The Black World (Three)

Im Yoona terus berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya. Sejak satu jam yang lalu ia sudah berusaha untuk menghubungi Lee Donghae, tapi pria itu tak kunjung mengangkat teleponnya. Hal itu tentu saja membuat Yoona panik sekaligus takut. Sedari tadi pikiran buruk terus berlalu lalang di kepalanya. Sebisa mungkin ia berusaha tenang dan mengenyahkan pikiran-pikiran buruk itu dari kepalanya.

“Oppa, kumohon angkat telponnya.” Racau Yoona pada ponselnya. Ia menggigit-gigit bibirnya panik.

“Nyonya, ada apa?”

Bibi Han datang dari arah dapur sambil membawa secangkir teh hangan untuk Yoona. Wanita paruh baya itu juga ikut mengkhawatirkan keadaan Yoona yang terus mondar-mandir di ruang tamu sejak tadi.

“Donghae oppa tidak menjawab panggilanku. Aku khawatir padanya.” Jawab Yoona kalut. Ia membuang ponselnya asal ke atas sofa kemudian menyeruput teh yang disajikan bibi Han.

“Bibi, sepertinya aku harus pergi.” Kata Yoona tiba-tiba. Sorot mata yang ditunjukan Yoona begitu terlihat sangat sungguh-sungguh, membuat bibi Han hanya bisa menganggukkan kepala pasrah.

“Nyonya akan menyusul tuan Lee?” Tanya bibi Han khawatir. Sebagai pembantu yang sudah cukup lama mengabdi pada Lee Donghae, bibi Han tentu sangat tahu bagaimana resiko dari pekerjaan yang Donghae lakukan. Apalagi sekarang tuannya sedang menjalankan misi negara, sangat tidak mungkin jika tempat yang akan di tuju Yoona akan aman.

“Ya. Bibi, kau jaga rumah baik-baik. Aku akan bersiap-siap.”

Yoona menyambar ponselnya dengan cepat dan segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ia harus menyiapkan passport dan juga beberapa debit cardnya. Yoona tidak memerlukan kopor yang penuh dengan baju ataupun make-up, ia hanya butuh passport, visa, dan juga debit cardnya.

-00-

“Halo, Choi Minho.”

“…….”

“Aku akan pergi ke luar negeri untuk mengurus sesuatu. Kau gantikan aku untuk beberapa hari kedepan!” Kata Yoona dengan nada perintah yang sangat kentara. Sembari menelpon Minho, Yoona berjalan menuju area keberangkatan dan segera menuju pesawat milik temannya yang berhasil ia sewa untuk mengantarnya menuju Iran. Sebenarnya Yoona tidak diperbolehkan menuju ke negara itu karena sedang terjadi perang. Namun, dengan segala jurus rayuannya Yoona berhasil meyakinkan temannya untuk menyewa pesawat itu.

“……”

“Aku ada urusan mendadak, kau tidak perlu tahu. Aku harap kau bisa menjaga bisnisku dengan baik.”

“……”

“Jangan melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan! Aku mempercayakan The Black World kepadamu.”

Klik.

Sambungan terputus. Im Yoona segera memposisikan duduk di bangku VVIP pesawat dan memerintahkan pada sang pilot agar segera terbang menuju Iran.

-00-

Lee Donghae sedang mengecek persediaan bahan makanan selama perang di gudang penyimpanan. Jendral muda itu dengan langkah tegapnya mengecek sendiri satu persatu bahan makanan yang akan menjadi sumber amunisi bagi tentaranya. Sebagai jendral yang bertanggung jawab, ia harus mengecek sendiri semua keperluan selama perang. Karena pemimpin yang baik tidak pernah membiarkan tentaranya menderita.

“Jendral, semua bahan makanan sudah sesuai dengan daftar.” Lapor salah satu bawahannya. Sambil mengecek tulisan-tulisan yang ada di daftar bahan makanan, Donghae mengangguk-anggukan kepala pada anak buahnya.

“Bagus. Sekarang kita harus mengecek senjata dan amunisi kita.”

Lee Donghae berjalan mendahului anak buahnya menuju gudang senjata. Di depan pintu gerbang gudang senjata, Lee Donghae disambut oleh beberapa tentara yang sedang berjaga disana. Mereka semua berbaris dan melakukan hormat pada Jendral mereka.

“Selamat malam jendral.” Teriak mereka serempak. Lee Donghae berhenti di depan tentaranya dan membalas sapaan mereka.

“Malam. Aku ingin mengecek jumlah senjata dan amunisi kita. Tolong buka pintunya.” Perintah Donghae tegas. Salah satu dari tentara itu maju ke depan dan membuka gerbang besi itu dengan sekali tarikan.

“Silahkah jendral.” Kata tentara yang bernama Sunhwa dengan tegas. Tanpa berkata apa-apa Donghae segera memasuki ruang senjata itu dan memulai mengeceknya satu persatu.

-00-

Yoona tiba di Iran pukul sembilan malam. Karena pesawat yang ia gunakan tergolong kecil, maka Yoona bisa langsung mendarat di markas militer Korea.

“Selamat malam. Selain tentara, anda tidak diperbolehkan untuk masuk.” Kata salah seorang tentara menghentikan langkah Yoona. Dengan malas Yoona berjalan menghampiri salah satu tentara yang tadi menegurnya.

“Apa aku bisa bertemu dengan Jendral Lee Donghae?” Tanya Yoona dengan angkuh. Ia melipat tangannya dan bermain-main dengan jari lentiknya.

“Jendral kami sedang sibuk dan tidak bisa diganggu.” Kata tentara itu kasar. Yoona menatap tentara itu dengan tatapan merendahkan dan mencemooh.

“Benarkah? Katakan padanya jika Im Yoona ingin bertemu.” Kata Yoona lagi. Masih dengan gaya angkuh dan sinis, Yoona memutar-mutar ponselnya di depan tentara itu.

“Lebih baik anda pergi. Anda tidak diijinkan masuk ke dalam.”

Tentara itu mendorng Yoona menjauh dari gerbang dan melemparkan Yoona ke tanah. Membuat ponsel yang digenggamnya jatuh berguling-guling diatas pasir.

“Berani-beraninya kalian melakukan ini padaku. Kalian semua akan mati.” Umpat Yoona marah. Ia segera bangkit dari posisi jatuhnya dan menerjang tentara itu dengan membabi buta. Seketika keributan itu terjadi tanpa bisa dihindarkan. Beberapa tentara yang lain datang berbondong-bondong untuk menyaksikan kekacauan yang dilakukan oleh Yoona.

“Hentikan!”

Suara bass dengan nada tinggi dan tegas memnghentikan perkelahian antara Yoona dan salah satu tentara Lee Donghae. Yoona menoleh ke arah sumber suara dan menemukan suaminya sedang berdiri angkuh di depannya.

“Yoona. Apa yang kau lakukan di sini?” Kata Donghae kaget. Pria itu maju selangkah menghampiri Yoona dan membantu Yoona melepaskan diri dari anak buahnya. Dengan manja, Yoona langsung menghambur kepelukan Lee Donghae dan memberikan tatapan tajam pada tentara yang tadi menghalanginya.

“Oppa. Anak buahmu membuat masalah denganku.” Adu Yoona manja. Ia masih memeluk leher Lee Donghae tanpa peduli pada semua tatapan mata yang mengarah pada mereka berdua.

“Kalian semua bubar. Kembali ke pos kalian masing-masing.” Teriak Donghae tegas.

Donghae membawa Yoona kedalam ruangannya. Setelah Yoona duduk diatas ranjangnya, Donghae langsung menghujamnya dengan tatapan sinisnya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kembali ke Korea sekarang juga.” Usir Donghae kejam. Yoona segera membalas tatapan Donghae dengan mata elangnya.

“Apa? Kau mengusirku?” Teriak Yoona tak terima. Wanita angkuh itu berjalan menghampiri Lee Donghae dan mencengkram kerah seragam tentara Donghae.

“Aku tak terima dengan pengusiranmu.” Lanjut Yoona. Lee Donghae memberikan tatapan membunuhnya pada Yoona dan mengunci pandangannya pada Yoona.

“Terserah apa katmu. Aku minta kau pulang sekarang juga ke Korea.” Desis Donghae marah. Ia sangat marah dengan tindakan gegabah Im Yoona yang dengan nekat menyusulnya ke lokasi perang.

“Aku tidak mau.” Tolak Yoona keras. Wanita itu menjinjitkan kakinya kemudian menarik kerah seragam Donghae agar pria itu mendekat kepadanya. Tak berselang lama, bibir merah Im Yoona sudah menempel di kedua bibir tipis milik Lee Donghae. Dengan lembut, Donghae membalas ciuman yang diberikan Im Yoona dan semakin merapatkan tubuh mereka.

“Aku tidak akan berubah pikiran hanya dengan sebuah ciuman.” Desis Lee Donghae di sela-sela ciuman mereka. Yoona dengan perasaan kesalnya segera mendorong Donghae menjauh. Kemudian wanita angkuh itu segera mendaratkan tubuhnya diatas ranjang empuk milik Lee Donghae dan berguling-guling di sana.

“Oppa, aku ke sini bukan untuk berlibur atau apapun itu. Aku ke sini untuk menyelamatkan kalian semua.” Rengek Yoona kesal. Dari kursi kebesarannya, Donghae terus mengawasi pergerakan Im Yoona.

“Apa maksudmu dengan menyelamatkan kami? Kau itu sudah melakukan banyak kesalahan, jadi tidak usah berdalih dan beralasan.” Kata Donghae dingin dan datar. Yoona menatap Donghae sinis, kemudian menghampiri Lee Donghae yang masih bergeming di tempatnya.

“Kalian dalam masalah besar oppa. Tadi siang menteri Cho Hajung menyelundupkan senjata keluaran terbaru ke Iran. Apa kau mengetahui itu?” Tanya Yoona serius. Mendengar itu rahang Donghae langsung mengeras dan ia mengepalkan tangannya kuat-kuat meninju meja yang ada di depannya.

“Sial. Seharusnya pengkhianat itu yang harus kubasmi terlebih dahulu.” Geram Donghae marah. Melihat itu,Yoona merasa sangat prihatin pada suaminya.

“Oppa, sebaiknya kau harus cepat bertindak. Keputusan ada di tanganmu.” Kata Yoona lembut. Wanita itu menggenggam tangan Donghae dan mencium tangan itu dengan penuh perasaan.

“Apa saja yang Cho Hajung kirim?”

“Aku tidak melihat semua isinya, karena jika aku melakukannya Choi Minho akan curiga padaku. Tapi setahuku, Cho Hajung mengirimkan rudal jarak jauh yang terbaru, pistol dengan amunisi yang belum pernah kulihat sebelumnya, lalu ada basoka dengan bentuk yang aneh. Aku hanya takut jika itu bukan senjata biasa. Bisa saja itu adalah sebuah virus yang baru-baru ini sedang di kembangkan di laboratorium pusat.” Terang Yoona dengan dahi berkerut-kerut. Mndengar jawaban Yoona, amarah Donghae semakin tersulut. Hampir saja ia melemparkan semua barang-barangnya sebelum Yoona menahan tangan Lee Donghae.

“Darimana kau tahu semua itu?”

“Aku memiliki teman seorang ilmuwan. Namanya Cho Kyuhyun. Saat aku meminjam pesawatnya dia mengakatakan jika ia baru saja mengirim penemuannya pada menteri Cho Hajung. Kyuhyun menambahkan jika menteri Cho Hajung sedang melakukan riset dengan penemuannya. Tapi menurutku itu tidak mungkin. Untuk apa seorang menteri melakukan riset dengan virus baru temuan Cho Kyuhyun. Menurutmu bagaimana, oppa?”

“Entahlah, aku tidak tahu. Jika itu memang demikian, maka nyawa tentara Korea dalam bahaya. Aku harus melakukan sesuatu.” Geram Donghae sambil berpikir. Lee Donghae harus membuat keputusan dengan cepat, sebelum tentara Korea habis di tangan tentara Iran.

Duarr

“Oppa, apa itu?”

Seketika listrik di ruangan Lee Donghae padam. Yoona dengan was-was berdiri dari duduknya dan berusaha mencengkram lengan baju Lee Donghae.

“Kau tunggu di sini. Aku akan melihatnya.”

“Tidak. Aku ikut denganmu.” Tolak Yoona keras kepala. Akhirnya mereka berdua berjalan dengan keadaan gelap menyusuri setiap lorong menuju ruang utama. Selama perjalanan, tidak ada satupun penjaga yang berjaga, dan itu membuat Lee Donghae berspekulasi mengenai berbagai hal.

“Oppa, kau membawa senjata?”

“Hanya pistol biasa dan pisau lipat.” Jawab Donghae masih dengan meraba-raba jalan. Rasanya lorong antara ruangan Lee Donghae dan ruangan utama menjadi sangat panjang dan mengerikan.

“Oppa, aku rasa ini bukan sesuatu yang baik. Berikan pisau lipat oppa padaku.” Pinta Yoona memaksa.

“Untuk apa?”

“Berikan saja padaku.” Perintah Yoona setengah memaksa. Lee Donghae merogoh saku celananya dan memberika pisau lipat itu pada Yoona.

“Oppa, sebaiknya kita ke gudang penyimpanan senjata. Kurasa tentara Iran sedang menyerang camp militer kita.”

Kedua manusia itu mengendap-endap ke arah gudang senjata dan menemukan beberapa tentara yang tergletak tak sadarkan diri di sana.

“Ada sesuatu yang tidak beres di sini.” Gumam Lee Donghae pada dirinya sendiri. Namun, hal itu masih dapat didengar oleh Yoona.

“Oppa, ada sesuatu yang bergerak-gerak di sana.” Tunjuk Yoona pada sebuah bayangan hitam. Dengan mengendap-endap Donghae mendekati bayangam hitam itu dan menyergapnya dari belakang.

“Whoa, tahan tahan. Ini aku, Lee Hyukjae.” Pekik hyukjae tertahan sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Donghae segera melepaskan cengkramannya pada seragam tentara milik Hyukjae.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Donghae tak sabaran. Yoona yang berada di dekatnya memberikan usapan lembut pada lengan kekar milik Lee Donghae.

“Aku juga tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tapi setelah terdengar bunyi ledakan, beberapa tentara kita jatuh pingsan dan tentara yang lain langsung memposisikan diri untuk melakukan serangan.” Jelas Hyukjae. Pria bergusi pink itu sesekali mencuri-curi pandang ke arah Yoona.

“Siapa gadis ini? Apa dia isterimu?” Tanya Hyukjae heboh. Disuasana genting seperti ini pun pria itu masih saja berteriak norak pada Yoona.

“Ya, aku Yoona.” Kata Yoona lembut. Wanita itu membalas uluran tangan Hyukjae dan menjabat tangan Hyukjae dengan senang hati.

“Wah, senang bertemu denganmu, walau dalam keadaan yang tidak mengenakkan seperti ini.” Kata Hyukjae ramah. Yoona tersenyum simpul kemudian melepaskan cengkraman tangan Hyukjae pada tangannya.

“Hyukjae, kau lihat tentara kita yang ada di depan! Aku akan ke gudang senjata.” Perintah Donghae. Mereka akhirnya berpisah di tempat tersebut dan melakukan tugas masing-masing.

-00-

“Sial. Gudang senjata sudah dikuasi tentara Iran.” Geram Donghae marah.

Mereka berdua sedang mengintai dibalik kendaraan perang milik Korea. Mereka ingin berjalan mendekat ke arah gudang senjata, namun pergerakan Yoona dan Lee Donghae terhambat oleh beberapa pasukan Iran yang sedang berjaga di depan gudang. Pasukan Iran terlihat sangat siap dengan senapan laras panjang dan beberapa granat disetiap saku mereka.

“Oppa, kita tidak bisa hanya berdiam diri di sini.” Gerutu Yoona. Sedari tadi wanita itu sudah terlalu bersabar menunggu keputusan dari Lee Donghae. Tapi, pria yang ditunggunya tak segera melakukan pergerakan dan hanya terus-terusan mengintai dari balik tank.

“Kita harus keluar dan menyerang mereka.” Putus Yoona. Tanpa diduga-duga, wanita itu berjalan cepat diantara tembok-tembok dan menyerang salah satu penjaga dengan pisau lipat milik suaminya. Melihat Yoona yang berhasil melumpuhkan satu tentara Iran, Donghae juga ikut melangkah maju. Ia menyikut beberapa tentara itu hingga pingsan, dan berhasil membereskan mereka tanpa keributan.

“Kau terlalu gegabah.” Marah Donghae. Yoona hanya meringis ringan dan berjalan mendahului Lee Donghae.

-00-

Yoona dan Donghae sedang memasukan beberapa senjata dan peledak ke dalam ransel, saat tiba-tiba sebuah suara langkah kaki mendekat ke arah mereka berdua.

“Ssstt.”

Donghae membungkam mulut Yoona dan menggeser Yoona hingga berbaring diatas tanah. Seorang pria dan beberapa tentara Iran berjalan melewati mereka. Jika saja mereka sedikit menunduk, maka mereka akan menemukan Lee Donghae dan Im Yoona yang saling berpelukan. Sekilas mereka terlihat sedang berpelukan, dengan Yoona yang ada di bawah Lee Donghae, dan Yoona yang menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Lee Donghae.

“Oppa, mereka sudah pergi.” Bisik Yoona. Donghae segera bangkit dari atas tubuh Yoona dan berdiri mengambil ransel yang sudah mereka isi dengan beberapa senjata.

“Ayo kita ikuti mereka. Kurasa orang yang memakai jas itu bukan orang Iran.”

“Oppa, itu Cho Hajung. Aku sangat mengenal cara berjalannya. Beberapa kali ia datang ke markas untuk memastikan pengiriman barang ilegalnya.” Bisik Yoona dengan yakin.

“Kalau begitu, aku harus meledakkan isi kepalanya dan menginjak-injak tubuhnya. Berani-beraninya ia mengkhianati negara dan berkerjasama dengan musuh.” Geram Lee Donghae marah. Pria itu menggenggam erat senjatanya dan mulai berjalan mengendap-endap.

-00-

Semakin dalam mereka memasuki gudang itu, pencahayaan yang mereka dapat semakin berkurang. Berkali-kali Yoona hampir menabrak rak senjata karena ia sama sekali tidak hafal dengan setiap sudut bangunan gudang. Berbeda dengan Lee Donghae, pria itu tampak sangat hafal dengan setiap sudut dan jalan yang mereka lewati.

Klontang

Suara nyaring dari sebuah kaleng yang ditendang Yoona berhasil memicu kedatangan tentara Iran.

“Oppa, aku menendang kaleng.” Bisik Yoona panik. Lee Donghae segera mendorong Yoona diantara rak senjata dan menyerahkan tas yang berisi senjata pada Yoona.

“Siapa di sana?” Teriak pemimpin pasukan Iran. Tanpa ragu Donghae segera keluar dari kegelapan dan menghadapi tentara-tentara itu dengan keberanian penuh.

“Aku, jendral Lee Donghae.” Kata Donghae tegas dan nyaring. Suara tepuk tangan menjadi sambutan setelah Donghae memperkenalkan diri. Seorang pria dengan jas keluar dari ruangan dengan tawa mengerikannya. Tawa itu melolong disepanjang lorong tempat mereka berdiri.

“Rupanya kita sedang kedatangan tamu kehormatan. Apa kabar jendral?” Tanya pria itu seolah mengejek. Donghae mengepalkan tangan kuat-kuat hendak menerjang pria itu, tapi ia urungkan niatnya untuk sesaat.

“Senang bisa bertemu dengan anda, tuan Cho Hajung.” Kata Donghae dengan gigi bergemeletuk. Ia memandang sengit ke arah Cho Hajung yang sedang di kelilingi oleh tentara Iran.

“Apa kau senang dengan kedatanganku? Aku jauh-jauh datang ke sini khusus untuk menyusulmu. Apa kau senang?”

Menteri Cho kembali bersuara dengan kata-kata mencemoohnya. Membuat kemarahan Donghae semakin tersulut. Dari tempat persembunyiannya, Yoona menatap was-was pada Lee Donghae. Pasalnya, pria itu sedang ditodong pistol oleh lima orang tentara Iran. Sekali saja Donghae maju ke arah Cho Hajung, maka isi kepala Donghae bisa saja langsung berhamburan di hadapannya. Yoona menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan kembali mengawasi pergerakan Lee Donghae.

“Pengkhianat! Apa yang kau rencanakan?” Teriak Donghae marah. Menteri Cho Hajung menyeringai licik ke arah Lee Donghae dan menjawab pertanyaan Donghae dengan santai.

“Ohh, aku sedikit tersinggung dengan kata-katamu. Tapi, kuakui itu memang benar. Aku adalah pengkhianat.” Jawab Cho Hajung dengan tawa iblisnya.

“Brengsek. Kau harus mati.” Umpat Lee Donghae marah. Ia sudah mengarahkan pistol yang ada ditangannya ke kepala menteri luar negeri itu dengan sengit.

“Jendral, sebaiknya kau jangan bermain-main dengan pistol itu. Pistol itu sangat berbahaya.”

“Sebenarnya apa maumu, hah?” Pekik Lee Donghae tidak sabar. Sedari tadi menteri itu terus berbicara omong kosong, membuat kesabaran Donghae semakin habis.

“Mauku adalah menyingkirkan pengganggu sepertimu.” Jawab Cho Hajung dingin. Dengan gerakan matanya, Cho Hajung memerintahkan tentara-tentara Iran untuk mencekal lengan Lee Donghae.

“Jangan harap kau bisa membunuhku, dasar pengkhianat. Selamanya kau adalah kotoran yang harus di buang ke dalam saluran air. Aku tidak akan membiarkan kotoran sepertimu mengotori negaraku.” Desis Lee Donghae penuh ancaman. Cho Hajung kembali tergelak dan berjalan mendekat pada Lee Donghae.

“Jadi kau menganggapku sebagai sebuah kotoran. Sayangnya, kotoran sepertiku sudah terlanjur mengerak dan tidak bisa disingkirkan dengan mudah. Kau itu sama saja dengan pendahulumu, sama-sama bodoh tapi berambisi menghabisiku. Jangan harap kau bisa menghabisiku. Karena aku yang akan mengirimmu ke neraka.”

Cho Hajung mencengkram rambut Donghae kuat-kuat dan menghempaskannya ke tembok. Membuat Yoona berteriak tertahan ditempatnya. Sebisa mungkin Yoona tidak berteriak atau membuat keributan. Justru ia sedang menyiapkan beberapa senjata untuk menyelamatkan Lee Donghae.

“Bagaimana rasanya? Apa sakit. Sebentar lagi kau akan merasakan penyikasaan yang sesungguhnya. Kau tenang saja, aku tidak akan membunuhmu. Aku akan bermain-main terlebih dahulu dengan tubuhmu, dan setelah kau tak berdaya, aku akan membunuhmu dengan keji.”

“Lakukan saja jika kau bisa. Cuih, aku tidak akan kalah semudah itu.”

Lee Donghae meludahi wajah Cho Hajung hingga menteri itu menggeram marah. Dengan dahi yang berdarah, Lee Donghae tetap memandang sengit pada Cho Hajung. Jika saja tangannya tidak ditahan oleh tentara Iran, maka Lee Donghae bisa membunuh pria tua yang ada di depannya dengan sekali pukulan.

“Habisi dia.” Perintah Cho Hajung geram.

Tentara-tentara itu mulai maju satu persatu dan memberikan pukulan pada Lee Donghae. Yoona segera keluar dari persembunyiannya dan mengarahkan tembakan pada tentara-tentara itu.

“Oppa, senjatamu.”

Yoona melemparkan sebuah pistol pada Lee Donghae. Wanita itu berlari menjauh menghindari kejaran tentara Iran. Sesekali Yoona mengarahkan pukulannya pada tentara itu.

“Ahh.”

Yoona memekik keras saat sebuah tangan menarik rambutnya. Dengan sekali tarikan, tentara itu langsung membawa Yoona kepelukannya.

“Wah wah wah, ternyata kau cantik juga.” Kata pria itu dengan licik. Yoona menatap tentara itu tanpa gentar, kemudian menginjak kaki tentara itu saat sedang lengah.

“Hah, bagaimana? Terasa sakit bukan?” Tanya Yoona mengejek. Tentara itu memandang Yoona tidak terima dan menyuruh temannya untuk menangkap Yoona.

“Cepat habisi pelacur itu!”

Yoona menangkis setiap pukulan yang diarahkan padanya. Sesekali Yoona menendang perut prajurit itu jika ada kesempatan.

“Rasakan ini.”

Yoona mengambil sejumput bubuk merica yang sudah ia siapkan di saku celananya. Sebenarnya Yoona selalu membawa bubuk merica itu kemanapun. Hal itu dilakukannya untuk berjaga-jaga dari pria-pria hidung belang yang sering mengganggunya. Dan sekarang terbukti, bubuk itu sangat berguna untuk melawan tentara Iran yang tadi menghinanya.

Bugh

Tanpa Yoona sadari, seorang tentara Iran mencekal lengannya dan membenturkan kepala Yoona ke tembok. Seketika Yoona merasakan aliran darah yang mengalir dari pelipisnya dan menuruni pipinya. Rasanya kepalanya sangat sakit dan berdenyut-denyut. Untuk sesaat pandangan Yoona menjadi berkunang-kunang dan buram. Yoona terlempar begitu saja ke tanah dengan tas senjata yang masih menggantung di pundaknya.

“Itulah akibat jika kau berani melawan kami. Sekarang rasakan pembalasan kami.”

Dor dor dor

Lee Donghae berlari ke arah Yoona setelah pria itu berhasil menembak tentara-tentara itu. Dengan cepat ia menarik tangan Yoona untuk berdiri.

“Ayo, kita harus pergi dari sini.”

Dengan langkah terseok-seok, Yoona mengikuti langkah Donghae yang lebar-lebar. Di belakang Yoona dan Donghae terdapat beberapa tentara yang mengejar mereka. Jika Yoona dan Donghae tidak segera berlari, maka mereka akan mati di tempat ini.

“Oppa, ambil ini.”

Yoona melemparkan granat pada Donghae.

Duar

Granat itu berhasil Donghae lemparkan pada tentara Iran yang mengejar mereka. Untuk sementara mereka aman dan memutuskan untuk berhenti sejenak.

“Hosh, hosh. Apa yang akan kita lakukan?” Tanya Yoona dengan napas tersenggal-senggal. Ia menyerahkan ransel senjata itu pada Donghae dan mengalungkan senapannya di pundak.

“Kita harus keluar dari sini dan mencari bantuan. Kita harus mencari cara untuk menghubungi pemerintah Korea.”

“Oppa, itu gerbangnya. Kita sudah dekat.”

Sepasang suami isteri itu terus berlari dan berlari untuk mencapai gerbang depan markas tentara Korea. Tapi lagi-lagi itu tidak mudah bagi Donghae dan Yoona. Mereka sudah dihadang beberapa tentara Iran.

“Kita bertemu di depan gerbang.”

Yoona berteriak pada Donghae sebelum memisahkan diri dari Donghae. Wanita itu berlari ke sisi kanan dan mencoba menghindari tentara itu, ia juga mengarahkan beberapa tembakan pada tentara itu. Sebenarnya Donghae merasa geram dengan perbuatan nekat Yoona, tapi ia idak bisa berbuat apapun. Saat ini mereka harus berusaha keras agar dapat keluar dari markas itu dengan selamat.

“Mau lari kemana kau?”

Lima orang tentara berdiri di hadapan Lee Donghae dan menghadang jalannya. Donghae menggeram marah dan menarik salah satu tentara yang ada di hadapannya. Tentara itu ia lemparkan pada tentara yang lain, hingga dua diantara tentara itu langsung tumbang. Donghae menarik pelatuk senjatanya dan berhasil membunuh salah satu tentara itu. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Donghae memacu laju larinya dan menyisakan dua tentara yang ada di belakangnya. Lee Donghae merogoh saku ranselnya dan mengeluarkan granat. Dengan sakali lempar, granat itu berhasil mengenail tentara-tentara itu. Donghae jatuh tersungkur terkena sedikit ledakan dari granat yang ia lempar. Tapi syukurlah, Donghae masih selamat dan bisa kembali berdiri tegap dan berjalan keluar dari gerbang.

“Oppa.”

Yoona berlari menghampiri Donghae dan memeluk Donghae dengan posesif. Yoona sangat mengkhawatirkan Donghae.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Donghae sambil meneliti tubuh Yoona dari atas hingga bawah. Terdapat bekas darah yang mengering di pelipis Yoona. Celana yang dikenakan Yoona sedikit sobek di bagian lutut dan betis. Wajah Yoona juga sudah penuh degan debu dan sedikit bubuk mesiu dari granat, Yoona benar-benar terlihat menyedihkan di mata Donghae.

“Maafkan aku. Aku tidak bisa melindungimu seperti janjiku dulu.” Kata Donghae menyesal. Tatapan matanya yang selalu setajam mata elang, kini berubah sayu dan sendu. Sungguh Donghae sangat menyesal dan merasa bersalah pada Yoona.

“Tidak masalah. Apa kau lupa, aku ini adalah bos mafia. Aku adalah wanita yang kuat.” Kata Yoona dengan gelak tawa. Ia mengusap wajah Donghae yang berlumuran peluh dan darah dengan telapak tangannya. Pandangan Donghae seketika hanya terkunci pada Yoona.

“Kita harus segera pergi dari sini.” Kata Donghae sambil menghentikan pergerakan telapak Yoona yang menari-nari di wajahnya. Yoona tersenyum sangat manis ke arah Donghae dan menurunkan tangannya dari wajah Donghae.

“Ayo. Kita harus segera meminta bantuan.”

-00-

Yoona dan Donghae terus berjalan tanpa tujuan dan arah. Kaki mereka yang sudah letih rasanya ingin segera beristirahat, tapi tentu saja mereka harus mencari tempat yang layak. Sepanjang mata memandang hanya ada gurun yang tandus dan gersang. Tidak ada tanda-tanda akan adanya rumah di daerah gurun seperti ini.

“Oppa, aku lapar.” Rengek Yoona. Wanita itu menghentikan langkahnya dan mulai meluruskan kakinya diatas pasir. Rasanya Yoona ingin mengistirahatkan kaki itu untuk sejenak, tapi melihat tatapan mata Donghae yang tidak bersahabat membuat Yoona mengurungkan niatnya untuk beristirahat.

“Baiklah, aku akan jalan lagi.” Sungut Yoona kesal. Yoona kembali berjalan di belakang Donghae sambil terus mengoceh tidak jelas. Sebenarnya Donghae ingin menertawakan Yoona, tapi dengan segala harga dirinya yang tinggi, ia batalkan niat untuk tertawa dihadapan Yoona.

“Ah, oppa! Tunggu sebentar.”

Lagi-lagi Yoona menghentikan langkah kakinya di belakang Donghae, membuat pria itu berdecak kesal tidak sabar.

“Ada apa lagi?”

“Aha, ketemu.” Pekik Yoona tanpa menghiraukan pertanyaan Lee Donghae. Wanita itu dengan mata berbinar-binar sedang berdiri sambil mengacungkan sebatang coklat yang baru saja ia temukan dari dalam saku celananya.

“Kau membawa coklat?” Tanya Donghae heran.

“Tidak juga. Tadi aku mendapatkannya dari petugas pesawat. Akhh, sekarang aku sangat bersyukur dengan adanya coklat ini. Padahal tadinya coklat ini akan kutinggalkan begitu saja di pesawat. Aku berjanji, setelah ini aku akan bersyukur dengan makanan apapun yang telah diberikan oleh Tuhan.” Kata Yoona penuh tekad. Wanita itu dengan semangat membagi colat itu menjadi dua bagian dan memberikan salah satunya pada Lee Donghae.

“Tidak usah, untukmu saja.” Tolak Lee Donghae halus.

“Tidak! Kau juga harus memakannya. Ini untuk menggantikan tenaga yang sudah kau keluarkan. Ayolah, walaupun hanya sedikit, tapi kalorinya dapat memberimu kekuatan.” Bujuk Yoona.

“Baiklah. Aku akan memakannya.” Kata Donghae akhirnya. Saat ini ia sedang tak berminat untuk mendebat Yoona. Ia harus mengehemat tenaganya untuk melanjutkan perjalanan.

“Oppa, apa aku baru saja melihat gubuk?” Tanya Yoona tidak yakin. Pasalnya mereka sedang berada di gurun. Tidak menutup kemungkinan jika apa yang Yoona lihat hanya fatamorgana.

“Sepertinya itu nyata, karena aku juga melihatnya.”

“Oppa, kita harus ke sana.”

Dengan antusias Yoona menarik-narik tangan Donghae, agar pria itu segera berjalan menuju gubuk itu.

-00-

Setelah memasuki gubuk tersebut, Yoona bisa sedikit beristirahat sejenak. Wanita yang terkenal angkuh itu kini sedang duduk diatas pasir sambil menyandarkan punggungnya pada dinding gubuk yang sudah reyot.

“Ya Tuhan, kenapa duduk di lantai seperti ini lebih nikmat daripada duduk di atas sofa.” Keluh Yoona sambil memijat kakinya yang pegal. Donghae mendudukan diri disebelah Yoona, setelah ia mengecek keseluruhan isi gubuk. Gubuk yang mereka tempati adalah gubuk kosong. Kemungkinan besar gubuk itu memang digunakan untuk singgah sebentar bagi pelancong yang mungkin saja melewati gurun ini.

“Kau kedinginan?” Tanya Donghae pada Yoona. Sedari tadi ia melihat Yoona sedang menggosok-gosokkan kedua tangannya sambil memeluk tubuhnya rapat-rapat.

“Sedikit.” Ringis Yoona.

“Pakai ini.” Kata Donghae sambil melilitkan sebuah kain pada tubuh Yoona.

“Oppa menemukannya dimana?” Tanya Yoona heran.

“Aku menemukannya di belakang gubuk. Pakai saja, daripada kau kedinginan.” Kata Donghae acuh. Pria itu kemudian memejamkan matanya sambil bersandar pada dinding. Yoona terus memerhatikan Donghae yang sepertinya tidak nyaman dengan posisi tidurnya. Lalu wanita itu menggelar kain itu di atas tanah dan menyuruh Donghae untuk tidur diatasnya.

“Tidak usah. Kau pakai saja.” Tolak Donghae keras kepala. Lee Donghae adalah pria dengan harga diri yang sangat tinggi. Lee Donghae tidak mau terlihat lemah dihadapan Im Yoona.

“Ayolah oppa. Aku tahu, kau tidak nyaman dengan posisi tidur seperti itu.” Bujuk Yoona dengan sabar.

“Tidak usah. Lagipula saat pelatihan, aku sudah sering tidur diatas tanah tanpa alas dan selimut.” Tolak Donghae keras kepala. Yoona mulai memutar bola matanya jengah dengan kelakuakn Donghae yang sangat keras kepala itu.

“Terserah oppa.”

Yoona menarik kerah seragam Donghae, membuat lelaki itu tidak bisa berkutik dan akhirnya berbaring di sebelah Yoona.

“Kau licik. Kau menarik kerah seragamku, sehingga aku tidak bisa bernafas.” Runtuk Donghae kesal.

“Oppa terlalu keras kepala.” Balas Yoona.

“Diamlah. Aku sedang berusaha tidur.”

Yoona tersenyum memperhatikan Donghae yang mulai memejamkan matanya. Wanita itu kemudian juga ikut memejamkan mata di sebelah Donghae.

-00-

Yoona terus bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Ia tidak bisa tidur. Udara semakin dingin dan Yoona tidak tahan dengan dinginnya malam yang menusuk hingga tulang. Berkali-kali ia memiringkan tubuhnya ke kanan dan kiri untuk menghalau rasa dingin yang menembus tulangnya. Tapi hawa dingin itu tak kunjung pergi dan justru semakin mengusik tidur Yoona.

“Kau kedinginan?” Tanya Donghae masih dengan memejamkan mata. Sepertinya pria itu juga tidak bisa tidur. Melihat Yoona yang terus bergerak-gerak ribut membuat pria itu merasa terusik.

“Aku kedinginan.” Rengek Yoona dan mulai bangkit dari posisi tidurnya.

“Kau ingin kuhangatkan?” Tanya Donghae lagi.

“Caranya?”

Donghae menarik tangan Yoona, hingga wanita itu jatuh di atas tubuhnya. Kemudian Donghae melumat bibir Yoona dengan lembut dan penuh perasaan. Pria itu berusaha mengalirkan kehangatan dari dalam tubuhnya ke tubuh Yoona yang membeku.

“Apa sudah hangat?” Tanya Donghae di sela-sela ciumannya. Yoona memandang Donghae dengan iris madunya, kemudian Yoona mulai melumat bibir Donghae lagi.

“Aku butuh kehangatan lebih.” Racau Yoona di atas tubuh Donghae. Napas mereka sudah terengah-engah, tapi mereka masih enggan untuk melepas tautan bibir mereka.

“Aku butuh sesuatu yang panas.” Gumam Yoona.

“Kau ingin aku melakukannya?”

“Why not?” Tantang Yoona santai. Wanita itu kini justru menggoda Donghae dengan membelai dada bidang pria itu seduktif.

“Aku tidak bisa menahannya jika kau menggodaku seperti ini.” Geram Donghae.

“Lakukan saja. Kita belum pernah melakukannya di tengah gurun.” Jawab Yoona tergelak.

“Bagaimana jika kau hamil?”

“Tidak masalah. Aku memang ingin memiliki seorang bayi yang lucu, atau mungin dua, tiga, atau sepuluh.” Jawab Yoona santai.

Donghae membalik tubuh Yoona, hingga kini Yoona berada di bawah tubuh Donghae.

“Aku mencintaimu.” Kata Donghae cepat.

“Apa?”

Donghae membungkam bibir Yoona dengan ciumannya dan tidak membiarkan Yoona untuk membuka suara.

“Oppa.”

Donghae menghentikan ciumannya dan menatap Yoona dalam.

“Jangan mati.” Lanjut Yoona. Donghae kemudian mencium kening Yoona dengan sayang.

“Kau juga. Apapun yang akan terjadi pada kita, jangan mati.”

“Tentu saja. Aku ingin hidup denganmu hingga tua dan kita memiliki banyak cucu. Kau tahu, aku bahagia dengan pernikahan ini.” Kata Yoona dengan mata berkaca-kaca. Donghae menghapus setetes air mata yang mengalir dari mata cantik Yoona.

“Kita akan selalu bersama. Sampai kapanpun.” Janji Donghae.

Malam itu mereka berbagi kehangatan bersama di tengah dinginnya malam yang menusuk tulang. Walaupun nyawa mereka dalam bahaya, mereka tidak peduli. Yang terpenting adalah mereka saling memiliki satu sama lain dan akan saling melindungi pasangan masing-masing hingga akhir takdir mereka.

 

 

 

2 thoughts on “The Black World (Three)

  1. Mungkinkah aku tidak fokus membaca? Aku heran dengan anak buah donghae yang tidak muncul sm sekali untuk menolong donghae dan yoona. Dan hyukjae, dia kemana?? Tp syukurlah mereka berdua selamat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.