itu menjauh dari pangkuannya.

“Kita selesai.” Kataku dingin. Aku pergi meninggalkannya dan tidak mempedulikan teriakannya yang berkali-kali memanggilku. Aku rasa aku memang tidak berhak untuk dicintai, karena selamanya aku akan berada didunia yang hitam ini. Sendirian dan tanpa orang-orang terkasih.

-00-

Satu jam kemudian semua anak buahku sudah berkumpul. Mereka terlihat masih sangat lelah dan juga kesakitan. Tapi jika aku tidak segera mengumpulkan mereka, organisasiku akan hancur saat ini juga. Dan sebelum itu terjadi, aku harus mencegahnya.

“Minhyuk, berapa sisa anak buah kita?”

“Yang tersisa dari penyerangan ini ada lima puluh orang. Dan kita masih memiliki dua puluh orang yang ada di Incheon.” Lapor Minhyuk padaku. Aku berpikir sejenak untuk mengambil sebuah keputusan. Bisa dikatakan ini adalah salah satu keputusan terbesarku. Aku harus memindahkan semua operasional bisnisku dan memulai memulihkannya lagi, agar kembali stabil seperti semula.

“Baiklah, hari ini kita akan pindah ke Incheon. Aku harap kalian bisa bergerak cepat untuk mengosongkan tempat ini segera. Kalian mengerti?”

“Ya, mengerti.” Teriak mereka semua kompak. Aku tersenyum puas dan memutuskan untuk membagi anak buahku menjadi dua tim.

“Minhyuk, kau pimpin sebagian anggota kita untuk mengosongkan tempat ini. Dan kau, Lee Hongki, pimpin sebagian anggota kita untuk memindahkan barang-barang ini menuju Incheon. Kalian paham?”

“Ya, kami paham. Cepat lakukan sesuai perintah dari ketua tim kalian. Aku harap kalian semua bisa melakukan ini dengan bersih, agar pergerakan kita tidak terendus oleh intel-intel sial itu. Move move move.”

Aku berteriak lantang sebelum mengakhiri kalimatku. Kini semua anak buahku sedang sibuk memindahkan barang-barang yang harus segera dibawa ke markas cabang kami di Incheon. Aku rasa intel-intel itu belum mengetahui posisi markasku, sehingga bisnisku akan lebih aman.

“Im Yoona.”

Minho mencekal lenganku sebelum aku berhasil pergi dari tempatku berdiri. Aku memandang sinis ke arah tangannya yang mencekal lenganku dan menyentaknya dengan kasar.

“Kau marah padaku?” Tanya Minho dengan raut wajah sedih. Dalam hati aku menertawakan ekspresi wajahnya yang terlihat tolol ini. Untuk apa aku marah padanya. Dia pikir aku ini wanita lemah yang akan menghabiskan sekotak tisu untuk menangisinya? Hah, jangan harap. Bahkan dalam mimpi pun, aku tidak akan sudi melakukannya.

“Untuk apa aku marah padamu? Aku anggap pengkhianatanmu adalah masalah kecil yang tidak perlu dipikirkan. Jadi kau tidak perlu berempati padaku.” Kataku sinis. Aku menghujamnya dengan sorot mataku yang tajam.

“Maafkan aku. Tolong jangan pergi dariku. Aku benar-benar mencintaimu.”

“Cih, kata-katamu seperti puisi sampah yang tak berguna. Sampai kapanpun aku tidak akan menarik kata-kata yang sudah kuucapkan. Kita berdua telah berakhir.”

“Apa kau akan mengusirku?” Tanya Minho lagi. Ouchh, rasanya aku ingin menertawakan wajah keledainya itu. Ia terlihat sangat bodoh dan idiot.

“Mengusir? Tentu saja tidak. Mengingat jasa-jasamu selama ini, tentu saja aku tidak bisa mengusirmu begitu saja. Masalah diantara kita bukan masalah yang serius, jadi kau tetap menjadi asistenku dan wakilku di The Black World. Tapi ingat, kau dan aku, kita hanya sebatas rekan kerja. Camkan itu.”

Aku melangkah pergi meninggalkannya yang mematung diblakang. Akhh, aku bersyukur sekali memiliki hati baja seperti ini. Bahkan aku tidak perlu merasa sakit saat seorang pria mengkhianatiku. Bagus bukan?

-00-

Setelah aku berhasil memulihkan bisnisku, kini aku bisa sedikit bersantai sambil bersenang-senang di club. Hari ini aku akan mabuk dan membuang semua beban pikiran yang sudah bersarang di otakku selama seminggu ini. Betapa hidup itu memang sangat sulit.

“Aku pesan satu tequilla dan cheese burger.” Kataku pada bartender. Hari ini suasana club sangat ramai. Banyak pasangan yang sedang menghabiskan waktu mereka disini, entah itu menari, berciuman, atau melakukan foreplay di sudut-sudut ruangan. Entahlah, aku tidak peduli.

Lima belas menit kemudian seorang bartender meletakkan tequillaku dan sepiring burger keju yang menggiurkan. Hmm, its look so yummy. I really really hungry. Aku menyambar garpu dan pisau dengan tidak sabar dan segera memasukkan potongan besar burger keju itu ke mulutku.

“Hmm, yummy.” Racauku tidak jelas. Aku menikmati setiap gigitan burger yang ada di mulutku dengan nikmat. Sudah lama sekali aku tidak makan burger. Setelah penyerangan itu aku terus bekerja dan bekerja untuk memulihkan lagi bisnisku yang hampir hancur. Tidak ada waktu untuk menikmati makanan. Biasanya aku hanya meminta Minhyuk untuk membelikanaku kari dari kedai yang ada di dekat pelabuhan.

“Kau terlihat sangat bahagia.”

Sebuah suara dari seorang pria datang mengusik kesenanganku. Dengan malas aku memutar kepalaku ke arah sumber suara. Ternyata jendral sok berkuasa itu, mau apa ia datang ke sini?

“Ada apa? Aku sedang sibuk.” Ketusku. Tak kupedulikan pria itu yang justru mengambil tempat di sebelahku. Kuteguk tequillaku dengan santai dan kembali melanjutkan makanku yang tertunda.

“Tequilla? Ternyata kau cukup tangguh juga.” Kata pria itu meremehkan.

“Hah, jika kau ke sini hanya untuk mengomentariku, lebih baik kau pulang. Aku sedang tidak berminat mengobrol denganmu.” Usirku kasar.

“Aku ke sini karena ingin bertemu denganmu.” Kata pria itu datar. Aku sama sekali tidak meresponnya dan memilih untuk meneguk tequillaku.

“Bawakan aku martini.” Kataku pada bartender yang menghampiriku. Setelah memakan seporsi burger, aku ingin mencicipi sedikit lemon dalam minumanku.

“Kau tidak boleh minum terlalu banyak alkohol.” Geram pria disampingku. Ia terlihat sedang mengeratkan rahangnya marah.

“Sudah kubilang berhenti untuk mencampuri hidupku. Lebih baik kau kembali ke markasmu dan lindungi negara ini dari kekacauan.” Teriakku kesal.

“Kau adalah salah satu kekacauan yang harus kutangani.” Jawab jendral itu datar. Ok. Aku sadar jika aku adalah pemimpin mafia, lalu kenapa dari kemarin-kemarin ia tidak menangkapku?

“Kalau begitu tangkap aku. Kau ingin memasukanku ke penjara kan? Lakukan saja, aku tidak takut!” kataku cuek. Jika dilihat dari gerak-geriknya, ia tidak membawa anak buahnya sama sekali, jadi jika ia menyeretku dari club ini, itu tidak akan terlihat memalukan.

“Aku memang akan menangkapmu dan membawamu ke altar.”

“Ya Tuhan, kenapa kau membahas omong kosong itu lagi. Aku tidak mau menikah denganmu. Kita ini bagaikan air dan api, selamanya tidak akan pernah bersatu.” Ucapku kesal. Harus berapa kali aku mengatakannya pada jendral muda ini? Dia tipe orang yang sangat keras kepala.

“Tapi aku harus melakukannya untuk melindungimu. Seseorang telah menitipkanmu padaku.”

“Siapa orang yang mengatakan hal itu padamu? Aku ini yatim piatu. Aku tidak memiliki keluarga sama sekali.”

“Sekarang kau memang sebatang kara. Tapi bagaimana dengan lima tahun yang lalu? Kau masih memiliki ayah bukan?” Tanya pria itu dengan seringaian. Seketika hatiku kembali merasa sakit jika mengingat ayah. Beliau meninggal karena dibunuh oleh seseorang. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu siapa pembunuh ayah. Walau begitu, aku juga tidak mencoba mencari tahu karena itu akan menyakitiku.

“Jangan coba-coba mengungkit masa laluku. Aku sedang tidak berminat untuk membahasnya.”

“Ayahmu berpesan padaku untuk menjagamu. Beliau adalah mantan pelatihku di camp militer.”

Berita mengejutkan apa lagi ini? Aku tidak pernah tahu jika ayah dulunya seorang anggota militer.

“Benarkah? Apa kau sedang menipuku?” Tanyaku menyelidik. Kuamati setiap ekspresi wajah yang ia tunjukan, tapi ia sama sekali tidak menyiratkan kebohongan.

“Jika kau berpikir aku sedang berbohong, maka kau salah. Sebelum ayahmu meninggal, beliau menemuiku dan memberiku sebuah surat, ia memintaku untuk menjagamu. Bertahun-tahun aku mencarimu, dan tanpa sengaja aku menemukanmu sedang menembaki sniperku.”

“Apa buktinya jika kau tidak berbohong?” Tanyaku sangsi. Aku masih meragukan kejujuran pria ini.

“Aku membawa tulisan tangan ayahmu, kau bisa melihatnya.”

Jendral itu mengeluarkan secarik kertas lusuh dari saku jasnya dan memberikannya padaku. Kubuka kertas itu dengan perlahan. Disana terdapat goresan tinta yang sangat mirip dengan tulisan ayah. Diakhir surat itu juga ada tanda tangan ayah yang terlihat asli. Kupikir akan sangat sulit untuk memalsukan tanda tangan ayah yang menurutku memang cukup rumit.

“Mengapa ayah tidak pernah membicarakan hal ini padaku?”

“Karena kau terlalu sibuk bersenang-senang.” Jawab pria itu dingin dan datar. Aku memincingkan mata bingung ke arahnya. Masih ada beberapa hal yang mengganjal di pikiranku mengenai ayah.

“Kenapa ayah menjadi mafia jika ia adalah pembela negara?”

“Lucu sekali. Kau sama sekali tidak tahu mengenai ayahmu? Bagaimana kalian bisa hidup bersama selama ini?”

“Ayah adalah orang yang tertutup. Aku jarang mengajak ayah mengobrol, begitupun sebaliknya. Tapi aku benar-benar menyesali hal itu. Disaat ada banyak waktu untuk bercakap-cakap, aku tidak mengambil kesempatan itu. Lalu tiba-tiba ayah pergi meninggalkanku. Kepergian ayah yang tiba-tiba itu sempat membuatku depresi selama satu bulan. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena tidak pernah peduli pada ayah. maka dari itu aku berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan bisnis ayah, karena itu satu-satunya hal yang ditinggalkan ayah untukku.”

Mataku sudah mengabur karena banyaknya air mata yang menggenang di kantung mataku. Aku ingin meneteskan air mata, tapi aku terlalu malu pada pria yang ada dihadapanku ini. Seumur hidupku, aku belum pernah menangis di depan seorang pria. Selama ini aku selalu berhasil menyembunyikan perasaanku. Perasaan rapuh yang selalu kupendam.

“Jika kau menyayangi ayahmu, maka menikahlah denganku. Jika kau menikah denganku, aku bisa menjalankan wasiat ayahmu dan mengawasi bisnismu. Aku janji tidak akan merusak bisnismu. Aku akan menyembunyikan identitasmu.” Kata pria itu lembut. Entah itu hanya pendengaranku saja atau karena yang lain, tapi pri itu benar-benar mengatakannya dengan lembut.

“Kenapa ayahku bekerja sebagai mafia? Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Dulu tuan Im adalah anggota militer yang handal, beliau selalu menjadi idola di campnya. Aku sebagai anggota baru selalu kagum pada sosoknya. Beruntungnya aku saat itu karena mendapat kehormatan untuk menjadi muridnya. Setiap hari kami selalu berlatih bersama, bahkan setelah aku diangkat menjadi Jendral pun, tuan Im masih selalu ada di sampingku. Ia bagaikan ayah untukku. Suatu hari beliau mengatakan padaku, jika ia memiliki usaha lain, usaha itu adalah menyelundupkan barang ke negara lain. Tentu saja aku sangat kaget dibuatnya, seorang anggota militer memiliki usaha yang ilegal dan menjadi bosnya. Aku marah pada tuan Im, tapi beliau menjelaskan padaku. Usaha itu dibuat bukan untuk melakukan tindak kejahatan, ia melakukannya untuk menjebak menteri-menteri yang menggunakan jasa dari bisnisnya. Karena tuan Im tidak menggunakan namanya sebagai nama pemimpin mafia, tuan Im selalu menjadikan tangan kanannya sebagai nama pemimpin mafia. Jadi tuan Im selalu aman.”

“Apa tangan kanan ayah adalah Choi Daegu?”

“Ya, Choi Daegu, ayah Choi Minho. Tapi aku saat itu tetap tidak setuju dengan segala alasan yang dilontarkan tuan Im, bagaimanapun itu tetap sebuah kejahatan. Setahun berikutnya, salah satu menteri sepertinya mengetahui rahasia tuan Im, lalu menteri itu menyusun rencana untuk membunuh tuan Im.”

“Apa kau tahu, siapa menteri itu?” Tanyaku datar. Kedua tanganku sudah mengepal marah sambil meremas kedua ujung dress yang kugunakan.

“Itu masih dalam penyelidikanku. Aku kesulitan untuk melacaknya, karena dia adalah orang yang berpengaruh. Lagipula kejadian itu sudah lebih dari lima tahun yang lalu, jadi aku tidak tahu, apakah menteri itu menjabat lagi sebagai menteri atau tidak. Tapi aku berjanji tetap akan mencari siapa pembunuh tuan Im.”

“Kenapa ayah tidak pernah menceritakan hal ini padaku?” Gumamku pelan. Entah jendral itu bisa mendengarnya atau tidak.

“Karena ayahmu ingin melindungimu. Sepertinya orang-orang di kemiliteran tidak mengetauhi jika tuan Im memiliki seorang putri. Ayahmu sangat menyayangimu dan negaranya.”

“Lalu apa yang harus kulakukan? Sepertinya bisnis ayah semakin berkembang ke arah yang negatif dan tidak sesuai degan keinginan ayah.”

“Itulah tugasku. Aku akan mengawasi setiap pergerakan kalian. Jika kalian keluar dari batas, maka aku akan memerintahkan anak buahku untuk menyergap markas kalian. Hal itulah yang kemarin kulakukan pada markasmu, kau baru saja menerima proyek pencucian uang dari negara China bukan?”

“Ya, memang. Tapi proyek itu bukan atas persetujuanku, Minho yang melakukannya. Aku hanya menerima jasa penyelundupan barang.”

“Kau harus meluruskan hal itu. Jangan sampai bisnis ini keluar dari jalur yang diinginkan ayahmu. Apa kau mengerti?” Tanya pria itu tegas. Sisi arogan dan berkuasanya kembali muncul.

“Ya, aku mengerti. Terimakasih, sekarang aku paham.” Jawabku sedikit lesu. Dengan terbongkarnya rahasia ayah, aku justru semakin bingung dan pusing.

“Jadi, apa kau mau menikah denganku? Aku akan melindungimu dan bisnismu. Aku tidak akan merusak bisnismu, kecuali jika kau sudah benar-benar keluar batas. Bagaimana?”

Tawaran itu terasa sangat sulit untukku. Apa mungkin kami bisa bersatu dan hidup bersama? Walaupun sekarang aku tahu tujuan bisnisku yang sebenarnya, tapi aku merasa tetap sebagai mafia yang jahat. Selama ini hidupku dikelilingi oleh hal-hal hitam. Dan aku masih meragukan pria ini.

“Menikah itu hal gampang, tapi bagaimana dengan perasaanku? Apa kita bisa hidup hanya bermodalkan wasiat ayah?” Tanyaku sangsi. Aku membalas tatapan pria itu dengan lebih tajam. Aku berusaha mencari kebohongan atau keraguan di matanya. Tapi nihil, pria ia memiliki sorot mata yang penuh kesungguhan.

“Perasaan ini akan muncul dengan sendirinya. Kau hanya perlu berada disampingku dan melakukan semuanya sesuai perintahku.”

Huh, apa yang harus kukatakan padanya? Tuhan, bantu aku. Ini adalah pilihan yang sangat sulit untukku.

“Baiklah, aku bersedia.”

Flashback End

            “Hey, kau melamun?”

Suara dingin dan datar itu mengusik lamunan panjangku. Aku mengerjapkan mataku dua kali dan menemukan Donghae oppa sedang duduk dengan manis di sebelahku.

“Oppa, kapan kau pulang?” Tanyaku kaget. Pria itu dengan santai menyeruput kopinya kemudian membaca koran paginya. Ia sama sekali tidak menghiraukan pertanyaanku.

“Aku baru saja sampai, dan mendapatimu melamun. Ada apa?”

“Tidak, aku hanya memikirkan penyergapan kemarin. Kenapa kau mengirim anak buahmu ke clubku? Susah payah aku membangun club itu, dan kau akan menghancurkannya?” Tanyaku kesal. Masih kuingat dengan jelas beberapa anak buahnya yang mengendap-endap menodongkan pistol ke arah clubku yang ada di Gangnam. Untung saja kemarin aku sengaja menutup clubku, karena kugunakan untuk memimpin rapat tahunan organisasi The Black World.

“Aku sengaja mengarahkan mereka ke Gangnam karena mereka sudah mengendus markasmu yang ada di Incheon. Jika aku tidak mengarahkan mereka ke Gangnam, mereka akan menghancurkan masrkasmu yang ada di Incheon dan menggagalkan transaksi yang dilakukan oleh Cho Hajung. Apa kau sudah mencetak bukti pembayarannya?”

“Sudah. Apa kau akan mengusut kasus itu sekarang?”

“Sepertinya aku tidak bisa, lusa aku harus memimpin penyerangan ke Iran.” Jawab pria itu santai. Tunggu, ia akan ke Iran? Sepertinya Cho Hajung juga menyelundupkan sesuatu ke Iran. Tapi aku akan memstikannya terlebih dahulu.

“Berapa lama?”

“Entahlah, jika pemberontak itu berhasil ditaklukan, maka tugasku akan cepat selesai. Kau jangan melakukan hal-hal aneh saat aku tidak ada, apa kau mengerti?”

“Ya, aku mengerti. Ngomong-ngomong Minho sudah sedikit curiga padaku. Ia selalu mengajakku untuk bersenang-senang di club, tapi aku tidak mau. Bagaimana jika ia tahu aku sudah menikah?” Tanyaku panik. Ini bisa sangat berbahaya. Jika sampai anak buahku tahu, mereka bisa saja memberontak padaku.

“Kau tenang saja, aku sudah menempatkan beberapa orang untuk mengawasi Minho. Saat ini kau aman. Mungkin sesekali kau bisa menerima tawarannya untuk hanya sekedar berkumpul. Ingat hanya berkumpul, tidak mabuk-mabukan atau melakukan hal-hal tidak penting lainnya.” Kata Donghae oppa penuh peringatan. Aku menganggukkan kepalaku patuh dan selanjutnya aku menyiapkan piring dan juga nasi untuk sarapannya.

“Semoga kau suka. Ini masakan pertamaku untukmu. Jadi jika tidak enak, kau tidak perlu takut untuk mengatakannya.”

Aku memandangi Donghae oppa dengan raut cemas. Selama ini hanya bibi Han yang selalu menyiapkan masakan untuk kami. Dulu aku sama sekali tidak mau pergi ke dapur atau hanya sekedar membuatkannya teh. Apalagi saat awal-awal pernikahan kami. Rumah tanggaku setiap harinya hanya diisi oleh keributan. Hal-hal manis antara aku dan Donghae oppa baru saja terjadi setelah aku menyadari perasaanku yang sesungguhnya.

“Enak. Tidak buruk untuk seorang pemula.” Komentar Donghae oppa datar. Aku menarik sudut-sudut bibirku dan berlari memeluknya.

“Oppa, terimakasih. Aku akan lebih sering memasakan makanan untukmu. Aku harap kau bisa secepatnya kembali dari Iran dengan selamat.” Kataku di pundaknya. Donghae oppa berbalik mendekapku dan mengelus punggungku dengan lembut. Tangannya yang besar memberikan kehangatan tersendiri untukku.

“Teruslah berusaha, dan jangan keluar dari batasmu.”

Aku mengangguk pelan di dekapannya. Huh, aku akan sangat merindukan pelukan ini untuk beberapa hari ke depan.

Author pov

            Dua hari kemudian Lee Donghae benar-benar pergi meninggalkan Im Yoona. Pria itu harus memimpin serangan terhadap pasukan Iran yang akan melakukan penyerangan ke Korea. Untung saja Donghae bertindak cepat dengan menyiapkan beberapa pasukan dan memimpin penyerangan langsung ke Iran. Lee Donghae tidak mau negaranya menjadi tempat pertumpahan darah. Ia tidak mau jika ada warga sipil yang menjadi korban. Lebih baik bagi Lee Donghae untuk mati di negara lain demi menyelamatkan warga negaranya daripada ia harus mati di negaranya sendiri.

“Jendral Lee, kau hari ini tampak tak bersemangat. Apa kau berat melakukan perpisahan dengan isterimu?”

Hyukjae dengan tampang menyebalkan datang mendekati Lee Donghae untuk menggoda pria itu. Alis Hyukjae yang naik turun, membuat Donghae ingin memukul wajah menjijikan Hyukjae dengan senapan.

“Diam kau! Aku sedang memikirkan sebuah strategi.” Jawab Donghae ketus. Lee Donghae kembali menekuni peta lokasi penyerangan di Iran. Tak ia hiraukan Hyukjae yang terus berkeliaran di sekitarnya.

“Hae, kenapa kau tidak pernah membawa Yoona ke markas?”

“Untuk apa? Dia memiliki kesibukan sendiri.” Jawab Donghae acuh.

“Tapi, banyak yang belum tahu jika kau sudah menikah. Apa kau tidak berniat untuk mengumumkannya?” Tanya Hyukjae terdengar antusias.

“Tidak. Kau tidak usah menggunakan mulut lebarmu untuk menyebarkan gosip. Jika sampai kau melakukannya, aku akan menembakmu saat itu juga.” Ancam Donghae mengerikan. Hyukjae hanya tergelak di tempatnya. Menjadi teman sekaligus sahabat Lee Donghae selama bertahun-tahun membuat Hyukjae tidak takut dengan ancaman yang dilontarkan Donghae. Pria itu justru berjalan mendekati Donghae dan menepuk bahu pria itu.

“Aku tidak akan melakukannya. Kau tenang saja. Aku menghormati keputusanmu.”

Donghae melepas tepukan itu dengan sekali sentakan dan meninggalkan Hyukjae begitu saja. Dari jauh Donghae tersenyum simpul dan kembali melanjutkan pejalanannya menuju kokpit. Sepertinya mereka sudah memasuki kawasan Iran.

-00-

            Yoona sedang sibuk mengecek barang kiriman yang akan mereka kirim hari ini. Ditemani Choi Minho dan beberapa petugas gudang, Yoona mengecek satu persatu isi kardus yang ada di gudang tersebut.

“Siapa yang meminta jasa kita hari ini?” Tanya Yoona pada Minho. Sesekali ia membuka-buka isi kardus itu berniat mencari tahu apa isi didalamnya.

“Menteri Cho Hajung.” Jawab Minho singkat. Ia menunjukan beberapa peledak dan senapan keluaran terbaru. Yoona mengerutkan alisnya curiga. Semua senjata ini belum dimiliki oleh tentara Korea. Yoona tahu semua itu karena Donghae pernah memberikan daftar senjata yang dimiliki militer Korea.

“Bukankah ini akan dikirim ke Iran?”

“Ya. Rencananya siang ini kapal kita akan membawanya bersama dengan barang ekspor yang akan dikirim ke Iran. Kita akan menyembunyikan senjata ini diantara tumpukan makanan-makanan itu.”

Seketika wajah Im Yoona menjadi pucat. Ini jebakan. Sejak awal Iran sudah memperkirakan serangan ini. Mereka membeli senjata ilegal dari Cho Hajung.

“Menteri itu pengkhianat.” Gumam Yoona marah. Ia mengepalkan kedua tangannya yang tersembunyi didalam saku celananya. Im Yoona harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Lee Donghae.

One thought on “The Black World (Two)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.