The Black World (Four)

Matahari bersinar terik menyinari sepasang manusia yang masih bergelung di bawah atap gubuk tua yang sudah reyot. Sang pria yang merasa silau oleh sinar matahari segera membuka matanya dan merenggangkan otot-ototnya yang kaku akibat tidur di atas tanah.

“Bangunlah. Ini sudah pagi.” Kata Donghae sambil mengguncang tubuh Yoona pelan. Wanita itu hanya bergerak-gerak kecil kemudian kembali memejamkan matanya. Lee Donghae tersenyum kecil ke arah Im Yoona, kemudian ia beranjak keluar dari gubuk reyot itu. Sepeninggal Donghae, Yoona mulai membuka mata sepenuhnya dan menguap lebar. Ia bangkit dari posisi tidurnya dan memanggil-manggil mencari keberadaan Lee Donghae.

“Oppa. Donghae oppa.” Teriak Yoona dari dalam gubuk. Tak ada jawaban apapun dari Donghae, membuat Yoona merasa khawatir dan takut. Wanita itu kemudian membereskan beberapa kekacauan yang telah mereka buat dan menggendong ranselnya yang berisi senjata.

“Ahh, di sini hanya ada pasir. Aku lapar dan haus.” Keluh Yoona sambil memegangi perutnya. Dari jauh ia melihat sosok Donghae yang tengah membawa sesuatu.

“Oppa.” Teriak Yoona. Suaranya terdengar bergema, dam Yoona sangat menyukainya.

“Oppa. Pa.. Pa…Paa.” Teriak Yoona sekali lagi. Wanita itu terkikik geli dengan suaranya yang menjadi aneh.

“Suaramu sumbang.” Ucap Lee Donghae datar. Entah bagaimana, tiba-tiba Donghae sudah ada di depan Yoona dan memberikan pada Yoona sepotong roti.

“Kau mendapatkan roti ini darimana? Apa di sini ada penjual roti?” Tanya Yoona polos sambil menggigit rotinya. Rasanya saat itu Yoona ingin menangis karena ia merasa lebih hidup setelah menyantap sepotong roti.

“Ya Tuhan. Ada apa denganmu?” Tanya Donghae bingung.

“Aku bahagia. Aku tidak pernah merasa sangat bersyukur saat memakan sepotong roti.” Racau Yoona masih dengan beberapa tetes air mata yang membasahi pipi mulusnya.

“Hapus air matamu. Kita bisa membelinya lagi.” Kata Donghae acuh. Pria itu juga ikut memakan sepotong roti bagiannya.

“Benarkah? Di mana?” Tanya Yoona berbinar-binar.

“Di toko roti yang ada di Seoul.” Jawab Donghae datar. Yoona menatap kesal ke arah Donghae. Disaat wanita itu sangat berharap banyak, Donghae justru membohonginya.

“Dari mana oppa mendapatkan ini?” Tanya Yoona sambil menunjuk rotinya.

“Aku bertemu warga sipil yang kebetulan lewat. Sepertinya ia sedang menggembalakan ontanya.” Jawab Donghae acuh.

“Oppa, kita bisa meminta bantuan penggembala itu.”

“Entahlah. Aku takut mereka akan mengira kita orang jahat dan akan melaporkan kita pada pemerintah Iran.”

“Lalu bagaimana cara oppa meminta roti padanya?”

“Aku membelinya.” Jawab Donghae singkat.

“Lalu apa rencana kita selanjutnya?” Tanya Yoona frustasi. Ia merasa tidak yakin, jika ia bisa pulang ke Korea dalam keadaan hidup. Saat ini saja mereka sedang terlantar di tengah gurun. Jika tidak ada yang menemukan mereka, maka mereka akan segera mati mengering dan dimakan oleh hewan pemakan bangkai.

“Hey, kau melamun?”

Yoona mengerjapkan matanya kaget dan mulai terfokus lagi pada Lee Donghae.

“Ah, ponselku.”

Seketika Yoona teringat ponselnya yang masih ada di saku celananya. Dengan semangat wanita itu merogoh kedua saku celananya dan menemukan sebuah ponsel dari saku kiri celananya.

“Apa itu bisa digunakan?” Tanya Donghae sangsi. Pasalnya mereka sekarang sedang berada di tengah gurun.

“Mungkinkah di sini ada sinyal?” Pikir Donghae ragu.

“Tentu saja bisa. Lihat, aku bisa menghubungi Minho. Aku akan meminta bantuan padanya.” Kata Yoona berseri-seri. Ia menempelkan benda persegi itu di samping telinganya. Sambil berharap Minho akan mengangkatnya, Yoona terus mengaduk-aduk pasir yang ada di depannya.

“Halo.”

Suara sapaan Minho yang mengalun di gendang telinga Yoona, membuat wanita angkuh itu bersorak girang. Rasanya ia ingin berlari memeluk Minho saat ini juga.

“Halo, Choi Minho, ini aku.” Kata Yoona dengan nada girang yang sangat kentara. Di sebrang sana, Minho terlihat mengerutkan alisnya bingung. Tidak biasanya Yoona seriang ini saat berbicara padanya.

“Ada apa Yoona? Kau menghubungiku saat tengah malam seperti ini, apa kau membutuhkan sesuatu?”

“Minho, aku sangat membutuhkan bantuanmu. Kau harus…..”

Sambungan telepon terputusm, menyisakan sebuah ponsel dengan layar hitam yang sepenuhnya sudah mati.

“Sial. Kenapa baterainya habis.” Sungut Yoona marah. Hampir saja tangan Yoona terayun untuk membuang ponsel itu. Tapi dengan cepat Donghae menyambar lengan Yoona agar tidak membuang ponselnya.

“Apa yang akan kau lakukan? Jangan membuang ponselmu sembarangan.” Tegur Donghae sinis. Tatapan matanya menusuk tepat di manik madu milik Yoona.

“Benda ini sudah tidak berguna. Untuk apa aku tetap membawanya.” Ucap Yoona kesal. Harapan satu-satunya telah sirna. Yoona berpikir jika setelah ini mereka akan benar-benar mengering di tengah gurun dan menjadi santapan burung pemakan bangkai.

“Oppa, aku tidak mau mati mengering di tengah gurun. Aku ingin mati dengan layak. Aku ingin peti matiku dihiasi bunga mawar dan bunga lili yang cantik. Kemudian aku akan tertidur didalamnya dengan gaun yang indah. Aku tidak mau mati mengenaskan di sini.” Rengek Yoona histeris. Donghae dengan bingung mengguncang tubuh Yoona, agar wanita itu segera berhenti meracau.

“Hey, hentikan! Lihat aku.” Paksa Donghae. Yoona mulai menatap mata teduh milik Lee Donnghae dan ia terhanyut oleh tatapan mata suaminya yang sungguh menenangkan itu.

“Dengarkan aku! Kita tidak akan mati di sini. Secepatnya kita akan pergi dari sini dan membuat Cho Hajung membayar semua perbuatannya. Kau mengerti.”

Seakan terhipnotis dengan tatapan Lee Donghae, Yoona hanya mengangguk patuh pada apa yang diucapkan Donghae padanya.

“Nah, sekarang keluarkan baterai ponselmu.” Perintah Donghae pada Yoona.

“Untuk apa?” Tanya Yoona tak mengerti. Tapi wanita itu tetap mengikuti perintah Donghae untuk melepaskan baterai ponselnya.

“Kita akan menjemur baterai ini di bawah terik matahari.” Terang Donghae. Pria itu meletakkan baterai ponsel Yoona di atas pasir gurun yang tandus dan kering.

“Apa yang akan terjadi pada baterai ponselku?” Tanya Yoona masih menatap baterai ponselnya. Donghae sedikit tergelak dengan kebodohan Im Yoona yang menurutnya sungguh kelewatan itu.

“Panas dari matahari akan berubah menjadi energi listrik. Jadi kita tunggu saja hingga bateraimu terisi penuh energi listrik.” Terang Donghae sambil melipat tangannya di depan dada bidangnya.

“Berapa lama kita akan duduk dan menunggu seperti ini.”

“Satu jam.” Jawab Donghae singkat. Tidak ada jalan lain selain menunggu baterai milik Yoona terisi penuh. Walaupun sebenarnya Yoona bosan, tapi pada akhirnya ia tetap duduk di sebelah Lee Donghae sambil berharap baterainya cepat terisi penuh.

-00-

Lee Hyukjae meronta-ronta brutal saat tentara Iran menyeretnya dengan paksa menuju penjara bawah tanah mereka. Di sana selain Hyukjae juga terdapat ratusan pasukan tentara Korea yang ditahan di penjara tersebut.

“Lepaskan! Dasar keparat. Aku tidak akan memaafkan kalian dan akan membatai kalian satu persatu.” Umpat Hyukjae tak terima. Badan kekarnya di lempar begitu saja di dalam penjara yang pengap dan juga kotor. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Hyukjae berlari hendak menerobos jeruji besi yang akan ditutup oleh tentara Iran.

Dor

“Akh.”

Hyukjae tumbang diatas tanah saat tentara itu menebmbak kakinya. Hyukjae yang merasa kesakitan terus memegangi peergelangan kakinya sambil menatap penuh permusuhan pada tentara Iran yang tadi menembak kakinya.

“Untung saja kami masih memiliki belas kasihan padamu, sehingga kami tidak menembak keluar isi kepalamu.” Kata tentara Iran itu dengan suara menggelegar. Hyukjae dengan muka penuh amarah memberikan tatapan menusuk dan umpatan kasarnya pada tentara itu.

“Brengsek! Lebih baik aku mati daripada menjadi tahanan kalian. Cuih, aku tidak sudi berada di dalam penjara menjijikan kalian.” Kata Hyukjae sambil meludah di sampingnya. Tentara Iran itu menahan geram sambil menggenggam senapannya dengan tangan terkepal.

“Huh, kau tunggu saja jadwal kematianmu. Mungkin Cho Hajung sendiri yang akan membunuhmu.” Desis tentara itu pergi meninggalkan Hyukjae. Sepeninggal tentara itu, Hyukjae tampak merenung. Ia masih tidak percaya jika menteri luar negeri Korea melakukan pengkhianatan seperti ini. Sambil menahan perih di pergelangan kakinya, Hyukjae meninju jeruji besi itu sambil membayangkan jika itu adalah wajah Cho Hajung yang keparat.

“Aku tidak akan memaafkanmu, pengkhianat.” Desis Hyukaje penuh dendam.

-00-

Dilain tempat, Im Yoona dan Lee Donghae masih duduk terdiam di dalam gubuk sambil menunggu baterai ponsel Yoona terisi penuh. Berkali-kali Yoona menguap bosan ataupun menggerutu di samping Donghae, tapi lelaki itu tetap saja diam tak bergeming.

“Akhhh! Aku bosan.” Teriak Yoona frustasi. Yoona bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari gubuk. Tak lupa ia memakai tas ranselnya dan menyambar ponsel beserta baterainya.

“Kau mau kemana?” Tanya Lee Donghae datar. Tanpa menggubris pertanyaan Donghae, Yoona berjalan menjauh meninggalkan gubuk itu tanpa mempedulikan panggilan Lee Donghae.

“Berhenti! Aku bilang berhenti.” Desis Donghae sambil mencekal pergelangan tangan Im Yoona. Wanita angkuh itu kembali menunjukan sisi berkuasanya setelah semalam ia selalu menurut pada perintah Lee Donghae.

“Aku tidak bisa jika hanya berdiam diri di dalam gubuk seperti orang tolol. Kita harus bergerak.” Teriak Yoona tak sabar. Yoona menyentakkan cekalan tangan Lee Donghae dan kembali berjalan menyusuri gurun tandus tersebut.

“Kau mau ke mana?” Teriak Donghae murka. Kesabarannya sudah habis karena tindakan membangkang Im Yoona.

“Aku akan pergi mencari rumah penduduk. Jika kau tidak mau ikut, kau bisa menungguku kembali di gubuk reyot itu.” Timpal Yoona mengejek. Wanita itu kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan Lee Donghae yang tertinggal di belakangnya.

“Tunggu aku.” Teriak Donghae datar dan dingin. Dari balik punggungnya, Yoona tersenyum penuh kemenangan.

“Hah, kau memang tidak akan bisa tanpaku.” Gumam Yoona riang.

-00-

Sudah tiga jam Lee Donghae dan Im Yoona berjalan berputar-putar di tengah gurun pasir yang tandus. Keringat sudah mengucur diseluruh tubuh Yoona maupun Donghae. Tapi dengan keras kepalanya, Im Yoona tetap memaksakan berjalan tanpa mau berhenti untuk beristirahat.

“Aku tidak akan berhenti sebelum menemukan mata air.” Teriak Yoona keras kepala. Pria itu, Lee Donghae, hanya menggeleng geram dengan tingkah laku Im Yoona yang menurutnya sangat menyebalkan itu.

“Oppa, aku menemukan mata air.” Teriak Yoona girang. Dibelakangnya, Donghae masih berjalan dengan tenang dan santai. Donghae berpikir, mungkin saja Yoona hanya melihat fatamorgana.

Yoona berlari-lari menuruni bukit dan menyeburkan badannya ke dalam oasis. Ia lemparkan begitu saja tas ranselnya dan segera meminum air itu dengan rakus.

“Oppa, kemarilah. Ini sangat segar.” Teriak Yoona sambil melambai-lambaikan tangannya dari dalam air. Lee Donghae tersenyum simpul, kemudian menyusul Yoona untuk menikmati air yang terlihat sangat menyegarkan itu.

“Seharusnya kita sudah dekat dengan rumah penduduk.” Gumam Donghae pada dirinya sendiri. Yoona yang berada di dekatnya, menyenggol pelan lengan kekar milik Lee Donghae.

“Oppa, lihat. Bukankah itu sebuah asap?” Tunjuk Yoona pada gumpalan asap tipis yang membumbung di udara. Donghae kemudian mengikuti arah telunjuk Yoona dan mulai menyipitkan matanya.

“Kau benar. Ayo kita ke sana. Semoga saja itu sebuah pertolongan.” Kata Donghae cerah. Terbesit harapan di benak Lee Donghae, bahwa mereka akan selamat dan bisa menolong tentara Korea yang disandera oleh tentara Iran.

-00-

Tok tok tok

Yoona mengetuk perlahan sebuah pintu bercat coklat yang ada dihadapannya. Saat ini mereka sedang berdiri di depan sebuah rumah yang benbentuk kotak. Yeah, rumah orang Iran.

“Oppa, kenapa tidak ada yang membukakan pintu?” Bisik Yoona bosan. Sebelah kakinya terlihat sedang menghentak-hentakkan tanah untuk mengusir kebosanannya.

“Tunggu saja sebentar.” Jawab Donghae santai. Pria itu lebih memilih untuk mengamati susana perkampungan warga Iran, daripada mengikuti jejak Im Yoona yang sedari tadi terus menggerutu.

“Oppa, ayo masuk. Pintunya tidak dikunci.”

Lee Donghae menatap terkejut ke arah Yoona. Dengan tidak sopannya, Yoona membuka sendiri pintu rumah tersebut dan memasukinya tanpa seijin sang pemilik rumah.

“Apa yang kau lakukan. Kau tidak boleh masuk ke rumah orang tanpa ijin.” Marah Donghae. Pria itu sedikit menyeret tangan Yoona, agar ia segera keluar dari rumah orang Iran tersebut.

“Akhh, oppa sakit.” Rengek Yoona sambil menghentakkan cengkraman tangan Donghae. Wanita itu menatap Donghae dengan garang sambil menggerutu tak jelas.

“Hilangkan sifat bar-barmu. Apa ini yang kau dapat setelah sekian tahun bergaul dengan preman-preman bawahanmu itu?”

“Jangan bawa-bawa mereka. Mereka tidak ada hubungannya dengan semua ini.” Desis Yoona marah. Wanita itu benar-benar tidak terima jika Donghae menyangkut pautkan anak buahnya dalam masalah ini. Bagaimanapun juga selama ini Yoona sudah menganggap semua anak buahnya sebagai keluarga. Terlepas dari kelakuan mereka yang memang tidak ada yang baik.

“Hey, apa yang kalian lakukan?”

Sebuah suara yang cukup keras menghentikan perdebatan kecil Yoona dan Donghae. Seorang pria dan wanita paruh baya sedang berdiri dihadapan mereka dengan beberapa bahan makanan di tangan mereka. Donghae yang menyadari situasi tersebut langsung mengambil kesempatan untuk meminta tolong pada pasangan paruh baya itu.

“Hai, maaf mengganggu. Kami..”

Donghae menyapa pasangan itu dengan kikuk dan kaku. Ia sendiri bingung, bagaimana caranya ia menjelaskan keadaanya dan Yoona pada pasangan manusia yang berdiri menatap bingung kearah mereka berdua.

“Hai, maaf mengganggu waktu kalian. Perkenalkan, aku Yoona dan ini adalah suamiku Lee Donghae. Kami adalah turis yang tersesat. Bisakah kami meminta sedikit pertolongan pada kalian.” Kata Yoona lancar. Ia sangat pintar sekali untuk berbohong, hingga pasangan paruh baya itu percaya dan mengijinkan mereka masuk ke dalam rumah orang Iran tersebut.

“Jadi begini, kami sedang melakukan tour, tapi kami kehilangan peta dan ponsel kami kehabisan baterai. Jika kalian mengijinkan, bolehkah kami menginap di sini untuk beberapa hari.” Mohon Yoona dengan memelas. Donghae sedikit menatap takjub pada kemampuan akting Yoona. Donghae bersumpah, jika ada audisi untuk menjadi artis, maka ia akan mengirim Yoona untuk mengikutinya.

“Jadi kalian tersesat?” Tanya pria baya itu pada Yoona dan Donghae.

“Ya, kami tersesat. Apa kalian mau menerima kami untuk tinggal di sini. Kami janji, kami tidak akan lama.” Janji Donghae. Untuk saat ini pria itu berani menurunkan harga dirinya, tapi hanya untuk saat ini.

“Tentu saja. Kami akan sangat senang bisa membantu kalian.” Jawab wanita paruh baya itu ramah. Ia menghidangkan secangkir teh pada Yoona dan Donghae.

“Terimakasih. Kami sungguh berhutang budi pada kalian.” Girang Yoona sambil menyalami pasangan itu bergantian.

“O ya, perkenalakan, ini suamiku namanya Ahmed dan aku Maryam.” Kata wanita itu ramah. Yoona mengulurkan tangannya pada Maryam, kemudian menjabat tangan maryam dengan antusias.

“Aku Yoona dan ini suamiku Lee Donghae. Senang bertemu dengan kalian.”

“Terimakasih.” Kata Donghae singkat.

“Sama-sama. Kami senang bisa menolong tamu tuan Cho Hajung.”

Yoona dan Donghae sama-sama terbelalak kaget saat Ahmed menyebut nama Cho Hajung. Seketika perasaan was-was menyelimuti benak mereka berdua.

“Apa kau mengenal Cho Hajung?” Tanya Donghae sedikit sinis. Entah mengapa ia menjadi sangat marah hanya karena mendengar nama Cho Hajung disebut.

“Ya, dia adalah pria yang baik.” Jawab Ahmed sambil tersenyum. Donghae mengamati wajah Ahmed lebih teliti, mencari kebohongan dalam matanya. Tapi Ahmed sama sekali tidak berbohong, menurutnya Cho Hajung adalah orang yang baik. Donghae sedikit curiga dengan sosok Cho Hajung yang sebenarnya.

“Emm, maaf. Sepertinya aku akan membantu Maryam di dapur.” Pamit Yoona. Wanita itu memilih pergi dari ruang tamu, ia sedang tidak ingin mendengar nama Cho Hajung. Biar Donghae saja yang mengorek informasi mengenai Cho Hajung.

“Maaf, jika boleh tahu ada hubungan apa antara Cho Hajung dengan negara Iran?”

“Apa kau tidak tahu, Cho Hajung adalah keturunan Iran.” Jawab Ahmed dengan bangga. Ia merasa negaranya sangat beruntung memiliki Cho Hajung sebagai salah satu keturunan warga Iran.

“Maaf, kami tidak tahu. Cho Hajung adalah orang yang tertutup.” Kata Donghae dingin. Kedua telapak tangannya sudah mengepal dibalik saku celananya, dan ia merasa ingin menghajar sesuatu.

“Ah sayang sekali. Seharusnya kau juga bangga pada Cho Hajung karena ia sering menolong rakyat miskin dan selalu membela masyarakat yang lemah.”

“Apa yang sudah ia lakukan pada kalian?” Tanya Donghe dingin.

“Banyak. Salah satunya adalah ia membantu warga desa ini untuk membangun pemukiman kami yang terkena badai pasir satu tahun yang lalu.”

“Begitukah? Kenapa ia sangat baik pada kalian?”

Ahmed mengerutkan keningnya bingung. Ia sedikit menatap curiga ke arah Donghae, lantaran Donghae terlihat sangat tidak tahu mengenai seluk beluk pribadi Cho Hajung.

“Apa kalian benar-benar ada di pihak Cho Hajung?”

“Bisa dikatakan sepert itu. Hanya saja Cho Hajung tidak suka mengumbar kebaikannya di Korea.” Bohong Donghae dengan wajah datarnya. Ahmed tersenyum senang mendengar jawaban Donghae. Ternyata kecurigaannya tidak nyata.

“Begitu rupanya. Ternyata ia pria yang rendah hati. Ia tidak mau mengumbar kebaikannya pada orang lain. Nak, kau juga harus seperti Cho Hajung.” Nasihat Ahmed pada Lee Donghae. Lee Donghae hanya dapat menganggukkan kepala kaku mendengar nasihat dari Ahmed. Dalam hati Lee Donghae sudah menyumpah serapahi Cho Hajung sejak tadi.

“Jadi, apa yang membuat Cho Hajung sangat peduli pada warga Iran?” Tanya Donghae sekali lagi.

“Oh, itu karena kakek buyut Cho Hajung adalah orang Iran. Tapi entah mengapa wajahnya tidak terlalu mirip dengan orang Iran. Ia justru berkulit putih dan berparas rupawan.”

“Benarkah? Aku tidak pernah tahu jika Cho Hajung keturunan Iran. Pantas saja ia membela negara ini.”

“Nak, kau tidak boleh mengatakan seperti itu. Cho Hajung hanya menghormati negara leluhurnya. Ia pasti juga mencintai negara tempat ia dibesarkan.”

Lee Donghae termenung mendengarkan setiap kata demi kata yang diucapkan oleh Ahmed. Apa mungkin Cho Hajung memiliki dendam tersendiri pada Korea. Apa ini berkaitan dengan penyerangan pada tahun 1915?

“Makan siang telah siap.” Teriak Yoona dari arah dapur. Wanita itu membawa sepanci sup, dan disusul oleh Maryam yang tengah membawakan piring-piring.

“Ayo, kalian makan dulu. Pria memang suka lupa waktu jika membicarakan masalah politik.” Kata Maryam dengan kekehan. Yoona mengangguk setuju pada Maryam kemudian beranjak kembali menuju dapur untuk mengambil sendok dan kentang tumbuk.

“Maaf, kami hanya memiliki ini.” Kata Maryam sambil membagi sup dan kentang tumbuk ke dalam piring-piring. Yoona mengibaskan tangannya tanda ia tidak setuju dengan perkataan Maryam.

“Tidak, ini sudah lebih dari cukup. Kami sangat beruntung sekali bisa bertemu dengan kalian.”

“Ya. Terimakasih banyak.” Kata Donghae sambil menyendokkan supnya. Sembari menyantap makan siangnya, Yoona terus bercerita pada Maryam mengenai pengalamannya berlibur di Iran. Yoona mengaku sangat antusias dengan negara Iran, walau pada kenyataannya ia hanya berbohong.

“Negaramu sangat menakjubkan. Di sini banyak sekali pasir.” Kata Yoona pada Ahmed dan Maryam. Kedua manusia itu kemudian tertawa terbahak-bahak dengan perkataan Yoona. Donghae yang duduk di sebelah Yoona menatap penuh tanya pada Yoona. Ia pikir Yoona sedikit depresi karena terlalu lama berjalan di tengah gurun.

“Apa kau sakit?” Tanya Donghae sakarstik. Yoona memelototkan matanya pada Donghae dan menjulurkan lidahnya mengejek.

“Isterimu sangat lucu. Kalian pasti pasangan yang saling mencintai.” Kata Ahmed sambil menepuk-nepuk bahu Donghae. Donghae hanya menanggapi perkataan Ahmed dengan senyum simpulnya.

“Yoona, apa kau sering memasak untuk suamimu?” Tanya Maryam. Yoona sedikit tersipu malu dengan pertanyaan Maryam, karena selama hampir setahun menjadi isteri Donghae, Yoona baru sekali memasak untuk Donghae. Itu pun juga dibantu oleh bibi Han.

“Tidak terlalu sering.” Jawab Yoona sambil menoleh ke arah Donghae. Pria itu lebih memilih untuk segera menghabiskan supnya dan segera terbebas dari suasana makan siang yang terlalu ramai menurutnya.

“Aku sudah selesai. Aku ingin istirahat sebentar.”

Donghae menundukkan kepala sopan, kemudian meninggalkan meja makan tanpa suara. Ahmed dan Maryam terlihat menganggukkan kepala dan tersenyum memaklumi.

“Maaf atas sikapnya. Suamiku memang sedikit kelelahan.” Kata Yoona sedikit tidak enak.

“Tidak apa-apa. Kami tahu, pasti kalian sangat lelah. Sebaiknya setelah ini kalian juga istirahat.” Jawab Maryam lembut. Yoona segera menghabiskan supnya dan tersenyum lembut ke arah Maryam dan Ahmed.

-00-

Hyukjae terdiam sendiri di dalam tahananya. Banyak hal yang ia pikirkan, termasuk bagaimana cara kabur dari penjara bawah tanah ini. Hyukjae juga mengkhawatirkan rakyat Korea yang sedang dalam bahaya. Tadi siang ia mendengarkan salah satu tentara Iran yang mengatakan, jika beberapa hari lagi mereka akan menggempur Korea Selatan. Tentu saja itu menjadi kekhawatiran yang cukup besar bagi Lee Hyukjae, mengingat saat ini tentara-tentara handal yang dimiliki Korea Selatan sedang di sandera di penjara bawah tanah. Korea Selatan benar-benar tidak siap jika tiba-tiba mendapatkan serangan dari Iran.

“Arghhhh!!”
Lee Hyukjae mengerang frustasi dengan semua masalah yang menimpanya saat ini. Satu-satunya harapan yang dimiliki Lee Hyukjae adalah Lee Donghae. Ia berharap, jendralnya itu masih hidup dan bisa menyelamatkan mereka semua.

“Lepaskan aku. Aku tidak sudi menjadi tahanan kalian. Aku akan membunuh kalian satu persatu!”

Suara teriakan dari seseorang membuat Lee Hyukjae memalingkan wajahnya penuh minat ke arah pintu penjara. Dari jauh, Hyukjae dapat melihat seseorang tengah diseret secara paksa oleh tentara-tentara itu. Semakin lama Hyukjae dapat melihat siapa pria yang tengah diseret-seret itu.

“Diam! Cho Hajung tidak akan suka dengan tentara pembangkang sepertimu.” Bentak tentara Iran itu murka. Tentara itu menodongkan pistol ke arah kepala pria yang tadi diseretnya dan melemparkan begitu saja pria itu ke dalam jeruji besi yang sama dengan Lee Hyukjae.

“Hey kau, makanlah! Kau bisa mati kelaparan jika tetap menjunjung tinggi harga dirimu.” Ejek tentara Iran pada Hyukjae. Lee Hyukjae menampakkan mimik jijik pada makanan yang dilemparkan padanya. Ia lalu kembali menyandarkan tubuhnya pada tembok tanpa mau memakan makanan yang dilemparkan padanya.

“Hyung, kau kah itu?”

Suara seorang pria yang baru saja dilempar kedalam tahanan membuat Hyukjae tersenyum senang sambil merentangkan kedua tangannya.

“Oh Sehun, kemarilah. Oh, akhirnya ada tentara Korea juga yang masuk ke dalam tahananku.” Teriak Hyukjae girang. Oh Sehun segera mendekat ke arah Hyukjae dan memeluk pria itu erat.

“Bagaimana keadanmu hyung? Kakimu terluka?” Tanya Sehun miris sambil melihat kaki Hyukjae yang tampak mengenaskan. Walaupun darahnya sudah mengering, tapi luka itu tampak seperti membusuk karena dibiarkan terkena udara terbuka dan kondisi tahanan yang pengap dan juga bau.

“Itu bukan masalah besar. Bagaimana kondisi di luar sana?”

“Buruk. Semua tentara Korea ditangkap oleh pasukan Iran. Aku tak menyangka jika Cho Hajung adalah pengkhianat.” Desis Sehun marah.

“Tenang bung, kau tidak bisa meluapkan amarahmu di sini. Kita tunggu hingga bantuan itu datang, dan kita bisa membalaskan dendam pada Cho Hajung.” Kata Hyukjae sambil menepuk-nepuk punggung tegap Oh Sehun.

“Hyung, sebelum aku diseret kemari, aku sempat mengintai mereka dan melihat Cho Hajung sedang menguji sesuatu pada tentara kita. Sepertinya itu semacam virus. Karena Cho Hajung menyebut-nyebut nama sebuah lab yang mengembangkan virus itu.”

“Apa kau tahu nama labnya?”

“Ya, Star Lab.” Jawab Sehun mantap. Lee Hyukjae membulatkan matanya kaget. Tidak mengira jika Cho Hajung akan melakukan hal keji seperti itu.

“Ini gawat. Aku dengar lab itu sedang mengembangkan sebuah virus baru. Walaupun pada awalnya, ketua dari lab itu menyangkal jik virus itu akan digunakan untuk tindak kejahatan. Tapi sepertinya ketua lab itu membohongiku.” Geram Hyukjae marah. Ia sedikit menyesal, mengapa saat itu ia tidak menahan ketua lab itu, dan justru mempercayai apa yang dikatakan Cho Kyuhyun padanya.

“Apa maksud hyung adalah Cho Kyuhyun?”

“Ya, darimana kau tahu?”

“Cho Hajung sedang menelpon Cho Kyuhyun. Ia mengatakan jika ia membutuhkan kiriman virus itu lagi.” Terang Oh Sehun serius.

“Sekarang aku tahu apa rencana busuk Cho Hajung. Ia tidak akan memusnahkan rakyat Korea Selatan begitu saja. Ia akan menyebarkan virus mematikan itu ke Korea Selatan, dan membuat negara Korea Selatan hancur secara perlahan.”

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” Tanya Sehun cemas.

“Berdoa. Apa kau bertemu dengan jendral Lee?”

“Tidak. Aku sama sekali tidak melihatnya sejak penyerangan itu. Apa hyung tahu dimana keberadaan jendral Lee Donghae?”

“Aku juga tidak tahu. Saat penyerangan itu, ia pergi bersama isterinya untuk mengambil senjata di gudang senjata, tapi setelah itu aku tidak tahu lagi bagaimana nasibnya.” Kata Hyukjae frustasi. Kedua bahunya sudah merosot kebawah, tanda ia kehilangan sedikit harapannya.

“Hyung tenang saja. Pasti jendral Lee Donghae akan datang. Ia pria yang hebat. Aku yakin itu.” Kata Sehun dengan penuh keyakinan. Lee Hyukjae memandang Sehun dengan sorot sayu. Ia hanya takut jika apa yang diyakini oleh Sehun adalah sesuatu yang sia-sia.

-00-

Yoona sedang sibuk mengutak-atik ponselnya di dalam kamar. Suaminya sedang tertidur nyenyak di sampingnya tampak tenang dan damai.

“Ah, ponselku bisa menyala lagi.” Teriak Yoona girang. Cepat-cepat wanita itu menekan nomor kontak Choi Minho, bermaksud meminta bantuan pada pria itu.

“Kau sedang menelpon Choi Minho?” Tanya Lee Donghae dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur. Yoona menempelkan jari-jari lentiknya di depan bibir, bermaksud menyuruh Donghae untuk diam.

“Halo, Minho ini aku.” Kata Yoona dengan nada tegas.

“Ada apa? Kemarin kau mematikan sambunganmu secara sepihak.” Gerutu Minho kesal.

“Bateraiku habis. Dengar baik-baik, aku membutuhkan bantuanmu.” Kata Yoona mulai serius. Nada bicaranya sudah tidak seperti saat sedang makan, saat ini Yoona sudah berubah menjadi bos mafia yang sesungguhnya.

“Apa yang bisa kulakukan untukmu, bos mafia?” Kekeh Minho tak serius. Yoona mnghembuskan napasnya malam, dan berusaha tidak terpancing emosi karena candaan Minho.

“Aku harap kau bisa lebih serius.” Desis Yoona geram.

“Baiklah. Apa yang kau butuhkan?”

“Kirimkan aku pesawat di Iran. Aku harus pulang ke Korea sekarang juga.”

“Apa, Iran? Bagaimana kau bisa terdampar di sana?” Tanya Minho kaget. Setahu Minho, Yoona adalah orang yang tidak terlalu tertarik dengan negara-negara yang sedang dilanda perang. Namun sekarang, wanita itu justru mengatakan jika ia tengah berada di Iran.

“Ceritanya panjang, aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Kirimkan sebuah pesawat untukku!”

“Aku rasa itu akan sulit. Baru-baru ini pemerintah Iran menutup jalur udara menuju Iran. Kudengar di sana sedang terjadi perang. Apa kau tidak tahu itu?”

“Aku tahu jika di sini memang sedang terjadi perang. Tapi aku tidak tahu jika pemerintah Iran sampai menutup jalur udaranya.” Kata Yoona datar dan dingin. Saat ini di kepalanya tengah dipenuhi berbagai pertanyaan, bagaimana cara ia bisa pergi dari negara terkutuk ini.

“Kau tahu, baru saja Cho Hajung menyelundupkan sesuatu ke Iran.” Lapor Choi Minho. Yoona sedikit mengernyitkan dahinya penasaran.

“Apa yang dilakukan Cho Hajung dengan Iran?”

“Sepertinya ia mengirim virus baru ke Iran, entah apa tujuannya. Mungkin saja ia sedang berusaha menghancurkan tentara Korea Selatan yang sedang berada di Iran.”

“Pria itu benar-benar licik.” Geram Yoona marah. Ia mengepalkan kedua tangannya ke udara, dan meninju udara kosong yang ada di depannya.

“Lalu bagaimana caranya agar aku bisa pulang?” Tanya Yoona lagi.

“Emm, mungkin ini adalah satu-satunya cara. Besok sore kapal kita akan merapat ke pelabuhan Iran. Kau bisa menyelinap ke kapal itu untuk kembali ke Korea.”

“Baiklah, aku mengerti. Tolong kau awasi barang kiriman Cho Hajung.” Perintah Yoona tegas.

“Untuk apa? Tidak biasanya kau seperti ini.”

“Turuti saja perintahku! Kuharap kau bisa melakukannya dengan baik.” Perintah Yoona tegas dan dingin. Di sebrang sana Choi Minho sedikit mengernyit heran dengan tingakah Yoona. Menurutnya kini Yoona sedikit aneh dan berubah.

“Ba. Halo halo.”

Minho berteriak-teriak sendiri di depan ponselnya, tapi sepertinya Yoona sudah menutup sambungan teleponnya, membuat Minho sedikit menghela napas gusar dengan kelakukan wanita angkuh itu.

-00-

“Bagaimana, apa Minho bisa mengirim pesawat ke sini?” Tanya Lee Donghae penuh minat. Yoona menggelengkan kepala lemah sambil terduduk diatas ranjang yang sedang ditempati Lee Donghae.

“Tidak, Minho mengatakan jika pemerintah sedang menutup jalur udara menuju Iran. Kita tidak bisa kembali ke Korea dengan jalur udara.” Terang Yoona. Lee Donghae menghela napas berat, antara frustasi dan kesal.

“Apa tidak ada cara lain?” Tanya Donghae lagi.

“Ada. Besok sore, kapal perusahaanku akan merapat di pelabuhan, kita harus bisa menyelinap ke sana.” Terang Yoona serius.

“Kau menyelundupkan barang ke Iran?”

“Ya. Cho Hajung meminta jasa kami untuk mengirim sebuah virus. Oppa, tentaramu dalam bahaya.”

“Oleh karena itu kita harus bisa kembali ke Korea secepatnya.” Kata Donghae cepat.

“Ya. Kita harus menyiapkan diri. Untuk kemungkinan terburuknya.” Kata Yoona menambahkan. Lee Donghae mengusap puncak kepala Yoona dengan sorot mata penyesalan. Tak seharusnya ia melibatkan Yoona dalam masalah ini, walaupun Yoona memang terlibat secara tidak langsung. Tetapi Lee Donghae merasa peperangan ini sangat tidak cocok untuk Yoona.

“Tenang saja, aku bisa melawan tentara-tentara itu dengan tanganku sendiri.” Kata Yoona sambil memeluk Donghae erat. Merasakan kehangatan di dekapan dada bidang Donghae, membuat Yoona menjadi tenang dan sedikit melupakan kegelisahan tentang hari esok. Bagaimanapun juga, Yoona tidak bisa menganggap remeh rencana mereka untuk kabur. Besok adalah satu-satunya kesempatan mereka. Jika mereka sampai gagal, maka tidak akan ada lagi hari esok untuk mereka, dengan kata lain mereka akan mati di tangan tentara Iran atau ditangan Cho Hajung.

-00-

Pagi-pagi sekali Yoona sudah bangun dan membantu Maryam menyiapkan sarapan. Pagi ini Maryam membuat sepiring pancake dengan saus madu. Perut Yoona rasanya langsung melilt-lilit saat aroma pancake itu hinggap di indera penciumannya.

“Hmm, baunya sungguh lezat.” Puji Yoona sambil membolak-balik adonan pancake yang ada di atas pan. Maryam tersenyum lembut ke arah Yoona sambil menuangkan susu domba ke dalam gelas.

“Apa kalian tidur dengan nyenyak?” Tanya Maryam. Yoona mengangguk mengiyakan dan berterimakasih pada Maryam.

“Kami tidur dengan sangat nyenyak. Terimakasih atas semua kebaikan kalian.”

“Sama-sama.” Jawab Maryam singkat.

“O iya, nanti sore kami akan pulang. Kami akan pergi ke pelabuhan.” Terang Yoona.

“Benarkah? Sayang sekali, padahal aku sangat suka dengan kedatangan kalian dan menginginkan kalian untuk lebih laman lagi tinggal di rumahku.” Kata Maryam terdengar sedih. Yoona menghampiri Maryam, dan memeluk tubuh kurus Maryam dengan erat.

“Kami juga sangat senang tinggal di sini. Kami tidak akan melupakan kebaikan kalian berdua.” Kata Yoona tulus.

“Ya, dan kami tidak akan melupakan kebohongan kalian.” Gumam Maryam pelan, nyaris seperti bisikan. Dan sepertinya Yoona sama sekali tidak mendengar gumaman Maryam.

-00-

Sore harinya Yoona dan Donghae bersiap-siap pergi dari rumah Maryam dan Ahmed. Mereka melakukan perpisahan sambil memeluk satu sama lain.

“Jaga diri kalian baik-baik.” Kata Maryam sambil merangkul bahu Yoona.

“Pasti, aku akan menjaga diriku dengan baik. Semoga kita bisa bertemu lagi, suatu saat nanti.”

“Itu pasti. Kita akan bertemu lagi.” Jawab Ahmed mantap.

Yoona dan Donghae segera melangkahkan kaki mereka menjauhi kediaman Ahmed, dan hendak menuju pelabuhan.

“Oppa, berapa lama kita harus berjalan?” Tanya Yoona pada Donghae. Pria itu terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu, kemudian menjawab pertanyaan Yoona.

“Kurang lebih dua puluh menit. Ahmed sudah menjelaskan rute yang cepat untuk sampai ke pelabuhan.” Jawab Donghae. Yoona sedikit bernapas lega dengan jawaban Donghae. Itu artinya mereka tidak perlu berputar-putar karena tersesat.

-00-

Sudah dua puluh menit Yoona dan Donghae berjalan sesuai dengan rute yang ditunjukan Ahmed, tapi kedua manusia itu belum juga menemukan laut dan pelabuhan.

“Oppa, apa kau yakin jika ini jalannya? Kenapa kita tidak melihat laut sama sekali?” Tanya Yoona mulai khawatir. Ia takut jika Donghae salah menghafalkan letak jalannya.

“Tidak, ini sudah sesuai dengan petunjuk  yang dikatakan Ahmed. Tunggu!”

Lee Donghae menarik tangan Yoona agar menunduk. Tak berapa lama sebuah mobil lewat di hadapan Yoona dan Donghae. Mobil itu membawa pasukan Iran lengkap dengan senjata mereka. Saat itu juga Yoona menjadi gugup dan panik. Bagaimana bisa tentara itu ada di sini? Daerah yang dilewati Yoona dan Dongahe termasuk pemukiman warga sipil. Seharusnya tentara itu tidak berada di sini, kecuali mereka sedang memiliki urusan di desa ini.

“Oppa, apa yang mereka lakukan di sini?” Bisik Yoona was-was.

“Ini jebakan. Sepertinya Ahmed dan isterinya sudah mengetahui jati diri kita yang sebenarnya.” Geram Dongahae sambil mengepalkan tangannya. Sebagai jendral ia merasa gagal, seharusnya ia sudah dapat memprediksi kemungkinan ini sejak merasakan gerak-gerik Ahmed yang cukup berbeda pagi ini. Sekarang pergerakan mereka tidak bisa sebebas tadi. Mereka harus berjalan mengendap-endap untuk keluar dari daerah ini dan mencari pelabuhan terdekat.

“Oppa, jumlah mereka semakin banyak.” Bisik Yoona kalut. Ia merasa ngeri melihat wajah tentara Iran yang sangat garang itu. Kemarin malam saat mereka berusaha kabur, Yoona tidak bisa melihat wajah tentara Iran itu dengan jelas, karena kurangnya pencahayaan. Dan siang ini Yoona bisa melihat wajah itu dengan jelas. Wajah hitam dengan jenggot yang lebat. Mereka tampak seperti Hagrid yang berada di film Harry Potter.

“Kita harus menyamar. Kita tidak bisa berjalan keluar dengan pakaian seperti ini.”

“Bagaimana caranya?” Tanya Yoona tak paham.

“Ikut aku.”

Yoona mengikuti Donghae berjalan mengendap-endap ke dalam halaman rumah orang Iran. Di sana terdapat beberapa baju yang sedang dijemur. Kemudian, Donghae mengambil beberapa baju itu dan memberikannya pada Yoona.

“Oppa, kau mengambil baju orang lain.” Bisik Yoona tak terima. Seumur-umur Yoona sama sekali belum pernah mencuri baju milik orang lain, dan ini adalah pengalaman pertamanya.

“Sudah, kau pakai saja. Ini adalah satu-satunya cara yang kita miliki.” Kata Donghae sambil berusaha memakai gamis milik pria Iran. Setelah berhasil memakainya, Yoona sedikit terkikik dengan penampilan Donghae. Pria itu terlihat seperti ibu-ibu yang sedang menggunakan daster.

“Tidak usah tertawa. Ini tidak lucu.” Geram Donghae kesal. Kemudian pria itu menyembunyikan ransel yang berisi senjata dibalik baju yang Yoona kenakan, sehingga dari luar Yoona terlihat seperti orang yang tengah hamil.

“Oppa. Berat.” Rengek Yoona manja.

“Sudahlah, kau diam saja. Anggap saja ini sebagai latihan sebelum kau benar-benar hamil.” Jawab Donghae santai. Pria itu kini tengah mengintai keadaan sekitar daerah tersebut, memastikan jika mereka bisa keluar saat itu juga dengan aman.

-00-

Yoona dan Donghae mulai keluar dari tempat persembunyian mereka. Donghae berakting sebagai suami siaga yang tengah menuntun isterinya yang sedang hamil. Wajah mereka tampak sangat meyakinkan, walaupun Yoona sebenarnya sudah sangat tegang dan was-was. Saat tentara Iran berjalan di hadapan mereka, Yoona langsung mencengkram erat-erat tangan Donghae, membuat pria itu meringis kesakitan dan melotot ke arah Yoona gusar.

“Tenangkan dirimu. Mereka bisa curiga pada kita.” Bisik Donghae penuh penekanan.

“Aku gugup.” Balas Yoona tak kalah sengit. Sembari berjalan mereka terus berdebat mengenai hal-hal yang tidak penting, membuat Donghae harus ekstra sabar dalam menghadapi isterinya.

“Hei, kalian berdua berhenti!”

Yoona dan Donghae langsung terpaku di tempat. Sebuah teriakan dari tentara Iran berhasil membuat semua keringat dingin Yoona mengucur membasahi pelipis dan seluruh tubuhnya.

“Kalian sedang apa?” Tanya tentara itu dengan aksen garang. Sembari bertanya, pria itu juga ikut meneliti penampilan Yoona, membuat Yoona sedikit tidak nyaman dan gugup.

“Maaf tuan, saya akan mengantar istri saya untuk pergi ke klinik terdekat. Lihatlah, dia sedang hamil.” Kata Donghae sambil memegang perut Yoona.

“Ah, iya tuan. Saya rasa bayi saya sedang menendang-nendang.” Racau Yoona dengan mimik yang lucu. Hampir saja Donghae akan tertawa terbahak-bahak, tapi ia kembali memasang wajah datarnya.

“Begitukah? Tapi kalian harus segera pergi dari sini, karena sepertinya ada dua orang tahanan yang kabur dan melarikan diri menuju ke daerah ini.” Terang tentara itu pada Yoona dan Donghae.

“Ah, baiklah. Kami akan segera pergi.” Pamit Yoona. Wanita itu cepat-cepat menarik tangan Donghae untuk segera berjalan. Rasanya ia ingin segera berlari sejauh dan secepat yang ia bisa.

“Tunggu.”

Lagi-lagi tentara itu menghentikan langkah Yoona dan Donghae. Sebelum membalikkan badan, mereka berdua saling menatap dan Yoona memutar bola matanya malas.

“Ada apa?” Tanya Donghae datar. Rasanya ia ingin sekali mencekik tentara ini, karena dia sudah menghambat perjalanannya.

“Jaga isterimu baik-baik. Dia sangat cantik.” Kata tentara itu menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya pada Yoona. Hampir saja Donghae akan menghajar tentara itu, tapi Yoona segera menahan lengan kekar Donghae agar tidak sampai menghajar tentara itu.

“Terimakasih. Kami akan pergi.” Pamit Yoona dengan sinis. Ia sendiri juga tidak suka dengan kelakuan kurang ajar tentara itu. Berani-beraninya tentara itu menggodanya di depan Lee Donghae, suaminya. Benar-benar tentara itu ingin cari mati. Jika saja Lee Donghae tidak sedang menyamar, maka sudah dapat dipastikan kepala tentara itu akan segera terpisah dari tubuhnya.

“Oppa, aku tidak suka dengan tentara itu. Dia sepertinya tentara yang mesum dan kurang ajar.

“Aku lebih tidak suka daripada kau. Lupakan saja tentar kurang ajar itu. Jika nanti aku memiliki kesempatan, maka aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Janji Donghae penuh tekad. Dari balik bulu mata lentiknya, Yoona merasa sedikit terharu dengan kata-kata yang diucapkan Lee Donghae untuknya. Lee Donghae membelanya dan melindunginya dari tentara mesum, itu sungguh sangat romantis.

-00-

Pukul empat waktu setempat, Yoona dan Donghae berhasil tiba di pelabuhan dengan selamat. Mereka berdua berhasil keluar dari desa itu tanpa diketahui oleh tentara Iran.

“Dimana kapal perusahaanmu merapat?” Tanya Lee Donghae sambil menelusuri seisi pelabuhan. Yoona sendiri juga melakukan hal yang sama. Ia sedang mencari-cari kapal yang memiliki logo perusahaannya.

“Aku juga tidak tahu. Seharunya kapal itu sudah tiba lima menit yang lalu.”

“Coba kau hubungi Choi Minho, mumgkin saja kapal itu terlambat merapat.” Usul Donghae. Yoona segera merogoh saku ranselnya dan mencari-cari keberadaan ponselnya.

“Oppa, ponselku tidak ada di dalam sini.” Kata Yoona panik. Ia mulai menurunkan ranselnya dan mengeluarkan semua isinya satu persatu. Donghae yang melihat raut kepanikan dari wajah Yoona, segera membantu untuk mencari ponselnya yang hilang.

“Kau yakin, kau meletakan ponselmu di dalam ransel?”

“Aku sangat yakin. Tadi aku meletakannya di sini….”

Seketika Yoona membelalak kaget dan wajahnya berubah menjadi pucat.

“Oppa, ini gawat. Ponselku pasti terjatuh di suatu tempat, sakunya berlubang.” Tunjuk Yoona pada sebuah lubang yang menganga cukup lebar. Donghae mengusap wajahnya gusar dan menyuruh Yoona agar tidak panik.

“Sekarang kau tenang. Kita harus segera mencari kapal itu dan pergi dari sini. Ini satu-satunya kesempatan yang kita miliki, jadi kita tidak boleh gagal. Kau mengerti?” Tanya Donghae tegas, namun mata teduhnya tetap memancarkan ketenangan untuk Yoona. Kemudian Yoona mengangguk paham dan mulai menarik napas dalam-dalam agar lebih tenang.

“Ayo oppa, kita harus bergegas.”

-00-

Tiga puluh menit kemudian, Yoona dan Donghae masih terus berputar-putar di dalam pelabuhan itu. Walaupun mereka sudah mencari hingga ke sudut-sudut pelabuhan, tetapi kapal itu tak kunjung ditemukan. Berkali-kali Yoona terus mengeluh kelelahan dan kepanasan, namun Donghae lebih memilih menulikan pendengarannya dan berusaha mencari kapal itu lagi.

“Aku lelah, aku ingin istirahat.” Rengek Yoona lagi. Donghae sama sekali tak merespon rengekan Yoona dan memilih untuk berjalan cepat meninggalkan Yoona di belakangnya.

“Oppa, tunggu aku.” Teriak Yoona. Sembari berlari menyusul langkah lebar Donghae, Yoona mengamati sebuah kapal yang baru saja merapat. Kapal itu berwarna putih dengan logo sebuah bola dunia berwarna hitam tercetak jelas di dek kapal. Seketika Yoona langsung menghentikan langkahnya dan bersorak girang ditempatnya berdiri.

“Oppa, itu kapalku.” Tunjuk Yoona girang. Mendengar suara Yoona yang nyaring, Donghae langsung memutar tubuhnya ke arah Yoona. Namun tanpa diduga, dari arah belakang Yoona ada seorang tentara Iran yang mengarahkan senapannya ke arah kepala Yoona. Dengan sekuat tenaga, Lee Donghae berusaha mencapai posisi Yoona untuk melindungi wanita cantik itu.

“Yoona.”

Dorr!

-00-

Lee Hyukjae menatap kosong ke arah beberapa sel tahanan yang dihuni oleh tentara Korea. Ia merasa sangat lemah dan tak berdaya. Ia bodoh, dan tidak bisa menyelamatkan rekan-rekannya. Ingin rasanya ia membunuh semua tentara Iran tersebut, tapi ia benar-benar tak berdaya. Bahkan untuk berjalan saja ia susah, apalagi ingin menghadapi tentara Iran yang sangat garang-garang itu. Sungguh ia tidak mampu.

“Hyung, apa yang kau pikirkan?” Tanya Sehun khawatir. Melihat Hyukjae yang hanya melamun dan menatap kosong ke arah jeruji besi itu, membuat Oh Sehun merasa miris. Hyukjae tidak pernah sediam ini sebelumnya, pria itu selalu bisa mencairkan suasana dengan candaannya yang renyah dan juga konyol. Tapi sekarang, Hyukjae justru melamun dengan kondisi yang cukup mengenaskan.

“Aku mengkhawatirkan rakyat Korea. Kira-kira apa yang akan dilakukan Cho Hajung pada rekan-rekan kita?” Tanya Lee Hyukjae menerawang.

“Hyung, kau harus optimis. Semua ini pasti akan segera berakhir. Percayalah.” Kata Sehun meyakinkan. Walau sebenarnya jauh di lubuk hati Oh Sehun, pria itu sangat khawatir, bahkan mungkin melebihi kekhawatiran yang dirasakan oleh Lee Hyukjae.

Suara derap langkah kaki yang mendekat ke arah tahanan bawah tanah membuat Hyukjae dan beberapa tentara Korea menjadi was-was. Tak biasanya penjara mereka dikunjungi oleh beberapa orang sekaligus. Dan suara derap langkah kaki itu menjelaskan pada mereka, jika mereka akan dikunjungi oleh seseorang yang memiliki peranan penting bagi negara Iran.

“Halo budak-budakku.” Sapa Cho Hajung dengan suara mengejeknya. Tatapan matanya seakan mencemooh pada kondisi yang sedang dialami oleh tentara Korea.

“Apa yang akan kau lakukan pada kami, pengkhianat?” Teriak Oh Sehun sinis. Pria itu kini sudah maju medekati jeruji besinya. Ia merasa harus berbicara secara langsung pada Cho Hajung.

“Wah wah wah, ternyata kau cukup berani juga untuk menantangku. Aku suka dengan sikapmu.”

“Diam kau keparat, aku muak mendengar ocehanmu yang menjijikan itu.” Umpat Oh Sehun penuh emosi. Rasanya Oh Sehun ingin melenyapkan pria tua ini sekarang juga. Hanya saja pergerakannya terhambat oleh jeruji besi yang menghalanginya.

“Aku datang ke sini untuk bertemu dengan Lee Hyukjae. Jadi sebaiknya kau menyingkir dari hadapanku.” Kata Cho Hajung dengan dingin. Oh Sehun akan membuka suaranya kembali, sebelum Hyukjae menyentuh bahunya dan menyuruh Sehun untuk menyingkir.

“Ada urusan apa, hingga kau ingin bertemu denganku?” Tanya Hyukjae tanpa gentar. Walaupun ia akan mati sekalipun, ia tidak akan takut pada Cho Hajung.

“Aku hanya ingin menyampaikan kabar gembira padamu.” Jawan Cho Hajung sinis. Sudut-sudut bibirnya sedikit tertarik membentuk sebuah seringaian.

“Cepat katakan padaku. Aku tidak ingin melihat wajahmu terlalu lama.” Kata Hyukjae datar. Cho Hajung sedikit mengulum senyumnya sebelum kembali melanjutkan kata-katanya yang tertunda.

“Aku berhasil mendapatkan kepala jendral kesayanganmu, jendral Lee Donghae.” Kata Cho Hajung lambat, ia sengaja melambatkan kata-katanya untuk melihat bagaimana reaksi yang ditunjukan oleh Hyukjae setelahnya.

“Kau bohong.” Ucap Hyukjae datar.

“Aku tidak pernah berbohong untuk hal-hal seperti ini.”

Klang

Sebuah kalung berbentuk rantai terlempar begitu saja ke wajah Lee Hyukjae. Kalung itu tampak berlumuran darah dan sedikit kotor oleh pasir. Hyukjae segera memungut kalung itu dan mengamati bentuknya.

“Apa sekarang kau percaya padaku? Jendralmu telah mati. Jendralmu sudah membusuk di neraka.” Teriak Cho Hajung dengan tawa iblisnya. Tawa itu bagaikan mimpi buruk bagi Hyukjae dan seluruh tentara yang ditahan dalam ruang bawah tanah tersebut.

“Kau bohonh. Ini tidak mungkin. Lee Donghae terlalu kuat untuk kau taklukan.” Pekik Lee Hyukjae seperti orang kesetanan. Dengan langkah tertatih ia mendekati jeruji besi dan memukuli jeruji besi itu hingga punggung tangannya terluka.

“Dasar bodoh! Jendralmu tidak akan kembali jika kau terus memukul-mukul jeruji besi itu. Kau dan jendralmu itu sama-sama tolol dan bodoh. Kalian pikir, kalian bisa mengalahkanku. Inilah akibatnya jika kalian berani melawan perintahku.”

“Berhenti! Keparat kau. Aku akan menghabisi nyawamu dengan tanganku sendiri! Camkan itu baik-baik!” Teriak Hyukjae seperti orang kesetanan. Tanpa mempedulikan teriakan melolong Lee Hyukjae, Cho Hajung segera melangkahkan kakinya keluar dari penjara yang pengap dan juga kotor itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “The Black World (Four)

  1. Ternyata hyukjae ditangkap tentara iran. Sehun juga.. aku khawatir mereka berdua akan dijadikan kelinci percobaan untuk virus itu. Tapi aku lebih khawtir lagi dengan keadaan donghae dan yoona. Mereka selamat kan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.